Ponsel Evelyn di atas nakas berdering menampilkan nama.. "Irene.."
"Ya..?" Evelyn menempelkan ponselnya di telinga, setelah menggulir tombol hijau.
"Eve, hari ini hari terakhir kau bersama tuan Willy bukan?" Evelyn memijat pelipisnya.
"Ya.."
"Setelah ini ada yang menyewamu.." Evelyn mengerutkan keningnya, tubuhnya remuk redam akibat percintaannya dengan Willy tiga hari ini, dan setelah ini dia harus melayani nafsu pria lagi..
"Irene bisakah aku istirahat satu hari saja, tubuhku rasanya remuk redam.."
"Bagaimana ini uangnya sudah masuk ke rekeningmu.." Evelyn melihat ponselnya dan membuka sebuah notifikasi, mata Evelyn terbelalak saat melihat nominalnya.
"Irene kau tidak salah kirim? nominalnya besar sekali.."
Irene terkekeh "Tentu saja tidak. Pria itu berani membayar tiga kali lipat dari hargamu, dan jangan khawatir dia tidak akan memaksa jika kau belum siap, ya karena dia tahu kau tidak berhenti tiga hari ini..
Jadi jika ingin menunda, bicarakan saja padanya.."
Evelyn mengeryit "Semudah itu?" biasanya para pria akan langsung menerjangnya saat dia baru saja tiba.
Irene mendesah "Temuilah saja dia dulu.."
"Dan Ya, pria itu ada di hotel yang sama denganmu, jadi kau tidak perlu kehabisan waktu di perjalanan."
Evelyn semakin mengeryit "Dia ada di sini?"
"Ya, jadi jika kau sudah selesai dengan tuan Willy segeralah datangi dia."
Evelyn mencebik "Baiklah.."
"Jangan mencebik, tersenyumlah uangmu bertambah.." Evelyn terkekeh.
"Ya, aku akan datang."
Evelyn menoleh dan menatap Willy yang baru selesai mengenakan pakaian.
"Aku akan pulang hari ini.." Willy mendesah lelah, dia tak bisa meluluhkan Evelyn, dan Willy hanya bisa pulang dengan tangan hampa. "Kau tidak mau memikirkan lagi.." Willy menangkup pipi Evelyn.
Evelyn menggeleng sambil tersenyum "Keras kepala.."
Evelyn tak dapat memungkiri jika tiga hari ini perasaannya menghangat dengan segala perhatian dari Willy, tapi kenapa tidak bisa mengubah perasaannya, hati Evelyn sepertinya tidak ingin mengenal lagi sesuatu bernama cinta.
"Sampaikan salamku untuk Daren.." Daren adalah putra Willy yang menjadi topik pembicaraan mereka kemarin.
"Baiklah, selamat tinggal.." Evelyn tersenyum, lalu berjinjit dan melingkarkan tangannya di leher Willy menarik tengkuknya dan melu mat bibirnya.
"Selamat tinggal." Willy memeluk Evelyn.
"Pikirkan juga untuk keluar dari dunia ini Eve, aku bisa membantumu.." Evelyn hanya tersenyum tak menanggapi, Semalam Willy menawarkan memberi pekerjaan agar Evelyn bisa memiliki hidup layak tanpa menjual dirinya, namun sekali lagi Evelyn menolaknya.
Evelyn bermimpi memiliki hidup normal seperti manusia pada umumnya, cita- citanya saat semua uangnya terkumpul dan hutangnya telah lunas, Evelyn akan pergi ke tempat dimana tak ada orang mengenalnya, memulai hidup baru dengan tenang tanpa rasa takut apapun, termasuk kekurangan.
Entah kapan itu akan terwujud, tapi Evelyn harap itu tidak akan lama lagi.
...
Evelyn melambaikan tangan saat Willy memasuki mobilnya, dia berada di lobi mengantar kepergian pria itu.
Willy adalah satu- satunya pria yang berkesan bagi Evelyn, selain karena waktu mereka cukup lama, juga karena Willy memperlakukannya dengan lembut.
Selama tiga hari ini Evelyn di perlakukan seperti layaknya kekasih, meski Evelyn tahu itu adalah bujuk rayu Willy agar Evelyn mau menikah dengannya.
Pria aneh baru bertemu langsung mengajak menikah, meski Evelyn sering mendapat tawaran itu tapi mereka hanya berniat menjadikannya simpanan atau istri siri saja, tapi Willy benar- benar memperlihatkan keseriusannya dan akan menjadikannya istri sah, tapi entah kenapa ada perasaan enggan di hati Evelyn, apakah dia merasa tidak layak untuk Willy, entahlah mungkin juga itu salah satunya, yang pasti Evelyn hanya ingin hidup damai tanpa drama pernikahan.
Evelyn menghela nafasnya lalu kembali masuk kedalam hotel, dimana tuan barunya berada.
Evelyn lelah, tentu saja tapi Irene sudah membayarnya bahkan sangat banyak bukankah dengan begitu tabungannya menjadi banyak dan hutangnya akan segera lunas.
"Baiklah Evelyn semangat.." katanya pada diri sendiri, semoga tuannya yang baru mengizinkannya untuk pulang dulu dan istirahat setidaknya satu hari sebelum melakukan pekerjaannya, bukankah Irene bilang dia bisa mengatakan itu..
Evelyn memasuki lift setelah memastikan dimana kamar tuannya berada pada resepsionis yang ternyata hanya berbeda satu lantai dari kamar Willy, Irene menyebutkan nomer kamar pria itu namun anehnya Irene tidak menyebutkan nama pria itu.
Irene hanya berkata "Pria itu ingin identitasnya tersembunyi.." Dan Evelyn tak menaruh curiga lagi, karena memang ada beberapa pengusaha yang tak ingin namanya menjadi buruk karena menyewa wanita panggilan, demi menjaga image mereka yang aslinya buruk.
Dasar nafsu, seharusnya jika tak ingin terlihat buruk kenapa harus menyewa wanita panggilan, tapi itulah nafsu.
Namun Evelyn tak ambil pusing, memang begitukan? pekerjaannya memang seburuk itu, jadi mau di hina seperti apapun Evelyn tidak akan ambil hati.
Evelyn menatap nomer lift yang masih bergulir hingga tiba dilantai tujuannya dan pintu itu terbuka.
Menemukan pintu kamar tuannya Evelyn menekan bell di sisi pintu, beberapa saat menunggu Evelyn menegakkan tubuhnya saat pintu terbuka.
"Hello Aku Eve.." Evelyn mendongak dan tertegun melihat sosok di depannya.
Tiba- tiba tubuhnya terasa linglung yang ada di depannya adalah seorang perempuan, apakah yang menyewanya adalah perempuan, tapi Irene tidak bilang, jelas sekali Irene bilang dia pria, jika dia tahu yang menyewanya adalah perempuan dia akan menolaknya mentah- mentah.
Evelyn masih normal, dan berapapun dia dibayar dia tak mau jika harus melayani sesama apel, 'Apel makan Apel.' Evelyn bergidik "Maaf aku salah kamar.." Evelyn berbalik dia lebih baik kabur dan mengembalikan uang yang sudah Irene berikan, dari pada melayani seorang perempuan.
"Nona Eve.. anda tidak salah silahkan masuk." Tina bicara dengan tegas tapi lembut, dia tahu tuannya sangat menginginkan wanita ini, dan dia tak boleh gegabah atau menyinggung wanita ini, salah- salah wanita di depannya bisa lari dan tak ingin bertemu dengan tuannya.
"Tapi aku datang untuk.."
"Aku tahu, oh.. maaf kenalkan aku Tina Aku bekerja sebagai sekertaris dari.." Tina menghentikan ucapannya hampir saja dia keceplosan sedangkan tuannya meminta untuk tidak menyebutkan namanya.
Evelyn mengangguk cepat, begitu rupanya, kenapa dia berpikir macam- macam.
Evelyn bodoh, mana mungkin Irene menjerumuskannya.
"Masuklah.." Tina membuka pintu lebih lebar dan membiarkan Evelyn masuk.
Evelyn melebarkan pandangannya ke seluruh ruangan namun tak menemukan orang lain disana kecuali dia dan wanita bernama Tina ini, apa dia sedang di jebak..?
"Maaf nona.., sepertinya aku benar- benar salah.. aku tidak bekerja untuk perempuan" Wajah Tina merah merona, apa yang di pikirkan oleh wanita di depannya.
"Tidak nona tunggu sebentar, aku sungguh sekertaris tuanku, jadi anda tidak salah.. di karenakan Tuan..ku sedang menghadiri rapat jadi saya diminta untuk menemui anda..
"Sungguh?"
"Ya, silahkan duduk.. ada beberapa perjanjian yang harus anda tanda tangani" Evelyn mengeryit.
"Kenapa menggunakan perjanjian..?" Evelyn dilanda kegelisahan. Ada Apa dengan pengusaha satu ini apa dia tidak percaya padanya hingga menggunakan perjanjian.
"Bukan apa- apa, tapi tuan hanya tak ingin anda melanggar semua kesepakatan karena tuan saya sungguh menjaga privasinya."
Evelyn mengangguk "Baiklah, berikan padaku biar aku yang putuskan akan menyetujuinya atau tidak.." Tina meraih map di depannya.
"Silahkan.." Evelyn mengerjapkan matanya ada beberapa lembar kertas dengan tulisan penuh, dan kepala Evelyn mulai pening melihatnya
"Sebanyak ini? "
"Tuanku memberi harga setimpal.." kepala Evelyn yang sudah pening bertambah pening.
"Apa isinya harus sebanyak ini, bisa kau katakan poin pentingnya saja?"
"Tentu, tuan ingin saat anda berhubungan dengannya anda menjaga privasinya, merahasiakan namanya, tidak berhubungan dengan pria lain, karena tuan tidak suka berbagi, dan demi kesehatan anda juga harus memeriksakan diri..
"Selama masa kontrak anda akan ikut kemana pun tuan pergi, melayani dimana pun dan kapanpun.."
"Tunggu sebentar.." Evelyn menghentikan ucapan Tina. "Apa maksudmu dengan masa kontrak?"
"Apa Nyonya Irene tidak menjelaskannya?" Evelyn mengeryit.
"Anda di kontrak selama dua tahun dan dibayar secara penuh."
"Apa?!"
Sialan Irene benar- benar menipunya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments
💗vanilla💗🎶
omg 2 th, brp tu duitnya thor 🙄 tar sekali ketemu lsg kaburr si evelyn
2023-10-22
1
Alfiany Nadia
jujur aja klo gw jdi eve gw gk bisa bayangin nasip gw yg kayak gk bisa lepas dan bebas ngelakuin apa yg dia mau..mau itu yg sewa devan dan bakal memperlakukan dia bak ratu sekalipun..menjadi bebas tentu keinginan yg besar..apalagi dia lakuin itu krn ada hutang..gw berharap di episode kedepan eve bisa ngerasain hidup tanpa harus terikat sama satu pria dulu dan nikmatin kebebasannya sebelum akhirnya dia sama jodohnya 😢
2023-06-14
1
Zoeya
kenapa ngak up kemarin Thor😥
2023-06-14
1