Kunci

"Siapa dia tuan Fraster?"

Wajah Brown menegang.

Tuan Fraster berkata

"Itulah yang menjadi masalahnya."

"Dia mengatakan bahwa pembunuh itu salah satu dari kita. Siapa itu ? Siapakah orang yang memakai topeng berwajah manusia ?"

"Itu adalah yang ingin di ketahui semua orang."jawab tuan Fraster murung

Brown bertanya

"Tapi anda punya teori kan."

"Saya mungkin memiliki teori tentang itu. Tapi saya tidak mempunyai bukti. Mungkin juga saya salah."

Brown berkata dengan suara parau

"Ini mimpi buruk."

Fraster menatapnya dengan curiga. Dia berkata

"Bagaimana menurutmu Brown ?"

Pelayan itu menggelengkan kepalanya.

"Saya tidak tahu. Dan itulah yang membuat saya takut."

Dr Greece berkata dengan marah

"Kita harus keluar dari sini dengan cara apa pun juga."

Victoria Barren memandang keluar jendela. Dia berkata

"Tentu saja saya bukan seorang peramal cuaca. Tapi setidaknya dalm dua puluh empat jam ke depan tidak mungkin akan ada perahu yang mau datang ke sini. Dan jika seandainya ada yang datang itu hanya akan terjadi bila angin dan hujan ini berhenti."

Dr Greece dengan wajah pucat mengeluh. Dia berkata

"Dan sampai itu terjadi mungkin kita semua sudah mati di pulau ini."

"Saya harap tidak."

Nyonya Victoria Barren berpikir

"Pembunuhan di tempat tidur. Semua dokter sama saja. Mereka selalu memikirkan sesuatu yang tidak jelas. "

Dokter berkata dengan gelisah

"Tapi sudah tiga korban."

"Tentu saja. Tapi anda harus ingat, mereka si bunuh dalam keadaan tidak siap. Tapi kita sudah di peringatkan. Jadi kita harus bersiap."

Helen berkata dengan nada muram.

"Apa yang harus kita lakukan?"

Dengan tenang Victoria menjawab

"Saya rasa ada beberapa hal yang bisa di lakukan."

Helen berkata

"Kita bahkan tidak tahu siapa dia."

Victoria memainkan rambutnya. Dia berkata

"Aku tidak berpendapat demikian ."

Helen menatapnya dengan tidak percaya

"Maksudnya anda tahu siapa pelakunya."

Victoria Barren berkata dengan nada hati hati

"Memang benar saya belum mempunyai bukti yang cukup . Tapi saya rasa jika di lihat lagihanya ada satu ."

Helen menatap nya

"Saya tidak mengerti maksud anda."

Tuan Andy Hart naik ke lantai dua menuju kamarnya. Dia mengambil buku catatan bersampyl coklat di laci meja rias. Di bukannya buku itu dan dia mulai menulis

"Kapten Morris meninggal karena di tikam . Suapa pembunuhnya. Semua orang bertanya. Tapi menurut Nyonya Victoria Barren pelakunya adalah salah satu dari kami. Sesaat dia tidak bergerak. Pena tersebut masih menari nari di antara jemari nya. Dengan huruf huruf besar dan tidak rapi. Dia menulis. Dia berkata dengan suara rendah

"Aku pasti sudah gila."

"NAMA PEMBUNUH ITU ADALAH ANDY HART"

Matanya tertutup. Tiba tiba dia terbangun dan terkejut. Dia melihat catatannya. Dengan seruan marah dia bangkit dan membuang buku catatan itu ke lantai.

Badai bertambah kencang. Angin menderu deru. Semua orang berkumpul di ruang tamu. Wajah mereka lesu, cemas dan saling memperhatikan satu sama lain.

Ketika Brown muncul dengan nampan berisi teh dan kue, semua meloncat. Dua berkata

"Apakah tirainya mau di tutup ?"

Setelah semua orang menyetujuinya. Tirai pun di tutup. Lampu dan musik di nyalakan. Suasana pu kembali ceria.

Bayang bayang gelap aedikit terangkat. Dengan antusias semua berpikir besok pagi badai akan berhenti. Dan tentu perahu akan datang besok.

Rebbeca berkata

"Apakah anda akan menuang teh ini Tuan Andy Hart?"

Pria itu menjawab.

"Tidak . Anda saja."

Rebbeca melangkah ke meja teh. Terdengar dentingan cangkir cangkir porselin dan sendok teh. Aroma teh semerbak tercium membuat suasana lebih santai.

Teh sore hari yang memyenangkan. Dave Hudson mengatakan sesuatu yang menyenangkan. Fraster menanggapi , Dr Greece menceritakan kisah yang lucu. Tuan Andy Hart menghirup teh nya dengan riang. Nyonya Victoria Barren sibuk memutar musik.

Dalam suasana yang menyenangkan itu Brown muncul. Brown berkata dengan nada gugup.

"Maaf tuan tuan semua , tapi apakah ada yang tahu di mana tirai kamar mandi ?"

Hudson tersentak

""Tirai kamar mandi ? Apa maksunya Brown ?"

"Saya tidak yakin tuan. Saya sedang menutup semua tirai di sudut rumah. Dan tirai kamar mandi tidak ada tua. Hilang begitu saja."

Victoria bertanya

"Apakah tadi pagi tirai itu masih ada ?"

"Ya tuan."

Fraster bertanya

"Seperti apa tirai itu ?"

"Sutera merah muda tuan. "

Hudson berkata

"Dan sekarang tirai itu hilang."

"Ya tuan."

Mereka saling berpandangan. Fraster berkata dengan wajah muram

"Ya mau bagaimana lagi. Hal gila memang sudah terjadi. Toh tidak akan bisa membunuh orang hanya dengan sutera saja. "

Brown berkata

"Baik tuan."

Brown segera keluar dan menutup pintu. Bayangan ketakutan muncul lagi di ruangan itu. Dan sekali lagi secara diam diam mereka saling memperhatikan.

Makan malam tiba. Tidak banyak hanya makanan kaleng saja. Setelah selesai makan mereka pergi menuju ruang tamu. Semua orang berwajah tegang. Tidak ada yang berbicara. Pada pukul sepuluh Tuan Andy Hart berdiri. Dia berkata

"Saya akan pergi tidur. Selamat malam."

Rebbeca berkata

"Saya juga."

Kedua nya naik ke lantai dua bersama dengan Hudson dan Fraster. Setelah memastikan kedua orang tersebut masuk ke kamar mereka dan menguncinya. Kedua laki laki itu turun ke bawah.

Fraster berkata

"Tidak perlu menyuruh mereka untuk mengunci pintu."

Hudson berkata

" Ya setidaknya untuk malam ini mereka selamat."

Dia turun ke lantai bawah di ikuti oleh tuan Fraster.

Satu jam kemudian dua wanita dan dua laki laki juga naik ke lantai atas menuju kamar mereka masing masing. Sedang Brown di bawah membereskan ruang makan untuk besok pagi mendengar Victoria berkata

"Rasanya saya tidak perlu mengingatkan anda untuk mengunci pintu. "

Fraster berkata

"Lebih aman lagi jika anda juga meletakan kursi di bawah pintu. Pintu bisa di buka dari luar."

Hudson berkata

"Sepertinya anda tahu banyak."

Victoria berkata

"Selamat malam semua. Semoga besok pagi kita masih bisa bertemu dalam keadaan utuh. "

Brown keluar dari ruang makan menuju tangga. Dia melihat sekilas empat orang memasuki empat pintu dan mendengar empat kunci di putar. Dia menganggukkan kepala dan berbisik.

"Baiklah."

Dia kembali ke ruang makan. Semua sudah siap untuk sarapan besok pagi. Matanya melirik pada lemari kaca yang terdapat tujuh buah boneka porcelain. Tiba tiba dia tersenyum. Dia berkata

"Saya tidak akan membiarkan nya mempermaikan saya lagi."

Dia mengunci lemari kaca tersebut. Mengunci pintu ruang makan. Lalu bergegas mengunci pi tu dapur. Setelah itu dia menuju ruang tamu dan mengunci nya. Kunci di masukan ke dalam kantong celananya.

Kemudian dia mematikan lampu lantai bawah dan naik tangga menuju kamarnya di lantai dua.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!