Bab 13 : Cakaran kuku

"Aduhhh pakai bangun segala lagi, sial!" gumam Rama yang merasakan celananya mulai sesak, ia merasa kurang nyaman pada pangkal pahanya sambil turun dari motor itu. Setelah itu ia pun ikut masuk ke dalam rumah dan segera mengganti pakaiannya yang basah serta menenangkan dirinya.

Sedangkan Putri, ia sudah berada di kamarnya dan membersihkan serta mengganti bajunya. Putri yang tidak tahan dengan udara dingin, gadis itu cepat-cepat melepaskan seragamnya yang basah dengan baju baby doll berwarna putih.

Rama juga mengganti pakaiannya di kamar sebelah. Sejak kepergian Bu Iin dan Pak Bambang ke luar kota, keduanya tidur terpisah dan tidak pernah satu kamar.

Setelah keduanya mengganti pakaian masing-masing. Rama memutuskan untuk keluar membuat teh hangat, karena udara terasa masih dingin, hujan di luar belum berhenti juga.

Rama pergi ke dapur dan membuat teh hangat. Tapi, rupanya ia kebingungan mencari dimana panci untuk merebus teh hitam merk Bandulan. Pria itu mencari-cari nya tapi tetap tidak menemukan panci kecil yang biasa digunakan untuk merebus air teh.

"Pancinya kemana lagi?"

Rama masih bingung dan garuk-garuk kepala mencari panci untuk merebus teh. Di saat yang bersamaan, Putri pun datang ke dapur dan seketika melihat suaminya yang kebingungan mencari panci untuk merebus teh.

Karena Putri tahu jika sang suami sedang mencari sebuah panci. Meskipun masih marahan, gadis itu tetap mencarikan panci untuk suaminya. Spontan Rama terkejut saat melihat kedatangan sang istri yang sedang mengambil kantong teh dari tangannya.

"Udah, Bapak duduk saja. Biar saya yang buatkan tehnya!" sahut Putri dengan wajah yang masih cemberut. Tapi ia tetap melakukan tugasnya membuatkan Rama teh hangat.

Rama pun duduk menunggu sang istri sambil memperhatikan gesture tubuh Putri. Sejenak pria itu menatap wajah Putri yang masih manyun.

Sambil duduk dengan ciri khasnya yang bersikap dingin, Rama pun berusaha untuk berbicara dengan sang istri untuk mencairkan suasana.

"Kamu masih marah?" tanya Rama basa-basi.

Putri yang saat itu sedang mengaduk-aduk teh panas itu hanya diam tak menjawab apapun. Rasanya ia malas berbicara dengan suaminya yang sudah membuat dirinya kesal hari ini. Rama pun masih bersabar untuk menunggu sang istri menjawab pertanyaannya.

Setelah teh itu siap, Putri segera meletakkan secangkir teh itu di atas meja di depan suaminya. Setelahnya ia pun segera pergi keluar dari dapur dengan wajah datar. Namun, Rama menahan sang istri untuk pergi. Putri pun melihat tangan Rama yang sedang menahan tangannya.

"Saya mau ke kamar, saya ngantuk!" ucap Putri sambil melepaskan tangannya dari genggaman tangan Rama.

"Aku ingin bicara denganmu, untuk apa kamu menemui Alex lagi? Bukankah aku sudah bilang jangan dekat-dekat dengan pemuda itu, apa kamu tidak mendengarkan perintahku? Apa kamu mau jadi istri pembangkang?" seru Rama yang spontan membuat Putri semakin hilang kesabaran.

Gadis itu melepaskan tangannya dengan paksa dan berkata kepada suaminya dengan tegas.

"Apa, Pak? Istri pembangkang? Oke, mungkin sekarang kita memang sudah menjadi suami istri. Tapi, perlu Bapak ingat! Pertama, Pak Rama pernah bilang sama saya jika bapak akan menceraikan saya setelah kakak pulang. Dan tentunya pernikahan ini cuma sebatas status karena saya juga tidak mau melihat kedua orang tua saya bersedih. Kedua, Bapak juga pernah bilang jika Bapak akan membebaskan saya pergi bersama teman-teman dan bapak tidak akan pernah melarangnya. Apa Pak Rama sudah melupakan itu semua??" Putri berhenti sejenak untuk menjeda dan mengambil nafas. Sementara itu Rama masih duduk sambil mendengarkan ocehan istrinya.

"Dan sekarang apa? Kenapa Bapak harus marah saat saya dekat dengan Alex? Dan saya pun mengerti maksud Bapak. Saya tahu apa yang harus saya lakukan untuk menjawab cinta Alex. Tapi tidak perlu Bapak datang ke lapangan dan membuat saya malu di depan anak-anak. Saya malu, Pak. Bapak itu cuma guru saya bukan siapa-siapa saya ...!" sambung Putri. Tiba-tiba saja Rama menyahuti perkataan Putri.

"Tapi aku suamimu, aku tidak mau kamu dekat-dekat dengan Alex!!" sahut Rama dengan ekspresi datarnya. Lagi-lagi, Putri semakin geram, ia pun mengungkit kebersamaan suaminya bersama Bu Andin saat di sekolah.

"Suami?? Hahh ... oke, jadi sekarang Bapak mengakui saya sebagai istri, iya! Tapi, jika Bapak seorang suami yang baik, kenapa Bapak malah bercanda dengan Bu Andin dan berhahahihi bersamanya, apa itu pantas dilakukan oleh seorang suami, di mana istrinya melihat itu di depan mata. Tapi saya tidak marah tuh, saya masa bodo karena saya tidak mau ikut campur urusan Bapak. Herannya, giliran saya berbicara dengan Alex, itupun disaksikan oleh banyak mata. Bapak marah dan seolah-olah mengatur-atur hidup saya. Saya benci sama Bapak tahu nggak!" ucap gadis itu dengan wajah yang mata yang mulai berkaca-kaca.

"Aku dan Bu Andin hanya bercanda biasa dan itu sudah biasa kami lakukan. Untuk apa kamu marah!" sahut Rama dengan nada datar. Benar saja, ucapan Rama justru semakin membuat Putri tidak bisa mengontrol perasaannya. Entah kenapa ia merasa sakit saat Rama dekat dengan guru BP itu.

"Iya, pasti pak Rama lebih suka bercanda dengan Bu Andin, dia kan lebih cantik, lebih seksi, lebih dewasa. Sedangkan bicara dengan saya, pasti itu membuat Bapak malu, karena menurut Bapak, saya cuma bocah kecil yang masih ingusan, apalagi saya ini cuma murid yang nggak pandai di bidang matematika, ah sudahlah! Saya mau tidur. Saya tidak mau buang-buang waktu membicarakan masalah ini!" seru Putri sembari beranjak pergi.

Rama pun segera menahan istrinya untuk tidak pergi, karena masih banyak yang ingin ia bicarakan kepada istrinya. Namun, Putri rupanya tidak mau, ia pun melawan dan memberontak hingga akhirnya tanpa sadar kuku Putri mencakar tangan sang suami hingga berdarah. Saat itu tangan Rama menggenggam erat tangan Putri agar gadis itu tetap tinggal di sana.

"Lepaskan!!" seru Putri yang memaksa untuk melepaskan tangannya.

"Aahhh!"

Spontan Rama melepaskan tangan Putri dan memeriksa tangannya yang terluka karena cakaran dari sang istri. Putri pun sangat terkejut ternyata sang suami tidak sengaja terkena cakaran kukunya dan terlihat darah yang keluar dari goresan cakaran kuku Putri.

"Astaga, Pak Rama ... dia terluka? Ya Tuhan, kenapa aku sampai berbuat seperti itu, pasti dia sakit sekali, bodohnya aku!!" sesal gadis itu.

...BERSAMBUNG...

Terpopuler

Comments

Kawaii 😍

Kawaii 😍

dari judul kirain ninuninu 🤣

2023-12-08

0

Ani

Ani

kirain 😁😁😁😁😁😁

2023-07-05

0

Puja Kesuma

Puja Kesuma

rama udah ada rasa ma kamu putri makanya marah kamu dekat cowok lain

2023-07-01

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Pengantin Pengganti
2 Bab 2 : Menikah ulang
3 Bab 3 : Pisang Tanduk
4 VISUAL + PENGUMUMAN GIVEAWAY
5 Bab 4 : Bapak sudah menodai saya
6 Bab 5 : Tertidur
7 Bab 6 : Siswa baru
8 Bab 7 : Putri pingsan
9 Bab 8 : Kecupan lembut
10 Bab 9 : Pak Rama menciumku?
11 Bab 10: Rasa susu kurang manis
12 Bab 11: Mulai nafsu?
13 Bab 12: Kehujanan
14 Bab 13 : Cakaran kuku
15 Bab 14 : Aku mencintaimu
16 Bab 15 : Aku tidak akan menceraikanmu
17 Bab 16 : Tentu saja boleh
18 Bab 17 : Tidak berdarah
19 Bab 18 : Hukuman 3 ronde
20 Bab 19 : Ikut Raker
21 Bab 20 : Dilaporkan ke kepala sekolah
22 Menikah Dadakan
23 I love you
24 Kanker otak
25 Kue donat
26 Tertusuk jarum
27 Terhimpit
28 Ganteng-ganteng Serigala Berbulu Ketek
29 Bersedia menikahi Dinda
30 Pernikahan Dinda
31 Harum tubuhmu
32 Aku cemburu
33 Menguji Iman
34 Hanya ingin membantumu
35 Mencuri hatiku
36 Aku juga sedang memikirkanmu.
37 Gara-gara Tausiyah
38 Lakukanlah, Mas!
39 Suami istri dunia akhirat
40 Pengakuan Bi Surti
41 Temani aku tidur
42 Murid yang pintar
43 Teler
44 Gemess!
45 Menghirup angin surga
46 Satu kelas gempar
47 Pewangi terbagus
48 Berusaha semaksimal mungkin
49 Berita Viral
50 Sepanjang itu, kah?
51 Nempel banget
52 Ciuman pagi
53 Ternyata oh ternyata
54 Bertemu Joice
55 Lewat di depan Rama
56 Menu daging-dagingan
57 Sate bakso bakar
58 Obrolan Rama dan pak Imam
59 Murid Kesayangan
60 Langsung mempraktikkannya di rumah
61 Kedatangan Zora
62 Mengusir Zora
63 Dinda pergi
64 Menyusul Dinda
65 Dinda terkejut
66 Kangen berat
67 Ada yang mengeras!
68 Iming-iming
69 Si nyamuk nakal
70 Sukses menanam benih
71 Pura-pura digigit serangga
72 Tatap mataku!
73 kekonyolan pak Dedi dan Bu Lili
74 Hamil??
75 Bayi kembar
76 Bertemu Nanang dan Ririn
77 Masih kecil
78 Les privat plus-plus
79 Sabun colek
80 Tukang cukur rambut
81 Bau mulut
82 Sambal terong
83 Pertemuan Putri dan Dinda
84 Sayang mesum banget
85 Makan daging mentah
86 Jangan bangun sekarang!
87 Bisikan nakal setan-setan baik
88 Ujian terbesar
89 Baby twins
Episodes

Updated 89 Episodes

1
Bab 1: Pengantin Pengganti
2
Bab 2 : Menikah ulang
3
Bab 3 : Pisang Tanduk
4
VISUAL + PENGUMUMAN GIVEAWAY
5
Bab 4 : Bapak sudah menodai saya
6
Bab 5 : Tertidur
7
Bab 6 : Siswa baru
8
Bab 7 : Putri pingsan
9
Bab 8 : Kecupan lembut
10
Bab 9 : Pak Rama menciumku?
11
Bab 10: Rasa susu kurang manis
12
Bab 11: Mulai nafsu?
13
Bab 12: Kehujanan
14
Bab 13 : Cakaran kuku
15
Bab 14 : Aku mencintaimu
16
Bab 15 : Aku tidak akan menceraikanmu
17
Bab 16 : Tentu saja boleh
18
Bab 17 : Tidak berdarah
19
Bab 18 : Hukuman 3 ronde
20
Bab 19 : Ikut Raker
21
Bab 20 : Dilaporkan ke kepala sekolah
22
Menikah Dadakan
23
I love you
24
Kanker otak
25
Kue donat
26
Tertusuk jarum
27
Terhimpit
28
Ganteng-ganteng Serigala Berbulu Ketek
29
Bersedia menikahi Dinda
30
Pernikahan Dinda
31
Harum tubuhmu
32
Aku cemburu
33
Menguji Iman
34
Hanya ingin membantumu
35
Mencuri hatiku
36
Aku juga sedang memikirkanmu.
37
Gara-gara Tausiyah
38
Lakukanlah, Mas!
39
Suami istri dunia akhirat
40
Pengakuan Bi Surti
41
Temani aku tidur
42
Murid yang pintar
43
Teler
44
Gemess!
45
Menghirup angin surga
46
Satu kelas gempar
47
Pewangi terbagus
48
Berusaha semaksimal mungkin
49
Berita Viral
50
Sepanjang itu, kah?
51
Nempel banget
52
Ciuman pagi
53
Ternyata oh ternyata
54
Bertemu Joice
55
Lewat di depan Rama
56
Menu daging-dagingan
57
Sate bakso bakar
58
Obrolan Rama dan pak Imam
59
Murid Kesayangan
60
Langsung mempraktikkannya di rumah
61
Kedatangan Zora
62
Mengusir Zora
63
Dinda pergi
64
Menyusul Dinda
65
Dinda terkejut
66
Kangen berat
67
Ada yang mengeras!
68
Iming-iming
69
Si nyamuk nakal
70
Sukses menanam benih
71
Pura-pura digigit serangga
72
Tatap mataku!
73
kekonyolan pak Dedi dan Bu Lili
74
Hamil??
75
Bayi kembar
76
Bertemu Nanang dan Ririn
77
Masih kecil
78
Les privat plus-plus
79
Sabun colek
80
Tukang cukur rambut
81
Bau mulut
82
Sambal terong
83
Pertemuan Putri dan Dinda
84
Sayang mesum banget
85
Makan daging mentah
86
Jangan bangun sekarang!
87
Bisikan nakal setan-setan baik
88
Ujian terbesar
89
Baby twins

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!