"Aduhhh pakai bangun segala lagi, sial!" gumam Rama yang merasakan celananya mulai sesak, ia merasa kurang nyaman pada pangkal pahanya sambil turun dari motor itu. Setelah itu ia pun ikut masuk ke dalam rumah dan segera mengganti pakaiannya yang basah serta menenangkan dirinya.
Sedangkan Putri, ia sudah berada di kamarnya dan membersihkan serta mengganti bajunya. Putri yang tidak tahan dengan udara dingin, gadis itu cepat-cepat melepaskan seragamnya yang basah dengan baju baby doll berwarna putih.
Rama juga mengganti pakaiannya di kamar sebelah. Sejak kepergian Bu Iin dan Pak Bambang ke luar kota, keduanya tidur terpisah dan tidak pernah satu kamar.
Setelah keduanya mengganti pakaian masing-masing. Rama memutuskan untuk keluar membuat teh hangat, karena udara terasa masih dingin, hujan di luar belum berhenti juga.
Rama pergi ke dapur dan membuat teh hangat. Tapi, rupanya ia kebingungan mencari dimana panci untuk merebus teh hitam merk Bandulan. Pria itu mencari-cari nya tapi tetap tidak menemukan panci kecil yang biasa digunakan untuk merebus air teh.
"Pancinya kemana lagi?"
Rama masih bingung dan garuk-garuk kepala mencari panci untuk merebus teh. Di saat yang bersamaan, Putri pun datang ke dapur dan seketika melihat suaminya yang kebingungan mencari panci untuk merebus teh.
Karena Putri tahu jika sang suami sedang mencari sebuah panci. Meskipun masih marahan, gadis itu tetap mencarikan panci untuk suaminya. Spontan Rama terkejut saat melihat kedatangan sang istri yang sedang mengambil kantong teh dari tangannya.
"Udah, Bapak duduk saja. Biar saya yang buatkan tehnya!" sahut Putri dengan wajah yang masih cemberut. Tapi ia tetap melakukan tugasnya membuatkan Rama teh hangat.
Rama pun duduk menunggu sang istri sambil memperhatikan gesture tubuh Putri. Sejenak pria itu menatap wajah Putri yang masih manyun.
Sambil duduk dengan ciri khasnya yang bersikap dingin, Rama pun berusaha untuk berbicara dengan sang istri untuk mencairkan suasana.
"Kamu masih marah?" tanya Rama basa-basi.
Putri yang saat itu sedang mengaduk-aduk teh panas itu hanya diam tak menjawab apapun. Rasanya ia malas berbicara dengan suaminya yang sudah membuat dirinya kesal hari ini. Rama pun masih bersabar untuk menunggu sang istri menjawab pertanyaannya.
Setelah teh itu siap, Putri segera meletakkan secangkir teh itu di atas meja di depan suaminya. Setelahnya ia pun segera pergi keluar dari dapur dengan wajah datar. Namun, Rama menahan sang istri untuk pergi. Putri pun melihat tangan Rama yang sedang menahan tangannya.
"Saya mau ke kamar, saya ngantuk!" ucap Putri sambil melepaskan tangannya dari genggaman tangan Rama.
"Aku ingin bicara denganmu, untuk apa kamu menemui Alex lagi? Bukankah aku sudah bilang jangan dekat-dekat dengan pemuda itu, apa kamu tidak mendengarkan perintahku? Apa kamu mau jadi istri pembangkang?" seru Rama yang spontan membuat Putri semakin hilang kesabaran.
Gadis itu melepaskan tangannya dengan paksa dan berkata kepada suaminya dengan tegas.
"Apa, Pak? Istri pembangkang? Oke, mungkin sekarang kita memang sudah menjadi suami istri. Tapi, perlu Bapak ingat! Pertama, Pak Rama pernah bilang sama saya jika bapak akan menceraikan saya setelah kakak pulang. Dan tentunya pernikahan ini cuma sebatas status karena saya juga tidak mau melihat kedua orang tua saya bersedih. Kedua, Bapak juga pernah bilang jika Bapak akan membebaskan saya pergi bersama teman-teman dan bapak tidak akan pernah melarangnya. Apa Pak Rama sudah melupakan itu semua??" Putri berhenti sejenak untuk menjeda dan mengambil nafas. Sementara itu Rama masih duduk sambil mendengarkan ocehan istrinya.
"Dan sekarang apa? Kenapa Bapak harus marah saat saya dekat dengan Alex? Dan saya pun mengerti maksud Bapak. Saya tahu apa yang harus saya lakukan untuk menjawab cinta Alex. Tapi tidak perlu Bapak datang ke lapangan dan membuat saya malu di depan anak-anak. Saya malu, Pak. Bapak itu cuma guru saya bukan siapa-siapa saya ...!" sambung Putri. Tiba-tiba saja Rama menyahuti perkataan Putri.
"Tapi aku suamimu, aku tidak mau kamu dekat-dekat dengan Alex!!" sahut Rama dengan ekspresi datarnya. Lagi-lagi, Putri semakin geram, ia pun mengungkit kebersamaan suaminya bersama Bu Andin saat di sekolah.
"Suami?? Hahh ... oke, jadi sekarang Bapak mengakui saya sebagai istri, iya! Tapi, jika Bapak seorang suami yang baik, kenapa Bapak malah bercanda dengan Bu Andin dan berhahahihi bersamanya, apa itu pantas dilakukan oleh seorang suami, di mana istrinya melihat itu di depan mata. Tapi saya tidak marah tuh, saya masa bodo karena saya tidak mau ikut campur urusan Bapak. Herannya, giliran saya berbicara dengan Alex, itupun disaksikan oleh banyak mata. Bapak marah dan seolah-olah mengatur-atur hidup saya. Saya benci sama Bapak tahu nggak!" ucap gadis itu dengan wajah yang mata yang mulai berkaca-kaca.
"Aku dan Bu Andin hanya bercanda biasa dan itu sudah biasa kami lakukan. Untuk apa kamu marah!" sahut Rama dengan nada datar. Benar saja, ucapan Rama justru semakin membuat Putri tidak bisa mengontrol perasaannya. Entah kenapa ia merasa sakit saat Rama dekat dengan guru BP itu.
"Iya, pasti pak Rama lebih suka bercanda dengan Bu Andin, dia kan lebih cantik, lebih seksi, lebih dewasa. Sedangkan bicara dengan saya, pasti itu membuat Bapak malu, karena menurut Bapak, saya cuma bocah kecil yang masih ingusan, apalagi saya ini cuma murid yang nggak pandai di bidang matematika, ah sudahlah! Saya mau tidur. Saya tidak mau buang-buang waktu membicarakan masalah ini!" seru Putri sembari beranjak pergi.
Rama pun segera menahan istrinya untuk tidak pergi, karena masih banyak yang ingin ia bicarakan kepada istrinya. Namun, Putri rupanya tidak mau, ia pun melawan dan memberontak hingga akhirnya tanpa sadar kuku Putri mencakar tangan sang suami hingga berdarah. Saat itu tangan Rama menggenggam erat tangan Putri agar gadis itu tetap tinggal di sana.
"Lepaskan!!" seru Putri yang memaksa untuk melepaskan tangannya.
"Aahhh!"
Spontan Rama melepaskan tangan Putri dan memeriksa tangannya yang terluka karena cakaran dari sang istri. Putri pun sangat terkejut ternyata sang suami tidak sengaja terkena cakaran kukunya dan terlihat darah yang keluar dari goresan cakaran kuku Putri.
"Astaga, Pak Rama ... dia terluka? Ya Tuhan, kenapa aku sampai berbuat seperti itu, pasti dia sakit sekali, bodohnya aku!!" sesal gadis itu.
...BERSAMBUNG...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Kawaii 😍
dari judul kirain ninuninu 🤣
2023-12-08
0
Ani
kirain 😁😁😁😁😁😁
2023-07-05
0
Puja Kesuma
rama udah ada rasa ma kamu putri makanya marah kamu dekat cowok lain
2023-07-01
1