Selama jam pelajaran, Rama terus memperhatikan istrinya yang sedang mengerjakan soal. Meskipun sesekali Putri melirik ke arah guru killernya itu.
Rama memastikan jika Putri belajar dengan sungguh-sungguh agar istrinya itu benar-benar memperhatikan pelajaran darinya. Karena biasanya Putri tidak terlalu memperhatikan pelajaran yang ia terangkan di depan. Putri sibuk bicara sendiri dengan teman-temannya, atau tidak gadis itu sibuk mengaca.
Karena grogi diperhatikan terus oleh sang guru, Putri pun mengambil sebuah buku kemudian ia buka bukunya menjadi dua. Setelah itu, Putri letakkan buku tersebut dalam posisi berdiri tepat di atas meja paling depan. Sehingga Putri bisa menyembunyikan wajahnya dengan sedikit menunduk dan Rama pun tidak bisa melihat apa yang sedang dilakukan murid istimewanya itu.
Benar saja, ternyata Putri sedang tidak mengerjakan tugas. Ia justru sedang asik chat dengan Alex. Karena mereka sempat saling tukar nomor hp saat berkenalan tadi.
Rama memperhatikan Putri yang sedang senyum-senyum sendiri. Rupanya saat itu ia sedang berbalas chat dengan Alex yang duduk di bangku belakang. Karena curiga dengan sikap istrinya, Rama pun mulai berjalan mendekati bangku Putri. Untuk sejenak, Rama memperhatikan istrinya yang sedang berbalas chat dengan entah dengan siapa ia tidak tahu.
"Hai Put!"
"Siapa ini?"
"Aku Alex!"
"Oh Alex, sorry aku nggak tahu, nomor kamu belum aku save,"
"Cepetan di save dong,"
"Iya, habis ini."
"Hehehe iya nggak apa-apa santai saja, oh ya Put! Nanti sore kita jalan yuk!"
"Boleh, kemana? Aku ajak anak-anak ya!"
"Iya nggak apa-apa, malah enak kita pergi ramai-ramai. Aku mau ajak kamu ke alun-alun kota, aku jemput kamu di rumah ya!"
"Nggak usah, kita ketemu di halte bus saja, aku dan anak-anak biasanya ngumpul di sana sebelum pergi,"
"Kenapa?"
"Nggak apa-apa, ayahku galak."
"Oke deh, kalau begitu aku tunggu di halte bus."
"Iya,"
'Braaakkk!!!'
Tiba-tiba saja, suara gebrakan meja seketika membuat Putri sangat terkejut. Spontan ia melepaskan ponselnya sampai terjatuh di atas lantai. Tentu saja ponsel Putri menjadi berantakan, beruntung masih bisa menyala meskipun layar LCD nya sedikit retak.
"Yahhh ponsel baruku!! Bapak tega banget sih ngagetin saya. Ini ponsel masih baru, susah payah saya nabung buat beli ponsel impian. Sekarang layarnya pecah gara-gara Bapak," seru Putri dengan ekspresi wajah sedih saat melihat layar ponsel miliknya retak membentuk garis vertikal.
"Aku tidak perduli. Kamu sudah tahu peraturannya jika mengikuti pelajaran bapak? Tidak boleh ada yang pegang HP. Apalagi sampai kirim chat seperti itu. Masih untung bapak tidak menyita HP mu, ini sebagai pelajaran bagi siapa saja yang sedang bermain ponsel selama pelajaran saya. Maka saya tidak akan segan-segan mengambil ponsel itu dan orang tua kalian yang harus mengambilnya di kantor, faham!" seru Rama kepada semua siswanya tanpa terkecuali.
"Iya, Pak!!" jawab mereka serentak.
Kemudian Rama menatap wajah istrinya dengan sinis sambil berkata. "Itu akibatnya jika menyembunyikan sesuatu dari suami."
Dengan wajah cemberut, Putri menatap wajah Rama kesal. Ingin rasanya Putri mengumpat guru killernya itu. Tapi ia harus menahannya. Lagi-lagi, Putri harus bisa terlihat baik-baik di depan teman-temannya, supaya mereka tidak tahu jika sebenarnya ia dengan Rama sedang ada konflik pribadi.
Putri memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Ia pun kembali duduk di kursi dengan menatap suaminya yang sedang duduk sambil mengawasi siswa lainnya yang sedang mengerjakan tugas.
Mereka berdua saling menatap, seolah keduanya saling berbicara.
"Mimpi apa aku bisa menjadi istri guru galak ini! Ck, apes bener!"
"Lebih apes aku yang mendapatkan istri masih bocah, pecicilan dan selalu membuat kesal,"
"Bocah bocah, bukan saya yang bocah, tapi bapak tuh yang ketuaan. Tidak bisa lihat apa, saya tuh ibarat kupu-kupu yang baru netes dari kepompongnya, masih fresh dan masih unyu-unyu. Idiiih punya suami ketuaan kayak bapak apalagi galak, enggak banget!"
"Bocah tetap aja bocah, pasti ukuranmu masih nomor 32 iya, kan?"
"Sok tahu, emang pernah lihat,"
"Enggak pernah lihat, tapi berharap nggak akan pernah lihat. Pasti kecil sekecil merica,"
Seolah percakapan mereka sebuah telepati. Rama pun menyungging senyumnya seolah meledek Putri.
Putri pun memalingkan wajahnya dan pura-pura tidak perduli dengan guru yang ia anggap agak lain itu. Asli di dalam hati Putri, ia mengumpat gurunya habis-habisan.
"Sekecil merica, sekecil merica. Sok tahu jadi guru, biar kecil tapi pedes!"
*
*
*
Di saat jam istirahat, Putri dan teman-temannya sedang duduk santai bangku panjang di halaman sekolah. Mereka terlihat sedang bercanda sambil nyemil jajanan kecil yang mereka beli di kantin.
Tak berselang lama, Alex si murid baru lewat di depan mereka. Cewek-cewek itu tampak kegirangan dan salah tingkah. Begitu juga dengan Putri yang ternyata sangat suka gaya Alex yang mirip artis-artis Korea.
Alex tersenyum kepada sekumpulan gadis-gadis itu, sejenak ia melihat Putri yang sedang berada di antara mereka. Alex pun berjalan menghampiri Putri dan berbicara dengan gadis itu.
"Hai Put!" sapa Alex sambil tersenyum ke arah Putri.
"Oh hai juga!" balas Putri yang juga tampak tersipu.
Sementara itu teman-teman Putri yang lainnya terlihat menyoraki Putri dan Alex. Mereka berdua terlihat sangat cocok sehingga teman-teman Putri mendukung jika Putri dekat dengan Alex.
"Cieee ... yang punya gebetan baru!" goda Ririn.
"Apa sih, Rin!" sahut Putri malu-malu.
"Ya udah, kita tinggal dulu ya, kalian ngobrol aja, biar makin akrab, daaahh." Ririn dan beberapa teman Putri meninggalkan Putri bersama Alex. Mereka berdua tampak sedang duduk di bangku panjang dengan jarak sekitar satu meter, cukup dekat sehingga keduanya tampak begitu akrab.
Mereka membicarakan tentang asal mula di mana Alex sekolah dan kenapa pindah. Di saat mereka berdua sedang mengobrol. Tiba-tiba datang dari arah kanan, Rama yang sedang berjalan bersama Bu Andini, guru BP yang juga terkenal galak.
Dari kejauhan, Putri melihat suaminya yang sedang berjalan dengan Bu Andin sambil tertawa kecil.
"Pak Rama ngapain ketawa-ketawa sama Bu Andin? Di kelas aja nggak pernah ketawa kayak gitu, bahkan di depanku aja nggak pernah, ini malah ketawa ketiwi, sebel!" Putri terlihat begitu kesal ketika melihat suaminya bersama Bu Andin.
Benar saja, bukan hanya Putri yang kesal, tapi Rama juga ikut kesal melihat istrinya sedang duduk bersama murid baru, Alex.
"Ngapain mereka berduaan di sana! Bikin sakit mata saja, bukannya di kelas ini malah di sini berdua, benar-benar!" Rama tampak mengeratkan giginya saat ia melewati di depan Putri dan Alex yang sedang duduk berdua.
Bu Andin melihat Putri dan Alex yang sedang duduk berdua. Guru BP itu pun berhenti dan berkata kepada mereka berdua.
"Putri, Alex. Ngapain kalian berdua di sini? Kalian pacaran?" tanya Bu Andin serius. Sementara itu Rama yang berada di belakang Bu Andin, ia terus menatap wajah istrinya yang juga menatapnya kesal.
"Tidak, Bu. Kami hanya sedang mengobrol." Putri menjawab dengan tetap menatap wajah suaminya yang masih terlihat dingin.
"Halah, bilang saja kalian pacaran, kecil-kecil sudah pandai pacaran, ngerjain matematika saja nggak becus pakai pacaran segala. Bubar dan pergi ke kelas!" sahut Rama yang tiba-tiba lantang berbicara kepada keduanya.
Putri langsung berdiri dan segera pergi ke kelas tanpa mengatakan apapun. Wajah gadis itu terlihat sangat kesal dengan suaminya. Sementara itu Alex pun ikut pergi ke kelas dan minta maaf kepada kedua gurunya.
"Ihhh sebell!!! Kenapa aku harus mengalami nasib seperti ini ya Allah! Kakak, pulanglah! Urus tuh pak Rama, dia marah sama kakak, kenapa aku yang kena getahnya," sambil berlari kecil, Putri mengusap buliran bening yang tak terasa jatuh dari sudut matanya.
Rama melihat kepergian istrinya yang terlihat sedang terburu-buru. Sejenak, Rama mengusap wajahnya kasar setelah memarahi istrinya.
"Pak Rama kenapa?" tanya Bu Andin saat melihat raut wajah Rama yang gelisah.
"Oh tidak apa-apa, Bu. Permisi, saya harus segera pergi!" pamit Rama yang langsung pergi meninggalkan Bu Andin sendiri.
"Apa yang terjadi padaku? Tidak seharusnya aku bilang seperti itu pada Putri. Tapi aku juga tidak suka dia dekat dengan Alex." Rama membatin di sepanjang ia menuju ke kantor. Ia juga melewati depan kelas Putri. Sekilas ia menyempatkan untuk melihat ke dalam kelas.
Dilihatnya Putri yang saat itu sedang duduk di bangkunya dengan memainkan pulpen dengan wajah melamun. Seolah gadis itu sangat memikirkan apa yang dikatakan Rama kepadanya.
*
*
*
Sepulang sekolah, meskipun masih dongkol dengan guru matematikanya. Putri memberanikan diri minta izin kepada Rama untuk pergi ke rumah temannya untuk mengerjakan tugas kelompok. Karena kebetulan ada tugas membuat drama untuk ujian praktek sekolah. Sekalian dirinya akan pergi bersama Alex dan teman-temannya. Namun, Putri hanya izin pergi mengerjakan ke tugas kelompok saja, dan Rama pun menyetujuinya.
"Ingat, jangan pulang terlambat. Jam 5 harus ada di rumah. Jika lebih dari jam itu kamu belum pulang, aku akan menghukummu!" tegas Rama sebelum dirinya pergi meninggalkan Putri yang saat itu sedang berduaan di depan sekolah.
"Iya Pak. Saya pasti pulang sebelum jam 5 sore. Tapi jika terjebak macet gimana dong, Pak! Terlambat sedikit nggak apa-apa, kan?" tawar Putri. Rama pun tidak menjawabnya dan ia segera melajukan motornya ke jalan raya seolah tidak perduli dengan pertanyaan Putri.
"Busyet! Nggak dijawab, tuh guru emang nyebelin sumpah!" umpat Putri sambil mengepalkan tangannya.
Tak berselang lama Ririn dan beberapa teman yang lainnya menghampiri Putri dan melihat kepergian pak guru killer mereka.
"Kenapa Put? Kamu ada masalah sama pak Rama?" tanya Ririn.
"Enggak, aku cuma bilang saja sama Pak Rama kalau aku pulang terlambat, ada tugas kelompok sekalian kita jalan-jalan," jawab Putri sambil pura-pura tersenyum. Padahal dalam hatinya ia masih kesal dengan Rama.
Akhirnya, Putri dan teman-temannya segera pergi untuk mengerjakan tugas kelompok di rumah Ririn. Setelah mengerjakan tugas itu, mereka pun pergi jalan-jalan sebentar ke alun-alun kota bersama Alex yang akan mentraktir teman-temannya sebagai perkenalan murid baru.
Tak terasa, Putri dan teman-temannya menghabiskan waktu yang cukup lama di alun-alun kota hingga waktu menunjukkan hampir jam 5 sore. Putri pun melihat ke arah jam tangan dan ia bergegas untuk pulang.
"Aku pulang dulu ya!" pamit Putri.
"Loh Put, kok pulang sih. Aku antar ya!" tawar Alex.
"Nggak usah terima kasih, lain kali aja!"
Putri segera berlari kecil menuju ke sebuah taksi yang siap ditumpangi. Putri mulai panik semoga saja ia tidak terlambat pulang. Jika tidak, ia harus berhadapan dengan guru killernya di rumah.
*
*
"
Sementara di sisi lain, Rama mulai khawatir, kenapa istrinya belum pulang juga. Ia pun terlihat mondar-mandir menunggu kepulangan sang istri.
Bu Iin tidak melihat sang menantu di rumah, wanita paruh baya itu bertanya kepada putranya yang sedang mondar-mandir di depan pintu.
"Rama, istrimu belum pulang?"
"Belum, Bu!"
"Memangnya dia pergi ke mana?"
"Katanya ada tugas kelompok di rumah Ririn. Mungkin sebentar lagi juga pulang," ungkap Rama yang sebenarnya ia sangat khawatir Putri belum pulang. Ia takut saja ada teman-teman cowoknya yang mengganggu dia.
"Coba kamu tanya Ririn, kenapa Putri belum pulang, mungkin dia minta dijemput."
Mendengar ucapan dari sang ibu, Rama pun menggelengkan kepalanya dan tersenyum miring. "Minta dijemput! Putri itu udah gede, Bu. Masa pulang sendiri nggak berani. Apalagi ini masih sore," jawab Rama masa bodo.
"Ya sudah, kalau kamu nggak mau menghubungi orang tua Ririn. Biar ibu yang tanya. Berapa nomor telepon orang tua Ririn?"
Rama pun segera memberikan nomor telepon rumah orang tua Ririn, kemudian Bu Iin segera menghubungi nomor tersebut dan menanyakan keberadaan sang menantu apakah memang belum selesai tugas kelompoknya.
"Halo selamat sore! Benar ini rumah Ririn?"
"Selamat sore, iya betul dengan siapa saya bicara?" .
"Saya ibunya Putri. Tadi siang Putri izin mengerjakan tugas kelompok, apa memang anak-anak belum selesai atau Putri sudah pulang?"
"Ohh ... Bukannya anak-anak udah selesai dari tadi, mereka bilang mau pergi ke alun-alun kota sebentar. Mungkin sebentar lagi mereka pulang,"
"Apa? Tugas kelompoknya sudah selesai dan mereka pergi ke alun-alun kota?"
"Iya, Bu. Lagipula nggak apa-apa biarin saja, mereka juga ramai-ramai kok, nanti mereka juga pulang. Kebetulan ada pameran di sana. Dan Ririn bilang ada teman baru mereka yang bernama Alex sedang mentraktir makan, jadi saya izinkan mereka pergi."
Rama yang berdiri di belakang ibunya. Ia mulai geram dan mengepalkan kedua tangannya. Wajahnya terlihat memerah karena marah. Rupanya Putri sudah membohongi dirinya.
Di saat yang bersamaan, terdengar suara bel pintu. Rama segera membuka pintu itu dan benar saja, ternyata Putri baru saja pulang.
Seperti sedang melihat sosok hantu. Putri menutupi wajahnya dengan tangan saat melihat wajah killer Rama yang sangat ditakutinya.
"Dari mana saja kamu!" tanya Rama dengan nada dingin, sedingin es di kutub selatan. Putri mulai gemetaran dan berusaha untuk tenang.
"Dari tugas kelompok, Pak. Tadi kan saya sudah bilang sama Bapak," jawab gadis itu sambil cengengesan.
Tanpa basa-basi, Rama segera menarik tangan istrinya dan membawa Putri ke dalam kamar.
"Ehh ... bapak mau bawa saya kemana?" Putri terlihat mengikuti Rama yang terus membawa istrinya ke dalam kamar. Sementara itu Bu Iin hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah keduanya yang masih bertengkar dan ribut.
Bu Iin tahu betul bagaimana sifat putranya. Rama tidak mungkin melukai istrinya ataupun menyiksanya. Karena sebenarnya Rama adalah pria yang lembut dan mudah sekali tersentuh.
Sesampainya di kamar. Rama segera membawa istrinya ke dalam kamar mandi. Tentu saja Putri terkejut kenapa suaminya tiba-tiba membawanya di bawah pancuran air shower.
"Apa yang mau bapak lakukan?" teriak Putri ketika Rama mulai membuka keran air shower itu.
"Ahhhh ...!" Putri mendekap tubuhnya yang mulai menggigil, ia tidak tahu kenapa Rama melakukan ini padanya. Tubuh Putri basah, seragam sekolahnya pun ikut basah. Putri mulai gemetaran dan bibirnya mulai menggigil.
Rama hanya melihat Putri dengan tatapan tajam dan akhirnya keluarlah kata dari bibir pria dingin itu. Dan ia tidak membiarkan Putri pergi begitu saja.
"Kau tahu kesalahanmu, Putri? Kenapa aku memberikan hukuman ini padamu!" seru Rama dengan tegas. Putri pun merasa jika Rama melakukan hal ini karena pulang terlambat.
"Sa-saya minta maaf, Pak. Saya pulang terlambat," jawab gadis itu dengan kedinginan.
"Hmm ... bukan itu, ada satu kesalahan lagi yang benar-benar tidak bisa aku maafkan. Kamu sudah membohongiku," ucap Rama dengan nada penekanan.
"Sa-saya ...."
"Kamu pergi bersama teman-temanmu, bukan? Dan kamu pergi bersama murid baru itu, Alex? Sudah aku bilang berapa kali. Aku tidak suka kamu dekat dengan pemuda itu. Kenapa kamu masih saja membantah!!" Rama berkata dengan berteriak sehingga membuat Putri ketakutan dan menangis.
"Iya iya saya minta maaf, tapi tolong jangan bentak saya!" sahut Putri sambil menangis tersedu-sedu. Sejenak Rama menjauh dari istrinya dengan membelakangi Putri.
"Oke, aku minta maaf. Aku benar-benar marah hari ini. Aku tidak suka saja kamu berbohong padaku. Aku pasti izinkan kamu pergi ke rumah temanmu untuk mengerjakan tugas kelompok. Tapi tidak untuk ke tempat lain, apalagi dengan Alex. Bapak punya alasan kenapa kamu aku larang dekat dengan dia. Alex memiliki catatan buruk di sekolahnya yang lama. Kamu ngerti! Itulah kenapa Bapak khawatir kamu dekat dengan pemuda itu. Kamu dengar Put? Putri? Kamu dengar ucapan ... astaga, Putri!!"
Saat Rama membalikkan badannya ia melihat istrinya yang sudah terjatuh di atas lantai karena kedinginan.
Rama pun dengan cepat mengangkat tubuh Putri dan membawanya keluar dari kamar mandi. Putri pingsan karena ia menggigil. Rama terpaksa melepaskan pakaian Putri yang sudah basah kuyup oleh air. Jika tidak kondisi Putri bisa semakin kedinginan.
Putri tidur dengan posisi terlentang, wajahnya sangat pucat, Rama harus segera mengganti pakaian Putri dengan baju hangat. Rama mengambil nafas dalam-dalam. Perlahan, ia membuka kancing baju sekolah Putri dengan perasaan dag dig dug duer. Tentu saja Rama pasti menyentuh bagian sensitif Istrinya karena bagaimanapun juga ia harus cepat melepaskan pakaian Putri.
"Semoga aku bisa ... tahan Boy! Jangan nakal dulu, Putri adiknya Dinda. Dia masih kecil, masa depannya masih panjang, meskipun sekarang dia istriku dan aku berhak menyentuhnya. Dia berhak mendapatkan suami yang lebih baik daripada aku."
Sedikit demi sedikit, mata lelaki Rama mulai melihat kulit mulus istrinya. Sesekali Rama memalingkan wajahnya ketika ia membuka baju di bagian terpenting. Namun, ia tidak bisa menghindari jika tangannya pasti menyentuh sesuatu yang lembut dan terasa empuk.
"Oh ya Tuhan, kuatkan hamba! Apa ini empuk-empuk dan berbulu. Tidak tidak!"
Rama berusaha untuk menguatkan imannya ketika tangannya menyentuh aset berharga milik Putri.
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Idha Saja
panas dingin ya pak, yg sabar tahan dulu pak belom waktunya 😄
2024-07-31
0
Is Wanthi
Bu guru, putri mah bukan hanya pacaran tapi, sudah bersuami,,
2023-07-10
1
Ani
mau tau apa mau tau banget 😄😄😄😄😄😄
2023-07-05
0