Setelah Rama meletakkan tubuh sang istri di atas tempat tidur. Pria itu tidak langsung menyerang Putri begitu saja, meskipun is sangat berhak atas diri Putri. Sejenak Ia menutupi tubuh istrinya dengan selimut. Putri pun terkejut dan tidak mengerti dengan sikap suaminya. Apakah suaminya tidak bernafsu melihat dirinya?
Kemudian Rama beranjak pergi, namun Putri menahan tangan sang suami dan bertanya, "Kamu mau kemana, Mas! Kenapa pergi?" tanya gadis itu penasaran.
"Kamu tunggu di sini, aku ke kamar mandi sebentar," jawab Rama sambil menatap sang istri. Putri pun mengangguk dan melepaskan tangannya dari tangan sang suami. Kemudian Rama mulai masuk ke dalam kamar mandi tanpa ditutup pintunya. Putri pun memperhatikan ke arah kamar mandi itu dan penasaran apa yang sedang dilakukan oleh Rama.
Dari dalam kamar mandi itu, terdengar suara gemericik air dari keran. Ternyata Rama sedang mengambil air wudhu.
"Suamiku berwudhu? Bukankah sekarang belum waktunya sholat isya?" batin Putri bertanya-tanya. Karena mereka baru saja melaksanakan sholat Maghrib berjamaah. Tak berselang lama Rama keluar dengan wajah yang segar dan tentunya pria itu terlihat begitu tampan setelah wajahnya terkena air wudhu.
Putri melihat kedatangan suaminya dengan tersipu malu. ia pun terkejut kenapa sang suami yang awalnya memakai celana, setelah keluar dari mandi, justru Rama memakai sarung.
Rama mulai beranjak naik ke ranjang tidur bersama istrinya. Meskipun Putri sudah mempersiapkan diri untuk melakukannya malam ini. Nyatanya Rama masih malu untuk memulainya.
Apalagi saat Putri melihat suaminya yang sedang memakai sarung, jelas sekali terlihat pisang tanduk itu menonjol dengan jelas. Putri pun tertawa kecil sambil menutupi wajahnya.
"Kenapa tertawa?" tanya Rama sambil menatap wajah sang istri yang sedang tersipu-sipu.
"Enggak kok, lucu aja lihat kamu."
"Lihat aku? Memangnya aku kenapa?" sahut Rama yang masih grogi untuk memulainya.
"Kamu ngapain pakai sarung, Mas?"
Mana nonjol banget lagi itunya," tanya Putri yang tidak bisa menahan rasa ingin tertawanya. Rama spontan melihat ke arah yang disebutkan oleh sang istri. Memang benar, pisang tanduknya memang benar-benar menonjol.
"Emangnya tidak boleh pakai sarung! Tadi aku ambil wudhu dulu. Karena celanaku basah terkena air. Jadi, terpaksa aku pakai sarung yang masih ada di dalam kamar mandi, memangnya kelihatan nonjol apanya?" jawab Rama menjelaskan sekaligus bertanya balik dan pura-pura tidak tahu.
"Oh ... yang nonjol itu, punya kamu, aduh apa ya namanya ...." jawaban Putri seketika membuat Rama menatap terus ke arah istrinya yang berada di dalam selimut. Putri pun juga membalas tatapan wajah Rama yang masih bingung harus memulai dari mana. Karena pria itu juga baru pertama melakukan ini untuk pertama kalinya.
Rama yang semula cuma duduk sedikit menjauh. Kini, pria itu duduk di samping dan mendekati istrinya sembari meraih tangan Putri.
Putri terlihat malu-malu, pria yang selama ini ia panggil dengan pak guru. Mendadak pria itu berada di sampingnya dan menjadi suaminya. Apalagi saat ini Putri hanya berbalut selimut yang menutupi tubuh polosnya.
"Kamu tahu, Put! Aku sangat bahagia mendengar jika kamu juga mencintaiku. Dengan begitu, cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku tidak tahu jika seandainya kamu tidak membalasnya. Pasti aku malu sendiri," ucap Rama memulai obrolan mereka.
Putri menyandarkan kepalanya pada bahu suaminya dan mengusap dada bidang itu dengan lembut. "Itulah cinta, Mas. Cinta datang begitu saja tanpa kita sadari. Aku juga tidak tahu kenapa aku merasakan jatuh cinta kepadamu. Hanya saja aku masih takut, jika saja kamu masih mencintai Kak Dinda. Makanya aku tepis perasaan itu dan aku tidak mau dicap sebagai pelakor," ungkap Dinda yang terus mengusap-usap dada Rama hingga akhirnya Putri tanpa sengaja melepaskan kancing baju suaminya.
"Pelakor? Kamu ada-ada saja. Salah dia sendiri pergi begitu saja. Jika nanti dia datang, aku akan mengatakan kepadanya jika sekarang aku sudah mencintai adiknya bahkan aku sudah menikahi adiknya." Rama berkata sembari memberanikan diri untuk merangkul pundak sang istri. Putri mendongak menatap wajah Rama. Keduanya pun saling memandang, hingga akhirnya bibir mereka saling bersentuhan.
Ciuman itu terasa begitu memabukkan, sia-sia sama-sama menikmatinya. Hingga tanpa sadar Putri menarik selimut itu sampai menutupi tubuh keduanya. Tentu saja, kini kedua insan itu berada di dalam selimut. Hanya terlihat kepala mereka yang menyembul keluar.
Entah apa yang dilakukan oleh Rama, sehingga Putri terlihat mendongak dan menggigit bibir bawahnya. Kini, hanya kepala Putri yang terlihat dari luar. Lantas, kemana kepala sang suami?
Di dalam selimut itu tampak bergerak-gerak, hanya kepala Putri saja yang terlihat dan akhirnya, keluar dari balik selimut itu sarung yang sudah dipakai Rama saat itu. Sarung itu terlepas dan kini tergeletak di atas lantai. Mungkin, saat ini keduanya sudah sama-sama full naked dan sudah saling bersentuhan.
Tak berselang lama, kepala Rama mulai muncul dari balik selimut dan menatap wajah Putri dengan sayu.
"Mas!!"
"Sekarang?" sahut Rama yang sudah bersiap untuk berlayar bersama ke pulau cinta. Putri menganggukkan kepalanya. Putri samar mendengar Rama yang seperti membaca sebuah doa sebelum dirinya benar-benar masuk.
"Bismillah Allahhumma jannibnas Syaithona wa jannibis Syaithona maa razaqtana,"
Perlahan namun pasti, Putri menggigit bibir bawahnya ketika Rama mulai beraksi mendorong sesuatu yang seharusnya masuk ke dalam sana.
"Emmmm ... Mas, sakit!!" rintih gadis itu sembari mencengkram erat punggung suaminya. Sejenak, Rama berhenti dan memberikan kesempatan untuk Putri agar sang istri rileks dan tenang.
"Kamu sakit? Maafkan aku, jika sudah membuatmu sakit seperti ini, aku akan berhenti!" seru Rama sambil berusaha menarik sebagian pisang tanduk yang belum masuk seluruhnya itu.
"Berhenti? Jangan, Mas! Jangan berhenti, ini adalah hakmu dan kewajibanku. Aku sudah sangat iklhas untuk menyerahkan diri ini padamu. Teruskan, jangan berhenti!" ucap Putri yang bersiap untuk merasakan sensasi ternikmat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Yakin?"
Putri hanya mengangguk pelan dengan tatapan matanya yang sendu. Rama pun perlahan bergerak begitu pelan agar sang istri tidak merasakan sakit yang berlebihan. Meskipun Rama belum pernah merasakan sebelumnya. Sebagai seorang pengajar, tentunya Rama juga sudah membaca dan mengetahui informasi bagaimana kondisi wanita yang baru saja pertama berhubungan badan. Dan Rama tahu betul kondisi Putri yang tentunya pasti merasakan sedikit sakit saat melakukan untuk pertama kali.
Maka dari itu, Rama tidak ingin terburu-buru untuk segera melakukannya. Ia bangkitkan dulu gairah sang istri dengan mencumbu dan menstimulasi rangsangan dengan menyentuh di bagian titik-titik syaraf tertentu. Seperti di leher, dada, bibir, perut dan tentunya di area bawah perut.
Rama membangkitkan gairah sang istri di daerah-daerah itu dengan sentuhan dan kecupannya yang hangat. Benar saja, Putri pun semakin dibuat gila dan pada akhirnya ia tidak menyadari jika Rama sudah berhasil masuk dalam sempurna.
Rama tersenyum melihat wajah sang istri yang tidak merasakan sakit ketika dirinya berhasil menerobos benteng keperawanan sang gadis.
Di dalam kamar itu. Akhirnya dua insan yang sudah terikat pernikahan itu saling mencurahkan rasa dan cinta. Gerakan lembut dan tidak brutal semakin membuat Putri tidak bisa lepas dari suaminya.
Dalam percintaan itu, mereka saling menatap dengan tatapan yang sayu. Diiringi dengan gerakan yang tetap konstan dan dalam posisi original. Tentu saja, karena keduanya masih pertama kali melakukannya tanpa tutorial dari video panas atau membaca novel hot.
Namun, meskipun begitu. Rama meletakkan sebuah bantal di bawah pantat istrinya sehingga ia bisa masuk begitu dalam ke sana dan tentunya itu sangat membantu Rama untuk membuahi sel telur sang istri agar segera dihadirkan zuriat untuk mereka berdua. Mengingat kedua orang tua Rama sudah sangat menginginkan cucu darinya.
Hampir 30 menit. Pada akhirnya Rama keluar dari selimut itu. Tubuhnya begitu berkeringat, nafasnya terlihat ngos-ngosan. Mereka berdua seolah baru saja lari maraton seratus meter dan baru saja berhenti.
Rama melihat wajah istrinya yang juga terlihat berkeringat. Kemudian ia mencium kening sang istri dan berkata, "Terima kasih muridku yang cantik! Nanti aku akan beri kamu nilai matematika 9 pada nilai ujianmu," seru Rama sambil mengusap rambut Putri.
"Kok 9 sih, kenapa nggak digenapin 10 aja sih, Mas!" protes Putri.
"Kamu mau nilai 10?"
Putri menganggukkan kepalanya senang.
"Tentu saja aku akan memberimu nilai 10. Tapi ada syaratnya," ucap Rama yang mulai nakal.
"Setelah ini kita mandi, lanjut sholat isya, lalu makan malam. Setelah itu aku ingin nambah lima kali malam ini. Kamu sanggup??" seru Rama dengan tersenyum sumringah.
"Lima kali? Tidak masalah, kamu minta berapapun aku tidak keberatan. Ternyata rasanya nggak sakit seperti yang teman-teman ceritakan. Enak-enak aja kok, ya meskipun awalnya sedikit sakit, eh berdarah nggak sih," ucap Putri sambil melihat sprei yang ia duduki. Nyatanya, tidak ada bekas darah yang tertinggal di atas sprei berwarna putih itu.
"Nggak ada darah? Aku nggak berdarah, Mas? Tapi aku masih perawan, Mas. Beneran!" seru Putri yang khawatir jika Rama menganggapnya tidak perawan karena tidak berdarah di malam pengantin mereka.
"Yang bilang kamu tidak perawan itu siapa? Apa hanya karena kamu tidak berdarah, lantas aku bilang kamu tidak perawan?" tanya Rama sambil menatap bola mata sang istri.
"He em, kata teman-teman seperti itu. Jika seorang wanita tidak berdarah di malam pengantinnya. Itu tandanya dia sudah tidak perawan. Sama kayak aku, tapi beneran aku masih perawan, Mas. Kamu percaya, kan!!" rengek Putri sambil memeluk suaminya.
"Dengarkan aku! Banyak yang salah mengartikan tentang seorang gadis perawan atau tidak perawan di malam pengantinnya. Keperawanan seorang gadis tidak bisa dilihat dari keluarnya darah atau tidak di malam pertama. Semua itu tergantung bagaimana seorang suami memperlakukan istrinya di malam pengantin. Jika suaminya tahu bagaimana membangkitkan gairah sang istri. Maka, istri tidak akan terlalu kesakitan bahkan dia tidak akan merasa sakit saat pertama melakukannya. Sekarang aku tanya, apa kamu merasa sakit saat aku masuk?" tanya Rama sambil tersenyum.
"Enggak sama sekali, malah aku nggak tahu kalau sudah masuk semuanya. Nggak sakit, enak malah!!" sahut Putri sambil tersenyum malu-malu.
"Itu dia pentingnya seorang suami. Suami harus paham setiap wanita memiliki selaput dara yang berbeda-beda, ada yang tebal dan ada yang tipis. Selaput dara pun bisa pecah meskipun sedang tidak melakukan hubungan badan. Misalnya karena olahraga ataupun terjatuh serta kecelakaan, banyak faktornya. Dan seorang suami harus paham betul bagaimana caranya membuat istrinya rileks dan tenang, agar rasa sakit itu bisa hilang dan berganti rasa nikmat yang tentunya kita berdua yang merasakannya, dan tentunya selaput dara itu tidak akan mudah terkoyak dan robek karena paksaan, karena kamu sudah sangat terangsang sehingga jalan itu menjadi licin dan mudah untuk aku masuk ke dalam," Rama menjelaskan semua itu kepada sang istri. Dan Putri pun mulai mengerti.
Meskipun Rama juga belum pernah melakukannya. Setidaknya Rama sudah memiliki bekal untuk memperlakukan dengan baik dan memuaskan istrinya di ranjang.
Putri semakin cinta kepada suaminya. "Ya ampun aku kok nggak sampai kepikiran sejauh itu sih! Dasar aku pemalas!" umpat Putri kepada dirinya sendiri.
"Salah sendiri, kamu sibuk dandan dan ngemall," sahut Rama. Putri pun tersenyum malu dan mencubit pinggang suaminya.
Setelah Rama memberikan pelajaran berharga untuk istrinya. Mereka pun membersihkan diri masing-masing. Rama membawa tubuh sang istri ke kamar mandi. Keduanya saling memandikan, sifat Putri yang sebenarnya pecicilan. Ia pun sangat gemas ketika melihat pisang tanduk suaminya yang sedang menggantung manja di bawah sana.
Sesekali Putri menggoda Rama dengan menarik pisang tanduk itu sehingga membuat Rama meringis kesakitan.
"Eh eh jangan dong, putus nanti. Kamu mau ini putus!" sahut Rama sambil mengusap-usap pisang tanduknya.
"Habisnya lucu banget sih. Gumush!!" ucap Putri yang sangat gemas melihat milik suaminya.
"Gumush-gumush ... sakit, jangan ditarik-tarik! Coba punya kamu mana, aku mau operasi juga!!" Rama bergantian memaksa istrinya untuk menunjukkan miliknya.
"Eh jangan dong! Aku malu, dia udah nggak imut lagi ... eh jangan dong, Mas. Eh eh ...." Putri berusaha untuk menghindari sergapan suaminya.
Keduanya terdengar begitu riuh bercanda di dalam kamar mandi. Sampai akhirnya mereka melakukan aktivitas berikutnya yang tentunya malam ini akan semakin terasa menggairahkan.
*
*
*
Pagi itu, seperti biasa Rama dan Putri bersiap untuk berangkat ke sekolah. Apabila kemarin-kemarin keduanya terlihat tidak akrab dan saling diam. Tampak berbeda pagi ini. Putri terlihat senyum-senyum saat dipandang oleh suaminya. Seolah-olah ia teringat akan keseruan mereka semalam.
"Ayo berangkat!" ajak Rama sambil naik ke atas motornya. Putri pun ikut naik di belakang seperti biasa. Setelah Putri naik, Rama tidak segera melajukan motornya sehingga membuat Putri bertanya. "Katanya berangkat, kok diam aja? Bensinnya habis ya?"
"Aku tidak akan berangkat sebelum kamu pegangan," sahut Rama.
"Sudah, aku sudah pegangan kok!" sahut Putri sambil pegangan planger motor. Spontan Rama menoleh ke belakang. Dilihatnya sang istri yang sedang memegangi planger motor. Ia pun menghela nafas.
"Bukan pegangan planger motor, tapi pegangan ini!" sahut Rama sembari mengarahkan tangan sang istri pada pinggangnya.
Putri pun tersenyum, "Katanya dulu nggak boleh pegang-pegang, sekarang malah minta. Gimana sih!"
"Itukan dulu! Sekarang beda. Sudah jangan banyak protes, kita berangkat!"
"Nanti kalau ada yang lihat gimana, Mas?" tanya Putri khawatir.
"Halah bilang aja udah biasa dibonceng Kakak ipar. Lagipula nggak bakalan ada yang lihat. Nanti setelah sampai dekat sekolah kita bersikap seperti biasa," ucap Rama sambil melajukan motornya. Putri pun tersenyum dan ia pun mengikuti perintah sang suami.
Mereka berdua terlihat begitu dekat. Selama dalam perjalanan, Putri berpegangan pada pinggang sang suami. Hingga tiada mereka sadari. Ada sebuah mobil yang berada di belakang mereka dan mobil itu adalah mobil Bu Andin.
Tentu saja Bu Andin sangat terkejut melihat kedekatan Putri dan Rama.
"Pak Rama, Putri! Mereka mesra sekali? Tidak biasanya mereka seperti itu? Ada yang aneh!" ucap wanita itu sambil menyetir mobilnya. Putri masih belum menyadari jika di belakang mereka ada mobil yang dikendarai oleh Bu Andin.
...BERSAMBUNG...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
maya ayu
laahh othooor sendiri ngetik novel hot 🤣🤣🤣🤣
2024-06-08
0
Qaisaa Nazarudin
Menurut ku mana gadis yg baru diperawanin ya pasti berdarah lah,nama nya juga baru pertama kali selaput dara nya di terobos..
2024-01-06
0
Puja Kesuma
brrti klo gk berdarah selaput putti blom sobek dong... msh prawan 😁
2023-07-01
0