Putri masih sangat shock dengan kejutan dari Alex. Di hadapan semua teman-temannya Alex menembak dirinya. Apalagi tepukan dan sorakan teman-teman Putri seolah memberikan dukungan kepada mereka berdua.
"Terima, terima, terima, ayo Putri! Terima dong!!" teriak teman-temannya.
Alex begitu berharap Putri akan menerima cintanya. Sambil berlutut di depan Putri, Alex menunggu jawaban Putri.
"Ya ampun, so sweet banget sih Alex. Tapi, nggak mungkin aku terima cintanya, bisa-bisa Pak Rama marah besar ...." gumam Putri sambil merremas jari-jemarinya karena gugup.
"Bagaimana, Put? Apa kamu akan menerimaku sebagai cowokmu? Aku berjanji akan selalu menjagamu, karena aku benar-benar sayang sama kamu, Putri. Please, terimalah bunga ini? Aku pasti menjadi cowok paling bahagia jika kamu menerima cintaku," ucap Alex penuh rayuan maut.
Di saat teman-teman Putri bersorak-sorai mendukung Putri untuk menerima cinta Alex, tiba-tiba saja mereka diam seketika saat melihat kedatangan guru killer mereka masuk ke dalam lapangan basket.
"Eh itu pak Rama, Guys!" tunjuk seorang teman Putri yang duduk di bangku penonton.
"Waduh, kok bisa Pak Rama ada di sini?" jawab Ririn terkejut.
"Waaahhhh bisa gawat nih, bakalan gagal jadian mereka,"
"Iya benar tuh, pak Rama pasti menghukum mereka,"
"Aduhhh kok bisa sih Pak Rama datang ke sini? Bisa-bisa kena masalah mereka berdua,"
Teman-teman Putri tampak khawatir dengan kedatangan Rama yang sedang berjalan menghampiri Putri dan Alex yang sedang berada di tengah lapangan basket.
Sementara itu Putri dan Alex belum menyadari jika Rama sedang memperhatikan mereka berdua. Putri pun mulai menjawab pertanyaan Alex.
"Emm ... a-aku, aku ...." belum selesai Putri menyelesaikan ucapannya. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara seseorang yang seketika membuat kedua matanya membulat sempurna.
"Putri, ayo kembali ke kelas!"
Benar saja, itu adalah suara Rama yang tiba-tiba berdiri di belakang Putri dan membuat gadis itu terpaksa menengok ke belakang.
Putri melihat wajah sang suami yang sedang menatapnya tajam dan seolah ingin sekali memakannya.
"Pak Rama!!" sahut Putri dengan wajah ketakutan.
Alex yang tahu jika guru matematikanya itu datang, ia pun meminta izin kepada Rama untuk bicara sebentar kepada Putri, tentu saja Rama tidak akan membiarkan Alex mendekati Putri begitu saja.
"Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan dengan Putri. Sebaiknya kamu kembali ke kelas, dan kamu Putri, kamu ikut Bapak. Ada yang ingin Bapak bicarakan!" ucap Rama tegas.
"Tapi, Pak. Saya mohon sebentar saja saya ingin bicara sebentar lagi dengan Putri. Lima menit saja, Plis Pak Rama!" rengek Alex yang memohon dengan sangat.
Rama masih bersikap tenang dan tidak ingin menunjukkan kemarahannya kepada murid-muridnya. Namun, ia sudah menunjukkan kemarahannya kepada Putri lewat tatapan matanya kepada sang istri. Tentu saja Putri sangat tahu jika saat ini sang suami sedang marah.
"Aduhhh gawat! Pak Rama benar-benar marah, gimana dong!!" batin Putri yang mulai panik dan gusar.
"Tidak bisa, Ini adalah sekolah. Bapak tahu apa yang ingin kamu katakan kepada Putri. Bukankah bapak sudah pernah mengatakan jika Putri sudah ada yang pacar? Apa kamu sudah lupa, Lex? Bukan begitu, Put?" seru Rama sambil menatap wajah sang istri yang bingung dengan arah pembicaraan Rama.
"Hah! Pacar?"
Putri sedikit bingung. Dari pada Rama semakin marah, ia pun mengiyakan ucapan Rama jika dirinya sudah punya pacar. Dan tentu saja itu tidak akan pernah membuat Alex putus asa.
"Tapi, itukan masih pacar, Pak. Belum menjadi suami. Pastinya sebelum janur kuning melengkung, saya masih bisa merebut Putri. Karena saya sangat menyayangi Putri," ucap Alex yang terus berusaha untuk meyakinkan guru killernya.
"Sampai kapanpun Putri tidak boleh ada yang mendekati nya," gumam Rama.
"Alex, Putri ini adalah adik ipar Bapak. Jadi bapak tahu siapa-siapa yang dekat dengan Putri. Sebaiknya kalian bubar dan pergi ke kelas masing-masing." Rama berkata dengan tegas kepada Alex, kemudian ia pun memerintahkan kepada semua siswanya yang berada di lapangan basket itu untuk bubar dan kembali ke kelas masing-masing.
Tentu saja, semua siswanya membubarkan diri karena takut dengan perintah sang guru killer. Alex pun terlihat kecewa karena Rama sudah menggagalkan rencananya untuk menembak Putri.
"Sialan, gara-gara Pak Rama aku gagal menembak Putri. Tapi aku tidak akan menyerah, aku pasti bisa mendapatkan Putri!"
batin Alex yang masih berdiri di sana.
"Dan kamu, ngapain masih ada di sini? Sudah, pergi ke kelasmu!" titah Rama kepada Alex.
Alex pun dengan berat hati keluar dari lapangan basket sembari membuang bunga yang ada di tangannya.
Kini, tinggal Rama dan Putri yang ada di lapangan basket itu. Tinggal mereka berdua. Putri masih terdiam menatap wajah amarah suaminya. Ada rasa kecewa dengan apa yang dilakukan Rama. Seharusnya Rama tidak perlu ikut datang ke lapangan. Karena Putri pasti menolak Alex dengan cara baik-baik. Tapi, sekarang justru semakin rumit. Rama sungguh membuat Putri kecewa.
"Kenapa Bapak lihatin saya seperti itu? Sekarang bapak puas sudah mempermalukan saya di depan anak-anak? Saya benci sama Bapak!" ucap gadis itu sembari pergi meninggalkan sang suami yang masih berdiri di tempatnya sambil menghela nafas untuk menenangkan dirinya.
"Putri, kau tidak tahu saja kalau aku ...!!" Rama bergumam dalam hatinya.
*
*
*
Setelah kejadian itu, Putri semakin diam dan enggan untuk menatap wajah sang suami. Ia masih sangat kecewa dengan sikap suaminya. Ia tahu betul apa yang harus ia lakukan untuk menghindari Alex, meskipun tidak dipungkiri jika dirinya sangat tersanjung saat Alex menembaknya dengan cara yang romantis seperti itu.
Di dalam kelas, Putri hanya fokus pada bukunya. Meskipun saat itu sedang pelajaran matematika dan suaminya pun sesekali melihat ke arah Putri yang sedang cemberut.
"Apa dia masih marah padaku? Dia tidak memperdulikan pelajaranku sama sekali," Rama membatin sembari memperhatikan sang istri.
"Kenapa sih laki-laki tuh egois banget, giliran jalan sama Bu Andin aja cekikikan, ketawa-ketawa. Tapi, giliran aku yang didekati cowok, dia marah. Padahal kita nggak pernah ada komitmen untuk betul-betul menikah," kesal Putri dalam hatinya.
Hingga akhirnya, tiba waktunya pulang sekolah. Putri terlihat masih duduk di bangkunya. Ia malas untuk pulang. Jika pulang, ia pasti bertemu dengan suaminya dan marah-marah nggak jelas. Ingin pergi bersama teman-temannya juga tidak diizinkan. Putri bingung dengan kemauan suaminya yang super dingin itu.
Sedangkan Rama, dia menunggu sang istri yang belum juga keluar dari kelasnya.
"Kemana sih tuh anak! Sekolah sudah sepi belum keluar juga dari kelas," pikir Rama. Karena khawatir, ia pun segera mencari keberadaan Putri di dalam kelas.
Benar saja, Putri masih berada di dalam kelas dan masih duduk sambil melamun. Perlahan, Rama masuk ke dalam ruangan dan segera mengajak istrinya untuk pulang.
"Ayo kita pulang! Kamu ingin tidur di kelas?" ajak Rama dengan nada dingin. Putri hanya melihat sekilas ke arah sang suami.
"Saya malas pulang," jawab Putri singkat.
"Malas? Kamu mau jadi satpam di sekolah ini? Pokonya ayo pulang!" Rama menarik tangan sang istri dan membawanya untuk pulang bersama.
"Ihhh lepaskan tangan saya, Pak! Pak Rama ini kenapa sih maksa-maksa saya. Saya sedang malas pulang, saya sedang ngambek sama bapak. Egois!" sahut Putri yang memaksa Rama untuk mendekati gadis itu.
"Egois? Kamu bilang aku egois?" ucap Rama dengan nada penuh penekanan.
"Iya, Bapak egois. Bapak sendiri ketawa-ketiwi dengan Bu Andin saya diam saja dan nggak masalah. Tapi, giliran saya bicara dengan Alex, bapak main bubarin aja. Saya malu, Pak!" ucap Putri dengan wajah sendunya.
Tak ingin berdebat di sekolah. Rama pun tetap memaksa Putri untuk bicara di rumah.
"Kita bicarakan ini di rumah. Ayo kita pulang, kau tahu di luar sebentar lagi hujan!" Rama tetap memaksa istrinya untuk kembali pulang. Putri pun dengan perasaan campur aduk tetap mengikuti perintah sang suami.
Mereka berdua pulang dengan hati saling berkecamuk, diiringi hujan yang mulai turun dan mengguyur jalanan. Keduanya tetap saja kehujanan meskipun mereka memakai mantel atau jas hujan.
Selama dalam perjalanan, Putri terpaksa berpegangan pada pinggang sang suami karena udara dingin terasa menyentuh kulit. Meskipun dalam keadaan dongkol kepada suaminya. Putri tetap saja tidak bisa menghindari rasa dingin yang menusuk tulangnya.
Sejenak Rama merasakan sesuatu di belakang punggungnya, ada yang mengganjal, tapi dia harus tetap konsentrasi menyetir agar mereka sampai di rumah dengan segera.
Pelukan Putri erat sekali karena gadis itu benar-benar kedinginan, dan tentu saja keduanya sudah basah kuyup karena hujan turun dengan derasnya.
Hingga akhirnya, mereka tiba juga di rumah. Putri segera melepaskan tangannya dari pinggang Rama dan gadis itu segera pergi masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikan sang suami yang sedang kebingungan kenapa tiba-tiba pisang tanduknya berdiri sendiri.
...BERSAMBUNG...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Emabg nya Rama bawak mobil atau motor sih??🤔🤔🤔
2024-01-06
0
Qaisaa Nazarudin
Ckk anak ABG plin plan,Tadi aja katanya kesel..
2024-01-06
0
Tati Hartati
lama2 tu pisang tanduk ga bisa nahan paaaakk....😇😇😇😇🙄
2023-08-26
0