Investor

Evelyn menggerakkan tubuhnya gemulai mengikuti musik, meliuk mengelilingi tiang dengan sesekali berjinjit dan berputar, rambutnya yang indah tergerai, nampak seksii dan bergairah.

Nampak kedua bulatan indah mengintip dari sebalik bra hitam yang melekat di dadanya, rok mini hitam senada mengayun indah mengikuti gerak tubuhnya.

Jika setiap orang menatapnya dengan tatapan tergoda tidak dengan pria yang duduk di tengah sofa, tatapannya datar dan menghujam menelusuri tubuh Evelyn dengan tenang.

Irene duduk di sebelah pria yang nampak biasa saja itu namun Irene tahu pria itu sudah tergoda sejak awal oleh Evelyn.

Pria itu hanya berusaha bersikap dingin, namun sesekali menyesap minumannya dengan tatapan tak lepas dari Evelyn.

"Jadi bagaimana tuan Willy?"

Pria bernama Willy itu menoleh dan mendengus seolah dia terganggu karena suara Irene mengalihkan tatapannya dari Evelyn.

"Ah, anda bisa mengambil waktu sebanyak yang anda mau, aku akan menunggu.." Irene tersadar jika dia sudah mengganggu Willy.

"Keluar!" Willy menggeram lalu semua orang bangkit berdiri, di ruangan itu tak hanya Irene dan Willy, pria itu di temani asisten, sekertaris dan dua bodyguard yang mengawalnya.

Melihat semua orang berdiri Irene pun mengikuti dan berjalan ke arah pintu, sebelum keluar Irene menoleh ke arah Evelyn kemudian mengedipkan sebelah matanya.

Evelyn mengangkat alisnya lalu menatap Willy dengan heran, haruskah dia juga ikut keluar? bagaimana bisa ada pria yang tidak tergoda olehnya.

Namun Willy menggerakkan telunjuknya, menunjuk dua penari lain agar keluar dan menyisakan Evelyn.

"Lanjutkan!" perintahnya pada Evelyn.

Evelyn tersenyum 'Semua pria sama saja.' batinnya, lalu melanjutkan gerakan gemulainya.

Sudah hampir satu jam Evelyn menari dan menyisakan keringat di sekujur tubuhnya yang menjadi berkilat seksii, nafasnya sudah mulai naik turun meski tidak kentara.

Willy berjalan mendekat ke arah Evelyn meraihnya lembut dan mendesaknya ke dinding.

Evelyn terpaku menatap sosok tampan di depannya, pria berbadan tegap dengan rahang kokoh itu mengunci pinggangnya.

"Kau menggodaku.." Seringaian di bibir Willy nampak jelas, begitu mempesona sekaligus menakutkan, benar kata Irene investor mereka agak misterius.

"Itu pekerjaanku tuan.." Evelyn mendesah menggoda saat Willy merapatkan tubuhnya, memberikan gelenyar panas di sekujur tubuhnya.

"Benar, pekerjaanmu menggoda para pria bukan..?"

Degh..

Tiba- tiba sudut hati Evelyn terasa perih, namun sedetik kemudian Evelyn tersenyum menggoda seolah perkataan Willy tak berpengaruh sama sekali untuknya.

"Anda tahu jelas apa maksudku. " tangan Evelyn membelai dada bidang Willy, tak ada waktu untuk sakit hati dengan perkataan yang nyatanya benar itu, ya dia adalah wanita murahan, wanita penggoda. Jadi untuk apa harus marah dengan sebuah kebenaran.

Willy terkekeh "Jika begitu, lanjutkan sampai aku benar- benar tergoda.."

Evelyn menunduk cemberut, dan membuat mimik menggemaskan "Jadi Anda tidak tergoda denganku.." Willy tertegun di depannya wajah Evelyn berubah menjadi menggemaskan dan imut, persis seperti gadis lugu yang belum tahu apa- apa.

Seketika darahnya berdesir mendidih, semakin panas dengan sesuatu yang mendesak.

Willy mengangkat wajah Evelyn dengan telunjuknya lalu melu mat bibir bercat merah itu dengan lembut.

Evelyn menyeringai, meski pembawaan Willy terlihat sangat misterius dan kasar namun pria itu memperlakukan wanita dengan lembut, terbukti dengan ciumannya dan dekapannya yang hati- hati seolah takut meremukkan Evelyn.

Evelyn mendesah tenang, setidaknya meski ucapan pria itu sedikit kasar tapi perlakuannya membuat Evelyn merasa nyaman, dan dengan segera Evelyn membalas ciuman Willy tak kalah lembut.

Willy mengangkat tubuh Evelyn hingga Evelyn melingkarkan kakinya di pinggang kokoh yang kini membawanya berjalan ke arah sofa.

Masih dengan bibir saling bertaut Willy membawa Evelyn dan mendudukan dirinya hingga kini Evelyn berada di pangkuannya.

Evelyn melepaskan tautannya dan mengangkat alisnya "Anda sudah tergoda tuan?."

"Sepertinya tak akan ada yang lolos dari godaan bintang dari club ini.."

Evelyn tertawa renyah, dan sekali lagi Willy di buat terkagum dengan ekspresi lain dari Evelyn. "Apa ini pujian untukku..?"

Willy meraih tangan Evelyn yang kecil dan terlihat rapuh lalu mengecupnya "Kau suka pujian?"

"Tidak ada wanita yang tak suka pujian, dan aku yakin para pria juga suka pujian, benar bukan?"

Willy terkekeh "Benar, lalu pujian apa yang akan aku dapatkan darimu.."

Evelyn tersenyum menggoda, dan lagi membuat Willy merasakan desakan dalam dirinya "Kau tampan tuan, dan.." Evelyn menggantungkan ucapannya dan menatap manik Willy yang mengangkat alisnya penasaran dengan ucapan Evelyn.

"..menggairahkan.."

Oh..

Willy melenguh dan memejam saat Evelyn menggerakan bokoongnya maju mundur "Aku bahkan bisa merasakan sesuatu yang keras,." Evelyn membelai lehernya sendiri lalu turun kebawah menyentuh dada kemudian pinggang, membuat gerakan menggoda. keringat yang mengkilat membuat Evelyn semakin terlihat panas dan membuat Willy terbakar.

Evelyn yang hanya menggunakan b-ra saja sebagai atasan membuat Willy bisa melihat perut Evelyn yang rata dan seksii, apalagi tangan Evelyn semakin turun kebawah dan meremas bokoongnya.

Sial, pria mana yang tidak akan menegang melihat pemandangan panas yang siap untuk di terkam di depannya seperti Evelyn, tentu saja tidak akan dia lewatkan begitu saja.

Willy adalah seorang pengusaha kaya berusia 29 tahun asal Italia menekuni bisnis ini sudah sejak lama, menanamkan investasi di club- club yang tersebar di seluruh Eropa, salah satunya Club yang menaungi Evelyn.

Dan kali ini kedatangannya untuk melihat sudah sejauh mana uangnya dimanfaatkan oleh Irene, namun melihat clubnya ramai Willy nampak puas lalu Irene juga tak main- main memperkerjakan wanita- wanita yang berkelas di clubnya, tatapan Willy masih tak lepas dari Evelyn, sosok cantik dan menggoda yang mampu menggetarkan hatinya , bukan hanya karena godaannya yang panas tapi Evelyn juga membangkitkan semangatnya yang sudah terkubur amat dalam.

Willy melu mat kembali bibir Evelyn dengan lembut namun kini dengan ritme yang semakin cepat.

"Biarkan aku yang memimpin.." desisnya, matanya berkilat penuh gairah dengan suhu tubuh panas yang menguar terlihat seksii dan menggoda.

Willy membaringkan Evelyn di atas sofa lalu menindihnya, Evelyn tersenyum menunggu apa yang akan Willy lakukan, tatapan Evelyn tak lepas dari gerakan Willy yang melepas jasnya, lalu dasi dan kemeja, hingga kini terlihat guratan otot dan dada bidang yang menggoda.

"Kau tergoda.." Willy menyeringai.

Evelyn kembali dibuat tertawa "Ya, sudah ku bilang kau menggairahkan.." telunjuk Evelyn bergerak di dada bidang itu, memberi gerakan abstrak disana.

"Kau sangat seksii tuan.." kembali mata Evelyn menunjukan keluguan dengan pipi merah merona membuat Willy semakin gemas.

Willy memulai aksinya dengan menelusuri tubuh Evelyn dengan tangannya membuat Evelyn menggelinjang geli, di mulai dari paha naik ke bookong lalu perut dan berakhir dengan remasan lembut di dua bongkahan yang menggoda.

Tangan Willy bergerak melepaskan kaitan b-ra hitam Evelyn hingga..

Tak..

b-ra itu terjatuh di lantai akibat di lempar begitu saja.

Ah,

Evelyn mende sah saat Willy meremasnya lembut dengan sesekali mencubit ujunganya.

Oh,

Kini wajah Willy tenggelam di ceruk selangka Evelyn dan menggigit kecil disana, lalu turun memberi ji latan menggoda bergerak semakin turun hingga tiba di tubuh Evelyn yang sudah mulai basah, tanpa menunggu lama Willy menyingkirkan semua penghalang hingga kini terpampang tubuh Evelyn polos menantang membuatnya semakin ber gai rah.

.....

🙈🙈🙈

Terpopuler

Comments

Nur halimah

Nur halimah

semangat Thor😁

2023-06-08

1

W I 2 K

W I 2 K

double up dong thor...

2023-06-08

1

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!