Andy Hart

Ham dan telur sudah di masukan ke penggorengan. Sambil memanggang sosis Rebbeca berpikir

"Kenapa aku berteriak seperti orang gila tadi. Tidak seperti biasanya. Tenang Rebbeca kau harus tenang seperti biasa. "

Andy Hart berkata

"Sosisnya hangus nona Cluster."

"Oh maaf . Ceroboh sekali saya. Akan saya ambilkan yang baru. "

Andy Hart selesai memangang pancake dan meletakannya di atas piring.

Sambil memotong sosis yang baru. Rebbeca berkata

"Anda tenang sekali tuan Hart."

Andy Hart menghela napas beratnya. Dia berkata

"Bagaimana pun juga aku adalah mantan hakim . Aku sudah sering terlibat dalam perkara pelik yang membutuhkan banyak pertimbangan. Aku juga tidak akan bilang aku terbiasa karena sering memberikan putusan bersalah. Tapi ya begitulah. "

Dengan cepat Rebbeca berpikir

"Pantas saja sikapnya sangat tenang. Tidak terpengaruh."

Dia berkata

"Apakah anda tidak takut ?"

Andy Hart hanya diam tidak menjawab pertanyaan Rebbeca. Dia berkata

"Semua sudah siap kan. Ayo kita bawa makanan nya."

Suasana sarapan pagi itu sangat aneh. Semua diam tidak banyak bicara.

"Bolehkan sam mengambilkan lagi secangkir teh untuk anda Tuan Hart,?"

"Nyonya Barrent anda mau roti lagi ? "

"Ingin selai marmalade atau selai nanas ? "

Enam orang yang ada di ruang makan dari luar terlihat normal. Akan tetapi di dalam, pikiran mereka sibuk berputar.

"Siapa berikutnya yang akan mati ? Siapa yang melakukannya.?"

"Mungkin aku akan mencoba keluar dari sini. Harus."

"Aku akan mencari tahu. Aku perlu bukti. Aku tidak mungkin salah. Ya."

"Ini mengerikan. Aku merasa gila."

"Baiklah. Permainan sudah di mulai. Akan kita nikmati. Bersenang senang lah."

"Sekarang boneka itu tinggal enam tapi nanti malam pasti sisa lima. Ya nanti malam seseorang akan ada yang mati."

"Apakah masih ada yang i fin sosi lagi ?

"Mentega?"

Enam orang itu menikmati makan pagi dengan tenang.

Makan pagi telah selesai. Piring piring di bereskan. Rebbeca mengumpulkan piring piring dan membawanya ke dapur. Dave Hudson membantunya. Tuan Hart berkata

"Oh."

Nyonya Barrent bertanya

"Ada apa Tuan Hart?"

Tuan Hart berkata dengan nada meminta maaf

"Maaf tapi tampaknya saya sedikit pusing."

Dr Greece mendekat dan berkata

"Pusing. Rasanya saya ada obat untuk."

"Tidak."

Kata itu terucap begitu saja dari mulutnya. Wajah Dr Greece berubah menjadi merah padam. Mata tuan Hart menunjukan kecurigaan. Dia berkata dengan kaku.

"Terserah anda tuan Hart."

Pria tua itu berkata

"Saya akan istirahat di sini sebentar sampai pusing saya hilang."

Akhirnya makan pagi selesai di bereskan. Fraster berkata

"Biar saya membantu anda nona Cluster."

Rebbeca berkata

"Terima kasih."

Tuan Andy Hart di tinggal sendirian di ruang makan. Dia masih bisa mendengar suara suara di dapur. Rasa pusing itu hilang dan sekarang dia menjadi mengantuk sekali.

Tiba tiba dia merasa sebuah sengatan di lehernya.

Para rombongan sudah ada di ruang tamu. Mereka menunggu Tuan Andy Hart.

Rebbeca berkata

"Sebaiknya saya melihat keadaannya."

Fraster berkata dengan nada memerintah.

"Sebentar nona Cluster. "

Rebbeca kembali duduk di kursinya.

Fraster berkata

"Dengarkan ini. Saya tahu ini hanya pendapat saya sendiri. Kita tidak perlu mencari lagi pembunuh itu. Sata yakin dialah yang kita cari. Tuan Andy Hart itu lah pembunuhnya."

Helen berkata

"Apa motifnya ?"

"Karena dia adalah mantan hakim dan terbiasa memberikan hukuman kepada orang. Bagaimana menurut anda sendiri dokter?"

"Mungkin saja. Tapi kita perlu bukti."

Rebbeca berkata

"Dia tadi juga kelihatan sangat aneh. Tangan nya gemetar."

Hudson berkata

"Saya rasa kita semua juga seperti itu."

Fraser berkata

" Dia juga tidak merasa bersalah karena memberikan hukuman kepada Dayton muda itu."

Victoria berkata

"Sebaiknya kita memanggil tuan Hart."

Rombongan itu beranjak dari ruang tamu menuju ruang makan. Mereka melihat Tuan Andy Hart masih duduk di kursi yang tadi mereka tinggalkan. Dari belakang tampaknya tidak ada yang aneh . Hanya saja sepertinya Tuan Hart tidak mendengar langkah kaki mereka mendekat.

Rebbeca mendekati nya dan tiba tiba dia berteriak histeris

"Ya Tuhan , dia sudah meninggal. "

Wajah Tuan Hart berubah warna menjadi biru. Semua orang terpaku.

Akhirnya dengan suara yang tenang Victoria berkata

"Seorang dari kita sudah terbunuh."

Helen mengecek tubuh pria tua itu. Melihat kelopak mata nya. Mencium bau di mulutnya. Dia menggelengkan kepalanya.

Hudson berkata

"Bagaimana dia bisa meninggal?"

Perhatian Helen tertuju pada titik kecil di leher pria tua itu. Dia berkata

"Sepertinya dia di suntik."

Victoria bertanya

"Racun apa yang di suntikan ?"

Helen menjawab dengan cepat

"Mungkin sianida."

Rebbeca masih terisak. Hudson berkata

"Kita harus berjaga jaga."

Untuk pertama kalinya suaranya bergetar.

Dia berkata

"Aku bisa gila jika seperti ini terus."

Victoria berkata dengan nada dingin

"Kita harus tetap waras. Apakah ada yang membawa jarum suntik?"

Helen menjawab

"Saya membawanya. "

Empat pasang mata menatapnya penuh curiga.

Helwn berusaha membela diri dan berkata

"Semua dokter selalu membawa peralatan nya kemana mana bukan. ?

Victoria berkata dengan tenang.

"Bisa perlihatkan jarum suntik itu."

"Baik. Sebentar saya ambilkan. Jarum itu ada di koper saya di kamar atas."

Victoria berkata

"Kita pergi ke atas untuk melihatnya."

Kelima orang yang tersisa itu menaiki tangga menuju lantai dua. Isi koper di keluarkan , akan tetapi suntikan itu tidak di temukan.

Helen mengumpat dengan kesal.

"Pasti seseorang telah mengambilnya."

Kamar itu sepi.

Helen menangis dan menutup wajahnya dengan tangan nya. Sementara empat pasang mata lain menatapnya penuh curiga.

Sambil terisak dia berkata dengan suara lemah

"Seseorang pasti telah mengambilnya."

Fraster memandang Hudson. Hudson berbalik memandangnya.

Victoria berkata

"Ada lima orang di dalam kamar ini. Satu adalah pembunuh gila. Kita berada di posisi yang sangat berbahaya. Bisakah anda mengatakan obat obat apa saja yang anda bawa Dr Greece?"

"Saya hanya membawa aspirin. Sebotol obat batuk. Obat tetes mata. Obat tidur. Hanya itu saja. Saya sama sekali tidak membawa suanida."

Victoria melanjutkan lagi . Dia berkata

"Tuan Hudson anda memiliki pistol bukan ?"

Dave berkata

"Ya. Kenapa ? "

Victoria berkata

"Bagaimana kalau obat obatan ini dan pistol anda kita simpan di satu kamar kita kunci. Dan kita juga harus membiarkan diri kita di periksa juga."

Dengan nada marah Hudson berkata

"Saya tidak akan menyerahkan pistol saya. "

Victoria berkata dengan kaku

"Akan lebih baik anda mengikuti saran saya. Anda adalah pria yang muda dan kuat. Saya rasa tuan Fraster juga cukup kuat. Saya tidak bisa membayangkan apa jadinya apabila kalian berdua berkelahi. Tapi jika itu terjadi bisa saya pastikan , bahwa saya Dr Greece dan Nona Cluster akan berpihak sepenuhnya pada tuan Fraster."

Hudson berkata dengan sedikit seringai di wajahnya

"Baiklah aku menyerah."

Victoria berkata

"Bagus. Di maba pistol anda ?"

"Di laci meja tulis di kamar saya."

"Toling bawa ke sini."

"Akan saya ambilkan sebentar."

Fraster berkata

"Lebih baik kita ke sana bersama sama."

Victoria mengangguk tanda setuju

"Baiklah mari kita jalan sekarang."

Mereka berlima berjalan bersama menuju kamar Hudson. Dia berjalan menuju meja tulis dan membuka laci nya. Tapi ternyata laci itu kosong.

Pistol menghilang dari laci tersebut.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!