Perpisahan

"Siapa pria yang menyewaku? apa dia pria tua, jelek, dan berperut buncit?" tatapan Evelyn begitu serius ke arah Tina.

"Anda akan segera bertemu beliau nona, jadi ini tidak penting, lagi pula anda sudah tidak bisa mundur, kontrak sudah di tanda tangani, sekalipun tuanku pria tua, jelek ataupun berperut buncit."

"Dan kalian memaksaku.." Tina terdiam.

"Baiklah terserah, aku akan tuliskan persyaratan ku, jadi selain itu kalian tidak boleh mengekangku."

"Saya mengerti nona, semua permintaan anda akan saya sampaikan, dan memastikan bahwa tuan akan menyetujuinya."

Evelyn keluar dari kamar tersebut, memasuki lift setelah berjalan beberapa meter di koridor.

Evelyn tak hentinya menghela nafasnya, kenapa rasanya begitu berat, seolah dia akan melakukan peperangan.

Evelyn bodoh memang kau pernah ikut berperang.

"Irene lihat saja kau, aku akan menemukanmu, bisa- bisanya dia menjual ku pada pria itu untuk dua tahun .. " Evelyn memejamkan matanya, ini konyol sekali,bagaimana bisa dia menyetujui kontrak dua tahunnya, tapi mau bagaimana lagi dia juga tidak bisa menolak, dengan berbagai ancaman.

Jika dia menolak, Irene harus mengembalikan dua kali lipat, bukankah itu berarti hutangnya juga bertambah dua kali lipat, belum lagi orang itu mengancam akan menghancurkan bisnis Irene.

"Harusnya ku biarkan saja Irene membayarnya." tapi Evelyn juga memikirkan tentang para pekerja lainnya yang bergantung pada club Irene seperti dirinya.

Evelyn melajukan mobilnya ke arah club, dia akan meminta penjelasan dari Irene tentang keputusan sepihaknya.

Tiba di club suasana nya masih hening jelas saja karena di siang hari club masih belum buka, hanya ada beberapa pekerja yang membersihkan club sebelum club di buka dan beroperasi di malam hari.

"Dimana Irene?."

"Oh, Irene belum datang.."

Evelyn mendengus, lalu wanita itu kembali berujar.. "Ah Iya, aku dengar dari manager katanya Irene sedang liburan ke luar negeri."

"Apa?!" Evelyn berteriak tertahan, setelah menjualnya dia seenaknya pergi liburan.

"Kau kenapa?, bukankah sudah biasa Irene seperti itu.." Wanita yang tengah merapikan pakaiannya itu menatap heran Evelyn, dia baru saja meyelesaikan pekerjaannya di ruang vip dan bertemu Evelyn berjalan terburu- buru.

Evelyn menipiskan bibirnya menahan kesal, benar Irene memang biasa pergi liburan setelah mendapatkan untung besar, dan kini keuntungannya pasti dari menjual dirinya pada pria itu, entah mungkin Irena menghindar dan tahu Evelyn akan mencarinya.. sialan dia kabur.

Evelyn memejamkan matanya "Baiklah, aku datang untuk berpamitan.."

"Kau akan pergi?" wanita yang satu profesi dengan Evelyn itu mengeryit.

Evelyn mendengus "Bilang saja kau suka karena tidak ada saingan."

Wanita itu terkekeh "Tentu saja, setidaknya selama kau pergi aku akan jadi nomer satu.. bayaranku akan naik."

Evelyn tersenyum meringis, selama ini setiap wanita menyimpan rasa iri mereka karena para pria lebih sering menyewanya dibanding yang lain. "Kau tenang saja nikmati waktumu, karena aku tidak akan kembali."

"Apa?! ka..u yakin?"

"Irene sudah membuangku.." ya membuang pada lubang yang sama, dan tetap saja dia menjadi pel acur.

"Eve.." wanita itu berkaca- kaca.

"Kau terharu karena tidak punya saingan.."

Wanita yang tadinya menampakkan raut bahagia kini memeluk Evelyn "Bagus sekali kau bisa keluar, selamat atas kebebasanmu."

Evelyn menelan ludahnya kasar, memang tidak semua wanita panggilan punya masalah sepertinya, tapi Evelyn tahu mereka tak menginginkan ada di posisi seperti sekarang, meski ada yang melakukannya dengan senang hati untuk mendapatkan uang, yang dengan mudah di dapat hanya dengan mengangkang dan men desah nikmat saja sudah di bayar.

Tapi tetap saja berada di kegelapan terasa menyesakkan dan ingin hidup layaknya orang biasa.

"Sudahlah, kau senang.. senang saja, jangan menangis begitu." Evelyn menepuk punggung wanita yang kini terisak di pelukannya, Evelyn juga merasa sedih tapi dia tak boleh lemah. "Aku harap suatu saat kita bertemu lagi dalam keadaan yang berbeda."

Evelyn mendorong lembut bahu wanita itu "Aku pergi.."

Evelyn kembali melajukan mobilnya ke arah rumah sederhananya yang selama ini menjadi tempat bernaung dan mempunyai banyak kenangan selama dia tinggal di sana.

Harapannya untuk meminta penjelasan pada Irene harus dia telan bulat- bulat bahkan ponsel wanita itu juga tidak aktif.

Kini Evelyn hanya bisa pasrah dan menjalani waktu dua tahunnya tertawan oleh seorang pria yang entah siapa.

"Baiklah, semua baik- baik saja.. hanya dua tahun, setidaknya aku tak perlu melayani banyak pria, tinggal tunggu aku terbuang, dan bebas.

Lebih bagus jika dia bosan sebelum dua tahun, bukankah aku tidak dirugikan.." Evelyn terkekeh. "Benar, bukankah jika dia bosan dia akan cepat membuangku."

"Setelah itu aku bebas, bebas dari segalanya. Dan aku hanya perlu menjalani mimpiku, hidup sendiri dengan tenang."

.

.

Tiba di rumah Evelyn merapikan pakaiannya, mengemas yang akan dia bawa, dan menyimpan rapi yang akan dia tinggalkan, memastikan semuanya tak akan terkena debu, dua tahun bukan waktu yang sebentar, dan Evelyn mungkin tak akan bisa datang hanya untuk sekedar membersihkan rumah, belum lagi entah dimana tempat yang di sediakan pria itu untuknya, mungkin di luar kota, dia belum tahu.

Otak cantik Evelyn terus berputar memikirkan bagaimana caranya agar rumahnya tak terbengkalai, lalu sebuah nama terlintas dan dengan cepat Evelyn menyelesaikan pekerjaanya untuk menemui orang yang bisa dia percaya untuk merawat rumahnya.

Saat Evelyn merapikan semua barangnya tatapannya jatuh pada sebuah bingkai foto yang terpajang di kamarnya "Haruskah aku membawamu?" Evelyn mengelus lembut wajah dalam gambar tersebut. "Tapi disana bukan tempatku, jika aku memajangmu disana entah apa yang akan di pikirkan pria itu, tunggulah. Setidaknya kau akan menjaga tempat ini, tunggu aku kembali.. dan kita akan pergi ke tempat baru." Sebuah kenangan memang akan abadi jika di simpan dalam sebuah foto, raut itu akan tersimpan meski raganya sudah tiada, dan Evelyn harap kelak dia akan membawa gambar itu ke tempat yang baik dengan awal baru, meski hanya tinggal bingkai foto tapi setidaknya bisa sedikit mengobati rasa rindunya.

"Aku merindukanmu, aku ingin memelukmu, mencium seluruh wajahmu, dan membisikkan kata- kata cinta.." air mata di pipi Evelyn meluncur begitu saja mengingat waktu yang hanya sesaat saja dia bersama sosok itu sebelum dia pergi meninggalkannya sendirian dalam kegelapan.

Sudah tidak ada cahaya yang meneranginya, memberi semangat saat ia pergi untuk berpeluh meski untuk mendapatkan uang haram.

Kini Evelyn sendirian, berjuang untuk bisa hidup dengan nyaman di suatu hari nanti.

Evelyn mengusap air matanya, menarik resleting kopernya dan meninggalkan kamarnya dan tentu saja bingkai yang baru saja ia tangisi.

Tanpa terasa hari sudah menggelap saat Evelyn keluar dari rumah, Evelyn memasukan kopernya dan melajukan mobilnya ke arah mini market langganannya, tak banyak teman yang dia miliki dan tentu saja yang dia percaya hanya gadis itu..

"Boni.." Evelyn meletakkan satu kotak besar cake dan dua botol bir di meja kasir, temannya Boni sedang menghitung penghasilannya di mesin uang, kebetulan sekali sedang tidak ada pelanggan.

Gadis bernama Boni itu mendongak mengeryitkan kening "Cake besar? seingatku kau tidak ulang tahun.. lalu bir, aku sedang bekerja tidak boleh mabuk" Evelyn tersenyum.

"Memang, tapi aku ingin beli yang besar untuk pesta perpisahan." Boni bangkit dari duduknya dan memekik terkejut.

"Uang mu sudah terkumpul?" Evelyn meringis, Boni tahu akan mimpinya jika semua uangnya sudah terkumpul dia akan pergi ke tempat baru.

"Belum.."

"Lalu..?"

"Aku ada sebuah pekerjaan, dan akan pergi selama dua tahun.."

"Apa?!" Evelyn mencebik.

"Aku akan jelaskan.."

"Aku akan tutup tokoku dulu.." Boni bergerak cepat dan menutup rolling door tokonya untuk mendengar cerita Evelyn.

Evelyn mendesah lelah dan menatap dua botol bir di depannya, baiklah setidaknya dia akan bercerita semalaman hingga mabuk bersama Boni.

....

Sepiiiii..

Lanjutkah?

Terpopuler

Comments

Endah Setyati

Endah Setyati

Devan yg membuat evelyn masuk ke dunia malam tanpa sengaja,, karena kata kata devan setelah evelyn memberikan dirinya untuk devan karena cinta,, membuat evelyn terpuruk,, padahal devan orang yg paling di harapkan evelyn memberikan kebahagiaan dalam hidup eve

2025-02-27

0

Anisatul Azizah

Anisatul Azizah

anaknya kah??

2024-02-21

0

Mengmeng

Mengmeng

lanjuttt

2023-12-02

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!