Di luar bar White World tampak tiga orang sedang duduk duduk sambil menikmati minuman mereka. Hakim Tua yang sedang duduk santai sambil menikmati kopinya. Nyonya Victoria yang sedang sibuk memoles lipstik di bibir nya yang merah merekah seperti bunga mawar. Dan seorang laki laki berkulit coklat dengan gayanya nya tampak angkuk akhirnya memperkenalkan dirinya sendiri.
"Kami memutuskan untuk menunggu anda semua. Perkenalkan nama saya Collin Fraster. Saya baru saja kembali dari Kuba."
Dia terkekeh
Tuan Andy Hart memandangnya acuh tak acuh. Sedang Nyonya Victoria Barren tidak yakin apakah dia akan menyukai pria itu atau tidak.
"Sebelum kita melanjutkan perjalanan kembali apakah ada yang ingin menambah minuman nya ? Tanya Collin ramah.
Tapi semua menggelengkan kepala nya dan akhirnya mereka melanjutkan perjalanan.
"Apakah kita sudah bisa berangkat sekarang ? Perahu sudah siap dan sedang menunggu kita. Ada dua tamu lagi yang akan datang menggunakan mobil mereka sendiri. Tetapi kata Tuan Smith kita tak perlu menunggu nya karena kita tidak tau mereka akan tiba jam berapa ?" Terang sopir itu
Akhirnya rombonfan tersebut beranjak pergi mengikuti sopir tersebut menuju sebuah dermaga kecil. Di samping nya terdapat sebuah perahu mesin. Seorang pemuda sedang mempersiapkan perahu mesin tersebut. Sopir kemudian meninggalkan rombongan tersebut dengan pemuda itu.
Victoria Barren berkata" Perahu ini terlalu kecil.tidak akan cukup mengangkut kita semua."
"Tenang saja nyonya perahu ini aman. Dia bisa membawa dua x lipat lebih banyak dr pada biasanya". Jelas pemuda tersebut.
Dave Hudson berkata dengan nada ceria " Toh ini tidak buruk juga. Lagi pulau laut tenang. Tidak tampak ombak. "
Dengan agak ragu ragu Nyonya Barren membuarkan dirinya di tuntun naik ke atas perahu tersebut. Yang lain mengikutinya dengan diam. Sejauh ini belum tampak hubungan yang akrab di antara mereka Hanya perasaan was was dan waspada yang terlihat.
Ketika mereka sudah siap untuk berangkat , tukang perahu mendengar deru mobil yang sangat kencang. Mobil itu melesat dengan kecepatan tinggi menuruni bukit menuju tempat mereka semua sedang menunggu perahu untuk jalan. Di dalam nya seorang pria muda sedang duduk di depan setir mengenakan kacamata hitam melambaikan tangan nya. Dalam cahaya temaram dia terlihat seperti patung dewa Yunani. Dia membunyikan klakson mobilnya dengan keras. Kemudian nenghentikan mobilnya dan Ian Castella keluar dari mobilnya menuju ke perahu tersebut.
James Parson duduk di dekat mesin perahu nya sambil berpikir kelompok pelancong yang aneh. Tamu tamu Tuan Smith ini tidaklah seperti bayangan ny. Dalam bayangan nya kelompok tamu tamu yang akan datang adalah tamu tamu kelas atas. Tamu tamu kaya dan berpenampilan mewah.
Rombongan ini tidak seperti rombongan tamu jutawan Argentina yang pernah dia bawa dulu. Para tamu tuan Robert berpenampilan sangat wah. Dengan perhiasan di mana mana , mantel bulu. Wanita cantik minuman dan makanan berlimpah.
Menurut James Tuan Smith pasti orang yang sangat unik. Boleh di bilang dia hampir tidak pernah bertemu dengan Tuan Smith atau pun keluarganya. Semua pemesanan dan pembayaran melalui Tuan Wong. Pria Cina kecil yang memiliki kumis tipis dan senyum menawan. Semua intruksi dan pembayaran nya selalu tepat waktu , tetapi sama saja. Terlalu aneh semua berita tentang Tuan Smith hanya satu bahwa Tuan Smith orang yang misterius. Dan James pun sependapat.
Dia mencoba membuat kesimpulan tentang para penumpang nya tersebut.
Seorang nyonya muda yang cantik. Tapi matanya terlihat kesepian. Pria tua seperti veteran tentara militer. Sikap nya kaku tapi sopan. Wanita muda yang sangat menarik. Umurnya pasti sekitar 25 tahun. Tuan yang ramah dan penuh gaya tapi dia bukan seorang yang terpelajar. Tuan yang satu lagi memiliki mata yang waspada dan bergerak kesana kemari seperti seekor elang yang mengincar mangsanya.
Hanya ada satu penumpang yang cukup memuaskan baginya. Tuan yang datang paling akhir mengendarai sebuah mobil mewah. Dia menebak harganya pasti mencapai ratusan juta. Pasti memiliki banyak uang.
Kalau saja yang lain sama seperti dia pasti sangat cocok. Semakin di pikir semakin aneh tamu tamu Tuan Smith ini ....
Perah yang membawa ereks semua berjalan lambat memutari karang dengan lincah. Akhirnya tampak dari kejauhan vila tersebut terlihat. Ya vila yang berdinding batu dengan cerobong asap yang terlihat mencolok. Vilanya menghadap ke selatan, berdiri tegak , kokoh dan tampak modern. Dengan jendela jendela besar yang memancarkan cahaya matahari terbenam.
Bangunan yang sangat indah
James Parson mematikan deru mesin perahu nya.
Dave Hudson berkata dengan tajam "Jika cuaca buruk pasti akan sulit untuk menemukan jalan ke tempat ini "
James Parson berkata dengan ceria " Kalau ada angin tenggara tentu tak bisa berlabuh di sini. Bisa berhari hari atau bahkan berminggu minggu. "
Rebbeca Cluster berpikir
"Ketersediaan bahan makanan di sini pasti sulit. Itu hal yang paling sering terjadi apabila anda berada di sebuah pulau terpencil"
Perahu telah sampai ke tepian. James Parson melompat turun dari perahu nya dan membatu para penumpang untuk turun dari perahu. Setelah semua turun, sebuah tali di ikatkan oleh James di sebuah karang agar perahu tidak terbawa ombak.
Kapten Morris berseru " Tempat yang bagus dan menyenangkan"
Tetapi aneh baginya dia merasa tempat itu seram dan menakutkan .
Ketika akhirnya rombongan tersebut sampai di depan vila besar tersebut. Mereka menaiki tangga menuju reras , semangat mereka perlahan lahan pulih. Tiba tiba pintu terbuka dan di hadapan mereka berdiri seorang pelayan. Dengan sedikit membungkuk dan sikap formal pelayan tersebut berkata
"Silahkan lewat sini tuan tuan."
Pelayan tersebut membawa para tamu tersebut ke sebuah ruangan yang cukup luas. Minuman minuman , kopi serta teh dan kue kue kecil telah tersedia. Semangat Ian Castella muncul. Dia baru saja berpikir ini adalah pertujukan paling aneh yang pernah di lihat nya. Para tamu yang di undang tidak ada yang sama seperti dirinya. Mereka lebih seperti golongan biasa.
Apa yang di katakan pelayan itu ?
Tuan Smith tidak bisa ke sini karena kapal beliau terlambat dan tidak akan bisa berlayar sampai besok. Akan tetapi perintah serta instruksi nya sudah sangat jelas. Seperti pembagian kamar. Makan malam akan di hidangkan jam berapa dan sebagainya.
Rebbeca mengikuti Mrs Brown ke lantai dua. Wanita itu membuka pintu di ujung lorong dan Rebbeca berjalan memasuki kamar tidur yang luas dan nyaman. Cat putih dengan jendela besar dengan pemandangan ke arah pantai.
Mrs Brown berkata " Saya harap kamar ini sesuai harapan anda nona."
Rebbeca memandang sekeliling nya. Koper nya telah di bawa naik dan di letakan dengan rapi di sudut pintu. Disisi lain terdapat seuah ruangan kecil , tempat untuk menghilangkan segala penat selama di perjalanan yang jauh tadi.
Dia berkata dengan senang
" Ya saya sangat puas. Terima kasih "
"Bila anda memerlukan sesuatu anda bisa membunyikan bel ini. Dan makan malam akan di hidangkan pada pukul delapan "
Suara Mrs Brown terdengar datar dan tidak bersemangat. Rebbeca memandamgmya dengan penuh rasa ingin tahu. Wanita itu terlihat letih dan pucat. Rambut panjang hitam nya di gelung ke belakang tampak agak sedikit berantakan. Pakaian nya juga serba hitam. Matanya ya biru selalu bergerak ke sana kemari seperti sedang mengawasi sesuatu.
Rebbeca berpikir " Ada sesuatu yang membuat wanita ini ketakutan setengah mati ."
Dia seperti hantu
Rebecca tiba tiba merinding.
Dia berkata
" Saya sekertaris Tuan Smith. Saya rasa anda mengetahui hal tersebut."
Mrs Brown dengan cepat menjawab
" Saya tidak tahu apa apa mengenai masalah ini. Hanya daftar tamu. Hidangan makanan dan pembagian kamar saja yang di beritahukan."
"Tuan Smith tidak pernah menyinggung tentang saya ? Tanya Rebbeca
Mata Mrs Brown membulat dia berkata dengan gugup "Saya belum pernah bertemu dengan suami istri Smith. Kami baru tiba di sini tiga hari yang lalu "
Luar biasa sekali keluarga Smith ini. Vera bertanya dengan keras
"Ada berapa orang di sini? " tanya Rebbeca
" Hanya saya dan suami saya nona"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments