Rama segera beranjak berdiri dan memberikan minum untuk sang istri. Dan kebetulan Rama memberikan segelas susu miliknya kepada Putri.
"Minumlah!" seru Rama sambil meminumkan susu kepada istrinya. Putri pun segera menerima gelas berisi susu yang sudah diminum sebagian oleh sang suami. Entah kenapa Rama melihat Putri yang sedang meminum susu itu terlihat menelan ludahnya sendiri karena gerakan tenggorokan Putri itu cukup menyita perhatiannya.
"Sial! Untuk apa aku memperhatikan gadis ini sampai segitunya? Apa jangan-jangan aku mulai nafsu sama bocah ini? Gila, nggak mungkinlah!" Rama bergumam dalam hatinya berusaha menolak rasa yang mulai mendera hatinya.
Setelah Putri menghabiskan susu itu, ia pun memberikan gelas kosong itu kepada suaminya sambil mengusap mulutnya dengan tangan.
"Terima kasih," ucapnya tanpa dosa. Sedangkan Rama hanya berdiri mematung memperhatikan gelas susu kosong itu kini ada ditangannya.
Putri melihat suaminya yang sedang diam berdiri sambil memegangi gelas itu, dan Putri pun merasa tidak enak saat Rama ada di dekatnya.
"Ngapain Bapak berdiri di situ! Saya kan sudah mengucapkan terima kasih," sahut Putri sambil memegang kembali sendok dan piringnya.
Rama menghela nafas panjang dan ia pun kembali ke tempat duduknya sambil meletakkan gelas susu miliknya yang dihabiskan oleh sang istri.
Rama pun melanjutkan sarapannya kembali seperti biasa dan mengikhlaskan susu miliknya habis tak bersisa diminum oleh Putri.
Setelah itu detik, Putri pun baru sadar jika susu yang ia buatkan untuk Rama ternyata sudah kosong dan ia pun baru menyadari jika Rama memberikan susu itu kepadanya.
"Susu Bapak mana?" tanya Putri sambil membulatkan matanya.
"Habis, bukankah kamu yang meminumnya?" jawab Rama santai.
"Hahh!! Saya meminum susu Bapak?" Putri benar-benar tidak habis pikir jika dirinya meminum dari gelas yang sama dengan gelas sang guru.
"Iya, kenapa? Harusnya kamu berterima kasih aku sudah memberikan minuman untukmu," jawab Rama spontan.
"Tapi bukan susu punya Bapak juga kali, mana itu gelas pasti ada bekas bibir Bapak yang nempel tuh. Kalau terkena bibir saya yang mungil ini, aduhh! Saya jadi ternoda!!" sesal Putri yang sebenarnya membuat Rama ingin sekali tertawa mendengarnya. Namun, ia mencoba untuk menahannya agar dirinya masih terlihat dingin dan seolah tidak perduli.
"Ternoda ternoda, dari kemarin kamu bicarakan itu saja. Aku bikin kamu ternoda beneran, mau?" seru Rama dengan tatapan matanya yang tajam. Spontan Putri diam tak bicara sambil menggelengkan kepalanya kepada Rama.
Putri pun sangat takut jika Rama menatapnya seperti itu, ia pun memilih diam dan menundukkan wajahnya tidak menatap sang suami lagi.
"Ya Tuhan selamatkanlah hambamu yang imut ini agar tidak dinodai oleh guru killer seperti dia, dan semoga saja kak Dinda cepat pulang supaya Pak Rama segera menceraikan aku! Sumpah berada di dekatnya berasa hidup di kutub Utara. Dingin!!" Putri berdoa dalam hatinya.
Rama tampak menarik ujung bibirnya saat melihat wajah sang istri yang sedang panik.
"Seru juga mengerjai nih anak!" batin Rama.
*
*
*
Seperti biasa, Putri berangkat ke sekolah bersama sang suami. Dan seperti biasa pula, Putri dan Rama saling diam tanpa sepatah katapun terucap dari bibir mereka.
Setibanya di sekolah, Putri disambut oleh Ririn teman sebangkunya. Dan Rama terus memperhatikan dengan siapa Putri pergi asalkan bukan dengan Alex. Rama benar-benar menjaga agar istri kecilnya itu jauh dari Alex.
Sementara itu hari ini, Alex sudah mempersiapkan kejutan untuk Putri. Alex akan menembak Putri hari ini di lapangan basket, di depan teman-temannya yang sedang berkumpul di sana, Alex akan menyatakan cintanya kepada Putri. Alex juga adalah pemain basket di sekolahnya yang tentunya ia menjadi idola banyak gadis dan pastinya Putri adalah gadis yang paling spesial untuknya.
Ririn rupanya diminta Alex untuk memberikan sebuah pesan kepada Putri, supaya gadis itu datang ke lapangan basket untuk bertemu dengan dirinya.
"Alex meminta aku datang ke lapangan basket? Untuk apa?" tanya Putri penasaran.
"Aku juga kurang tahu, mungkin dia ingin beri kejutan kali sama kamu, Alex kan naksir berat sama kamu Put! Yuk, dia udah nungguin kamu loh!" seru Ririn sambil menarik tangan Putri untuk ikut ke lapangan basket.
"Ta-tapi Rin!" Putri berusaha menahan tangannya untuk tidak mengikuti Ririn karena ia takut jika sang suami mengetahuinya, pasti guru killer itu akan menghukumnya. Terpaksa Ririn berhenti dan bertanya kepada Putri.
"Kenapa Put? Apa yang kamu pikirkan?" tanya Ririn heran. Sebelum Putri menjawab pertanyaan Ririn. Tanpa sengaja Ia melihat sang suami yang sedang berjalan dengan Bu Andin sambil bercanda. Seketika Putri terlihat cemberut saat melihat suaminya bercanda ria bersama Bu Andin. Dengan dirinya saja Rama tidak sehumble itu. Tapi kenapa dengan Bu Andin pria itu sangat ramah dan tersenyum riang.
Putri pun segera mengiyakan ajakan Ririn untuk datang ke lapangan basket dan ia tidak ingin lagi melihat pemandangan yang membuatnya sakit mata itu.
"Ayo Rin, kita ke lapangan sekarang!" ajak Putri yang terus berlalu meninggalkan tempat dengan menahan rasa kesalnya melihat Rama yang sedang bercanda dengan Bu Andin.
Sekilas, Rama melihat istrinya yang sedang pergi menuju ke lapangan basket. Rama pun mengerutkan keningnya dan bertanya kenapa Putri datang ke sana. Bukannya itu adalah tempat di mana Alex berlatih bola basket.
"Putri, ngapain dia kesana? Aku harus mengikutinya," batin Rama.
*
*
*
Setelah beberapa saat akhirnya Putri tiba di lapangan basket sekolah. Ia diarahkan Ririn untuk ke tengah lapangan disaksikan oleh teman-temannya yang sedang menonton dan menyorakinya memberikan dukungan kepada Alex.
"Ada apa ini? Untuk apa aku dibawa ke tempat ini?" tanya Putri kepada Ririn.
"Udah, kamu disini saja. Sebentar lagi kejutan yang sebenarnya akan segera tiba, tetap keep smile Putri!" seru Ririn, setelah itu sang teman segera keluar lapangan dan bergabung bersama teman-teman yang lainnya.
Putri pun menatap kepergian Ririn, dan akhirnya ia dikejutkan dengan suara deheman seseorang yang berada di belakangnya.
Ternyata itu adalah suara deheman dari Alex yang sedang menyembunyikan sesuatu di belakang punggungnya.
"Alex!" seru Putri saat melihat Alex.
"Hai Put! Maaf jika aku mengganggu waktumu sebentar. Aku sengaja memintamu datang ke sini karena aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu," ucap pemuda itu dengan PDnya, apalagi dukungan dari teman-temannya.
"Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Putri.
Kemudian Alex dengan wajah bahagianya dan berharap Putri menerima cintanya, ia pun mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya yaitu sekuntum bunga mawar merah untuk diberikan kepada Putri.
Sambil berjongkok, Alex berkata sambil memegang bunga mawar itu dan berkata, "Hari ini disaksikan oleh semua teman-teman kita. Aku ingin kamu menjadi pacarku, karena aku sangat sayang sekali padamu, Putri. Apakah kamu mau menerimaku sebagai pacarmu?" seru pemuda itu penuh harap. Putri pun bingung antara senang dan takut. Karena Alex adalah cowok terkeren yang hanya tertarik padanya. Sementara itu, ia pun juga takut jika Rama menghukumnya.
Benar saja, Rama yang sedang mengikuti sang istri, ia dikejutkan dengan suara riuh tepuk tangan murid-muridnya. Rama mendengar suara sorak sorai murid-muridnya itu seolah sedang mengelu-elukan sesuatu. Karena penasaran, Rama pun segera masuk ke lapangan itu, dan ia pun berhenti sejenak saat melihat Putri bersama Alex di tengah lapangan. Sedang Alex sedang berjongkok seolah memohon kepada Putri untuk menerima cintanya.
"Sialan! Apa-apaan ini? Bagaimana bisa Putri ada di sana, aku tidak akan biarkan Putri dekat dengan Alex, tidak akan!!"
...BERSAMBUNG...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Rika Haryani
tanpa mereka sadari benih benih cinta SDH tumbuh ni antara putri dan pak guru 😁😁😁
2023-07-15
0
Alivaaaa
hati² Pak Guru, istrimu ada yg nembak 🤭🤣🤣🤣
2023-07-11
0
Puja Kesuma
wah gaswat istri di tembak sama cowok lain.... ayo trima aja put biar kebakaran jenggot si rama 😃😃
2023-07-01
1