Meskipun naluri lelakinya mulai bangkit. Rama harus bisa menahannya. Setelah seluruh pakaian Putri terlepas dari raganya. Rama segera memakaikan baju yang masih kering agar Putri tidak lagi kedinginan. Sesekali ia menelan salivanya, saat Rama tahu ternyata ia sudah salah sangka dengan menyebutkan ukuran 32 kepada Putri. Nyatanya ia melihatnya lebih besar dan terlihat lebih menantang.
"Cukup! Aku tidak boleh tergoda," pikir Rama yang pada akhirnya, ia berhasil memakaikan baju untuk istrinya. Meskipun sebenarnya tangannya sangat gatal ingin menyentuh sesuatu yang berhasil membangkitkan hasrat dirinya itu
Kini, Rama sudah mengganti baju istrinya. Setelah itu ia menutupi tubuh Putri dengan selimut, berharap sang istri segera sadar. Sesekali ia menatap wajah Putri yang sedang terpejam. Ada sesuatu yang membuatnya tertarik untuk mendekatinya.
Entah kenapa tangannya bergerak ke wajah Putri sambil mengusap pipi gadis itu. "Aku minta maaf, aku tidak bermaksud membuatmu seperti ini, aku tidak tahu kenapa aku tidak suka melihatmu dekat dengan Alex, aku khawatir dia hanya mempermainkan kamu saja, Put. Kamu masih sangat polos, kamu belum mengerti apa-apa, Alex pernah mempunyai kasus karena melecehkan seorang gadis, entah kenapa kepala sekolah menerima dia di sekolah kita, mungkin karena kedua orang tuanya orang kaya, dan sekarang dia ingin mendekatimu, aku tidak rela jika kamu semakin dekat dengannya."
Ucapan itu membuat Rama menghela nafas panjang. Ia sedikit membungkukkan tubuhnya dan menatap wajah Putri dari dekat. Putri masih terpejam dan Rama pun tersenyum dan mulai memberikan kecupan manis pada kening istrinya sebagai tanda permintaan maaf.
Kecupan lembut itu seketika membuat Putri membuka kedua netranya. Ia merasa jika jidatnya ada yang menyentuh. Spontan, Putri mengarahkan kedua matanya ke atas. Dilihatnya sang suami yang sedang mencium keningnya.
"Huwaaaaaa!!"
Putri berteriak sekencang-kencangnya dan Ramah pun kaget. Reflek ia membekap mulut Putri dengan telapak tangannya dan menatap istrinya itu sambil menyuruhnya untuk tutup mulut.
"Ssssttt! Jangan berteriak!" ucap Rama sambil menutupkan satu jarinya ke mulut. Putri pun menggelengkan kepalanya seakan ia memberikan kode jika ia akan diam.
Perlahan, Rama melepaskan tangannya dari mulut Putri.
"Apa yang Bapak lakukan? Ngapain Bapak di sini?" Putri tampak menarik selimutnya, takut jika saja Rama berbuat mesum kepadanya. Wajahnya sangat ketakutan dan masih teringat wajah marah sang guru killer.
"Syukurlah kamu sudah sadar, kamu masih kedinginan?" tanya Rama untuk memastikan kondisi istrinya tidak apa-apa.
Putri menggelengkan kepalanya pelan. Ia pun mulai teringat jika tadi Rama menghukumnya di kamar mandi, dan ia pun terkejut saat melihat jika baju sekolahnya tergeletak di atas lantai dalam kondisi basah.
"Loh, baju seragam saya???" Putri segera membuka selimutnya, dan ia sangat terkejut saat melihat semua baju yang dipakainya berubah. Sekarang ia memakai baju tidur tapi tanpa bra.
"Baju saya kok bisa ganti. Bapak yang gantiin?" tanya Putri dengan melototkan matanya.
"Kalau bukan aku siapa lagi!" balas Rama.
"Jadi, Pak Rama yang buka baju saya dan ... dan lihat semuanya dong!" sahut Putri yang terlihat panik. Khawatir jika guru killernya itu benar-benar melihat seluruh tubuhnya.
Rama beranjak dari tempat duduknya. Ia pun berdiri sambil berjalan menuju ke arah jendela dan berhenti di sana sambil memasukkan dua tangannya pada saku celana.
"Iya, aku lihat semuanya ...." Rama berkata dengan sikapnya yang masih dingin. Putri pun menggelengkan kepalanya, itu artinya Rama sudah melihat setiap lekuk tubuhnya.
"Kok Pak Rama tega sih ngelakuin itu? Pak Rama sudah lihat semuanya, saya sudah tidak suci lagi, huhuhuhu!!" Putri mulai menangis, Putri merasa jika ia sudah ternoda. Padahal Rama tidak melakukan apapun kepadanya.
Spontan, Rama membalikkan badannya dan berjalan ke arah sang istri sambil membungkuk melihat wajah Putri yang sedang menangis.
"Kenapa kamu menangis?"
Suara Rama tiba-tiba mengagetkan Putri. Ia pun menumpahkan kekesalannya kepada Rama karena berani melihat tubuhnya tanpa izin.
"Pak Rama jahat! Pak Rama sudah menodai saya, kemarin berani nyentuh mimik saya, sekarang malah Bapak lihat semuanya, huhuhu kenapa sih Bapak lakukan itu? Bapak pasti nafsu kan lihat saya?" ucapan Putri nyatanya justru membuat Rama mengusap wajahnya
"Yang bilang kamu ternoda itu siapa? Aku tidak melakukan apapun kepadamu. Aku hanya mengganti bajumu yang basah. Tidak mungkin aku membiarkan kamu kedinginan dengan baju yang basah, kamu pikir aku sekejam itu!" sahut Rama menjelaskan.
Putri pun teringat jika dirinya menjadi basah karena dihukum oleh suaminya karena pulang terlambat.
"Itu semua gara-gara Bapak, saya dari dulu tidak tahan dengan suhu dingin. Tapi Bapak sudah jahat sama saya, apa hanya karena saya pulang terlambat. Bapak menghukum saya seperti itu? Untung saya tidak mati kedinginan dan ... hmmpptt!" Putri tidak melanjutkan kata-katanya karena satu jari Rama menutup bibir gadis itu. Putri membelalakkan matanya menatap wajah sang guru yang berada begitu dekat dengannya.
"Jangan bicara seperti itu. Aku minta maaf jika tadi aku emosi. Kau tahu, aku sangat tidak suka dibohongi, apalagi aku tahu jika kamu pergi bersama Alex," ungkap Rama sambil menatap wajah sang murid dalam-dalam.
"Pak Rama tahu jika saya pergi dengan Alex? Tapi kami pergi ramai-ramai, Pak. Kita nggak berdua kok, ada Ririn, Wahyu, Tasya, Wiwin dan masih banyak teman lainnya, dan kita cuma pergi makan-makan, bukan pacaran!" jelas Putri.
Rama kembali duduk di atas tempat tidur di samping Putri. Pria itu duduk dengan sedikit membungkuk. Postur tubuhnya yang tinggi memaksa Rama melengkungkan punggungnya untuk menyandarkan siku tangannya pada kedua kakinya. Kemudian ia menoleh ke arah Putri dan berkata. "Bapak tidak melarang kamu pergi bersama teman-temanmu, tapi tidak bersama Alex. Jauhi dia! Dia bukan pemuda yang baik. Aku tidak mau kamu dekat dengannya, dia memiliki catatan buruk di sekolahnya dulu. Makanya dia pindah ke sekolah kita karena di sekolahnya yang lama ia sudah terkena kasus, aku harap kamu mengerti. Dan mulai sekarang kamu tidak aku izinkan untuk keluar lagi bersama teman-temanmu. Sekarang istirahatlah! Aku akan tidur di luar, supaya kamu bisa tidur dengan nyenyak."
Setelah mengatakan hal itu, Rama segera pergi dari kamar. Sementara itu, Putri semakin kesal dengan keputusan Rama, pria itu sudah terlalu mencampuri urusan pribadinya dengan melarangnya pergi bersama teman-teman sekolahnya. Putri mengumpulkan guru sekaligus suaminya itu.
*
*
*
Keesokan harinya, dini hari sekitar jam 3, Putri terbangun dari tidurnya. Ia merasa haus dan segera keluar untuk pergi ke dapur. Namun, tanpa disadari ia melihat Rama berada di dapur juga Rama dan Putri saling diam. Tidak menegur atau menyapa satu yang lainnya. Sifat Rama yang sangat introvert membuat Putri semakin kesal melihat wajah guru killernya itu.
"Ya ampun, lihat mukanya itu loh udah bikin darah tinggi. Cowok kayak gini Kak Dinda kok naksir sih! Apa coba yang bisa dilihat dari pria macam dia," Putri membatin sembari memperhatikan gesture wajah Rama.
"Pak Rama mau kemana udah rapi gitu? Kayak mau walimahan aja." Putri melihat penampilan Rama yang tidak biasa, kali ini Rama Sud rapi dengan baju koko dan sarung, sementara tatanan rambutnya terlihat masih basah, sepertinya Rama baru saja mandi.
Mereka berpapasan, Rama melihat istrinya masuk ke dapur, dan ia pun sedikit menjauh dari Putri agar tidak saling menyentuh. Tidak ada ekspresi dari wajah Rama. Ia pun hanya menatap sekilas dan setelah itu ia segera pergi ke ke suatu tempat.
Putri meringis, sungguh sifat suaminya yang super cuek itu memang tiada tandingannya. Putri pun segera mengambil air putih sambil duduk sebentar di kursi menetralkan rasa kantuknya yang masih mendera.
Tak berselang lama, Putri mendengar suara seseorang yang sedang mengaji.
"Suara siapa tuh?" Putri mendengarkan secara seksama, suara mengaji itu benar-benar tidak Putri suka, sangat merdu dan berasa damai jika mendengarnya.
"Subhanallah, merdu sekali suaranya, pasti itu suara ayah, tidak mungkin itu suara Pak Rama, boro-boro punya suara semerdu itu, yang ada hanya suaranya saat sedang marah," pikir Putri yang mengira jika itu suara ayah mertuanya. Karena penasaran, Putri pun beranjak untuk memeriksa sumber suara mengaji itu.
Putri keluar dari dapur dan berjalan menuju ke sebuah koridor rumah. Perlahan, suara itu terdengar semakin kencang saat ia berhenti di depan sebuah ruangan musholla rumah. Dan saat ia tahu siapa yang sebenarnya sedang mengaji. Putri pun tidak menyangka jika suaminya yang killer itulah yang melantunkan ayat-ayat Alquran.
"Pak Rama!! Dia bukan hanya pintar dalam matematika, tapi dia juga fasih sekali melantukan ayat-ayat Alquran. Ini masih jam 3 pagi loh, dia bangun hanya untuk menghadap ke Rabbnya. Subhanallah! Ada sesuatu yang tersembunyi dari sifat killernya ... eh busyet! Kok aku malah muji dia sih!"
Putri pun melengkungkan senyumnya saat mendengar dan melihat Rama yang sedang mengaji. Tanpa sadar, tiba-tiba Rama menoleh ke arah pintu di mana Putri sedang memperhatikan Rama dengan bergelayut di sisi pintu.
Putri langsung menyembunyikan wajahnya dan ia sangat malu sekali, "Waduh pakai noleh segala lagi, au ah balik aja deh! Entar kena marah lagi!!"
Putri pun segera pergi ke kamarnya dan berharap Rama tidak memarahi nya karena sudah berani mengintip. Sementara itu, Rama tahu jika istrinya baru saja melihat dirinya. Ia pun tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Setelah itu ia melanjutkan mengajinya.
*
*
*
Matahari sudah mulai menampakkan wajahnya. Pagi yang cerah, diawali dengan sarapan pagi bersama. Putri dan Rama masih saling diam, setelah kejadian itu Putri lebih memilih banyak diam dan enggan berbicara kepada suaminya, apalagi larangan Rama terhadap dirinya. Padahal di awal pernikahan mereka sudah sepakat untuk tidak ada yang saling menekan. Tapi sekarang, Rama nyatanya sangat protektif terhadap istrinya.
Bu Iin dan Pak Bambang saling menatap dan sesekali melihat ke arah anak dan menantunya.
"Rama, Putri. Besok ayah dan ibu akan pergi ke luar kota selama satu Minggu, ayah berharap kalian berdua bisa jaga rumah dengan baik. Ayah ada urusan penting yang tidak bisa ditinggalkan, lagipula ibumu juga sudah kangen sama Tante Sri di desa. Jadi, kita sekalian ke rumah Tante Sri di Nganjuk," ucap pak Bambang.
"Iya, dan kamu Rama, jaga baik-baik istrimu! Jangan tinggalkan dia sendirian di rumah, dan jangan pernah tinggalkan dia di sekolah. Pokoknya ibu tidak mau kalian bertengkar terus," sahut Bu Iin.
Rama pun hanya menghela nafas panjang dan Putri juga terlihat garuk-garuk kepalanya. Ia mulai berpikir apa jadinya jika dirinya berada di dalam rumah cuma berdua saja dengan guru killernya itu.
"Tinggal berdua sama pak Rama di rumah? Jadi, aku harus melayani suamiku sendirian, masakin dia sendiri, aduhh! Biasanya ada ibu yang bantuin aku masak. Sekarang aku sendiri yang masak, ya ampun belum lagi lihat wajahnya setiap hari setiap saat. Nggak ada teman ngobrol lagi dong, ibu mertua pergi aku pasti nggak punya teman bercerita, alamak!" Putri pun mulai membayangkan jika nanti ditinggal oleh mertuanya ke luar kota.
*
*
*
Di sekolah.
Seperti biasa, Putri beranjak masuk ke dalam kelas. Namun, tiba-tiba saja ia dihadang oleh Alex yang sedari tadi menunggu kehadiran Putri, cowok keren yang menjadi idola baru cewek-cewek di sekolah itu menunggu kedatangan Putri dari ujung koridor sekolah.
"Hai, Put! Apa kabar, pagi ini kamu kelihatan cantik sekali," puji Alex sambil berjalan mendampingi Putri menuju ke kelas.
"Hah masa sih, biasa aja kok, jangan berlebihan deh!" ucap Putri sambil tersenyum malu. Bagaimana pun juga Alex adalah cowok tipe Putri, tapi sayang sekali Rama tidak pernah menyukai jika Putri dekat-dekat dengan pemuda itu. Putri pun berusaha untuk menjauhi Alex agar suaminya tidak marah.
"Eh ... sorry ya! Aku masuk dulu!" pamit Putri meninggalkan Alex.
"Loh Put, kok malah pergi sih! Pokonya aku harus mendapatkan Putri, kali ini aku tidak boleh gagal," Alex tampak bertekad untuk mendapatkan Putri. Tapi nyatanya perkataannya itu tidak sengaja didengarkan oleh Rama.
"Jangan pernah bermimpi untuk mendekati Putri. Dia itu sebenarnya sudah ada yang punya," sahut Rama yang tiba-tiba membuat Alex sangat terkejut.
"Eh ... pak Rama, bikin saya jantungan saja! Memangnya pak Rama tahu jika Putri sudah punya pacar?" balas Alex sambil mengelus dadanya. Rama pun berusaha untuk mengerjai Alex dengan membohongi pemuda itu.
"Ya punya lah, setahu Bapak, cowoknya Putri itu sangat killer, pokonya kalau ada cowok yang berani dekat-dekat sama dia, siap-siap aja dibantai!" seru Rama menakut-nakuti Alex sambil meninggalkan pemuda itu.Tapi rupanya, Alex tidak takut dengan ancaman Rama, bahkan ia justru semakin tertantang untuk menghadapi pacar Putri.
Alex yang notabenenya adalah cowok badung dan bandel. Ia tetap akan berusaha mendapatkan Putri meskipun Rama berusaha untuk menciutkan nyali pemuda itu.
"Aku tidak akan menyerah, siapapun cowok Putri aku tidak takut, aku akan tetap merebut Putri," seru Alex penuh keyakinan. Sedangkan Rama yang sudah pergi meninggalkan Alex. Sang guru pun terlihat menyunggingkan senyum dan bergumam dalam hati. "Kamu tidak akan mudah begitu saja mendekati Putri, sebelum kamu mendekatinya hadapi aku terlebih dahulu, anak muda!"
...BERSAMBUNG...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
StAr 1086
next thor
2024-01-17
0
cici
loh loh loh..q loh yo nganjuk..ojo lali mampir ya gaes
2023-06-20
2
CANTIKA
ayo pak maju sebelum keduluan alex.tar istri direbut org baru deh nyesel
2023-06-18
0