Rama dan Putri terus melaju dengan kecepatan sedang, dan sesekali mereka berdua terlihat saling bergurau. Tentu saja itu membuat Bu Andin bertanya-tanya. Sang guru dikabarkan menikah dengan Dinda, kakaknya Putri. Tapi kenapa Rama dan Putri terlihat begitu dekat.
"Mereka berdua apa-apaan ini, jangan-jangan mereka sedang berselingkuh. Astaga, kasihan sekali istrinya Pak Rama. Ternyata Putri adik yang tidak tahu diri. Suami kakaknya diembat juga!" ucap Bu Andin yang terus mengikuti mereka berdua dari belakang.
Namun sayang, Bu Andin tidak bisa mengikuti Rama karena mereka terpisah di lampu merah. Motor Rama bisa lolos dari lampu merah, sedangkan mobil Bu Andin yang berjarak sekitar 2 mobil dari arah belakang motor Rama. Harus berhenti saat lampu merah menyala.
"Sialan! Lampu merah lagi, ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus menyelidikinya dulu. Apa benar Putri memang sedang memiliki hubungan khusus dengan Pak Rama. Jika iya, Putri benar-benar siswi yang tidak bisa menjaga nama baik sekolah." Bu Andin tampak begitu kesal. Karena mendapati pemandangan yang benar-benar membuatnya tidak percaya. Mereka berdua yang terlihat sering bertengkar, kini guru dan siswa itu terlihat sangat akrab bahkan sangat mesra.
Sesampainya di dekat sekolah, Rama menghentikan motornya di sebuah gang kecil untuk menurunkan sang istri agar tidak ada yang curiga. Ini juga menjaga nama baik istrinya sedang di mata teman-temannya. Putri segera turun dari motor dan meminta uang saku dulu kepada suaminya. Karena tadi Rama lupa belum memberinya.
"Uang sakunya mana, Mas? Hari ini ada satu teman yang rumahnya kebanjiran. Kita satu kelas mau memberikan donasi untuk Evi."
Tidak menunggu lama, Rama segera mengeluarkan dompetnya dan memberi uang pecahan 100 ribu kepada istrinya. Kemudian Putri menerimanya.
"Ini kebanyakan, Mas! 20 ribu aja udah cukup kok, ngapain banyak-banyak!" seru Putri.
"Nggak apa-apa, itu uang jajan kamu. Jika kamu ingin beli apa-apa, kamu beli saja," ucap Rama sambil memasukkan dompet miliknya ke dalam saku celana.
"Tapi, aku tuh suka jajan, Mas. Nanti duwitnya habis, kamu marah!" sahut Putri.
"Yang marah siapa? Pokoknya uang itu pakai saja untuk jajan kamu. Kenyangkan perutmu, kamu harus makan banyak, biar bisa temani aku begadang nanti malam," ucap Rama sambil tersenyum miring.
Putri pun mengerti maksud suaminya berbicara seperti itu. Gadis itu tampak menatap wajah sang suami dan tersenyum malu.
"Sayangnya aku nggak suka begadang Mas, ngantuk nggak kuat banget," sahut Putri.
"Mulai sekarang, kamu tidak akan merasakan bosan bergadang. Justru kamu akan selalu mencariku," sahut Rama sambil tersenyum sumringah. Putri pun hanya tersenyum malu-malu sambil memasukkan uang seratus ribuan itu pada saku bajunya.
"Ya sudah, aku duluan." Rama mulai melajukan motornya.
Putri pun menganggukkan kepalanya dan menatap kepergian Rama yang sedang menuju ke arah sekolah. Setelah itu, Putri pun juga berjalan kaki menuju ke arah sekolah yang berjarak sekitar 50 meter. Namun tiba-tiba di saat Putri hendak masuk ke dalam halaman sekolah. Tiba-tiba saja mobil Bu Andin masuk dan mengklakson Putri yang saat itu sedang berjalan santai.
Putri pun sangat terkejut dan ia pun segera minggir. Kemudian mobil Bu Andin masuk ke halaman, Putri tampak memberikan salam kepada gurunya itu dengan menganggukkan kepalanya kepada Bu Andin.
"Selamat pagi, Bu Andin!" sapa Putri.
Kaca jendela Bu Andin terbuka separuh dan Bu Andin menatap sinis ke arah Putri, tidak seperti biasanya Bu Andin selalu menjawab salam Putri dan menganggukkan kepala, tapi kini Bu Andin terlihat cuek dan tidak memperdulikan Putri lagi.
Mobil Bu Andin langsung masuk ke dalam halaman sekolah. Putri pun mengerutkan keningnya melihat keanehan sikap guru BPnya itu.
"Bu Andin kenapa ya! Tiba-tiba cemberut gitu? Hah ... entar aja kalau dekat suamiku, pasti ketawa-ketiwi. Kira-kira Mas Rama akan tetap ramah nggak ya sama Bu Andin? Huhhh awas saja kalau aku lihat mereka bercanda lagi. Aku buat pisang goreng tuh pisang tanduknya," gerutu Putri sambil berjalan menuju ke kelasnya.
Seperti biasanya, Putri duduk di bangkunya yang berada di depan kursi guru. Tentunya sudah sangat berbeda dari hari kemarin-kemarin, Putri dan Rama tampak saling menatap dan sesekali Rama menyandarkan punggungnya sambil memandangi wajah istrinya. Tentu saja itu membuat Putri tidak nyaman dan salah tingkah.
"Aduhhh gini amat dilihatin suami kayak gitu, asli deg-degan banget. Kayak orang yang sedang kasmaran saja. Tuh kan lihatin mulu ihhhh!" batin Putri, gadis itu tampak tidak tenang saat duduk di bangkunya.
Tiba-tiba saja Rama memanggil istrinya untuk maju di depan kelas mengerjakan soal yang diberikan oleh Rama.
"Putri, ayo kerjakan soal di depan. Jika kamu bisa, Bapak akan beri kamu nilai A plus," seru Rama sambil memberikan spidol kepada istrinya.
"Saya, Mas eh Pak!!" balas Putri yang tidak sengaja keceplosan memanggil nama sang suami dengan Mas. Spontan, semua teman-teman Putri terkejut saat mendengar Putri memanggil nama guru matematika mereka.
"Kok Putri memanggil Mas sama Pak Rama?"
"Ya mungkin saja ia memanggil Pak Rama di rumah dengan sebutan Mas, jadi keterusan sampai sekolah. Lagipula mereka juga saudara ipar, kan?"
"Iya sih! Tapi kok aneh aja. Kayaknya Putri dekat banget deh sama Pak Rama, lihat aja sikap Putri yang sekarang nggak judes lagi sama pak Rama. Pak Rama juga gitu kayaknya. Udah nggak marah-marah lagi sama Putri. Malahan kayak udah akrab banget,"
"Iya juga sih! Apa jangan-jangan Pak Rama dan Putri kayak di novel-novel itu? Selingkuh dengan kakak ipar. Ihhh jika itu beneran ya ampun, Putri keterlaluan banget. Pak Rama itu suami kakaknya,"
"Benar-benar, kamu benar. Kita lihat aja bagaimana sikap mereka selanjutnya. Kayaknya ini harus diselidiki deh! Kasihan Mbak Dinda nantinya. Di bohongi suami dan adiknya sendiri."
Teman-teman Putri saling berbisik melihat sikap Putri terhadap sang guru. Benar saja, Putri pun maju ke depan dan segera mengerjakan soal yang diberikan oleh sang suami.
Rama menatap Putri yang sedang mengerjakan tugas darinya di papan. Putri terlihat kikuk. Meskipun sebenarnya mereka sudah sangat dekat, tapi tetap saja rasa malu dan canggung masih dirasakan oleh Putri. Karena Rama adalah cinta pertamanya.
Rama berjalan mendekati Putri yang sedang mengerjakan tugas di papan. Dengan berada di belakang Putri, Rama memperhatikan muridnya itu mengerjakan soal yang diberikannya.
"Jawab dengan benar, kamu harus teliti dan ingat rumusnya. Jika kamu salah, bersiaplah mendapatkan hukuman 3 ronde dariku," ucap Rama lirih. Spontan Putri menoleh ke belakang dan menatap kedua bola mata sang suami.
"3 ronde? Semalam kan sudah 4x. Mau nambah 3 lagi? Nggak bosan?" balas Putri dengan suara berbisik.
"Enggak akan pernah bosan," sahut Rama sembari tersenyum.
Di saat mereka berdua berbicara, tentunya itu membuat teman-teman Putri memperhatikan mereka berdua.
"Tuh kan! Mereka sedang berbicara bisik-bisik. Mencurigakan sekali!!" .
"Ya ampun mungkin saja Pak Rama sedang memberi tahukan rumus kepada Putri, nggak boleh buruk sangka dulu,"
"Ya elah masa ngasih tahu rumus aja pakai bisik-bisik sih,"
Lagi-lagi, teman-teman Putri memperhatikan sikap mereka berdua yang semakin dekat.
Di saat yang bersamaan. Tiba-tiba Bu Andin datang ke kelas untuk memeriksa tas siswanya satu persatu sebagai kegiatan rutin sidak dadakan guru BP.
Pemandangan pertama yang dilihat Bu Andin adalah Rama dan Putri yang sedang berada di depan kelas terlihat begitu dekat. Tentu saja itu membuat Bu Andin semakin curiga.
"Ini benar-benar mencurigakan!" batin Bu Andin.
"Bu Andin!" sapa Rama.
"Maaf Pak! Hari ini saya ingin menggeledah tas anak-anak, ini hanya kegiatan rutin, karena kemarin ada anak kelas 12B yang kedapatan membawa rokok dan benda-benda tajam. Jadi, demi lancarnya kegiatan belajar mengajar saya akan memeriksa tas mereka," seru Bu Andin.
"Oh silakan!" Rama pun mempersilahkan kepada Bu Andin untuk menggeledah tas murid-muridnya tanpa terkecuali. Putri dipersilakan duduk kembali.
Setelah itu, Bu Andin segera memeriksa tas murid-muridnya satu persatu, dengan dibantu oleh satu guru BP lagi. Putri pun terlihat santai dan tentunya ia masih teringat akan ucapan suaminya baru saja. Gadis itu senyum-senyum sendiri dan tentunya itu menyita perhatian Bu Andin yang sedang menuju ke Bangka Putri yang terletak di depan sendiri dan tepat di depan kursi guru.
"Berikan tasmu!" titah Bu Andin.
Putri pun segera memberikan tas miliknya kepada sang guru BP.
Bu Andin segera mengeluarkan satu persatu isi dari dalam tas Putri. Benar saja, Bu Andin memang tidak mendapatkan sesuatu yang melanggar sekolah. Tapi Bu Andin menemukan kaca dan beda Putri yang ia simpan di dalam tas khusus. Sudah dari dulu Putri sering membawa bedak ke sekolah. Dulu Bu Andin tidak pernah mempermasalahkan jika Putri membawa bedak ke sekolah. Kini, setelah Bu Andin melihat kedekatan Putri dan guru matematikanya itu. Bu Andin menjadi bersikap dingin dan mulai mempermasalahkan bedak yang dibawa oleh Putri.
"Apa ini? Putri, haruskah anak sekolah membawa ini ke sekolah? Kamu mau sekolah apa mau dandan?" seru Bu Andin sambil mengeluarkan bedak itu dari ras Putri.
"Bukannya sudah biasa ya Bu saya bawa bedak? Dulu ibu juga tidak mempermasalahkan, toh itu juga lumrah lah sebagai seorang wanita membawa bedak," balas Putri.
"Heh! Kamu itu cuma seorang siswa. Tugas utama siswa apa?" tanya Bu Andin sedikit membentak. Rama pun mulai khawatir dengan istrinya.
"Belajar, Bu!" jawab Putri.
"Nah, belajar. Terus, dengan kamu membawa bedak ini ke sekolah, manfaatnya untuk sekolah kamu apa? Bukannya pintar sekolah justru kamu jadi pintar dandan! Hoo jangan-jangan kamu emang sengaja belajar untuk menarik perhatian laki-laki ya? Ck! Malu-maluin sekolah saja!!" Bu Andin sedikit membentak Putri, tentu saja Rama tidak terima jika Bu Andin memarahi istrinya hanya karena membawa bedak.
"Maaf Bu Andin! Saya rasa Anda sudah keterlaluan. Putri cuma membawa bedak bukan senjata tajam atau sesuatu yang menyalahi aturan sekolah. Bukankah itu hal yang wajar siswi membawa bedak ke sekolah," sahut Rama yang membela istrinya.
"Pak Rama! Sejak kapan Anda membela gadis ini? Jangan hanya karena Putri itu adik ipar Anda. Seolah-olah Anda ini sangat membelanya. Apa jangan-jangan Putri ini sudah menggaet guru matematikanya ini ya? Kok sekarang saya lihat sikap Anda kepada Putri sangat berbeda!! Atau mungkin Putri ini memang sudah berhasil merayu guru killernya ini?" sahut Bu Andin menyindir Rama dan seolah mempermalukan Putri di depan teman-temannya.
...BERSAMBUNG...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
ibeth wati
kenapa ya klo ada dugaan perselingkuhan yg disalahkan selalu wanitanya ..bukanya adanya perselingkuhan itu Krn andil keduanya ya ..wanita selalu terlihat jelek Dimata masyarakat
2024-07-08
0
Qaisaa Nazarudin
Kata2 dan ucapan itu gak cocok keluar dari seorang guru, Malah cocoknya keluar sari mulut seorang Pelakor yg sedang cemburuan,ckk...
2024-01-06
0
🍒⃞⃟•§¢•🎀CantikaSaviraᴳᴿ🐅
ketika seorang wanita cemburu dia akan lupa dgn rasa malunya
2023-09-08
1