"Maaf Bu Andin. Anda sudah salah sangka, kali ini saya memang sedang membela Putri. Karena apa yang dibawa Putri itu tidak melanggar aturan sekolah. Lagipula itu cuma bedak dan kaca, tidak ada lipstik atau pensil alis. Wajar anak perempuan membawa benda seperti itu, jadi janganlah terlalu dibesar-besarkan," ucap Rama tegas.
Bu Andin kali ini semakin kesal kepada Putri. Ternyata rekan seprofesinya yang saling bekerja bersama dan sering menghadiri rapat kerja bersama itu lebih membela Putri.
"Saya tidak tahu apa yang terjadi dengan Anda Pak Rama, perasaan dulu sikap Anda kepada Putri tidak seperti ini. Kenapa Anda tiba-tiba perduli sekali dengan gadis ini? Atau jangan-jangan Putri sudah pandai merayu gurunya sendiri, waaahhhh saya sangat kasihan sekali dengan istri Anda. Jangan kira ada yang tidak tahu. Mungkin di sini Anda tidak memperlihatkan kemesraan kalian. Tapi saya punya mata. Dan mata kepala saya sudah melihat bagaimanapun gadis ini memegang erat pinggang gurunya yang juga kakak iparnya sendiri, coba jika kakaknya Putri melihat itu. Pasti dia sangat kecewa sekali, adiknya bermesraan dengan suaminya saat berangkat ke sekolah. Ck ck ck memalukan!!" umpat Bu Andin kepada keduanya.
"Maaf Bu Andin. Jika Anda kesini hanya untuk mempermalukan kami. Silakan Anda pergi, tidak seharusnya seorang guru berbicara seperti ini di depan semua muridnya. Jika Anda punya masalah dengan saya, kita bicarakan nanti setelah ini. Sekarang, silahkan Anda pergi dari kelas saya. Saya harus melanjutkan pelajaran ini!" seru Rama yang semakin membuat Bu Andin geram.
Wanita itu segera pergi meninggalkan kelas 12 A dengan wajah cemberut. Sementara itu Putri terlihat tertekan karena ucapan dari guru BPnya itu.
Rama menghampiri istrinya dan menatap wajah Putri yang terlihat menunduk.
"Kamu tidak apa-apa?"
"Tidak!" balas Putri singkat.
"Jangan dengarkan Bu Andin! Selama ada aku, Bu Andin tidak akan bisa menyakitimu," ucap Rama sembari tersenyum. Putri pun sedikit tenang meskipun perkataan Bu Andin sangat terngiang-ngiang di telinganya.
*
*
*
Setelah pelajaran matematika selesai. Rama pergi meninggalkan kelas. Putri menatap kepergian sang suami. Ia berharap Bu Andin tidak mencampuri urusan mereka lagi. Karena sejatinya, Putri merasa jika guru BPnya itu menaruh hati kepada sang suami. Sangat terlihat dari kedekatan mereka. Bagaimana cara Bu Andin menatap Rama, hanya saja Rama tidak merespon terlalu berlebihan karena dirinya hanya menganggap Bu Andin hanya seorang rekan kerja.
Setelah kejadian itu, teman-teman Putri pun sedikit menatap sinis kepada gadis itu. Mereka seolah terkena pengaruh Bu Andin dengan percaya perkataan wanita itu jika Putri dan Rama memiliki hubungan spesial. Dan tentunya itu membuat Alex, cowok yang masih menaruh hati kepada Putri ikut bersuara. "Ternyata, seleramu tua juga ya, Put."
"Apa maksudmu, Lex?" sahut Putri terkejut.
"Nggak usah sok polos. Apa kekuranganku sehingga kamu lebih memilih pak Rama yang notabenenya udah tua hahaha ... ya ampun! Coba bandingkan aku dengan pak Rama. Jelas lebih kecean aku lah!!" seru Alex sambil meledek Rama.
Tak terima suaminya dibilang tua. Putri pun membalas ucapan Alex. "Nggak usah kePDan dengan umurmu, kamu memang masih muda, masih ganteng, masih fresh! Tapi sayang, otak dangkal. Yang dipikirin pacaran mulu, eh ... kamu sekolah tuh masih dibayarin sama orang tua. Sok sok an nembak dan jadiin aku pacar. Mending sama pak Rama lah, udah jelas-jelas dia smart, PNS, udah gitu cakep juga. Daripada kamu, duwit masih minta orang tua, mikirin pacaran. Aduhhh malu jadi pacar kamu! Sekolah dulu yang benar, belajar!" seru Putri sambil pergi meninggalkan Alex yang terlihat marah-marah.
"Brengsek! Awas saja kamu Put!" umpat Alex kesal.
Sementara di ruangan kantor. Ternyata ada rapat beberapa dewan guru, sehingga para siswa dipulangkan lebih awal dari biasanya.
Tentu saja Putri menunggu sang suami sambil diaduk di depan kelas. Datang beberapa teman Putri dan bertanya kepada gadis itu. "Kamu nggak pulang, Put?" tanya Ririn.
"Enggak, aku nungguin pak Rama," balas Putri. Ririn pun ikut duduk di samping temannya itu. "Eh Put, aku mau tanya sama kamu boleh nggak?" seru Ririn yang sangat penasaran dengan berita yang beredar jika Putri adalah selingkuhan Rama.
"Kamu tanya apa?" tanya Putri.
"Tapi sebelumnya aku minta maaf. Aku nggak bermaksud mencampuri urusan kamu, Put!" ucap Ririn.
"Oke, katakan saja apa yang ingin kamu tanyakan," balas Putri yang masih sangat santai.
"Eh ... benar nggak sih kamu dan Pak Rama punya hubungan? Soalnya kata teman-teman kamu dan pak Rama sebenarnya sedang berselingkuh,"
Seketika Putri tertawa mendengar ucapan dari Ririn tentang dirinya dan sang suami.
"Hah? Aku dan Pak Rama berselingkuh? Ya ampun kalian ini ada-ada aja, nggak mungkinlah aku berselingkuh dengan pak Rama. Mending nikah aja sama dia daripada berselingkuh ... Eh udah dulu ya, kayaknya Pak Rama sudah selesai rapat, aku pulang duluan ya!" Putri pamit kepada Ririn yang saat itu masih bertanya-tanya. Sedangkan Rama sudah keluar dari kantor guru.
Putri menghampiri suaminya yang sudah berada di area parkiran. Sementara itu Ririn melihat kepergian Putri dan sang guru yang sedang bersama-sama.
"Aneh sih hubungan mereka. Memang nggak bisa dijudge sebagai bentuk perselingkuhan. Karena Pak Rama itu adalah suami Mbak Dinda. Jadi ya wajarlah Putri sering bareng sama Pak Rama, orang mereka ada di satu sekolah," ucap Ririn yang masih berprasangka baik kepada Putri.
Setelah itu Rama pun membarengi Putri untuk pulang seperti biasanya. Hanya berangkatnya saja mereka seolah tidak bersama, padahal keduanya selalu datang ke sekolah sama-sama.
Sesampainya di rumah. Rama merangkul pundak sang istri dan memberikan kecupan manis pada kening sang istri. Ia melihat wajah sang istri yang terlihat masih cemberut, seolah Putri masih memikirkan ucapan Bu Andin tadi di sekolah.
"Kamu kenapa cemberut gitu? Masih memikirkan omongan Bu Andin?" tanya Rama.
"Aku takut, Mas! Sepertinya Bu Andin itu punya perasaan deh sama kamu. Kok kayaknya dia sinis banget sama aku, dan dia nggak suka kamu belaian aku," ucap Putri.
"Sudah, nggak usah kamu pikirkan omongan dia. Aku nggak perduli dengan anggapan Bu Andin tentang kita. Biarkan saja dia kebakaran jenggot sendiri. Yang penting hubungan kita tetap aman terkendali. Oh iya aku lupa, besok aku ada raker ke luar kota dua hari. Tapi, kayaknya aku nggak bisa ikut deh," seru Rama sambil meletakkan tas kerjanya di atas tempat tidur. Sementara itu Putri melepaskan baju suaminya untuk segera mandi dan berganti pakaian.
"Kenapa nggak bisa ikut?" tanya Putri sambil terus melepaskan pakaian sang suami.
"Jika aku ikut, terus kamu sama siapa? Ayah dan ibu belum pulang. Mereka bilang mau tinggal beberapa Minggu lagi, karena nenek sedang sakit. Jadi, Ibu masih ingin menunggui Nenek dulu," balas Rama.
"Ya nggak apa-apa, Mas. Biar aku tinggal sementara waktu di rumah kedua orang tuaku. Nanti jika kamu sudah pulang, kamu bisa menjemputku lagi," balas Putri sembari meletakkan pakaian Rama yang sudah terlepas dari tubuhnya di atas kasur.
Spontan Rama menarik pinggang sang istri dan mengatakan bahwa jika dirinya tidak bisa jauh dari istrinya, bagaimanapun juga Rama tidak akan pernah meninggalkan sang istri meskipun sedetikpun.
"Ya kalau kamu nggak ikut, terus bagaimana kamu bisa mengetahui kemajuan sekolah nanti. Ikuti saja, Mas! Aku nggak apa-apa kok, cuma 2 hari saja, sebentar itu!" ucap Putri sambil menahan bibir Rama yang ingin sekali menciumnya.
Sejenak, Rama pun terpikirkan sesuatu, yaitu sebuah ide cemerlang tanpa meninggalkan istri tercinta di rumah sendirian.
"Gini aja deh! Kamu ikut aku saja, bagaimana?"
"Ikut kamu raker ke luar kota? Tapi bagaimana caranya, nanti guru-guru lain pada tahu, bisa curiga mereka," seru Putri.
"Ya gampang dong, Sayang! Nanti aku yang urus. Baiklah, aku akan mengajakmu raker ke luar kota karena aku tidak mau meninggalkan istriku tidur kedinginan. Karena hanya aku yang menjadi selimut kamu, yang bisa menghangatkan kamu, Sayang!!" Rama pun beraksi dengan kembali mencium bibir Istrinya.
"Sekarang Pak Rama pandai menggombal ya!" sahut Putri sambil melepaskan ciumannya.
"Eh eh kok dilepas sih ciumannya, seharian aku nunggu waktu seperti ini. Sekarang aku mau menciummu sepuasnya!!" Rama kembali melakukan adegan romantisnya kepada sang istri.
"Emmm ... jangan, Mas! Aku belum mandi, bau asem!" sahut Putri yang merasa kurang percaya diri jika dirinya belum membersihkan tubuh saat sang suami mendekatinya.
"Halah nggak usah, kamu belum mandi atau belum bagiku sama saja, tetap cantik kok!" seru Rama yang sudah berhasil merebahkan tubuh sang istri di atas peraduan mereka. Dan selanjutnya apapun yang terjadi, yang namanya pengantin baru pasti ingin dekat selalu.
"Mas ...!"
"Boleh ya, sebentar aja. Nanggung nih udah tegang!"
"Ihhh dasar omes!"
"Ya nggak apa-apa lah mesum dengan istri sendiri. Daripada dengan Bu Andin, mau kamu?"
Spontan Putri menahan benda itu masuk dan berkata, "Berani kamu mesum, aku potong-potong buat terong balado. Mau!!"
"Ya jangan dong, Sayang! Iya ampun. Sekarang buka dong! Kalau nggak dibuka bagaimana aku bisa masuk?" rengek Rama yang terlihat memelas.
"Nggak mau!" sahut Putri.
"Dosa loh. Kamu mau?"
Putri menggelengkan kepalanya dan perlahan membuka kedua kakinya, dan Rama pun akhirnya tersenyum sumringah.
"Ahhh ... begini kan enak!!" ucap Rama yang pada akhirnya berhasil masuk ke dalam sarangnya.
"Dasar kamu ... emmm tapi enak juga sih!!" balas Putri sembari memejamkan kedua matanya.
*
*
*
Akhirnya, Rama mengajak istrinya untuk ikut rapat kerja di luar kota. Rama sengaja membayar mobil travel untuk keberangkatan sang istri. Sedangkan Rama dan rekan guru-guru yang lainnya sudah disediakan mobil khusus untuk keberangkatan mereka.
Setelah beberapa jam, rombongan guru-guru itu tiba di sebuah hotel untuk mereka menginap. Mereka berangkat malam hari agar keesokan harinya langsung bisa hadir di raker tersebut.
Tentu saja Bu Andin juga turut serta dalam raker tersebut. Bu Andin tampak berusaha mendekati Rama dan ngobrol basa-basi kepada Rama.
"Pak Rama, saya minta maaf jika kemarin saya sudah berkata tidak pantas tentang bapak. Sungguh saya tidak bermaksud berkata demikian," ucap Bu Andin saat mereka sudah sampai di tempat tujuan.
"Maaf Bu Andin, sebaiknya kita tidak terlalu dekat seperti ini. Saat ini kita sedang berada di sebuah hotel dan saya tidak mau pandangan orang-orang tentang kita menjadi negatif. Saya ke kamar dulu, mari!!" pamit Rama sambil membuka pintu kamar hotelnya.
Bu Andin pun akhirnya diam dan ia juga masuk ke dalam kamar hotel miliknya yang berdekatan dengan kamar hotel Rama.
Setelah Rama sampai di dalam kamar hotel. Kemudian ia langsung menghubungi Putri yang sudah tiba di depan hotel dimana Rama berada sekarang.
"Halo Put!"
"Halo, Mas. Kamu ada dimana?"
"Aku sudah ada di kamar hotel. Kamu masuk saja. Kamarku nomor 85, aku tunggu kamu!"
"Oke!"
Setelah Putri menutup telepon dari sang suami. Ia pun segera mendatangi kamar hotel nomor 85.
Putri pun harus berhati-hati agar guru-guru yang lain tidak mengetahui kedatangannya ke kamar Rama. Dan benar saja, akhirnya Putri sudah tiba di depan pintu kamar hotel nomor 85.
Sembari menengok ke kanan dan ke kiri untuk memastikan situasi aman, Putri mulai membuka pintu kamar hotel nomor 85 tempat di mana sang suami menginap. Putri saat itu memakai topi dan jaket Hoodie agar wajahnya tidak dikenali oleh guru-guru mereka saat berada di sekitar hotel.
Akhirnya, setelah situasi aman. Putri segera masuk ke dalam kamar itu. Segera ia menutup pintu dan melepaskan topi dan Hoodie yang dipakainya.
Namun, ada sepasang mata yang tidak sengaja menangkap Putri yang masuk diam-diam ke kamar Rama.
"Ohhh ... ternyata kalian!!"
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒
lah ga bahaya tah? haruse rama yg masuk k kmr putri kan g tau kl putri ikut jd bs ngel3s itu kmre siapa
2023-07-06
0
Puspa Trimulyani
iya guru BP kok gitu,benar pak Rama ,dia harus diusir dari kelas, mengganggu kegiatan belajar mengajar saja
2023-06-24
0
Qaisaa Nazarudin
Nah kan ku bilang juga apa, pasti ketahuan tuh..
2023-06-23
0