Di dalam kelas. Seperti biasanya, Putri mengikuti pelajaran Rama dengan baik. Rupanya dia mulai terbiasa duduk di bangku depan suaminya sendiri. Putri pun tidak terlalu memperdulikan dengan tatapan Rama padanya. Karena Putri juga tidak mau terlihat salah tingkah hanya karena dilihat oleh suaminya sendiri.
"Putri, coba kamu kerjakan nomor 2 di depan kelas!" titah Rama sambil memberikan spidol ke arah Putri agar gadis itu mengerjakan soal yang diberikan di papan tulis.
"Saya, Pak?" tunjuk Putri pada dirinya sendiri.
"Iya kamu!"
"Tapi saya nggak bisa, Pak! Takut salah, nanti Bapak marah!" balas Putri khawatir.
"Belum dicoba sudah nyerah. Cepat kerjakan, mau melawan perintah Bapak?" sahut Rama yang mulai memasang wajah killernya.
"I-iya, Pak. Sa-saya kerjakan!" Putri pun terpaksa mengerjakan soal di papan. "Ampun nih guru, bikin aku mati berdiri saja! Aku kan nggak bisa bab ini!" gerutu Putri sambil berusaha untuk mengerjakan soal yang baginya sulit itu. Lagi-lagi, materi logaritma yang membuat Putri kurang mengerti.
Cukup lama Putri mencoba untuk mengerjakan soal itu. Ia pun bingung dengan rumus dan caranya, berkali-kali ia mencoba menjawabnya tapi tetap saja salah.
"Kamu tidak boleh duduk sebelum menjawab dengan benar!" seru Rama yang semakin membuat kaki Putra gemetaran. Sementara teman-teman Putri kasihan melihat Putri yang bingung bagaimana menjawabnya. Putri semakin gugup dan akhirnya ia menyerah.
Ia mundur dan berkata kepada guru matematikanya itu. "Maaf, Pak! Saya tidak bisa mengerjakannya," ucapnya sambil memberikan spidol kepada Rama.
Rama yang semula menyandarkan tubuhnya pada meja guru sambil menyilangkan kedua tangannya. Ia pun berjalan menghampiri Putri dan menerima spidol itu.
Tapi, bukannya menyuruh Putri untuk duduk. Rama justru menarik tangan Putri untuk menghadap ke papan tulis lagi. Tentu saja Putri terkejut saat Rama mengajaknya dengan memegang tangannya yang masih memegang spidol itu.
"Sudah aku bilang, kamu tidak boleh duduk sebelum mengerjakan soal ini dengan benar. Perhatikan dan dengarkan!" titah Rama sambil memandu Putri untuk mengerjakan soal tersebut. Tentu saja jarak mereka yang sangat dekat membuat Putri sedikit risih. Pasalnya Rama berada di belakang Putri dan nafas sang guru terasa begitu hangat menyapu telinganya. Tapi ada satu hal yang membuat Putri sedikit suka. Yaitu aroma parfum sang guru yang harum dan membuat Putri memejamkan mata sejenak.
"Hmm ... wangi juga nih guru! Et dah, kok malah nyium bau dia!!"
Rama yang sibuk mengajarkan tentang penyelesaian soal itu. Putri justru tidak bisa konsentrasi karena tubuhnya begitu dekat dengan guru killernya itu. Begitu dekat hingga hampir saja dada Rama menyentuh punggung Putri.
"Pak Rama bisa mundur sedikit nggak sih? Saya nggak bisa nafas, Pak. Engap, panas!" ucap Putri lirih. Rama pun berhenti dan perlahan menjauh dari Putri.
"Hhhhh ... akhirnya bisa bernafas juga aku!" batin Putri sambil menghela nafas panjang. Sementara itu Rama hanya menatap Putri dengan tatapan yang tajam.
Karena gugup ia selalu diperhatikan Rama, Putri pun berpura-pura sakit perut dan meminta izin untuk pergi ke kamar mandi.
Rama pun terpaksa mengizinkan istri kecilnya itu untuk keluar.
Dengan cepat Putri segera keluar dari kelas agar dirinya bisa bebas dari perintah sang guru.
"Huuuuhhh! Ya ampun, pak Rama benar-benar bikin aku spaneng. Sudah tahu aku nggak bisa mengerjakan soal itu, malah deket-deket. Tapi ngomong-ngomong parfumnya harum juga sih. Kesannya macho banget! Hihihi."
Putri tersenyum kecil saat mengingat momen itu. Hingga tiba-tiba ia bertemu dengan teman beda kelas yang bernama Rima. Rima anak kelas 12 B.
"Hai Put! Kok kamu ada di luar sih? Nggak ikut pelajaran?" tanya Rima.
"Lagi izin ke kamar mandi." Putri menjawab pertanyaan Rima sambil duduk di bangku panjang.
"Izin ke kamar mandi kok duduk di sini?" sahut Rima yang juga ikut duduk bersama Putri.
Putri tersenyum dan berkata. "Aku sengaja menghindar dari pelajaran pak Rama, males aja gitu. Aku di suruh mengerjakan tugas di depan kelas, mana aku nggak bisa lagi. Eh dia malah lihatin mulu, auto keluar aja pura-pura perut sakit."
Rima tertawa kecil mendengar ucapan Putri. "Ya ampun kasihan banget kamu. Kayaknya Pak Rama sedang ngefans sama kamu ciee!" ledek Rima sambil menyenggol lengan Putri.
"Ngefans apaan, bikin pusing tahu nggak, nggak pernah bisa nyantai aku di rumah. Selalu di suruh belajar mulu, pagi, siang, sore, malam. Bosan!" sahut Putri sambil mengerucutkan bibirnya.
"Iya juga sih ya, kalau setiap hari di suruh belajar mulu, pastinya kita gampang bosan. Eh Put! Daripada kamu bosan di rumah. Ikut aku yuk besok malam. Bukankah besok malam Minggu, aku mau ajak kamu ke cafe tempat aku biasanya sama anak-anak nongkrong, pasti seru dan pastinya kamu nggak bakalan bete lagi di rumah. Nanti aku jemput kamu, gimana?" ajak Rima.
Putri pun menyambut dengan gembira ajakan temannya itu dan ia pun menyetujui ajakan Rima. "Oke deh aku ikut. Tapi nggak usah dijemput, biar aku yang nyamperin kamu. Nanti aku hubungi kalau aku udah ada di luar rumah," balas Putri.
"Oke, kalau begitu aku kembali ke kelas dulu ya, sampai jumpa besok malam!" pamit Rima sambil beranjak pergi ke kelasnya. Putri pun tersenyum kepada temannya itu.
*
*
*
Keesokan harinya, setelah seharian Putri dan Rama ada di sekolah, sesampainya di rumah. Rama dan Putri sudah tidak mendapati pak Bambang dan Bu Iin di rumah. Karena mereka sudah berangkat keluar kota tadi siang. Kini tinggal mereka berdua di rumah. Putri terlihat menjaga jarak dari suaminya. Begitu juga dengan Rama. Ia tidak perduli dengan apapun yang dikerjakan oleh Putri, asalkan sang istri tetap berada di dalam rumah.
Malam ini adalah malam Minggu. Putri sudah janjian dengan Rima dari kemarin jika mereka akan pergi ke Cafe bersama teman-teman yang lainnya. Putri pun bersiap untuk pergi dengan memakai dress pink di bawah lutut, dibalut dengan cardigan warna denim, terlihat begitu anggun, apalagi Putri membiarkan rambutnya tergerai indah.
Setelah Putri bersiap dan menghubungi Rima. Ia pun segera mengambil tas selempang miliknya dan segera keluar untuk meminta izin kepada Rama untuk pergi sebentar.
Rama yang saat itu sedang berada di ruang tengah sedang menatap laptopnya, dikejutkan dengan kedatangan Putri yang tiba-tiba berdiri di depannya sambil senyum-senyum.
Rama melihat penampilan Putri dari ujung kaki sampai ujung kepala. Spontan ia menutup laptopnya dan berdiri tepat di depan sang istri.
"Mau kemana kamu?" tanya pria itu dingin.
"Saya minta izin pergi bersama Rima, Pak. Kami sudah janjian dari kemarin, Bapak tidak usah khawatir, tidak akan ada Alex bersama kami. Karena ini adalah acara para cewek," terang Putri yang berharap Rama akan mengizinkannya. Namun, apa yang diharapkan Putri nyatanya membuat gadis itu kecewa.
"Masuk!" titah Rama agar Putri masuk ke dalam kamarnya lagi dengan tatapannya yang dingin.
"Tapi, Pak!"
"Tidak ada tapi-tapian. Masuk kamar dan tidur!" sahut Rama dengan tegas. Putri pun mulai kesal dan tidak terima Rama memerintah nya seperti itu.
"Tapi tidak ada Alex, Pak. Saya bisa jamin!" rengek Putri berharap Rama bisa mengerti.
"Aku tidak perduli ada dia atau tidak. Jika aku tidak mengizinkannya, kamu harus tetap mengikuti perintahku!" sahut Rama yang semakin membuat Putri kian kesal.
"Pak Rama yang budiman. Bukankah bapak pernah bilang jika saya diizinkan pergi asalkan tidak ada Alex, dan sekarang saya pergi bersama teman-teman saya dan tidak akan ada teman cowok yang ikut. Kenapa bapak nggak percaya sih? Saya tidak bohong!" sahut Putri yang mulai kesal dengan sikap suaminya.
"Apa kamu tidak mendengar apa yang aku katakan! Masuk ke kamarmu, atau perlu aku yang mengantarmu ke kamar?" ucap Rama tegas.
Putri yang sudah terlanjur geram dengan sikap suaminya. Ia pun memaksa untuk keluar dari rumah. Namun, dengan cepat Rama menarik tangan Putri dan mengangkat tubuh gadis itu pada pundaknya, sehingga Putri memukul-mukul punggung Rama dan berontak. Rama segera membawa istrinya untuk masuk ke kamar mereka.
"Lepaskan saya, Pak! Bapak jahat banget sih sama saya. Saya mau pergi, Rima pasti sudah menunggu saya!" Rama tidak memperdulikan teriakan istrinya. Ia terus membawa sang istri hingga akhirnya mereka tiba di dalam kamar.
Rama menurunkan tubuh istrinya dan segera menutup pintu.
"Pak Rama apa-apaan sih, kenapa bapak larang saya pergi? Apa urusan Bapak? Saya Ini bukan Kak Dinda, Pak. Jika Bapak marah kepada dia kenapa saya yang jadi korban? Saya cuma ingin kebebasan. Bapak sendiri bilang jika pernikahan ini cuma terpaksa. Sekarang seenaknya ngatur-ngatur!" umpat Putri sambil melepaskan tas selempang nya ke atas kasur.
Rama masih terdiam. Sejujurnya pria itu tidak ingin terjadi sesuatu kepada Putri. Bukan hanya dia adalah adiknya Dinda, tapi sekarang Putri adalah istrinya. Meskipun pernikahan mereka bukanlah keinginan mereka. Tapi tetap saja Rama tidak akan membiarkan istrinya pergi sendirian di luar rumah.
"Sebaiknya kamu istirahat! Aku akan tidur di luar!" ucap Rama sambil beranjak untuk pergi dari kamar mereka. Mendengar ucapan dari Rama, Putri spontan berkata kepada sang suami, "Hmm pantas saja Pak Rama dari dulu nggak ada yang naksir, hidupnya kolot banget sih! Pasti Pak Rama nggak pernah gaul, sampai umur setua ini masih betah menjomblo, udah gitu mau nikah ditinggal lagi sama kak Dinda, tapi justru saya yang kena getahnya. Menikahi pria dingin dan killer seperti Bapak. Nggak ada manis-manisnya, nggak ada ramah-ramah nya. Tiap hari cuma lihat muka masam saja, eh senyum kek atau ketawa gitu. Malah ketawa-ketiwi sama Bu Andin yang ...." Putri komat-kamit dan tiba-tiba ia tidak melanjutkan kata-katanya karena Rama menarik tangan Putri hingga gadis itu berada dalam pelukan Rama.
"Apa kamu bilang? Aku dingin dan killer? Nggak ada manis-manisnya dan nggak ramah?" seru Rama sambil menatap kedua bola mata Putri.
Putri mulai gugup karena sang guru sangat dekat sekali dengannya. Bahkan Rama menarik pinggang Putri dan membelai rambut panjang gadis itu.
"P-Pak Rama mau ngapain?" tanya Putri yang semakin gugup karena Rama memang begitu dekat dengan dirinya.
Entah siapa yang memulai duluan. Perlahan Rama mendekati wajah istrinya, sedangkan Putri justru memejamkan kedua matanya dan akhirnya ujung bibir itu saling bersentuhan. Kecupan lembut itu terasa seperti listrik yang menyetrum seluruh tubuh.
Putri berdiri mematung saat sang guru mengecup bibirnya dengan mesra.
"Oh God! Ada apa ini? Kenapa jiwaku rasanya bergetar dan aku tidak bisa lari begitu saja, Pak Rama ternyata menciumiku??"
"Kenapa aku menciumnya? Seharusnya aku tidak melakukan ini? Bersama Dinda saja aku tidak pernah melakukannya? Tapi dia? Muridku sendiri?"
Keduanya saling membatin dan saling merasakan ciuman itu. Bahkan, Putri juga membalasnya.
*
*
*
Sementara di sisi lain, Alex segera menghubungi Rima dan menanyakan apakah Putri sudah datang, dan ternyata Rima mengatakan jika Putri tidak datang. Dan itu membuat rencana Alex berantakan.
Alex berencana untuk menembak Putri saat itu. Namun, karena Putri tidak datang, maka Alex akan menembak Putri saat di sekolah.
"Mungkin sekarang aku gagal untuk menyatakan cintaku padanya. Tapi besok, aku harus berhasil menembak Putri di depan anak-anak. Aku ingin mengumumkan kepada semuanya jika Putri adalah pacar Alex, aku tidak perduli jika Putri sudah punya pacar," seru Alex yakin.
...BERSAMBUNG...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
StAr 1086
ternyata alex gelo.....
2024-01-17
0
Rika Haryani
bukan cuma punya pacar aleeex?
tapi sdh punya suami 😁😁😁
2023-07-15
0
Puja Kesuma
knp aku menciumnya tp dilanjut jg vi
ciumannya gk niat berhenti... kata rama habis enak seh 😃😃😃
2023-07-01
0