Evelyn mengerutkan keningnya saat melihat jarum infus di tangannya, oh dia pingsan karena tak makan seharian penuh, tapi bagaimana mereka menemukannya bukankah pintunya sudah dia kunci bahkan Evelyn menahannya dengan sofa, Evelyn melihat ke arah sofa yang sudah berada do posisi semula.
Lalu bagaimana sekarang?..
Apakah dia kalah dan tetap tak bisa menemui tuan penyewanya.
Evelyn menoleh ke arah pintu saat mendengar pintu terbuka "Kamu sudah bangun..?"
Degh..
Suara itu begitu lembut tapi juga tegas, Evelyn membeku melihat siapa yang datang dengan sebuah nampan berisi satu mangkuk bubur dan air minum.
"Sekarang makanlah.." Devan duduk di depan Evelyn tangannya mengaduk bubur tersebut, meniup dan memberikannya pada Evelyn.
"Kau..?"
"Bagaimana bisa kau ada disini?"
Evelyn menatap penuh kebencian "Aku akan jelaskan, sebelum itu makanlah.. kamu bisa sakit." Devan merasakan hatinya sakit saat melihat tatapan Evelyn yang amat membencinya, dia sudah memberanikan diri untuk menemui Evelyn.
Evelyn tertawa "Tidak masuk akal.." Evelyn masih tertawa kepalanya menggeleng, dia pasti sudah gila bagaimana mungkin Devan pria yang di bencinya ada di depannya sekarang.
"Ah, jadi kau adalah pria tak masuk akal yang menyewaku untuk dua tahun ke depan."
"Eve.."
Evelyn berhenti tertawa dan menatap tajam pria tampan di depannya. "Kau sedang mempermainkanku?"
"Eve aku akan jelaskan, sebelum itu kamu harus makan, kamu baru saja pingsan." Evelyn menepis tangan Devan yang memegang bubur di tangannya hingga bubur panas itu tumpah berserakan.
"Kau anggap ini lelucon, apa bagimu aku begitu lucu.. apakah belum puas kamu menyakitiku!" Evelyn berteriak tertahan.
"Eve." Devan menunduk "Untuk semua kesalahanku di masa lalu aku minta maaf.."
Evelyn memalingkan wajahnya "Dan tentang Damian.."
"JANGAN SEBUT DIA DENGAN MULUT BUSUKMU!" Evelyn menjerit, wajahnya memerah karena marah, mendengar nama Damian di sebut oleh Devan saja Evelyn tidak rela.
Hening..
Devan masih menunduk, sedangkan Evelyn berusaha menenangkan hatinya.
"Eve.. aku sungguh baru mengetahuinya.."
"Jadi sekarang kau sudah tahu, lalu menjeratku dalam kontrak ini.. kau juga mungkin sudah tahu bagaimana aku pergi karena terusir dari rumahku karena mengandung, lalu saat aku datang untuk meminta perlindunganmu kau bahkan sedang bercinta dengan wanita lain dan mengatakan aku bagimu hanya sebagai pelacur geratis!!!, yang suka rela melayanimu bahkan tanpa bayaran sekalipun.. kau merenggut kepera wananku, menjadikan aku hina lalu membuangku.. "
Evelyn menahan air matanya, tidak pantas dia menangisi pria brengsek di depannya, tapi tetap saja air matanya meleleh "Kau tahu saat itu hatiku hancur, sangat sakit.. aku menyerahkan segalanya untukmu, tapi kau mengkhianati kepercayaanku.."
"Eve maafkan aku.." Devan tergugu.
"Sekarang apa maumu, apa yang kau inginkan dariku.." Evelyn terkekeh "Ah, ya kau ingin melihat ku dengan puas karena benar- benar menjadi seorang pela cur."
"Hentikan Eve, aku mohon maafkan aku.." Devan menangis, saat ini dia merasa lemah, penyesalan yang sejak dulu merasuki hatinya semakin membuatnya sesak ketika mengetahui alasan sebenarnya Evelyn pergi tanpa ia tahu, jadi saat itu dia tengah mengandung dan dengan brengseknya dia malah bercinta dengan wanita lain.
"Maaf.."
"Sudah terlambat.." Devan mendongak hatinya sungguh sakit melihat tatapan penuh kepedihan di mata Evelyn.
...
Hari itu Evelyn di kejutkan dengan teriakan Ibunya yang menemukan sebuah tespack bergaris dua di kamarnya. "Milik siapa ini Eve?!"
Evelyn menunduk terdiam, kedua tangannya saling meremas karena gugup.
"Katakan Eve!"
"Bu, maafkan aku.."
"Siapa pria itu? kau membuatku kecewa Eve, apa aku gagal mendidikmu.." Selama ini Evelyn yang keluarganya kenal adalah sosok lugu dan penurut, namun kini Evelyn tengah mengandung, bagaimana bisa..
"Kau di perkosa?"
Evelyn menunduk "Aku mencintainya Bu.."
Ibu Evelyn terjatuh dan sesegukan merasa kecewa dengan anaknya.
"Bu.. maafkan aku, Ayah.." Ayah Evelyn menggeleng lemah, dia juga terlihat kecewa "Ibu tidak bersalah, akulah yang membuat kesalahan.." Evelyn berlutut "Maafkan aku bu.."
Ibu Evelyn merasa gagal telah membesarkan Evelyn, tatapannya begitu kecewa lalu sesat kemudian dia memalingkan wajahnya seolah tak sudi melihatnya "Ayah.." Evelyn berharap bisa mendapat rasa belas kasihan dari sang ayah.
"Kau sungguh mengecewakan aku.. apa aku menyekolahkan kamu hanya untuk hamil diluar nikah Eve"
"Kau begitu suka kebebasan bukan, pergilah."
"Ibu.." Evelyn menatap tak percaya, di negara mereka bukan hal baru jika seorang gadis hamil sebelum menikah, bahkan banyak gadis- gadis yang kehilangan keperawanannya sebelum mereka memiliki suami, tapi keluarganya menganut paham kolot yang menjaga kesucian sebelum menikah, dan kini Evelyn hanya mampu terdiam.
"Pergilah jalani hidupmu dengan pria yang kau cintai itu.."
Evelyn membawa tas besar berisi pakaian yang di kemas Ibunya secara sembarang, dengan perasaan linglung Evelyn mencari taksi yang akan dia tumpangi pergi ke apartemen Devan, benar dia hanya perlu pergi ke tempat pria itu, dan Devan pasti akan melindunginya, Devan mencintainya..
Dan Devan pasti akan menerima bayinya. Evelyn mengelus perutnya lalu tersenyum usianya memang baru 19 tahun tapi mengetahui jika dia mengandung bayi pria yang dia cintai, membuatnya bahagia.
Tiba di apartemen Devan, Evelyn meletakkan tasnya untuk menekan kode pintu, saking seringnya Evelyn datang dia bahkan sudah tahu kode pintu apartemen Devan, dan tentu saja itu tanggal ulang tahunnya, romantis sekali bukan pria itu.
Saat tangannya bergerak akan menekan kode, Evelyn mengeryit dan melihat sedikit celah dari pintu, pintu tidak tertutup rapat, pria itu sungguh ceroboh, bagaimana jika ada yang masuk dan mencuri sesuatu.
Evelyn berjalan masuk dan mengeryit saat melihat sepatu wanita ada di depan pintu, jantung Evelyn berdegup kencang saat melihat pakaian berserakan dilantai sepanjang jalan ke arah kamar Devan.
Evelyn bertumpu pada dinding saat telinganya mendengar suara- suara menjijikan dari kamar Devan, tubuhnya terasa lemas tak bertulang, saat mendengar Devan bahkan membicarakannya dengan wanita itu.
"Kau yakin Eve tidak akan marah.."
"Eve..?"
"Ya kekasihmu, semua orang di kampus mengetahuinya.." Devan tertawa.
"Aku hanya memanfaatkan keluguannya."
"Apa?"
"Bagus sekali bukan, dia itu sudah seperti pela cur, bedanya jika pela cur mendapat bayaran, tapi dia suka rela melakukannya denganku tanpa bayaran.. bahkan sepenuh hati.."
wanita itu tertawa mengejek "Lalu aku, apa aku untukmu?" Evelyn melihat wanita itu merangkak naik ke tubuh telan jang Devan, dan melu mat bibirnya.
"Kau berbeda, kau sudah berpengalaman tentu saja kau tahu caranya memuaskan aku, tanpa perlu bimbingan.." Evelyn menutup telinganya saat terdengar suara desa han dari keduanya, tubuhnya yang lemas dia seret paksa hingga keluar dari pintu apartemen pria itu.
Evelyn jatuh terduduk di depan pintu, betapa kejamnya pria itu perasan cinta dan kata katanya hanya sebuah bualan semata, dan dia hanya memanfaatkan Evelyn saja demi kepuasannya.
Lalu sekarang bagaimana?..
Evelyn menyesal telah menyerahkan segalanya pada pria itu bahkan kini dia tengah mengandung benih pria itu, inikah balasannya karena tidak mengikuti petuah orang tuanya.
Sekarang kemana dia harus pergi di saat orang tuanya bahkan tak ingin lagi melihatnya, dan harapan satu- satunya untuk berlindung pun ternyata bukan harapan, Evelyn menangis sepanjang jalan berjalan kaki hingga kakinya terasa lemas dan sakit barulah dia berhenti.
Mendudukan dirinya di trotoar, kini Evelyn menyesal, menyesal mengenal pria bernama Devan itu, Evelyn bahkan masih mengingat bagaimana pria itu mendesah karena sentuhan wanita lain selain dirinya, menjijikan.
Evelyn menunduk dan melihat terikat sebuah kalung di lehernya, kalung pemberian Devan saat ulang tahunnya beberapa bulan lalu, pria itu memberikan hadiah sebuah kalung dan kue ulang tahun kejutan di apartemennya, pria itu mengatakan banyak pujian tentang dirinya dan membuatnya tersipu bangga, dan seperti biasanya setelahnya mereka akan memadu kasih dengan penuh gairah, jika di hitung lagi mungkin saat itulah bayinya kemudian tumbuh. Tangan Evelyn bergerak cepat melepas kasar kalung tersebut, rasanya benci memiliki benda pemberian dari seorang pengkhianat, saat tangannya bergerak untuk melempar jauh kalung tersebut sebuah pemikiran terlintas di kepalanya, dia membutuhkan uang, setidaknya jika dia menjualnya dia bisa pergi ke suatu tempat, tempat yang jauh, mungkin..
Namun saat itu Evelyn tidak berpikir bahwa penderitaannya belum berakhir hanya dengan dia pergi jauh, bahkan kesedihan terasa mendalam saat dia merasakan kelaparan dan tak memiliki uang sepeserpun.
....
Like..
Komen..
Vote..
Eh, vote ke "Dear My Ex Husband" aja Ya🤭 yang ini belum kontrak soalnya.
Lagi?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments
Anisatul Azizah
brengkes banget sih kamu Dev, sok2an masih g bisa lupa, ketemu sekali langsung ditahan ky gini.. biar apa??? kl perginya g pas hs sm wanita lain mungkin g sebenci ini sm kamu
2024-02-21
0
Anisatul Azizah
Thor tolong jodohkan saja Eve dg Will😭😭😭
2024-02-21
0
Hartaty
astaga , ternyata,ichh Thor gak rela aku klu balikan
2023-09-05
1