Di dalam kamar itu, Rama dan Putri tidak terasa jika mereka sudah saling dekat bahkan mereka berciuman. Tiba-tiba saja terdengar suara ponsel Putri yang berdering berkali-kali.
Spontan Putri membuka kedua matanya dan Ia segera mendorong dada sang suami hingga Rama mundur menjauh dari Putri.
"Bapak nyium saya? Hiks tega!!" ucap Putri sambil membalikkan badannya dan segera mengambil ponselnya yang ada di dalam tas selempang yang ia buang di atas kasur. Namun, tiba-tiba saja Rama dengan cepat mengambil tas itu dan menjauhkannya dari istrinya. Karena Rama yakin sekali jika itu adalah telepon dari teman-teman Putri.
Tentu saja Putri sangat marah saat Rama mengambil ponsel miliknya yang berada di dalam tas selempang itu. "Kok diambil sih Pak? Tolong berikan tas saya?" seru Putri mengiba.
Rama tidak menjawab, justru ia mengambil ponsel itu dan melihat siapa yang sedang menelepon istrinya. Benar saja, telepon itu datang dari Alex, pemuda yang sedang mendekati istri kecilnya itu.
"Dasar! Apa aku kurang tegas untuk melarang anak ini mendekati Putri? Masih berani dia menghubungi Putri! Aku tidak akan biarkan dia terus mendekati istriku. Bagaimanapun juga Putri adalah tanggung jawabku," batin Rama sambil mematikan panggilan dari Alex.
Putri tahu jika suaminya itu sudah mematikan panggilan dari siapa Putri pun tidak tahu.
"Kok dimatikan sih, Pak! Bapak ini terlalu ikut campur urusan saya, tolong kembalikan ponsel saya? Pasti itu dari Rima, saya mau bicara, Pak!" sahut Putri yang mencoba mengambil ponselnya dari tangan sang suami.
Tidak semudah itu Putri bisa mendapatkan ponselnya kembali. Rama tidak akan memberikan ponsel istrinya dengan alasan karena ingin memberikan hukuman kepada Putri.
"Untuk sementara, aku menyita ponselmu, kamu harus fokus pada pelajaranmu. Ingat Putri! Kamu sebentar lagi ujian Nasional. Aku tidak mau kamu sering keluar dengan teman-temanmu hanya untuk sekedar main. Kurangi kebiasaanmu itu. Karena sekarang kamu sudah menjadi seorang istri ...." Rama berkata dengan sedikit merendahkan suaranya.
"Apa, Pak? Istri kata Bapak? Sejak kapan Bapak menganggap saya sebagai seorang istri? Udah deh Pak, jangan bikin saya kesal. Sedari awal saya tidak suka dengan pernikahan ini. Karena saya hanya kasihan melihat ayah dan ibu, ya sudah sebagai anak yang baik saya harus menuruti permintaan mereka. Meskipun saya sangat tersiksa mendapatkan suami yang juga guru killer kayak bapak!" ucap Putri sambil duduk di atas tempat tidur dengan ekspresi cemberut.
Tak ingin berdebat dengan istrinya. Rama memberikan tas berisi ponsel itu lagi kepada Putri.
"Aku kembalikan tas dan ponselmu. Setelah aku pikir-pikir untuk apa juga aku menyita ponselmu. Kalau kamu ingin bebas pergi dengan teman-temanmu terserah. Ya sudah pergi saja, aku tidak akan melarangmu. Karena kamu juga tidak menganggapku sebagai suamimu. Terlepas dari hubungan kita sebagai guru dan murid. Aku adalah suamimu yang wajib kamu dengarkan perintahnya. Tapi jika kamu memilih membangkang, terserah!! Aku tidak peduli."
Setelah mengatakan hal itu, Rama segera pergi dari kamar dan membiarkan istrinya pergi sesuka hatinya. Putri melihat kepergian Rama seperti ada rasa tidak rela.
"Ihhhhh ... sebel!!" Putri memukul-mukul tempat tidurnya berkali-kali. Seolah dirinya merasa sakit saat Rama mengatakan hal itu.
Rama sudah mengatakan bahwa dirinya membebaskan sang istri untuk pergi bersama teman-temannya. Namun nyatanya, Putri justru merasa tidak ingin lagi pergi bersama teman-temannya. Meskipun ponsel miliknya berdering berkali-kali. Putri lebih memilih tidak menjawabnya. Entah kenapa secara tidak langsung ia menuruti perintah sang suami, meskipun sebenarnya dalam hatinya sangat dongkol karena larangan itu.
Begitu juga dengan Rama. Pria itu sedang menyelesaikan pekerjaannya di ruang tengah. Ia tidak bisa konsentrasi pada pekerjaannya karena pikirannya masih terbayang ucapannya kepada Putri, apakah istrinya itu akan tetap pergi atau tinggal di rumah menuruti perintahnya. Nyatanya Putri tidak keluar dari kamar sama sekali. Apakah itu artinya Putri menuruti perintah Rama?
Pria itu tersenyum dan entah kenapa ia merasa senang Putri tidak pergi bersama teman-temannya. Ia pun bisa mengerjakan pekerjaannya dengan tenang.
Di saat Rama sedang sibuk di depan laptopnya. Tiba-tiba ia melihat Putri yang sedang keluar dari kamar. Rama mengira jika Putri jadi pergi keluar dengan teman-temannya. Pria itu hanya menatap tanpa bertanya, begitu juga dengan Putri hanya menatap sekilas kemudian ia memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Shiiit! Kenapa dia menghindariku? Apa dia masih marah padaku!" batin Rama yang sejujurnya ia kesal saat Putri cuek padanya. Rama terus memperhatikan kepergian sang istri. Mungkin saja Putri menuju ke pintu keluar dan benar-benar pergi bersama teman-temannya. Jika itu terjadi sungguh Rama tidak akan rela.
Nyatanya, Putri tidak sedang menuju ke pintu keluar. Gadis itu sedang pergi ke arah dapur untuk mengambil air minum.
Ada perasaan lega saat Rama tahu jika Putri hanya pergi ke dapur. Ternyata dugaannya salah. Sementara itu di dapur, Putri mengambil air minum karena ia merasa haus. Sejenak, Putri mengintip suaminya yang sedang mengerjakan tugasnya sebagai seorang guru. Terbesit dalam pikiran Putri untuk membuatkan kopi untuk suaminya. Mereka memang sedang marahan. Tapi Putri masih punya kepedulian untuk membuatkan sang suami kopi panas agar Rama tidak mengantuk saat mengerjakan tugas memeriksa nilai-nilai siswanya.
Tak berselang lama, Putri keluar dari dapur dengan membawa secangkir kopi panas untuk sang suami. Seketika Rama dikejutkan dengan kedatangan Putri yang sedang meletakkan kopi di atas meja untuk dirinya. Tak ada kata-kata diantara mereka, setelah Putri meletakkan kopi itu di atas meja. Gadis itu segera pergi lagi ke kamarnya.
Rama pun tercengang, mimpi apa dirinya tiba-tiba sang istri yang sedang marah membuatkan kopi untuk dirinya.
"Dasar gadis aneh!" ucapnya lirih sambil mengambil secangkir kopi buatan sang istri.
Rama menyeruput kopi panas itu. Ia pun tersenyum saat merasakan kopi buatan Putri.
"Hmmm ... sangat pas! Ternyata dia pintar juga bikin kopi!" puji Rama dalam hati.
Setelah kejadian itu keduanya pun masih saling diam sampai keesokan harinya. Di pagi hari pun tidak ada kata-kata yang terucap dari Putri maupun Rama. Keduanya masih saling diam. Namun Putri tetap menyajikan sarapan untuk suaminya.
Hanya ada saling lirik saat mereka sarapan berdua, seolah makanan yang ada di depan mereka terasa hambar.
"Kenapa rasa makanan ini kurang sedap? Padahal aku masak sendiri dan bumbunya pun sudah cukup dan pas! Apa karena suasana yang dingin ini menjadi masakanku kurang enak?" batin Putri sambil membolak-balikkan sendok makan miliknya tanpa memakan nasinya. Begitu juga dengan Rama. Ia pun merasakan rasa susu hangat pagi ini rasanya kurang manis di mulut.
Terpaksa ia protes kepada sang istri. Apakah susu itu sudah dicampur dengan gula atau belum.
"Apa gula di dapur sudah habis?" tanya Rama tiba-tiba. Putri pun menoleh dan menggelengkan kepalanya. "Tidak, masih banyak," jawab Putri.
"Kenapa rasa susu ini hambar? Apa kamu tidak memberi gula di dalamnya?" tanya Rama.
"Sudah kok, saya sudah memberikan gula yang cukup," jawab Putri.
"Tapi kenapa rasanya tetap saja hambar?" Sahut Rama sambil menatap segelas susu yang ada di tangannya.
"Mana saya tahu, mulut Bapak aja kali yang sedang sariawan," sahut Putri yang juga menatap gelas berisi susu itu.
"Hmm ... apa mungkin bukan karena kurang gula yang menyebabkan rasa susu ini hambar. Tapi, karena aku tidak melihat senyummu pagi ini, mungkin itu yang menyebabkan rasanya kurang manis!!" ucap pria itu tanpa dosa.
Seketika Putri terbatuk-batuk saat Rama mengucapkan hal itu.
...BERSAMBUNG...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Noval Firdaus
Adegan yg paling aku sukai hehe
2024-07-22
0
Tati Hartati
ciieeèee guru killer udh pinter nggombalin bocil,,,,😂😂😂😂😂😬
2023-08-26
0
Alivaaaa
ehem ehem 🤭🤣🤣🤣🤣
2023-07-11
0