Benar saja, pisang tanduk itu mulai kencang. Rama pun berusaha untuk melepaskan tangan Putri yang sedang memeluknya. Dan juga menurunkan paha Putri dari sana. Dengan sangat pelan, Rama melepaskan tangan Putri yang melingkar pada lehernya.
Namun, bagaimanapun cara Rama untuk melepaskan tangan Putri. Nyatanya gadis itu justru terbangun. Ia pun terkejut dan melihat wajah guru matematikanya berada tepat di hadapannya.
"Pak Rama!!" seru Putri yang tercengang karena dirinya sedang memeluk Rama dengan erat.
"Tolong turunkan kakimu! Jangan buat aku khilaf!"
Seketika Putri melihat ke arah kakinya yang berada di antara tengah-tengah kedua kaki gurunya itu. Tidak langsung turun, Putri merasakan jika ada sesuatu yang mengganjal pada pahanya.
Putri menatap wajah pak gurunya dengan serius. Keduanya saling menatap dan tiba-tiba Putri berteriak sekencang-kencangnya. Spontan Rama segera membekap mulut Putri agar tidak membangunkan orang rumah.
"Mmmppphhttt!"
"Sssttt, bisa diam nggak sih!!" sahut Rama dengan mata yang membola. Putri menggelengkan kepalanya dan ia sangat takut jika Rama akan berbuat macam-macam kepadanya.
Benar saja, suara teriakan Putri membuat kedua orang tua Rama mengetuk pintu.
"Rama, Putri. Ada apa, Nak? Kenapa Putri berteriak?" seru Bu Iin dari luar pintu.
"Tidak apa-apa, Bu! Putri sedang latihan menyanyi. Iya latihan menyanyi!!" sahut Rama dari dalam.
"Latihan menyanyi kok berteriak? Ada-ada saja!" batin Bu Iin.
"Oh ya sudah, ibu pikir apa. Ya sudah, tidurlah!"
Bu Iin pun mulai pergi ke kamarnya bersama Pak Bambang.
"Ada apa, Bu? Kenapa Putri berteriak!" tanya pak Bambang.
"Katanya Putri sedang latihan menyanyi," balas Bu Iin.
"Latihan menyanyi?? Ada-ada saja mereka. Itu bukan latihan menyanyi, Bu. Mungkin mereka sedang membuatkan cucu untuk kita, ya dimaklumi aja, Bu. Putri masih sangat muda sedangkan Rama sudah dewasa. Pasti Putri juga terkejut untuk pertama kali melihat punya Rama," ucap pak Bambang sambil tersenyum kepada istrinya.
"Ayah ada-ada saja. Mungkin juga ya, Yah! Pasti Putri masih sangat lugu dan polos. Ibu berharap Rama bisa melupakan Dinda dan hidup bahagia bersama Putri. Karena Ibu sangat suka dengan gadis itu. Dia sangat sopan dan suka bercanda juga sama ibu. Berasa Ibu kembali ke masa-masa muda dulu," ungkap Bu Iin senang. Putri selalu bercerita tentang keseruan teman-temannya di sekolah dan itu mengingatkan sang ibu mertua tentang masa-masa mudanya dulu.
"Iya, ayah juga berharap seperti itu."
*
*
*
Sementara itu di dalam kamar, Rama melepaskan tangannya dari mulut sang istri. Putri berusaha mengambil oksigen banyak-banyak, sedangkan Rama terlihat menggeser posisi tidurnya dan menyingkap tirai penghalang diantara mereka.
Tanpa berkata apa-apa, Rama langsung tidur dan lagi-lagi ia tidur dengan mendekap perutnya. Putri mengintip sang suami yang sedang tidur membelakanginya dengan membuka tirai itu sambil tiduran. Ia pun heran, kenapa suaminya selalu tidur dengan posisi seperti itu.
"Pak Rama tidurnya kenapa gitu mulu sih! Kayak orang sakit perut aja!"
Saat Putri sedang mengintip Rama. Tiba-tiba Rama bergerak dan menghadap ke arahnya. Spontan Rama melihat wajah istrinya yang sedang mengintip dirinya.
Lagi-lagi keduanya saling menatap dan seketika Putri tersenyum ke arah Rama sambil cengar-cengir karena ketahuan mengintip sang suami.
"Kenapa nggak tidur?" tanya Rama dengan wajah seriusnya.
"Bapak sendiri kenapa nggak tidur?" bukannya menjawab Putri justru balik bertanya.
"Tidak apa-apa, hanya ingin menenangkan diri," balas Rama.
Mendengar jawaban dari sang suami, Putri pun mengerutkan keningnya. "Menenangkan diri? Berarti sekarang bapak sedang tidak tenang dong?" sahut Putri sambil menggerak-gerakkan bola matanya.
"Iya, aku memang sedang tidak tenang dan semua itu gara-gara kamu!" Rama berkata dengan tatapannya yang tajam.
"Loh kok saya sih! Jangan fitnah ya, Pak! Saya nggak merasa ngapa-ngapain Bapak kok." Putri mulai terlihat kesal.
"Nggak ngapa-ngapain katamu? Si Boy nggak bisa tidur gara-gara kamu, kamu mau tanggung jawab!" tegas Rama. Putri mengerutkan keningnya dan tidak mengerti Boy siapa yang dibicarakan oleh sang suami.
"Boy? Boy siapa, Pak?" tanya Putri bingung.
Rama menghela nafasnya dan Ia pun berkata terus terang kepada istrinya. "Kau tahu Boy? Bukannya tadi kamu menjerit karena menyentuh Boy?"
Pertanyaan sang guru seketika membuat Putri terkesiap dan ia pun segera menutup kembali tirai pemisah itu dengan cepat sambil berkata, "Maaf, Pak. Saya mengantuk, besok saya harus sekolah."
Putri segera mengambil selimut dan menutupkannya pada seluruh tubuh, berharap Rama tidak menyerangnya karena ia mulai sadar Boy yang dimaksud oleh Rama.
"Aduhhh! Semoga saja pak Rama nggak macam-macam, aku nggak mau, pokoknya nggak mau, takut! Aduhhh Kakak, cepetan pulang dong! Aku nggak mau tidur di sini, aku mau tidur di kamarku sendiri."
Putri berbisik pada dirinya sendiri dan berharap malam ini tidak terjadi apa-apa di antara mereka.
Rama pun akhirnya keluar dari kamar dan menenangkan dirinya di luar kamar. Putri melihat sang suami yang sedang keluar dari kamarnya. Ia pun merasa lega akhirnya ia tidak khawatir lagi Rama akan melakukannya.
"Huufftt akhirnya keluar juga." Putri tampak mengelus dadanya. Ia pun bisa tidur dengan nyenyak tanpa ada perasaan was-was. Meskipun sebenarnya Rama bilang tidak akan menyentuh dirinya, tapi tetap saja Rama adalah pria normal, dan bisa khilaf sewaktu-waktu. Apalagi Putri sudah bisa membangunkan pisang tanduk milik Rama.
Setelah beberapa lama, Rama pun mulai masuk ke dalam kamar. Ia melihat sang istri yang sudah tertidur pulas. Rama pun kembali ke tempat tidurnya dan sesekali menoleh ke arah tirai di mana dibalik tirai itu ada Putri yang sedang tidur. Karena terkena hembusan kipas angin yang berputar, tirai yang terbuat dari kain tipis itu berkibar dan terbuka sedikit demi sedikit.
Sepintas, terlihat wajah Putri yang sedang tertidur pulas. Rama melihat wajah polos istrinya itu sangat cantik ketika sedang memejamkan mata. Rama pun tak bosan memandang wajah Putri, hingga akhirnya ia pun ikut terlelap bersama.
*
*
*
Pagi hari seperti biasa, kali ini Rama harus berangkat sangat pagi, karena ia ada tugas sebentar dari kepala sekolah. Sementara itu Putri tampak masih sarapan bersama kedua mertuanya.
"Rama, kamu nggak sarapan dulu, Nak!" seru Bu Iin saat melihat putranya beranjak pergi ke sekolah.
"Rama buru-buru, Bu. Rama harus segera tiba di sekolah lebih pagi, ada sesuatu yang harus Rama lakukan." Rama menjawab sambil merapikan tasnya.
"Terus, Putri bareng sama siapa kalau kamu berangkat duluan?" sahut Pak Bambang.
Putri pun langsung menyela karena ia lebih suka berangkat sendiri naik angkot atau taksi daripada harus berangkat bersama suaminya.
"Tidak apa-apa, Yah! Nanti Putri bisa berangkat sendiri naik angkot," sahut Putri.
"Tuh, Putri bisa pergi sendiri tanpa Rama," sahut Rama.
Pak Bambang dan Bu Iin pun tidak setuju jika menantunya harus berangkat ke sekolah sendirian, mereka khawatir jika Putri diganggu oleh preman angkot atau laki-laki lain, mengingat Putri berangkat sendirian.
"Pokoknya Putri harus berangkat sekolah bareng kamu, ibu nggak mau terjadi apa-apa dengan mantu ibu," sahut Bu Iin kepada putranya.
"Aduhhh ibu, Rama harus cepat datang ke sekolah. Nunggu Putri kelamaan mana sarapannya lelet kayak cacing," sindir Rama sambil melihat ke arah Putri yang sedang sarapan.
Putri pun menatap wajah suaminya yang sedang manyun. Ia tahu jika ekspresi wajah itu menunjukkan jika Rama sedang kesal. Maka, Putri pun segera menyelesaikan makannya dengan cepat, karena lebih horor melihat wajah Rama yang sedang marah daripada sedang melihat hantu.
Putri pun tampak susah mengunyah makanannya, matanya membola dan segera menelan makanan itu ke kerongkongan dengan susah payah. Ibu mertuanya segera memberikan minum untuk Putri.
"Minum, Nak! Jangan terburu-buru, nanti kamu tersedak," ucap Bu Iin sambil mengusap punggung menantunya.
Putri pun meminum air yang diberikan oleh ibu mertuanya. Setelah itu ia pun bersiap untuk berangkat sekolah bersama Rama.
Rama tanpa berkata apapun, ia langsung mencium tangan kedua orang tuanya dan setelah itu ia segera pergi keluar mengambil sepeda motor yang biasa ia gunakan untuk pergi ke sekolah.
Sementara itu Putri mengikuti suaminya dari belakang, setelah dirinya berpamitan kepada kedua mertuanya. Rama segera memberikan helm dan ia pun langsung menaiki motornya.
Putri pun segera memakai helm dan naik di belakang Rama. Dua-duanya saling diam tanpa ada sepatah katapun. Karena Rama menaiki motor itu dengan kecepatan lumayan tinggi, membuat Putri sedikit takut dan ia pun spontan melingkarkan tangannya pada pinggang Rama.
Rama melirik ke arah perutnya, ia melihat tangan Putri yang berpegangan dengan erat pada pinggangnya, dan anehnya Rama justru semakin suka. Ada senyum tersirat dari bibir pria itu yang tertutup oleh helm. Sedangkan Putri, ia semakin mempererat pegangan tangannya sambil memejamkan mata.
Setibanya di dekat sekolah, seperti biasa Rama menghentikan motornya dan menyuruh Putri turun.
"Sudah turun kamu! Lepaskan helmnya!" seru Rama kepada Putri.
Putri pun turun dari motor dan segera melepaskan helm yang dipakainya, kemudian ia memberikan helm itu kepada Rama. Tanpa menoleh ke arah Putri, Ia menerima helm itu dan langsung pergi meninggalkan Putri yang masih menahan umpatan untuk guru killernya itu.
Setelah Rama pergi, Putri pun mulai meluapkan kekesalannya kepada Rama.
"Huuuuhhh sumpah ya lihat mukanya itu bikin sakit kepala, marah-marah nggak jelas. Dasar guru aneh!"
Rupanya umpatan Putri didengar oleh teman-temannya yang berada di belakangnya sedari tadi.
"Putri, tumben kamu bareng Pak Rama?" pertanyaan itu tiba-tiba muncul dari Ririn, teman sebangkunya. Ririn bersama beberapa temannya. Putri pun harus bisa menutupi jika dirinya istri Rama, ia harus pintar-pintar untuk mengelabuhi teman-temannya jika dirinya adalah pengantin Rama bukan kakaknya.
"Oh iya, soalnya sekarang kan Pak Rama itu udah jadi Kakak iparku. Jadi, aku bareng sama dia nggak apa-apa doang lumayan kan irit uang saku," jawab Putri sambil tersenyum santai.
"Benar juga tuh, Put! Pinter juga kamu idenya. Tapi ingat! Jangan sering-sering, nanti keterusan loh, entar kayak cerita di novel-novel tuh, yang selingkuh dengan kakak ipar sendiri," tegas Ririn. Putri pun tertawa kecil dan mengatakan jika itu tidak akan mungkin terjadi.
Akhirnya, mereka pun segera masuk ke dalam sekolah.
Jam masuk kelas pun berdering. Putri dan teman-temannya mulai masuk ke dalam kelas. Hari ini kelas Putri kedatangan murid baru pindahan dari SMA Antartika. Rama menyuruh siswa baru itu untuk memperkenalkan dirinya. Namanya Alex. Ia adalah cowok berkulit putih dan wajahnya mirip Opa-opa Korea. Tentu saja Putri dan teman-temannya sangat menyukai siswa baru tersebut.
Alex duduk berseberangan dengan Putri, sehingga Putri terlihat senyum-senyum saat Alex mengulurkan tangannya untuk berkenalan.
"Alex!"
"Putri!"
Sementara Putri dan Alex saling berkenalan. Ada sepasang mata yang sedang memperhatikan mereka dengan serius. Rama melihat istrinya yang sedang dekat dengan siswa baru itu. Rama mendekati kedua siswanya untuk dan berdehem. Seketika Putri terkejut dan menatap wajah sang suami yang benar-benar menunjukkan wajah killernya.
"Sekarang waktunya pelajaran, bukan waktunya ngobrol!" ucap Rama dengan nada sinis.
"Putri!" panggil Rama kepada istrinya.
"Iya, Pak!"
"Kamu pindah duduk di depan, dekat dengan tempat duduk guru, cepat!" titah Rama sambil menunjuk ke arah bangku depan meja guru.
"Kok pindah sih, Pak? Mana pindah di depan lagi. Nanti dilihatin Bapak mulu dong!" sahut Putri sambil memanyunkan bibirnya.
"Nggak usah protes! Cepat pindah!" titah Rama dengan tegas. Putri pun menuruti permintaan sang suami. Ia pun segera membawa tasnya untuk pindah ke bangku depan. Tepat di depan meja guru. Rama melakukan itu untuk menjauhkan Putri dari siswa baru itu.
Kini, Putri duduk di bangku paling depan. Ia melihat di depannya ada Rama yang sedang duduk di kursi dengan menatapnya yang dingin. Putri pun hanya bisa menunduk dan tidak bisa lagi berbicara dengan Alex.
"Jangan pernah berpikir kamu bisa berbicara dengan dia. Sekarang kamu ada dalam pengawasanku."
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Idha Saja
menyala pak guruku 🔥😅
2024-07-31
0
~v
pak guru menyala 😅😅😅
2024-07-07
0
Asih Novianti
awas loh... jadi bucin /Facepalm/
2024-05-19
0