Perlahan, Putri memberanikan dirinya untuk mengatakan apa yang juga ia rasakan selama ini selama menjalani istri seorang guru killer seperti Rama.
"Jangan bilang cinta sama saya, Pak! Saya tidak mungkin mengambil cinta Bapak untuk kak Dinda. Saya sangat menyayangi Kak Dinda. Saya tahu apa yang dilakukan oleh kak Dinda pasti sangat menyakiti hati Pak Rama. Bukan Pak Rama saja yang sakit, tapi kedua orang tua saya juga pasti sakit dan kecewa. Tapi, meskipun begitu. Saya tidak berhak mendapatkan cinta yang seharusnya Bapak serahkan untuk kak Dinda, meskipun sebenarnya saya juga kagum dengan Bapak. Bapak memang seorang guru yang nyebelin, bikin kesel dan nggak ada asyik-asyiknya. Tapi, saya sangat kagum dengan kegigihan Pak Rama memberikan kami ilmu dan pengetahuan, apalagi setelah saya tahu jika pak Rama sudah menyembunyikan suara emas Bapak saat mengaji. Sangat jarang ditemui pria seperti Bapak. Di balik sifat Bapak yang tegas dan killer ... ternyata Bapak seorang hamba yang taat dan itulah kenapa saya jadi suka sama Bapak ... Tapi, saya juga sadar sesadar-sadarnya, saya tidak berhak untuk mengambil cinta Kak Dinda, jadi saya harus membuang jauh-jauh perasaan itu!" ucap Putri dengan malu-malu.
Mendengar pengakuan dari Putri, Rama pun tersenyum dan ia mulai berani menyelipkan rambut Putri di belakang telinganya. Putri merasa teramat gugup dan ia pun semakin salah tingkah.
"Em ... maaf, Pak! Sa-saya ...." belum selesai berbicara, Putri dikejutkan dengan pelukan yang Rama lakukan tiba-tiba.
Putri membulatkan matanya ketika kepalanya sudah bersandar pada pundak suaminya. Sementara itu satu tangan Rama melingkar pada pinggang dan satu tangan yang lainnya mengusap rambut sang istri.
"Dulu aku memang mencintai Dinda. Tapi sekarang semuanya sudah berubah, apa aku salah jika aku mulai mencintai adiknya? Katakan, apa aku salah jika aku jatuh cinta kepadamu, Put?" ucap Rama sambil terus memeluk Putri.
"Salah, apa yang bapak lakukan itu salah. Perasaan kita salah. Saya tidak bisa mencintai Bapak dan Pak Rama juga tidak bisa mencintai saya begitu saja. Ini salah pokoknya salah. Kak Dinda pasti kecewa sama Bapak, dan pastinya dia juga akan kecewa sama saya jika saya berani mencintai pria yang dicintainya ...." sahut Putri yang berusaha untuk menolak perasaan cinta di antara mereka.
Seketika Rama melepaskan pelukannya dan menatap dalam-dalam wajah sang istri sambil menangkup wajah Putri. "Tidak ada yang salah dengan perasaan kita. Aku mencintaimu dan kamu mencintaiku, perasaan ini datang begitu saja, mengalir dalam hati dan aku benar-benar mengakuinya jika aku sudah jatuh cinta kepadamu, Putri!" ungkap Rama dengan suara yang hampir tertahan.
"Lalu, Kak Dinda? Bagaimana jika nanti dia pulang? Pak Rama pasti kembali kepadanya dan saya harus merelakan Bapak!" ucap Putri.
"Dinda? Aku sudah tidak perduli lagi dengannya. Dia saja tidak perduli denganku. Lantas, apakah aku harus mengharapkannya kembali? Aku sudah mengikhlaskan kepergiannya. Karena sekarang aku sudah bahagia dengan seorang istri dan juga muridku sendiri," sahut Rama dengan tegas.
"Istri?" Putri menatap begitu dalam bola mata itu.
"Iya, istri. Kamu akan tetap menjadi istriku untuk selamanya. Dan aku tidak akan merahasiakan lagi pernikahan kita. Setelah kamu lulus sekolah, aku akan mengumumkan kepada semua orang jika kamu adalah istriku. Sekarang, kamu masih beberapa bulan lagi lulus sekolah. Aku akan sabar menunggu waktu itu untuk mengatakan kepada dunia bahwa Putri Anastasya adalah istri Rama Airlangga." Rama berkata sembari mendekati wajah Putri sehingga bibir mereka hampir bersentuhan.
Sadar jika Rama akan menciumnya. Putri pun memalingkan wajahnya karena malu. "Maaf, Pak! Saya belum siap untuk terlalu dekat dengan Bapak. Maaf jika saya belum bisa menjadi istri yang baik, saya butuh waktu ..."
Mendengar ucapan dari sang istri. Rama pun tersenyum dan menundukkan wajahnya. Kemudian ia mengusap puncak kepala Putri sambil berkata, "Tidak apa, aku bisa mengerti. Lagipula aku juga tidak akan memaksamu. Toh kamu juga masih bocah, rasanya masih nggak enak. Kamu sendiri kan yang bilang seperti itu!"
Putri tertawa kecil, ternyata sang suami masih ingat ucapannya tempo hari.
Karena hari mulai malam. Hingga akhirnya terdengar suara kumandang adzan Maghrib. Rama mengajak istrinya untuk sholat berjamaah terlebih dahulu, dan Putri pun menganggukkan kepalanya.
Untuk kali pertama. Mereka berdua sholat berjamaah. Rama menjadi imam Putri dan berharap ia akan menjadi imam Putri untuk selamanya.
Keduanya berdoa dalam hati masing-masing. Rama berharap hubungannya dengan sang istri akan selalu bahagia dan selalu mendapatkan ridho Rabbnya dan ridho kedua orang tuanya dan ia berharap Dinda tidak akan menjadi penghalang untuk rumah tangganya nanti.
Di sisi lain, Putri melihat kekhusyukan suaminya dalam memanjatkan doa. Gadis itu pun mulai berpikir apakah dirinya harus memberikan hak suaminya. Karena untuk mendapatkan suami yang Sholeh seperti ini sangatlah susah.
"Ya Allah, pria sebaik ini kenapa sampai kak Dinda meninggalkannya? Dia memang dingin dan sangat introvert. Tapi sebenarnya pak Rama adalah orang yang sangat beriman, aku sangat yakin pasti pak Rama sangat menyayangi dan menghormati kak Dinda saat mereka berpacaran. Dan sekarang aku sudah menjadi istrinya, apakah aku mampu membuat Pak Rama bahagia? Sampai saat ini pak Rama belum pernah mendapatkan haknya sebagai seorang suami. Tapi dia sudah memberikan hak lahir kepadaku, aku memang tidak pernah kekurangan dalam uang dan materi, dia selalu memberiku uang lebih. Tapi, aku tidak pernah memberinya apa-apa. Apa mungkin aku harus melakukannya??"
Tiba-tiba saja Rama menoleh ke belakang. Putri pun terkesiap ketika wajah tampan yang sedang memakai peci dan baju koko itu tersenyum dan mengulurkan tangannya kepada Putri.
"Ahhh ... meleleh aku tuh, dia semakin tampan saja," batin Putri yang tidak berkedip melihat wajah sang suami.
"Putri!" panggil Rama, spontan Putri terkejut dan langsung meraih tangan Rama dan menciumnya.
Setelah Putri mencium tangan sang suami. Mereka pun beranjak untuk melakukan aktivitas berikutnya. Putri menyiapkan makan malam untuk sang suami. Tentu saja mereka berdua terlihat kerja sama di dalam dapur. Suasana mulai berubah, biasanya mereka berdua tampak saling diam dan cuek. Kini mereka lebih akrab dan Rama tidak sungkan-sungkan mencium pipi istrinya.
Putri pun juga membalasnya juga dengan mencium pipi Rama tiba-tiba kemudian lari menjauh. Akhirnya mereka berdua pun kejar-kejaran layaknya anak-anak yang sedang bermain petak umpet.
Putri menghindari kejaran suaminya dengan bersembunyi di balik korden jendela. Tentu saja Rama mencari-cari keberadaan sang istri yang tiba-tiba menghilang.
"Putri, dimana kamu, Sayang? Aku pasti akan menemukanmu segera. Awas saja ya kalau ketemu, aku tidak akan melepaskanmu!" seru Rama sambil memeriksa di setiap sudut ruangan. Dan akhirnya ia pun tahu jika sang istri sedang bersembunyi di balik korden jendela. Karena Rama melihat ada sepasang kaki milik Putri yang masih terlihat dari bawah.
"Di situ rupanya!" batin Rama sambil tersenyum smirk. Ia pun berjalan menuju ke arah korden berwarna biru itu dengan sangat pelan agar Putri tidak curiga.
Putri pun tampak menutup bibirnya rapat-rapat. Ia tidak ingin sang suami mengetahui dirinya sedang bersembunyi di balik korden jendela.
"Hufft mudah-mudahan Pak Rama nggak tahu aku ada di sini, jika ketemu bisa-bisa gawat!!" batin Putri yang berusaha untuk tetap tenang.
Sudah beberapa lama Putri bersembunyi di balik korden. Tapi, Rama belum juga menemukan dirinya. Ia pun merasa senang ketika sang suami tidak bisa menemukan dirinya.
"Hmmm pasti Pak Rama tidak bisa menemukan keberadaanku di sini, itu bagus. Sekarang, aku mau keluar dulu, gerah di sini!"
Putri pun perlahan membuka tirai jendela itu dan mengintip apakah suaminya masih ada disekitarnya. Nyatanya ia tidak melihat tanda-tanda jika sang suami berada di sekitarnya. Ia pun segera keluar dari tirai jendela itu. Namun, tiba-tiba saja Putri dikejutkan dengan seseorang yang memeluknya dari belakang.
"Aku menemukanmu!" suara itu adalah suara Rama yang sedang memeluk istrinya dari belakang.
Spontan Putri membalikkan badan dan tersenyum malu. Bagaimana bisa sang suami tiba-tiba berada di belakangnya dan memeluknya mesra.
"Sekarang aku sudah menemukanmu, dan kamu tidak bisa lari lagi dariku," ucap Rama.
"Emm ... iya deh saya nyerah. Sekarang kita makan malam dulu. Nanti keburu dingin," ajak Putri untuk mengalihkan pembicaraan.
"Tidak, aku masih belum lapar!" jawab Rama yang masih tidak mau melepaskan tangannya dari pinggang istrinya.
"Emm ... jika kita nggak makan sekarang? Terus kita ngapain, Pak?" sahut Putri sambil menggerak-gerakkan bola matanya untuk menenangkan rasa gugupnya.
Seketika Rama tertawa melihat ekspresi wajah istrinya. Pria itu pun melepaskan tangannya dan beranjak pergi ke kamar.
"Ya sudah, aku ke kamar dulu. Aku mau memeriksa jurnal nilai kalian sebentar. Jika kamu lapar, kamu makan aja duluan. Nanti aku menyusul!" ucap Rama sambil beranjak ke kamarnya.
Putri pun menganggukkan kepalanya dan ia memperhatikan kepergian suaminya. Putri tersenyum, ternyata Rama benar-benar sudah membuat dirinya senam jantung, dag dig dug terasa begitu mendebarkan.
Satu menit, dua menit sampai 30 menit. Rama belum keluar juga dari kamarnya. Putri pun tidak enak jika makan malam sendirian tanpa suaminya. Putri pun memutuskan untuk memanggil sang suami yang sedang memeriksa nilai siswa-siswanya di kamar sebelah.
Di dalam kamar, Rama sedang menatap layar laptopnya. Putri melihat pintu kamar Rama yang sedikit terbuka. Kemudian Putri memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar yang terlihat sedikit remang-remang itu.
"Masuklah, Put!" titah Rama sambil terus menatap layar laptopnya. Putri pun memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamar sebelah yang saat ini dihuni oleh Rama sejak kepergian Bu Iin dan Pak Bambang.
"Kenapa lampunya harus dimatikan, Pak?" tanya Putri sambil melihat sekeliling kamar suaminya.
"Ya nggak apa-apa lah, aku lebih suka gelap-gelapan, ada apa kamu mencariku? Kamu kangen, ya!" jawaban Rama tentu saja membuat Putri tertawa kecil. Pria itu beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri sang istri.
"Hhmm ... GR, siapa juga yang kangen sama Bapak, saya kesini untuk mengajak pak Rama makan malam!" balas Putri.
"Eh ... jangan panggil bapak dong! Kamu boleh panggil itu jika di sekolah saja, tapi jika di rumah ya nggak usah," protes Rama.
"Terus, saya harus panggil apa dong?" tanya Putri sambil memegang pelipisnya.
"Ya terserah kamu, pokonya jangan panggil aku dengan bapak lagi, panggil Sayang juga nggak apa-apa," sahut Rama yang membuat Putri salah tingkah.
Gadis itu tampak malu-malu. Tiba-tiba saja suasana gelap seketika. Ternyata semua lampu padam.
"Loh kok gelap sih!" pekik Putri.
"Kamu tenang, ya! Sepertinya ada pemadaman listrik, di luar juga lampunya padam," sahut Rama yang saat itu langsung melihat ke luar jendela kamar yang juga menunjukkan lampu jalanan juga mati.
Spontan Putri meraba-raba apapun yang ada didekatnya untuk dirinya bisa keluar dari kamar itu. Karena kondisi gelap, tanpa sadar Putri menyentuh sesuatu yang seketika membuat Rama terkejut. Ia merasakan jika Putri tak sengaja sedang memegang pisang tanduknya, Rama segera menoleh ke arah sang istri di mana mereka berdua masih berada di dalam keadaan gelap gulita.
"Hahh ... maaf, Pak. Eh Mas ... eh aduhh maaf-maaf saya nggak sengaja!" spontan Putri menarik tangannya kembali saat ia merasa sudah menyentuh pisang tanduk milik suaminya. Putri mengetahui itu karena ia juga tak sengaja pernah menyentuhnya, sehingga ia masih hafal dengan kondisi benjolan dan ditekan terasa empuk dan sedikit keras.
Putri gemetaran dan ia pun berusaha untuk keluar dari kamar suaminya. Namun, tidak semudah itu ia bisa keluar, nyatanya Rama menarik tangan Putri dan membawanya ke dalam pelukannya.
Jantung Putri berdetak semakin kencang, begitu juga dengan Rama. Dalam suasana gelap itu, tak ada cahaya penerang yang bisa membuat mereka melihat wajah masing-masing. Tapi entah kenapa Rama begitu mudah mendapatkan bibir istrinya dan akhirnya ciuman itupun terjadi juga.
Putri mencengkram erat baju Rama ketika sang suami menciumnya begitu dalam. Desir-desir asmara kian bergelora. Keduanya sama-sama saling mengekspresikan perasaan masing-masing. Putri pun tidak sungkan-sungkan lagi untuk membelai wajah suaminya.
Ciuman itu mulai menjalar pada leher Putri. Bagi gadis seusianya. Tentu saja itu adalah hal yang baru ia rasakan, tak bisa dipungkiri jika sentuhan Rama benar-benar membuatnya lupa jika saat ini dirinya masih bersekolah dan berstatus sebagai seorang siswi.
"Ahhhhh ...." suara merdu itu lolos dari bibir Putri.
Pada akhirnya Rama pun berbisik mesra di telinga sang istri. "Bolehkah aku memilikimu!!"
Spontan Putri mendorong tubuh suaminya dan ia pun sangat takut. Mungkin itu adalah pengalaman pertama bagi Putri bermesraan dengan seorang laki-laki. Sementara itu, Rama yang sudah mulai terbakar hasratnya, ia pun tampak bingung, apa mungkin istrinya memang belum siap menerimanya.
"Aku minta maaf, aku khilaf! Jika kamu ingin pergi. Pergilah! Aku tidak akan melarangmu!" seru Rama yang akhirnya harus iklhas dan sabar jika sang istri masih belum ingin melayaninya.
Pria itu segera membalikkan badannya dan ia pun mencoba menenangkan diri dengan berdiri di depan jendela yang terlihat lebih terang daripada di dalam.
Putri menghela nafasnya. Untuk beberapa menit gadis itu berpikir sambil memperhatikan sang suami yang sedang berdiri di depan jendela. Setelah itu, ia pun membalikkan badan dan segera menuju ke arah pintu untuk keluar.
Siapa sangka, setelah Putri sampai di depan pintu ia justru menutup pintu tersebut dan menguncinya.
'Ceklek-ceklek!!'
Seketika Rama membulatkan matanya dan ia segera membalikkan badannya ketika mendengar suara pintu dikunci. Samar dalam kegelapan, terdengar suara Putri yang sedang berjalan menghampiri suaminya.
Putri berjalan sambil menanggalkan pakaiannya satu persatu. "Jika diri ini sudah ditakdirkan untuk menjadi bagian dari hidupmu. Lalu, untuk apa lagi aku menghindarinya. Tugas utama seorang istri adalah menyenangkan hati suaminya. Jika aku sudah ditakdirkan menjadi istrimu. Untuk apa aku harus menolaknya ... kamu berhak sepenuhnya atas diriku. Kamu bisa memiliki aku kapanpun kamu mau. Bahkan saat ini, aku sudah siap menerimamu sebagai suamiku!!"
Kini, Putri sudah berada di depan suaminya dengan kondisi tanpa sehelai benangpun. Karena semua kain yang menempel pada tubuhnya sudah ia lepaskan sendiri saat berjalan ke arah sang suami.
Di saat yang bersamaan. Lampu menyala, spontan Putri membalikkan tubuhnya karena sangat malu ketika di depannya Rama memandangnya tiada berkedip.
Sebagai laki-laki normal. Pastinya Rama dibuat tercengang melihat keindahan tubuh seorang wanita yang tentunya sudah tidak memakai apapun di sana. Pria itu mulai melangkahkan kakinya ke arah sang istri dan pada akhirnya, kedua tangannya menyibak rambut Putri ke samping sehingga tampaklah leher jenjang itu. Rama mengecupnya mesra dan berbisik, "Apa ini artinya aku boleh melakukannya, Sayang?"
Putri membalikkan badannya dan segera melingkarkan tangannya pada leher sang suami, "Tentu saja boleh, sangat boleh, Baby!!"
Tanpa menunggu lama, Rama membawa tubuh istrinya ke tempat peraduan mereka, melanjutkan sesuatu yang seharusnya mereka lakukan sebagai pasangan suami istri.
...BERSAMBUNG...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
🍒⃞⃟•§¢•🎀CantikaSaviraᴳᴿ🐅
ku berikan secangkir kopi untukmu Thor...semangatgttg
2023-09-08
0
didi aja
lah bukannya barusan aja putri msh menghormati perasaannya dinda, blm yakin dgn perasaannya sndiri ke rama dll. bbrp jam aja bisa brubah ya
2023-07-15
0
Puja Kesuma
bocil tp gercep jg buka pakaiannya meringankan kerjaan suami 😁😁
2023-07-01
0