Rama menyebut nama salah satu muridnya yang sering tidak mengerjakan tugas darinya. Putri Anastasya, ia adalah siswa kelas 12 A yang sering terkena hukuman darinya karena tidak pernah mengerjakan tugas yang sudah diberikan oleh Rama. Selain itu, Putri juga adik dari Dinda. Wanita yang akan menikah dengannya.
"Putri? Kamu Putri, kan?" tanya Rama dengan nada penekanan. Putri pun tidak bisa mengelaknya. Karena bagaimanapun juga Rama pasti tahu jika dirinya bukanlah sang kakak.
Perlahan Putri melepaskan cadar yang menutupi wajahnya. "Iya Pak, saya Putri!" jawab gadis itu dengan gugup dan juga takut.
Melihat bukan Dinda di hadapannya, tapi Putri. Rama segera memakai bajunya kembali, setelah dirinya bertelanjang dada di hadapan wanita yang dikiranya Dinda.
"Sialan! Bagaimana bisa kamu ada di sini? Mana Dinda?" tanya Rama yang mulai menunjukkan wajah killer nya.
"A-ampun Pak. Sa-saya cuma disuruh untuk menggantikan kakak jadi istri Bapak. Saya mohon jangan hukum saya, Pak!" rengek gadis itu saat menatap wajah Rama yang terlihat mulai marah.
"Apa? Menggantikan kakakmu? Memangnya Dinda pergi ke mana?" Lagi-lagi Rama bertanya sambil melototkan matanya. Membuat Putri spontan menutup kedua matanya dengan telapak tangan.
"Jangan melotot gitu dong Pak! Jelek tahu, nggak? Udah nggak ada ganteng-gantengnya, pakai melotot lagi." umpat Putri yang selalu ceplas-ceplos. Tak perduli jika itu adalah gurunya sendiri.
Rama pun tampak mengepalkan tangannya dan ia memukul-mukul tembok dengan tangannya. Putri mengintip apa yang dilakukan oleh Rama lewat sela jari-jarinya.
"Waduh! Tembok aja dipukul, padahal tuh tembok nggak salah apa-apa. Apalagi aku ... aduuh ya Tuhan! Lindungilah hamba dari guru aneh ini!" Putri berdoa dalam hatinya.
Tak berselang lama, terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar mereka. Ternyata itu adalah orang tua Rama, mereka mendengar suara Rama yang sedang memukul tembok. Suara itu terdengar begitu keras karena letak kamar mereka bersebelahan.
"Rama! Apa yang terjadi, Nak? Suara apa itu?" terdengar suara Bu Iin yang sering memanggil nama anaknya. Sejenak, Rama berhenti saat ia mendengar kedua orang tuanya berada di luar pintu.
Rama menoleh ke arah Putri yang sedang berada di pojok kamar dengan ekspresi nyengir. Sedangkan Putri, melihat ekspresi guru matematikanya itu dengan tatapan julid.
"Eh busyet lirikannya maut nih! Jangan-jangan pak Rama mau mengulitiku. Oh my God! Masuk ke kandang macan ini."
Setelah menatap penuh kebencian ke arah Putri. Rama segera membuka pintu kamar dan tentu saja ia tidak terima sudah dibohongi mentah-mentah.
Bu Iin dan Pak Bambang, melihat putra mereka satu-satunya membuka pintu dengan wajah kesal.
"Rama, ada apa, Nak?" Bu Iin melihat ke belakang Rama dan penasaran dengan apa yang terjadi di kamar putranya.
Rama dengan tegas bertanya kepada kedua orang tuanya tentang pernikahan dirinya dengan Putri. Dia masuk ke dalam kamar lagi dan membawa Putri ke hadapan Bu Iin dan Pak Bambang.
"Eh eh Bapak mau apain saya? Stop stop saya tidak mau dipaksa ya, Pak? Saya masih kecil, Pak! Nggak enak rasanya, masih pahit dan nggak ada manis-manis nya!!" Putri tampak komat-kamit ketika Rama membawanya menemui kedua orang tuanya.
Tanpa berkata apa-apa, Rama kemudian mendorong tubuh Putri di hadapan kedua orang tuanya dan menunjukkan wajah asli gadis yang sudah dinikahinya.
Tentu saja, Bu Iin dan Pak Bambang sangat terkejut ketika melihat wajah menantunya yang berubah menjadi wajah Putri. Seharusnya Dinda yang menjadi menantunya.
"Putri!!" ucap kedua orang tua Rama.
Putri pun tampak senyum-senyum dan ia sangat ketakutan.
"Ayah dan ibu lihat! Apa-apaan ini. Kenapa Putri yang harus menjadi istri Rama? Apa yang sebenarnya terjadi? Tentu saja pernikahan ini tidak sah, karena yang aku nikahi bocah ini bukan Dinda. Kamu di mana Dindaaaaaa ... haaaaaa!!" Rama berteriak kencang menyebut nama Dinda. Spontan Putri menutup kupingnya karena ia tidak suka dengan suara teriakan keras.
"Eh busyet Bapak. Jangan teriak-teriak dong! Bisa diam tidak? Kuping saya panas nih. Bocah-bocah, enak bener bilang saya bocah. Udah segede ini dibilang bocah, dasar guru killer!" sahut Putri yang tak terima disebut sebagai bocah. Entah kenapa kedua orang tua Rama justru tertawa saat Putri menyuruh Rama untuk diam.
Seketika Rama menatap tajam ke arah Putri lalu berkata. "Heh!! Di mana Dinda? Kenapa kamu yang berada di sini! Kamu pasti sengaja ingin merebutku dari tangan Dinda, bukan? Kamu iri sama kakakmu karena Dinda memiliki calon suami seorang guru PNS seperti aku. Iya, kan? Sehingga kamu sengaja merekayasa pernikahan ini, ngaku kamu!!"
Mendengar tuduhan dari Rama. Tentu saja Putri tidak terima. Ia pun balik membalas ucapan Rama yang sudah membuatnya emosi.
"Pak Rama hati-hati ya kalau bicara. Kalau bukan demi ayah dan ibu, saya ogah nikah loh sama Bapak. Apalagi saya kasih sekolah, nggak ada tuh kepikiran buat nikah sama tipe cowok kayak Anda. Enak aja saya dibilang iri sama Kakak. Tuh, kak Dinda sendiri yang pergi meninggalkan rumah. Katanya dia nggak mau menjadi istri Bapak, ya iyalah kakak nggak mau. Pasti sering KDRT tuh. Tembok aja dipukuli, apalah istri. Lagian ya pak Rama yang terhormat. Saya tuh nggak pernah iri sama sekali dengan kakak karena punya calon suami seperti Bapak. Emang apa yang perlu di iri, bapak tuh sudah tua. Sedangkan saya masih muda, cantik, glowing, masih banyak cowok-cowok yang naksir huuuu dikiranya nggak laku apa!!"
Dengan kesal, Putri menjawabnya dengan meledek Rama. Sementara itu Bu Iin dan Pak Bambang hanya melihat keduanya sambil melongo dengan menggerakkan bola matanya bergantian ke arah Rama kemudian Putri.
Melihat keduanya yang saling bertengkar. Akhirnya, Bu Iin dan Pak Bambang memutuskan untuk menikahkan mereka lagi berdua. Karena bagaimanapun juga Rama harus menikah, karena Dinda tidak mau menikah dengan dirinya. Adiknya pun bisa dijadikan pengganti. Karena Bu Iin dan Pak Bambang terlanjur suka dengan anak-anak Pak Dedi. Apalagi usia Rama yang semakin tua. Kedua orang tuanya ingin Rama segera punya istri.
"Oke cukup!"
Suara pak Bambang memaksa keduanya berhenti berdebat. Pak Bambang menatap wajah Rama dan Putri secara bergantian. Setelah itu pria paruh baya itu berkata kepada keduanya.
"Baiklah, ayah dan ibu sudah memutuskan untuk menikahkan kalian berdua lagi ...!" belum selesai pak Bambang berkata. Rama sudah memotong pembicaraannya.
"Tapi, Yah!!"
"Tidak ada tapi-tapian. Jika Dinda tidak menikah denganmu dan lebih memilih untuk mementingkan karirnya. Ya sudah biarkan saja, itu artinya kamu dan Dinda tidak berjodoh. Dan sekarang jodohmu adalah Putri. Ayah dan Ibu juga setuju kamu menikah dengan Putri. Lagipula umurmu itu sudah sangat matang untuk menikah, apa kamu mau jadi bujang lapuk, hah!" ucap pak Bambang dengan tegas.
Putri pun hanya membatin dan terkejut mendengar ucapan dari pak Bambang . "Ya Tuhan, ternyata pak Rama nggak laku-laku dari dulu? Astaga tragis bener hidupnya, baru aja dicintai kakak, eh udah ditinggal. Kasihan kasihan."
Tak terima dengan ucapan sang ayah. Rama pun menolak dengan keras keputusan itu.
"Tidak, Rama tetap tidak mau menikah dengan dia. Apa-apaan, dia itu murid Rama di sekolah, nggak mungkinlah Rama nikah sama tuh bocil. Rama bukan pedofil, Yah!" protes Rama.
Mendengar ucapan dari sang anak. Bu Iin pun berusaha untuk membujuk putranya. Rama tidak pernah membantah perintah dan keputusan ibunya, sehingga Bu Iin lah yang akan meyakinkan putranya untuk tetap menikah dengan Putri.
Sang ibu adalah kelemahan Rama. Ia pun luluh dan terpaksa mengikuti permintaan dari kedua orang tuanya.
"Baiklah, Rama akan menikahi Putri. Tapi, ada syaratnya."
"Syarat apa, Nak?" tanya Bu Iin.
"Rama ingin pernikahan ini tetap dirahasiakan. Dan jangan berharap jika Rama bisa mencintai dia, Rama hanya mencintai Dinda. Setelah Dinda kembali, maka Rama akan menceraikan Putri."
Akhirnya, kedua orang tua Rama menyetujui syarat yang diajukan oleh putranya, demi agar putranya mau menikah. Karena menyuruh Rama untuk menikah adalah hal yang sangat berat, mengalahkan beratnya memindahkan gunung ke lautan. Mereka akan tetap merahasiakan pernikahan itu dan berharap Rama tidak menceraikan Putri.
Malam itu juga, Kedua orang tua Rama menghubungi Pak Dedi dan Bu Lili. Jika pernikahan anak-anak mereka harus diulang, karena kini Rama sudah tahu jika mempelai wanita adalah Putri bukan Dinda.
"Saya terima nikah dan kawinnya Putri Anastasya binti Dedi Mulyadi dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas seberat 100 gram dibayar tunai."
Kedua orang tua dari kedua pihak tampak bahagia dengan pernikahan anak-anak mereka. Pak Dedi dan Bu Lili meminta maaf kepada orang tua Rama jika kepergian Dinda sudah membuat pernikahan paksa itu terjadi.
Di saat kedua orang tua saling memaafkan dan berbahagia. Lain halnya dengan pasangan pengantin baru itu. Layaknya orang yang tidak saling kenal. Keduanya sama-sama saling diam satu sama lainnya.
"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menyentuh bocah itu. Aku bukanlah pedofil!"
"Ya ampun, mimpi apa aku semalam. Kok bisa-bisanya dapat laki modelan gini sih! Ah lama-lama aku bisa mati muda kalau gini caranya!"
Keduanya pun saling membatin.
...BERSAMBUNG....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Myca
🗿👍
2024-02-04
1
StAr 1086
Ingat ya pak dengan kata2nya jangan sampai lupa...
2024-01-17
0
Melya Siena Siena
Enaknya duduk ngopi sambil ngebaca tentang pak guru,, nunggu pak guru kemakan omongan sendiri🤣
2023-08-13
0