Rama pulang sendiri tanpa istrinya. Ada rasa yang berbeda di saat ia pulang tanpa Putri, meski sebenarnya ia tidak perduli dengan apapun yang dilakukan oleh murid sekaligus istrinya itu. Namun, masih ada sedikit rasa khawatir, karena Putri pergi bersama teman-teman cowoknya juga, di mana mereka juga sering menggoda Putri.
Akhirnya, Rama memutuskan untuk mengikuti Putri. Ia berputar arah sebelum Putri dan teman-temannya pergi lebih jauh. Benar saja, saat itu Putri dibonceng oleh salah satu teman cowoknya. Meskipun tidak mesra tapi cukup membuat Rama mengeratkan giginya ketika ia melihat istrinya dari jarak yang tidak terlalu jauh.
"Kamu sudah siap, Put?" tanya Wiro. Pemuda yang membawa motor bersama Putri.
"Siap dong, yuk!" sahut Putri setelah ia memasang helmnya.
"Kamu nggak pegangan!" Wiro berharap Putri melingkarkan tangannya pada pinggangnya.
"Sudah!" jawab Putri sambil memegang planger motor. Seketika Wiro terkejut saat ia tidak melihat tangan Putri yang melingkar di pinggangnya. Justru, tangan Putri sedang berpegangan pada planger motor.
"Ada apa?" tanya Putri yang melihat ekspresi wajah kecewa Wiro.
"Kenapa pegangan di situ?"
"Ya nggak apa-apa lah, aku suka pegangan di sini. Daripada megangin pinggang kamu. Nggak boleh kata guru agama, kita masih bocil woi! Udahlah, segera berangkat!" titah Putri sambil menepuk pundak Wiro.
Wiro pun garuk-garuk kepalanya, berharap mendapatkan pelukan dari Putri. Nyatanya Wiro tetap saja tidak akan pernah bisa membuat gadis itu menurut.
Akhirnya, Putri dan beberapa temannya langsung berangkat ke Mall di mana mereka akan berhealing ria dan mencari kaset film terbaru.
Tanpa Putri sadari jika Rama mengikuti dirinya dari belakang. Rama mengendap-endap agar Putri tidak melihatnya. Sesekali Rama ingin sekali menempeleng beberapa teman cowok Putri yang menggoda Putri dengan tiba-tiba merangkul pundak Putri. Dan Putri pun menepisnya dengan cepat. Meskipun itu hanya sekedar bercanda tetap saja, Rama sangat tidak menyukainya.
"Tuh si Wiro ngapain rangkul pundak Putri!" Rama tampak geram. Ia pun harus menahannya agar Putri tidak curiga.
Setelah puas mereka mencari kaset film terbaru. Kini, Ririn mengajak mereka untuk nongkrong dulu di dalam Mall itu. Tentu saja mereka sangat senang dan mereka bisa cuci mata sambil lihat cowok-cowok keren yang lewat.
Lagi-lagi, Rama dibuat kesal saat Putri dihampiri oleh seorang cowok yang ingin berkenalan dengannya. Putri pun terlihat malu-malu saat cowok itu bersalaman dan menyebut namanya.
"Hai cewek! Boleh nggak kita kenalan?"
"Boleh aja," Putri tampak tersipu malu.
"Namaku Rama!" sebut pemuda itu sambil tersenyum ramah. Sontak Putri terkejut saat tahu jika cowok itu bernama Rama sama seperti nama guru killernya di sekolah yang tak lain adalah suaminya sendiri.
"Aku Putri. Ngomong-ngomong nama kamu sama persis dengan nama guru kami. Tapi sayang, dia guru yang killer banget, uhhh lihat mukanya aja kayak lebih serem dari pada lihat hantu pocong, tapi kalau kamu kayaknya beneran ramah deh ya!" ucap Putri kepada cowok baru kenalannya itu. Bersama teman-teman Putri bercanda ria dengan cowok tersebut.
Rama yang mendengar ucapan Putri terhadap cowok baru itu. Ia merasa ingin sekali membawa Putri pulang dan mengurungnya di kamar agar gadis itu tidak bisa lagi bercuap-cuap bersama cowok lain.
Rama masih bersabar menunggu istrinya yang sedang bermain bersama teman-temannya. Hingga akhirnya Rama melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. Hal itu ia manfaatkan untuk mengajak Putri pulang.
Rama menghubungi nomor Putri agar gadis itu ingat waktunya pulang.
"Eh bentar ya, aku angkat telepon dulu!" pamit Putri kepada teman-temannya. Putri sedikit menjauh agar teman-temannya tidak bisa mendengar pembicaraannya dengan Rama.
"Halo, Pak!"
"Kamu lihat ini jam berapa?"
Putri segera melihat ke arah jam tangan miliknya. "Masih setengah lima," balas gadis itu dengan santai.
"Masih setengah lima katamu! Pulang sekarang!" sahut Rama.
"Pulang? Masih setengah lima, Pak. Nanti aja deh kalau udah jam lima. Kita masih seru-seruan, Pak!"
"Tidak bisa, waktunya pulang ya harus pulang. Kamu mau nilai matematikamu bapak kurangi? Sekarang Bapak tunggu kamu di kios penjual jam tangan, nggak usah pakai lama," ancam Rama.
"Ya elah jangan dong, Pak. Iya iya saya pulang, bawel! Kayak nggak pernah muda aja, lah ... bapak ngapain di situ?" seru Putri saat dirinya melihat ke arah kios penjual jam tangan, di mana di sana ada Rama yang sedang berdiri menunggunya.
"Udah ngga usah banyak tanya. Sekarang bapak tunggu di parkiran!"
Rama segera menutup ponselnya dan ia segera keluar dari Mall dan menunggu Putri di parkiran. Putri pun segera meminta izin kepada teman-temannya untuk pulang terlebih dahulu.
"Guys, aku duluan ya!"
"Loh kenapa, Put?"
"Nggak apa-apa, udah sore soalnya. Ditunggu Ibu di rumah. Daaah aku pergi dulu!"
"Iya hati-hati!"
Putri pun segera pergi dari Mall itu. Ia pun mencari keberadaan sang guru di parkiran motor. Tak berselang lama, datang motor matic yang menghampiri Putri.
"Pakai helm!" seru Rama sambil memberikan helm kepada Putri.
"Jadi, dari tadi Bapak ngikutin saya?" tanya Putri sambil memakai helmnya.
"Nggak usah GR, aku cuma menjalankan perintah ibu, karena kamu sekarang tanggung jawabku. Kalau terjadi apa-apa, nanti aku yang disalahkan. Lagian, ke Mall lama banget, kaki kesemutan nih nungguin kamu!" ucap Rama dengan ekspresi wajah kesal.
"Diihh salah sendiri, siapa suruh ngikutin Putri. Kalau punya asam urat mending Bapak pulang, nanti kalau asam uratnya kumat, saya yang disalahkan."
"Hahh udah, jangan bawel. Cepat naik!" titah Rama.
Putri pun segera naik ke atas motor. Setelah itu Rama segera melajukan motornya ke jalan raya.
Dalam perjalanan, mereka saling diam. Putri tidak berani bertanya apapun. Meskipun ia tidak perduli dengan pernikahannya. Tapi entah kenapa Putri merasa ada yang aneh. Ia takut jika suaminya marah, karena ia faham betul bagaimana Rama jika marah saat di kelas.
Setelah 15 menit, mereka berdua tiba di rumah. Putri turun dan melepaskan helmnya. Tapi sayang, pengait helm itu mendadak tidak bisa dibuka dan Putri kesusahan untuk membukanya. Sedangkan Rama segera masuk ke dalam rumah setelah memarkirkan motor dan membuka helmnya.
"Eh pak pak tungguin saya dong!" seru Putri dengan wajah memelas karena tidak bisa membuka helmnya. Rama membalikkan badannya dan melihat Putri yang masih menggunakan helm.
Rama hanya menatap gadis itu tanpa melakukan apapun. Putri pun mendekat sambil cengar-cengir.
"Tolong bukain dong, Pak! Susah nih!" ucap Putri sambil mendekati Rama.
Tanpa bicara, Rama segera meraih pengait helm itu. Namun, secara tidak sengaja ia menyentuh tangan Putri. Spontan Putri menarik tangannya dan pura-pura tidak tahu apa-apa.
Rama kemudian segera membantu Putri untuk melepaskan pengait helm yang tersangkut. Secara tidak sengaja, mereka berdua saling menatap.
"Sebenarnya pak Rama ganteng juga anjay, seandainya saja dia bukan guru killer. Pasti tambah cakep!" batin Putri yang tanpa sadar memuji wajah suaminya sendiri.
"Tidak usah menatapku seperti itu. Aku tidak mau kamu nanti jatuh cinta padaku. Aku juga tidak mau menyakitimu karena aku masih mencintai kakakmu, jadi mulai sekarang jaga pandanganmu!"
Seketika Putri membelalakkan matanya saat mendengar ucapan dari Rama. Ia pun menghela nafas panjang dan segera masuk ke dalam rumah setelah helm itu terlepas dari kepalanya.
"Iya iya, terserah Bapak aja, suka-suka bapak deh ngomongnya apa, saya nggak perduli. Boro-boro jatuh cinta, lihat mukanya aja udah ngeri!" sahut Putri yang terdengar komat-kamit. Tanpa sadar, Rama pun tertawa kecil melihat tingkah lucu istrinya.
"Dasar bocah!" ucapan Rama tanpa sadar terdengar di telinga Putri.
"Apa, Pak? Bapak bilang saya bocah?" tanya Putri serius. Rama tidak memperdulikannya dan ia terus berjalan menuju ke kamar.
"Eh kok nggak dijawab sih! Pak Rama! Huuuuhhh lama-lama aku terkena darah tinggi juga nih, dasar guru dingin!"
Sambil mengumpat, Putri pun berjalan di belakang suaminya.
*
*
*
Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan, setelah makan malam bersama. Putri masuk ke dalam kamar dan ia merasa sangat mengantuk. Ia pun beranjak untuk tidur karena seharian ia capek pergi jalan-jalan ke Mall.
Sementara itu, Rama melihat Putri yang sedang beranjak tidur. Pria itu pun melarang Putri untuk tidur karena mereka baru saja makan malam. Di khawatirkan justru tidur setelah makan akan berdampak buruk bagi kesehatan. Putri pun mengikuti perintah sang suami dan ia tampak bersandar pada sandaran tempat tidur.
"Daripada kamu tidur, mending kamu kerjakan tugas matematika yang bapak berikan. Setelah selesai, kamu bisa tidur!" perintah Rama agar Putri bisa menghilangkan rasa kantuknya.
"Mengerjakan tugas? Aduhhh, tugas dari bapak sulit sekali, bisa-bisa rambut saya rontok gara-gara mikirin logaritma. Kenapa sih harus ada pelajaran matematika, Pak!" gerutu Putri, apalagi ia mengingat tugas dari Rama tidak bisa ia kerjakan.
"Tidak ada yang sulit jika kamu mau belajar. Kalau kamu malas, kapan bisanya. Kalau kamu nggak mengerjakan tugas itu, kamu mau nilaimu berkurang? Sini, aku ajarin!" ucap Rama menawarkan diri sebagai guru privat.
"Bapak mau jadi guru les saya?" sahut Putri dengan senyum yang meledek.
"Iya, terpaksa. Mumpung aku baik hati dan tidak memasang tarif. Masih untung kamu mendapatkan les privat gratis dariku. Di luar banyak yang mengeluarkan uang banyak hanya demi untuk membayar seorang guru privat matematika untuk bisa mengerjakan tugas matematika," jelas Rama.
"Berarti saya nggak bayar dong, asekkk!" sahut Putri kegirangan.
"Kalau aku minta upah, memangnya kamu mau beri aku apa?" sahut Rama sambil menatap wajah sang murid.
"Emm ... apa ya ... Lah katanya tadi gratis, gimana sih, plin plan jadi orang!" gerutu Putri.
Mendengar ucapan dari Putri, Rama tersenyum miring dan berkata, "Lagipula aku juga tidak akan mau menerima apapun dari kamu. Jadi jangan khawatir, aku tidak akan mengganggumu."
Putri pun terdiam dan segera mengeluarkan buku matematikanya. Rama mulai mengajarkan tentang bab logaritma. Untuk pertama, Putri memperhatikan Rama yang sedang menerangkan materi itu. Awalnya Putri bisa sedikit-sedikit. Tapi, di menit ke sepuluh. Putri sudah tidak dapat konsentrasi karena rasa kantuknya sangatlah kuat.
Ia pun berusaha untuk tetap melek agar ia bisa mengerjakan tugas dari Rama.
"Sekarang, kamu kerjakan nomor 11, ayo dicoba sendiri!" titah Rama.
Putri pun mulai mengerjakan soal nomor 11. Sementara Rama tampak memeriksa nilai siswa-siswanya yang ia masukkan ke dalam laptop. Putri tampak mengerjakan tugas itu dengan serius.
Namun, diluar dugaan. Kedua mata Putri tidak bisa dikendalikan. Ia pun semakin mengantuk dan pada akhirnya Putri tertidur di atas meja dan wajahnya menindih buku matematikanya.
Setelah sepuluh menit menunggu sambil memeriksa nilai. Rama pun meminta Putri untuk memberikan hasil tugasnya. Tapi, tidak ada jawaban atau reaksi dari Putri, seolah gadis itu diam dan tidak menjawab.
"Sudah belum tugasnya, Put?" seru Rama sambil menoleh ke arah Putri yang sedang tertidur. Rama memijit pelipisnya karena sang istri ternyata ketiduran.
Rama segera menutup laptopnya dan melihat Putri yang sedang tertidur di atas meja.
"Astaga nih anak, malah tidur! Putri, Put bangun Put!" seru Rama yang berusaha untuk membangunkan sang istri. Nyatanya Putri masih terpejam dan semakin lelap.
Akhirnya, Rama pun membiarkan Putri tidur. Karena ia merasa Putri terlihat kecapean. Rama pun beranjak untuk tidur dan membiarkan istrinya.
Rama menuju ke tempat tidur. Sesekali ia melihat sang istri yang sedang lelap tidur. Ada perasaan tak tega melihat Putri yang sedang tidur dalam posisi seperti itu. Rama pun memutuskan untuk mengangkat tubuh Putri agar gadis itu bisa tidur di ranjang.
"Semoga saja ia tidak bangun!" pikir Rama yang mulai mengangkat tubuh istrinya.
Dengan mudah, Rama mengangkat tubuh Putri yang sedang tertidur. Sejenak ia melihat wajah polos Putri yang sedang memejamkan mata. "Kalau dilihat-lihat, dia cantik juga jika sedang tidur." Rama tersenyum melihat wajah lelap Putri.
Setelah tiba di tempat tidur. Rama segera meletakkan tubuh istrinya dengan sangat hati-hati. Di saat tubuh Putri sudah menyentuh tempat tidur. Rama pun berusaha untuk menarik kedua tangannya yang masih berada di belakang tubuh Putri. Namun, tiba-tiba saja Putri bergerak dan langsung memeluk Rama sehingga Rama ikut berguling di atas tempat tidur. Putri mengira jika Rama adalah sebuah guling yang biasa ia peluk ketika tidur.
"Shiiit! Bagaimana bisa aku dalam posisi seperti ini!"
Rama pun memeluk gadis itu. Tubuh mereka begitu dekat, tidak ada jarak diantara mereka, bahkan paha Putri menyenggol pisang tanduk Rama yang pada akhirnya ia mulai panik.
"No no, jangan bangun, Boy!" Batin Rama sambil menahan sesuatu yang mulai mengeras.
...BERSAMBUNG...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Tati Hartati
udhlah rama cptn unboxing udh halal jg,,😂😂😂😂😂🙄🙄
2023-08-26
0
Alivaaaa
wkwkwkwk
2023-07-11
0
Tita Puspita Dewi
si boy baperan amat. 😄
2023-07-03
0