Dulu sekali hampir saja dia membuat kesalahan. Untung saja dia mampu menghindarinya dengan tepat. Dr Greece tersenyum kecil dan dia tidak akan membiarkan dirinya melakukan kesalahan lagi.
Tiba tiba terdengar suara klakson mobil yang kencang dan deru mesin yang cepat. Dr Greece kaget dan hampir menabrak pohon. Dia memaki pemuda yang membawa mobil itu akan tetapi suara nya tidak terdengar di kalah kan deru mesin mobil tersebut. Dia menyerah dan kembali melanjutkan perjalanan.
Dengan mobil melaju sangat kencang Ian Castella berpikir "Jalanan di negeri ini sangat buruk. Bagaimana bisa di jalan yang sepi seseorang melajukan mobil nya dengan sangat lambat. Dan yang paling parah mobil itu menghalangi jalur nya. Sangat menyebalkan "
Apakah dia harus berhenti di bar terdekat dan minum dulu sebelum melanjutkan perjalanannya atau dia terus saja dan akan minum di vila tersebut. Akhirnya di putuskan dia akan terus saja.
Pulau tersebut cukup indah. Cuaca panas tapi matahari tidak terlalu terik. Dia berpikir Siapakah keluarga Smith ini begitu mampu membeli pulau dan vila nya. Pasti mereka keluarga kaya raya. Pasti mereka memiliki gudang minuman yang cukup banyak. Karena mereka mengundang nya untuk menginap dan mencoba minuman minuman mahal yang di beli.
Dia juga yakin di sana pasti ada beberapa gadis cantik dewasa dan menarik untuk menemani nya minum sampai puas. Dengan perasaan senang dia berjalan memuju mobil putih nya. Para gadis muda yang lewat langsung terpesona oleh senyum nya dan rambut coklat nya yang indah. Tubuh nya juga seperti di pahat dengan indah.
Segera dia melajukan mobil putih nya dengan kecepatan tinggi.
Tuan Fraster berada di kereta api yang lambat. Di gerbong nya hanya ada seorang wanita tua suram yang baru saja tertidur.
Tuan Fraster menulis di buku catatan kecil nya
"Ian Castella , Dr Helen Greece ,Andy Hart, Rebecca Cluster , Dave Hudson, Victoria Barren , Harry Moriss dan suami istri Brown. "
Dia menutup buku catatan kecilnya dan menyimpan nya di saku kemeja nya. Dia bangkit dan melihat dirinya di cermin.
"Ini adalah pekerjaan yang mudah . Aku akan melakukan nya dengan hati hati. "
Dia meneliti setiap sudut penampilan nya di cermin. Wajahnya yang berkumis tipis , serta rambut yang sedikit beruban membuat penambilanya seperti seorang pria berusia 50 tahun.
"Aku akan mengatakan bahwa aku dari Kuba , tidak akan ada yang mengenalku di sana. "
Dan kebetulan tadi aku membaca brosur pariwisata , jadi aku akan menceritakan kehidupan ku di Kuba.
Pulau Duyung dia mengingat nya dengan baik. Pulau yang cukup unik karena memiliki karang yang seperti ekor duyung. Pantai dengan pasir putih dan ombak yang berkejer kejaran. Terdengar suara burung camar di kejauhan. Dia merasa jutawan yang membangun rumah di atas pulau tersebut memiliki pemikiran yang aneh, begitu juga dengan orang yang mengundang nya ke sini saat ini.
Tiba tiba wanita tua yang sedang tertidur itu tersentak kaget dan berkata " Mungkin akan ada datang badai besar"
Tuan Fraster berkata" Benar sekali. Sepertinya akan ada badai yang cukup besar.
Tiba tiba kereta berhenti dan wanita itu turun terhuyung huyung. Dan mengucapkan selamat tinggal pada tuan Fraser tetapi wanita tua itu terjatuh di atas peron kereta api.
Tuan Fraser mendengar wanita itu berkata
" Berhati hatilah dan berdoa. Hari pengadilan akan datang sebentar lagi"
Sambil duduk di gerbong nya Tuan Fraser berkata dalam hati " Dia yang lebih dekat dari pada saya"
Akan tetapi dia keliru ......
Diluar stasiun sekelompok orang berdiri sambil menunggu para penumpang kereta turun. Di belakang mereka para potter sibuk mengangkut koper koper.
Seorang sopir tiba tiba mendekat
"Anda sekalian akan menginap di Pulau Duyung ? Tanya nya
Empat orang mengiyakan. Dalam diam mereka berempat saling memperhatikan.
Sopir itu berkata kepada tuan Andy Hart.
"Di sini ada 2 buah mobil tuan. Salah satu dari kalian berempat harus menunggu tuan sampai dengan kereta 1 lagi tiba kira kira 10 menit. Apakah kalian tidak keberatan. "
Menyadari kedudukan nya sebagai seorang sekertaris. Rebecca mengajukan diri untuk tinggal di sana dan menunggu kereta satu lagi tiba. Dia memerintahkan ketiga orang lain nya untuk berangkat.
"Terima kasih. Kalau begitu aku akan masuk." Ucap Victoria
Tuan Andy Hart dan Nyonya Victoria Barren segera memasuki mobil.
Tuan Andy Hart berkata dengan hati hati
"Cuaca yang bagus"
"Ya " kata Victoria
Lelaki tua yang cukup menarik pikir nya. Sepertinya orang yang baik dan diam. Untunglah dia tidak mengenaliku.
Tuan Andy Hart bertanya " Apakah anda tahu daerah ini ? "
"Saya pernah berkunjung ke Cornwall. Tapi tidak ke tempat ini. "
Tuan Andy berkata " Sama ini juga pertama kalinya saya mengunjungi tempat ini "
Taksi mereka terus melaju dengan cepat menuju vila yang akan mereka tempati.
Rebecca dan Tuan Hudson sedang duduk di cafe di stasiun sambil menunggu teman mereka satu lagi.
Tuan Hudson tersenyum dan bertanya pada Rebbeca "Apakah anda masih mau menambah kopi lagi ? "
"Tidak, terima kasih " jawab Rebecca tegas
" Baiklah. Apa sebelumnya anda pernah ke sini ? " tanya Hudson
" Tidak. Ini adalah pertama kalinya saya ke sini. Sebenarnya saya ke sini untuk menerima panggilan kerja dari majikan saya. Jujur saja ini pertama kalinya saya bertemu dengan beliau." Terang Rebbeca kaku.
"Majikan anda ? Alis Tuan Hudson terangkat sedikit menunjukan keheranan nya
"Yang saya maksud adalah Tuan Smith. " terang Rebbeca.
"Oh begitu" Tuan Hudson melanjutkan percakapan lagi. "Apakah bagimu tidak aneh? Kau tidak pernah bertemu dengan majikan mu sebelumnya dan datang ke sini begitu saja ? Tanya Tuan Hudson
Rebbeca tertawa gugup
" Ini hanya sebuah pekerjaan saja saya menganggap nya.Lagipula gaji yang di tawarkan sangat besar dan cukup untuk saya. Karena saya sedang sangat membutuhkan nya. Lagipula saya sudah banyak mendengar cerita tentang Pulau Duyung, katanya pulau ini banyak mendapat kabar burung seperti keluarga bangsawan yang tinggal di sini ato seorang aktris terkenal dari Hongkong pernah mendiami tempat tersebut. Apakah anda kenal dengan keluarga Smith ? "
Apa aku harus mengatakan aku kenal mereka atau tidak ? Pikir Hudson
Tidak lama kemudian terdengar jeritan panjang keteta yang menandakan bahwa kereta yang mereka tunggu telah tiba di stasiun. Hudson berkata
"Itu pasti keretanya. "
Dari pintu kereta munculah seorang pria paru baya. Postur yang tegap seperti seorang veteran tentara. Kumis putih yang tercukur rapi. Mata berwarna hijau terang. Meneliti setiap sudut stasiun dan turun ke peron.
Dibelakang nya potter pengankut koper berjalan tergopoh gopoh karena keberatan mengangkut tiga koper besar milik pria tua itu.
Tiba tiba Rebbeca berjalan mendekati pria tua tersebut.
"Nama saya Rebbeca , saya adalah sekertaris Tuan Smith. Ini Tuan Dave Hudson. Kami berdua menunggu kedatangan anda. Ada sebuah mobil yang sudah menunggu anda. Mari ikuti saya" jelas Rebbeca
Pria tua tersebut mengelap kacamata yang bertengger di pangkal hidung nya , sambil sesekali melirik wanita dan pria yang tadi di kenalkan kepadanya.
Dalam sekejap saja ketiganya sudah di dalam mobil menuju vila yang akan mereka tempati. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 2 jam melewati kebun, pantai dan jalan sempit menuju desa.
Kapten Morris berkata
"Saya sama sekali tidak tahu ada tempat seindah ini di Inggris. Saya tinggal di desa Bellahaven, tempat yang tenang. Mirip seperti ini hanya saja di sana mungkin lebih banyak orang nya. "
Rebecca berkata dengan suara yang penuh kekaguman " Tempat ini indah. Pantai pasir putih. Laut yang biru serta pepohonan dan bukit bukit yang hijau . "
"Menurut saya tempat ini terlalu terpencil. Saya lebih menyukai alam terbuka seperti Afrika misalnya. " seru Dave Hudson.
"Anda pasti sudah banyak berpergian ke seluruh pelosok dunia ? tanya Kapten Morriss.
Dave mengibaskan tangan nya dan tertawa kecil lalu berkata "Benar saya memang pergi ke beberapa tempat yang luar biasa. Tapi itu tidaklah terlalu penting."
Lalu kemudian mereka semua terdiam.
Mereka menaiki bukit yang curam . Melewati hutan pinus yang lebat. Melalui jalan berkelok kelok yang jelek sekali. Akhirnya mereka bisa melihat beberapa rumah model lama yang biasa ada di desa terpencil, lengkap dengan beberapa perahu layar dan perahu mesin yang terombang ambing di laut.
Awan mulai beranak pergi. Matahari mulai tenggelam. Cahaya matahari tenggelam menembus kaca mobil , dan mereka bisa melihat di sisi mereka Pulau Duyung yang akan mereka tempati selama beberapa hari kedepan.
Kapten Morris berkata "Jauh sekali rupanya tempat ini dari stasiun. Kukira dekat."
Dalam bayangan Kapten Morris Pulau Duyung seperti pulau lain nya. Tenang , pasir putih bermandikan cahaya matahari. Dan semua vila besar nan mewah di atasnya. Pada kenyataan nya apa yang dia lihat tidaklah seperti itu. Dia hanya melihat bangunan besar dengan dua karang di laut yg di pasangkan dengan sebuah tali.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments