Setelah pernikahan itu diulang, kini Putri sudah menjadi istri sah dari Drs. Rama Airlangga Spd. Guru Matematika di sekolah di mana Putri menimba ilmu.
Bu Iin sangat bahagia melihat putra satu-satunya itu menikah. Karena Bu Iin sudah lama menginginkan Rama segera menikah. Bukan hanya Bu Iin, sang suami pun juga turut bahagia. Meskipun bukan Dinda yang menikah dengan putra mereka. Tapi Putri juga sama baiknya dengan sang kakak.
Setelah acara akad nikah ulang selesai dan kedua orang tua Putri pulang, Bu Iin menyuruh Putri untuk pergi ke kamarnya terlebih dahulu, sedangkan Rama ia akan mendapatkan sedikit wejangan dari kedua orang tuanya.
"Rama, Kami berharap pernikahan ini menjadi suatu pendewasaan untukmu. Ingat, Nak! Istrimu itu masih sangat muda. Kamu harus bisa momong dan juga ngalah. Ibu sangat mengerti perasaanmu. Kamu mencintai Dinda, tapi Dinda? Apa dia memikirkan perasaanmu saat ini? Tidak mungkin!!" ucap Bu Iin.
"Tapi Rama sangat mencintainya, Bu. Rama tidak mungkin bisa hidup bersama adiknya, ibu tahu bagaimana dia di sekolah? Aduhhh! Kalau saja ibu tahu. Pasti deh ibu bakalan geleng-geleng kepala. Dia itu nggak pernah ngerjain tugas dari aku, Bu. Pemalas sekali dia. Bisanya cuma dandan, bawa kaca, bedak, lipstik, main HP. Tuh anak selalu bikin Rama kesal!" sahut Rama sambil menunjukkan bagaimana sifat Putri di sekolah.
"Ya itu tanggung jawab kamu dong! Udah wajarlah sifatnya seperti itu. Dia juga masih usia sekolah, kan. Karena sekarang kamu sudah menjadi suaminya maka kamu harus bisa membuat dia menjadi lebih dewasa lagi. Ibu sangat yakin sekali, jika Putri itu adalah gadis yang sangat baik dan penurut!" ucap Bu Iin yakin.
Spontan Rama membulatkan matanya ketika mendengar ucapan ibunya. Gadis penurut? Pembangkang iya, pikirnya.
*
*
*
Malam pengantin yang biasanya dilalui pasangan yang baru menikah dengan saling bercengkrama dan bercanda. Nyatanya tidak berlaku bagi Rama dan Putri. Dua-duanya saling diam dan tidak bicara sepatah katapun. Sementara di tengah tempat tidur. Ada sekat berupa tali panjang yang membuat jarak bagi mereka. Di rentangkan sebuah kain sebagai tirai untuk memisahkan keduanya.
Rama sedang sibuk dengan laptopnya sedangkan Putri sibuk scroll-scroll sosial media miliknya, berharap ia menemukan informasi tentang sang kakak yang tiba-tiba pergi tanpa pamit. Sehingga ia bisa terbebas dari belenggu pernikahan ini jika Dinda sudah pulang.
Sesekali Rama melirik ke arah samping di mana Putri berada. Ia tampak tidak perduli dengan apa yang dilakukan oleh Putri. Rama lebih fokus pada layar laptopnya.
Hingga akhirnya, Rama menghela nafasnya dan memberanikan diri berkata kepada Putri, setelah sedari tadi mereka tidak saling bicara. "Ingat, Putri! Mungkin di rumah, kita adalah suami istri. Tapi tidak di sekolah, kamu tetap saja muridku dan aku adalah gurumu. Jangan sampai ada yang tahu jika kita sudah menikah, mengerti!"
Putri memutar bola matanya sambil membuang nafas panjang. "Iyaaa ... lagian siapa juga yang mau diakui sebagai istri Anda, Pak. Ingat juga, Anda juga tidak boleh larang-larang saya pergi bersama teman-teman. Saya ini masih remaja dan butuh teman banyak. Saya masih belum pantas untuk jadi ibu rumah tangga. Apalagi istri Pak Rama. Iyuuuhhh ... kontras gitu loh!" sahut Putri dengan gaya berbicaranya yang khas.
Rama pun terdiam dan tidak berbicara lagi. Ia lebih memilih menutup laptopnya dan beranjak untuk tidur. Meskipun kenangan Dinda masih membayangi dirinya. Rama berusaha untuk sabar, karena impian untuk menjadi model terkenal adalah cita-cita Dinda sedari dulu. Tapi, kepergian sang kekasih justru membuat dirinya terjebak dalam pernikahan dengan mantan adik iparnya itu yang tak lain adalah muridnya sendiri.
Rama mulai berbaring untuk beristirahat dan tidur. Tapi tidak untuk Putri. Gadis itu masih sibuk mencari keberadaan sang kakak di akun sosial media miliknya. Dinda kerap sekali membagi aktivitasnya di akun sosial pribadinya. Tapi, semenjak Dinda pergi. Ia tidak muncul lagi di sosial media. Bahkan, nomor wa nya pun sudah tidak aktif, sehingga keluarganya kesulitan untuk menghubungi gadis itu
Karena tak kunjung mendapatkan informasi tentang Dinda. Putri pun lebih tertarik melihat drama Korea favoritnya di aplikasi TV online. Sedangkan Rama, ia mulai memejamkan matanya dan tidur.
Setelah setengah jam berlalu. Di saat Putri sedang asyik melihat drama favoritnya. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara dengkuran yang cukup keras dari arah samping.
Ia pun merasa sangat terganggu dengan suara dengkuran suaminya. "Ya ampun, sumpah ya nih guru. Udah galak, tidurnya mendengkur lagi. Berisik banget!" Putri pun mulai memasang headset di telinganya, agar dirinya tidak bisa mendengar suara dengkuran Rama lagi. Ia pun bisa melihat dan mendengarkan drama favoritnya tanpa gangguan.
Setelah beberapa saat ....
"Hiks hiks hiks! Ya ampun sedih banget sih! Mewek kan aku tuh. Huuuuhhh dasar laki-laki buaya, tukang selingkuh!! Kalau saja dia ada di sini, udah aku tendang tuh mukanya. Nyebelin banget sumpah!" Putri tampak komat-kamit dengan gerakan memukul dan menendang. Belum lagi suara tangisannya yang seketika membuat Rama terbangun.
Rama tampak mengucek matanya. Tidurnya terganggu karena suara Putri yang terdengar berisik. Ia mendengar suara Putri yang sedang menangis.
"Ngapain dia nangis? Berisik! Ganggu orang tidur aja!" umpat Rama sambil tidur dengan menutupi telinganya dengan bantal. Namun, suara tangisan Putri semakin kencang, sehingga membuat Rama bangun lagi karena merasa sangat terganggu.
"Huwaaaa kok dimatiin sih ceweknya. Harusnya cowoknya tuh yang koit, sekalian aja tuh burungnya dipotong-potong, dicincang halus terus dibuang!!" Putri sesenggukan sambil menyeka air matanya saat melihat tokoh utama menderita.
Rama mendengar suara Putri yang sedang berbicara sendiri. Rama pun masih sabar dengan dengan menyuruh Putri tidur.
"Kamu nggak tidur? Besok kamu harus sekolah loh! Jam pertama pelajaran bapak. Jangan sampai telat! Kamu tahu hukumannya apa jika telat datang ke kelas?"
"Bodo amat pergi Lo! Dasar setan!!"
Bukannya jawaban yang mengenakan, justru Rama mendapatkan jawaban yang mengerikan dari Putri.
Spontan Rama membuka tirai kain di tengah tempat tidur mereka dan ia melihat Putri yang sedang menangis sambil melihat ke layar ponselnya dengan telinga memasang headset.
"Putri, kamu nggak tidur? Setan setan siapa yang setan?"
"Huwaaaa ... uhh rasain lu, rasain lu bikin sedih aja. Dasar tukang selingkuh!!"
Seketika Putri sangat terkejut saat ia menoleh ke arah samping. Dilihatnya kepala Rama yang menyembul di balik tirai pemisah di antara keduanya. Spontan ia memukul kepala Rama dengan ponsel yang dibawanya. Gadis itu masih tersugesti oleh drama Korea yang baru saja ditontonnya. Sehingga membuat Putri mengira jika Rama adalah tokoh pria yang jahat dan sedang berselingkuh.
"Eh eh apaan sih kamu, Putri! Aku ini gurumu!" Rama berteriak dan menepis tangan Putri yang sudah menggetok kepalanya dengan ponsel miliknya.
Sontak Putri sangat terkejut saat ia baru sadar jika yang dipukulnya adalah sang guru, suaminya sendiri.
"Busyet! Salah sasaran. Maaf Pak saya nggak sengaja, saya kira tadi Bapak si tukang selingkuh itu. Uuhhhhh greget, Pak! Pingin getok aja tuh mukanya. Eh yang nongol muka bapak." ucap gadis itu sambil garuk-garuk kepalanya.
"Lain kali jangan diulangi. Sekarang tidur! Ganggu orang istirahat aja. Berisik!" sahut Rama yang masih jutek.
"Bapak sih, salah sendiri pakai mendengkur. Jadi jangan salahkan saya dong. Yang bikin saya nggak bisa tidur itu Bapak. Suara mendengkur Bapak itu keras banget kayak dipakaikan toa." sahut Putri membela dirinya.
Rama pun tidak banyak bicara. Karena sejatinya pria itu tidak terlalu tertarik untuk berbicara dengan Putri. Rama kembali ke posisi tidurnya. Tanpa mengatakan apapun, ia tidur kembali dengan membelakangi Putri.
Putri sendiri kembali ke posisi semula. Ia pun membenarkan posisi tirai pemisah itu dengan benar. Setelahnya Putri beranjak tidur. Namun, tiba-tiba saja ia ingin pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil.
Putri turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah kamar mandi. Baru saja ia membuka pintu kamar mandi. Ia dikejutkan dengan kecoa yang sedang lewat di atas lantai.
"Huwaaaa!"
Spontan Putri menjerit lagi karena ia sangat takut dengan binatang satu itu. Rama yang baru saja memejamkan mata. Pria itu seketika terbangun dan segera menghampiri Putri yang masih berada di depan pintu kamar mandi.
"Ada apa sih! Teriak-teriak mulu nih anak!" ucap Rama sambil mendekati Putri.
"Ada kecoa, Pak!" jawab Putri sambil menunjuk ke arah lantai kamar mandi.
"Mana, nggak ada kecoa." Rama melihat ke arah lantai kamar mandi. Tidak ada apa-apa di sana.
"Tadi ada, beneran saya nggak bohong. Hiiiiii!" Putri tampak bergidik ngeri membayangkan kecoa itu. Karena tidak ada apapun. Rama kembali ke tempat tidurnya.
"Nggak ada apa-apa, jangan teriak lagi. Aku muak dengarnya!" sahut Rama dengan ketus.
Baru saja Rama melangkahkan kakinya. Tiba-tiba Putri merasa ada sesuatu yang merambat di kakinya. Seketika ia pun melihat ke arah kakinya, dan benar saja ada seekor kecoa yang sedang nempel di kaki sebelah kanan.
Karena takut, Putri dengan cepat memeluk Rama spontan. "Huaaaaaa ada kecoa, Pak!!"
Seketika Rama membulatkan matanya dengan alis yang saling bertaut saat Putri tiba-tiba berteriak. Bukan karena Putri yang sedang memeluk dirinya, tapi karena tangan Putri secara tidak sengaja menyenggol pisang tanduk yang sedang bergelantungan di antara paha Rama.
"Shiiit!!"
...BERSAMBUNG...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
StAr 1086
next
2024-01-17
0
Alivaaaa
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2023-07-10
0
Kikan dwi
pisang tanduk 🤭
2023-07-04
0