Devan

Seorang pria dengan stelan formal baru saja keluar dari jet pribadinya diikuti beberapa orang di belakangnya diantaranya ada seorang wanita yang membacakan jadwalnya selama berada di negara yang baru saja dia jejaki.

"Pukul 3 sore anda akan menghadiri rapat dengan pemilik pabrik anggur terbesar di kota ini, dilanjutkan dengan menemani Tuan Carlos untuk bermain golf..

Lalu pukul 9 malam kita akan rapat di Club Paradise.."

Pria itu terus berjalan dan tak menghiraukan ucapan sang sekertaris, nyatanya apa yang diucapkan wanita itu sudah dia rekam di otaknya hingga dia tak perlu meminta penjelasan lebih lagi.

"Selamat datang tuan Devan," pria itu memasuki mobil setelah sang supir membuka pintu dengan membungkukkan tubuhnya.

Diikuti sekertarisnya yang duduk di kursi di sebelah supir, mobil mulai melaju dengan kecepatan sedang menuju sebuah hotel.

Ponsel di tangan sekertaris berdering "Tuan Devan telepon dari Nona Diana.." sang sekertaris berdehem dia bahkan sudah bicara dengan hati- hati tapi tetap saja jantungnya berdebar takut, takut dimarahi.

"Abaikan.." Devan tak bergeming bahkan matanya terpejam acuh tanpa berniat menghiraukan panggilan tersebut.

Sekertaris Devan meringis lalu melihat ke arah supir yang tak bisa berbuat apa- apa, mereka tidak berdaya dan hanya bisa menurut meski mungkin nanti mereka akan dimaki oleh Nona bernama Diana tersebut.

Kekasih dari tuannya itu memang sangat arogan dan sombong hingga dia selalu membuatnya dalam masalah, kini sekertaris hanya bisa pasrah semoga dia tak mendapat cacian dari Nona Diana karena mengabaikan panggilan yang sudah ketiga kalinya.

.

.

Memasuki hotel Devan di sambut dengan jajaran pegawai dengan menunduk sopan kearahnya, terang saja dia adalah pemilik dari hotel yang kini dia jejaki, Devan menghentikan langkahnya dan menatap sang manager hotel "Sudah kubilang tak perlu sambutan, kembali bekerja!." Devan berkata tegas hingga tak menunggu lama semua pegawai membubarkan diri.

"Bawa semua laporan ke kamarku!" Devan melanjutkan langkahnya menghiraukan Manager yang masih menunduk.

"Baik Tuan.."

"Penjilat.." dengusnya, meski terdengar di telinga sang manager namun dia juga tak berani melawan pada pemilik hotel tempatnya bekerja tersebut.

"Tina cepatlah!" Sekertaris dengan cepat mengikuti langkah Devan.

"Lambat!"

"Maafkan aku tuan.." Tina menekan tombol di lift lalu pintu pun tertutup.

...

Setelah istirahat beberapa saat Devan menyelesaikan satu persatu pekerjaannya, mengunjungi pabrik anggur, dan memastikan anggur- anggur yang memasoknya adalah anggur terbaik, memastikan proses fermentasi higienis hingga menjamin kualitas akan memuaskan pelanggan.

tepat pukul lima sore, Devan keluar dari pabrik dan melepas jasnya dan langsung di terima Tina yang masih mengikuti di belakangnya.

"Persiapan bermain golf ku sudah siap?"Devan memasuki mobil dan mendudukan dirinya, sebelah tangannya sibuk membuka kancing kemeja dan melepasnya dasinya.

"Sudah Tuan.." Tina menyerahkan paper bag pada Devan.

Tiba di lapangan golf Devan memasuki ruang ganti.

Devan mengenakan kaos putih lengan pendek lalu mengenakan topi baseball nya, alas kaki yang tadinya berbalut sepatu pantofel kini berubah menjadi sneaker yang senada dengan kaos dan celana yang dia kenakan.

"Dia sudah datang?" yang Devan tanyakan adalah Tuan Carlos yang akan bermain golf bersamanya.

"Beliau baru saja tiba tuan.." Devan mengangguk dan berjalan menuju lapangan.

"Selamat sore tuan Carlos.." Devan menjabat tangan dengan pria paruh baya yang ada di depannya.

Tuan Carlos di ikuti dua bodyguard di belakangnya dengan sekertaris dan asisten yang sigap dengan apa yang diinginkannya.

"Tak perlu terlalu formal tuan Dev, kita bersantai saja.."

Devan tersenyum mengangguk tentu saja pertemuan mereka bukan hanya sekedar mengisi waktu luang jelas Devan tak punya waktu untuk bersantai, namun demi sebuah bisnis dia akan menuruti dahulu apa kata Carlos.

Bukan Devan namanya jika kesepakatan bisnis tidak tercapai, pria ambisius itu tentu saja berhasil meyakinkan Tuan Carlos untuk bekerja sama.

"Aku suka pria ambisius sepertimu.. aku akan segera menandatangani kontraknya.." Devan berjabat tangan seraya menunduk hormat mengantar kepergian tuan Carlos.

"Aku ingin membersihkan diriku dulu sebelum ke club.." Devan memasuki mobilnya dan membiarkan sang supir melajukan mobilnya ke hotel tempatnya tinggal.

...

Devan menghela nafasnya saat tiba di kamar hotel miliknya, bergerak ke arah bar mendudukkan dirinya lalu mengambil minuman yang tertata rapi di meja, tangannya bergerak merogoh saku dan mengambil sebatang rokok lalu menyalakannya untuk menyesap sari dari tembakau yang terbakar.

Disaat berdiam diri seperti sekarang ini, pikiran Devan selalu membayang ke kejadian lima tahun lalu dimana dia ditinggalkan oleh sosok manis yang mengisi hatinya, rasa sakit dan kecewa Devan rasakan saat sosok manis itu pergi tanpa pamit, sebercak penyesalan pun hadir dalam dirinya andai dia tak melakukan kebodohan- kebodohan yang membuatnya pergi..

Mungkin..

Sosok manis itu masih bersamanya..

Devan sekali lagi menghela nafasnya menghilangkan seberkas bayangan dalam benaknya yang selalu terbayang saat pikirannya kosong seperti sekarang.

Bangkit dan melepas kaus berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri, tak ada waktu untuk berdiam diri dan berpaku pada bayangan yang semu dan tak tahu berada dimana.

...

Like..

Komen..

Vote

Terpopuler

Comments

Anisatul Azizah

Anisatul Azizah

apakah itu Eve?

2024-02-21

0

Nur halimah

Nur halimah

lanjut thor😁

2023-06-07

1

Riri DH

Riri DH

fermentasi kali maksudnya Thor bukan presentasi..🙏😁

2023-06-07

1

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!