Tak Berani Bermimpi

"Kau akan segera pergi,?" Willy menatap Evelyn yang mengenakan kembali pakaiannya, setelah percintaan mereka yang hanya beralaskan sofa, Evelyn membenahi dirinya.

Tak masalah bagi Evelyn dimana pun pelanggan menginginkannya dia akan layani, lagi pula sofa di ruang VVIP itu cukup nyaman dan luas.

Evelyn tersenyum "Tugasku sudah selesai tuan.."

Willy menatap Evelyn tak berkedip, seolah sedang merekam keindahan tubuh itu untuk dia kenang.

"Kita bisa bertemu lagi?"

"Tentu, aku bekerja disini.." Evelyn membelakangi Willy.

Willy mengangkat sudur bibirnya "Ya, jadi kapanpun aku mau aku hanya perlu datang."

Evelyn tercenung lalu berbalik "Ya.."

"Bisakah aku memilikimu untukku saja." Evelyn mengangkat alisnya.

"Aku tidak berencana bekerja sebagai wanita panggilan untuk selamanya tuan.."

Willy menghela nafasnya "Aku akan menjadikanmu istriku.." seperti pria yang sudah tergila- gila lainnya Willy ingin menjadikan Evelyn untuk dirinya sendiri dan seolah tak rela tubuh Evelyn di nikmati semua orang Willy ingin tubuh itu hanya miliknya.

Evelyn tertawa dengan terbahak "Kau gila tuan, pria mana yang ingin menikahi wanita sepertiku, jangan hanya mementingkan nafsumu tuan, pikirkan juga apa- apa saja yang akan terjadi jika aku menjadi istrimu, bukan hanya harga dirimu yang tercoreng tapi aku juga akan dituduh sebagai wanita tak tahu diri.."

Willy masih menatap Evelyn datar lalu berucap "Aku akan melindungimu.. dan aku juga tak peduli dengan apa yang di katakan orang lain."

Evelyn menunduk sesaat seolah menyembunyikan kesedihannya, "Aku bahkan tidak berencana untuk menikah.." Willy tercengang.

"Dunia ini terlalu pana untukku, bahkan untuk bermimpi saja aku tidak berani, dan aku jamin apa yang kau rasakan bukan sesuatu yang di sebut cinta, melainkan nafsu semata." Evelyn menghela nafasnya.

"Tapi jika untuk melayanimu, jika kau memesanku lewat Irene aku akan siap, tapi sepertinya di Itali juga banyak pekerja sepertiku.."

"Tidak akan ada yang sepertimu.." Benar yang mampu menggerakkan hati Willy hanya Evelyn, karena selama ini hatinya sudah tertutup oleh masa lalunya.

Evelyn tertawa "Saranku tuan, carilah istri itu lebih baik untukmu."

"Karena itu aku memintamu.." Willy menghela nafasnya, setelah sekian lama dia tak pernah memohon, tapi hari ini saat hatinya tersentuh oleh Evelyn keinginan itu muncul begitu saja

Evelyn menggeleng "Bukan aku orangnya, tapi aku yakin kau akan mendapatkan wanita yang terbaik.." Evelyn berjalan dan duduk di pangkuan Willy "Saranku, tersenyumlah tuan, mana ada yang mau dengan wajah datar sepertimu.." Evelyn menarik kedua sudut bibir Willy.

Willy terkekeh "Lihat kau sangat tampan, pasti akan ada banyak wanita yang terpesona.."

"Lalu kau?"

"Sudah ku bilang itu bukan aku, bahkan jika aku mau.." Willy menghela nafasnya.

"Baiklah, tapi bisakah saat aku disini temani aku.." Evelyn terlihat berfikir lalu mengangguk.

"Apa tip yang aku dapat akan banyak.." wajah lugu dia tampilkan dan membuat Willy kembali tersenyum.

"Tentu, mata duitan.." Willy mencubit pipi Evelyn.

"Kerena aku suka uang banyak, makanya aku bekerja seperti ini." Secepat itu Evelyn bisa membuat para pelanggannya nyaman, berbicara seolah mereka teman lama, dan akrab. Bahkan lamaran seperti yang dia dapat dari Willy tak jarang dia dapatkan dari pria lain, namun Evelyn menegaskan hatinya untuk tak berani bermimpi.

Hidupnya yang kelam, tak pantas untuk memiliki mimpi indah yang di sebut pernikahan.

Sekotor itu dirinya..

.

.

Seperti biasa sebelum pergi Evelyn selalu meninggalkan kenangan untuk pria penyewanya, sebuah ciuman lembut , dan memabukkan membuat semua pria semakin tersentuh bahkan menginginkannya lagi

"Selamat malam.." Evelyn akan pergi namun pergelangan tangannya di tahan oleh Willy.

Willy menyampirkan jasnya ke bahu Evelyn yang jelas terbuka karena dia hanya mengenakan b-ra. "Pakaianmu terlalu terbuka, meski aku suka.. tapi entahlah aku tak ingin orang lain melihatnya."

Evelyn tertegun, hatinya terenyuh selama ini tak ada yang memperhatikannya sampai seperti ini, bahkan para lelaki biasanya lebih menyukai dia tanpa pakaian.

"Terimakasih.." Evelyn mengecup pipi Willy "Akan ku kembalikan saat kita bertemu..." Evelyn mengedipkan sebelah matanya lalu keluar dari ruangan tersebut.

...

Di ruangan lain di waktu yang sama Devan baru saja menyelesaikan rapatnya, berjabat tangan lalu tersenyum formal untuk berpamitan, Devan meninggalkan ruangan menyusuri lorong lalu turun ke lantai satu dimana kerumunan orang menari dan bar yang dipenuhi pelanggan, tak ada niatan bahkan sekedar untuk minum di meja bar, Devan diikuti Tina dan seorang pria lain sebagai asistennya menuju pintu keluar, hingga matanya tertuju pada seorang wanita berambut panjang mengenakan jas kebesaran di tubuhnya dengan sebatang rokok terselip di bibirnya.

Devan terpaku, bahkan saat wanita itu memasuki mobilnya dan melaju meninggalkan parkiran.

Dia tidak salah lihat bukan?, itu jelas seperti gadis di masa lalunya, meski penampilannya jauh berbeda dengan dahulu, namun Devan masih mengenali wajah yang bahkan terpatri di benaknya.

"Lyn.."

Terpopuler

Comments

Cis Siu

Cis Siu

evelyn

2024-05-25

0

suharyantik

suharyantik

semakin bikin sy penasaran lanjutkan karyamu dan tetap semangat 💪

2023-06-09

2

Nur halimah

Nur halimah

lanjut thor

2023-06-08

1

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!