"Sial, gaunku di robek lagi.." Evelyn memungut gaun tipis yang di robek Felix dan melemparnya ke tong sampah.
Evelyn melihat ke arah ranjang dimana Felix masih memejamkan matanya setelah puas, menungganginya.
Evelyn mengambil sebatang rokok dari kotak rokok milik Felix, menyulut lalu menyesapnya "Semua pria sama saja.." desisnya menghembuskan asap ke udara.
Setiap pria yang dilayaninya selalu beraksi tak sabaran dan merobek gaunnya dengan beringas tak peduli harga gaun itu mahal, meski gaun tipis, tapi gaun itu bermerk dan terkenal dengan mode yang seksii dan membuat bergairah para pria.
Ya itu adalah lingerie dari merk ternama dan terkenal dengan harga fantastis meski hanya untuk gaun tipis, bahkan ada beberapa hanya bermodel jaring ikan saja, tapi harganya tak masuk akal. Tapi mau bagaimana lagi, itu adalah modal bagi Evelyn untuk setiap pekerjaannya.
Dengan modal yang besar dan mahal tentu saja hasilnya pun akan lebih besar, kepuasan yang di terima pelanggannya akan berakibat pada rekeningnya yang membengkak.
Sebuah notifikasi masuk ke ponselnya dan benar saja ada sejumlah uang yang baru saja masuk ke dalam rekeningnya.
"Tip untukmu.." Terdengar suara serak dari pria yang baru bangun dengan ponsel di tangannya, Felix terbangun dan langsung memberikan sejumlah uang yang tak main- main untuk kepuasan yang baru saja di dapatnya, dan itu di sebutnya sebagai tip?.
Tentu saja karena uang pokoknya sudah dia terima dari Irene sang mucikari yang menawarkannya pada Felix.
"Ini lebih besar dari yang di berikan Irene.."
"Tidak masalah, karena aku puas.."
Evelyn tertawa kecil merasa lucu dengan tingkah pria seperti Felix ini, dia memiliki kekasih, tapi masih menyewa wanita panggilan untuk memenuhi hasratnya, uangnya banyak kenapa tidak bawa saja kekasihnya agar dia tidak perlu mengeluarkan uang tip yang banyak seperti kali ini.
Kasihan sekali kekasih Felix yang menunggu Felix tanpa tahu pria itu sedang bersenang- senang dengan wanita lain.
Tapi Evelyn tak peduli itu bukan urusannya sama sekali, tugasnya adalah bekerja dan mencari uang sebanyak- banyaknya dengan memuaskan hasrat pria itu.
Evelyn menyalakan api dan menyulut rokok yang terselip di mulut Felix, Felix tersenyum menyeringai dan seksii membuat Evelyn sedikit tertegun.
"Kau terlihat terpesona padaku.." Felix terkekeh.
Evelyn tersenyum lembut dan kini Felix yang terdiam, senyum Evelyn begitu lembut bahkan nampak lesung pipik yang mempercantiknya berbeda dengan senyum penuh godaan yang Evelyn berikan tadi, kali ini senyumannya mampu menembus hati Felix "Aku rasa perkataan itu terbalik.."
Felix tertawa..
Evelyn sungguh luar biasa, jika Felix lebih lama lagi di dekat wanita ini dia pasti tergila- gila.. ah bahkan sekarang pun Felix sepertinya sudah terjerat.
"Kau memang luar biasa.."
"Aku hitung pujian itu yang ke dua puluh kalinya.." Evelyn memiringkan wajahnya, terlihat imut dan lugu, namun Felix tahu Evelyn tak selugu itu..
Felix terkekeh "Jika terlalu lama aku di dekatmu, aku mungkin akan menjadikanmu kekasihku.."
"Oh, ya..? jika begitu aku harus segera pergi.." Evelyn bangkit dari duduknya, namun bukannya pergi Evelyn justru duduk di pangkuan Felix dan memberi ciuman lembut pada bibirnya, di sambut baik oleh Felix keduanya bergelut bersambung lidah penuh gairah, hingga Evelyn menarik diri meninggalkan kekosongan pada Felix..
"Terimakasih untuk tipnya.." sekali lagi Evelyn memberi sapuan lembut di bibir Felix dengan lidahnya lalu bangkit dan pergi meninggalkan Felix yang tertegun.
Sial,
Felix di tinggal setelah gai rahnya tersulut oleh sapuan lembut bibir tipis Evelyn.
...
Evelyn berjalan ke arah dimana mobilnya terparkir di parkiran hotel lalu melajukannya dengan kecepatan sedang, hari sudah semakin malam dimana para manusia normal sudah mulai memejamkan mata dan beristirahat, tapi tidak bagi Evelyn semakin malam maka Evelyn semakin bersemangat dalam mengumpulkan pundi- pundi uang.
Berkendara kurang lebih dua puluh menit Evelyn menghentikan mobilnya di parkiran sebuah Club malam, mendapat sapaan dari penjaga depan gerbang Evelyn melanjutkan langkahnya memasuki ruangan yang semakin dalam semakin remang cahaya.
Suara musik yang nyaring dan memekak telinga menerpanya namun Evelyn nampak tak terganggu dengan itu dan terus berjalan masuk.
Asap rokok menguar bercampur dengan aroma khas dari beberapa minuman yang bisa dengan mudah di dapat hanya dengan memesan pada bartender yang sedang meracik di depannya.
"Eve.. Irene mencarimu.." kata sang bartender dan membuat Evelyn yang baru saja duduk mendengus.
"Tidak bisakah aku minum dulu.." keluhnya.
Ares terkekeh "Aku rasa Irene juga tidak terburu- buru.."
Evelyn mengangguk "Baiklah aku akan menikmati dulu minumanku.." Evelyn menyesap pelan minuman berwarna kuning keemasan di dalam gelas kecil yang baru saja di sajikan Ares, memejam menikmati rasa panas menjalari tenggorokannya dan seketika membuat tubuhnya hangat.
"Racikan mu selalu nikmat.." Ares tersenyum menggeleng saat Evelyn bangkit dan pergi ke arah dimana ruangan Irene berada.
Mengetuk pintu ruangan Irene lalu membukanya Evelyn tertegun sesat lalu mendengus "Kau tidak mengunci pintu.."
Irene menahan desa hannya lalu menurunkan roknya yang terangkat, di bawahnya ada seorang pria yang sedang memberikan sapuan padanya. "Kita lanjutkan nanti Baby.." Irene memberi ciuman sebelum mendorong pria itu keluar dari ruangannya.
Mengedikkan bahu acuh Evelyn mendudukan dirinya di sofa berwarna merah cerah milik Irene.
Harusnya pemandangan yang baru saja dilihatnya membuatnya canggung dan malu, tapi tidak bagi Evelyn, hal yang sudah terbiasa dilihatnya menjadi biasa baginya, bahkan dirinyapun juga melakukan itu, jadi Evelyn hanya menatap Irene dengan acuh.
"Kau memanggilku.." Irene mendesah lelah, wanita paruh baya yang masih cantik dan seksii itu menatapnya dengan tatapan tak biasa.
Irene adalah wanita berusia 40 han, dan seorang janda yang haus belaian, bermodal club malam yang dimilikinya dia membuka layanan wanita panggilan untuk setiap pria yang tak merasa puas dengan kekasih bahkan istrinya atau bahkan pria jomblo yang tak punya tempat untuk melampiaskan hasratnya.
Usaha yang sudah di gelutinya selama lebih dari sepuluh tahun itu sudah memperkayanya, bagaimana tidak wanita yang dimilikinya adalah wanita- wanita tidak hanya cantik tapi tentu saja dapat memuaskan semua pria yang menyewanya hingga uang yang di dapatnya tidak sedikit, sepeti Evelyn yang dia jadikan anak emas seringkali membawa hoki dengan uang sewa yang tak main- main karena kemampuannya yang luar biasa menghipnotis setiap penyewanya.
Beruntungnya Irene menemukan Evelyn lima tahun lalu dan menjadikannya anaknya, anak dalam artian tanda ("). Hingga kini Clubnya sudah memiliki beberapa cabang dan bekerja sama dengan beberapa investor.
"Besok malam, akan ada acara penyambutan investor besar kita.. aku harap kau bisa menjadi salah satu wanita penari.."
Evelyn mengangkat alisnya, selain menjadi wanita panggilan dia juga kerap menari berlenggok menampilkan lekuk tubuhnya untuk mendapatkan uang.
Pole dance adalah salah satu kemampuan yang dia kuasai.
"Hanya itu..?" Evelyn mendengus jika hanya itu kenapa tidak lewat telpon saja, kenapa repot- repot memanggilnya, hingga dia harus mengganggu kegiatan Irene.
Irene lagi- lagi menghela nafasnya "Tidak hanya itu Eve.. investor kali ini sedikit mengerikan, jadi kau harus sedikit hati- hati.."
...
Tes satu, dua, tiga?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments
Bilal Hanif
dari rasa penasaran akhirnya lanjut juga semangat author trus berkarya🤗
2025-03-06
1
💗vanilla💗🎶
mlipir ke sini jg
2023-10-22
0
Anita
empat
2023-07-14
0