"Kamu yakin sangat menyukai bau asam tubuhku?" tanya Rico, memastikan kembali, kepada wanita yang usianya hampir sama dengan dirinya. Wanita itu perlahan mendorong kursi roda Rico hingga mereka berdua masuk ke dalam kamar.
"Apa kamu membutuhkan bukti yang lebih akurat?" bukannya menjawab, wanita itu malah melempar pertanyaan sembari mendudukkan pantatnnya di tepi ranjang. Salah satu kakinya terangkat dan menyilangkannya di atas kaki yang lain. Matanya menatap Rico dengan tatapan yang cukup tajam.
"Ya nggak juga sih," Rico malah terlihat gugup karena tatapan wanita itu. "Kamu serius segel kamu ingin jebol olehku?" Rico mengalihkan ke pertanyaan lainnya.
Wanita itu menyeringai. "Kalau aku nggak serius, lalu apa untungnya aku datang kesini dan berebut dengan wanita lain?" lagi lagi si wanita melempar pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh Rico.
Rico hanya tersenyum cangngung. "Baiklah, jika kamu sudah yakin, tolong bantu aku pindah ke ranjang," si wanita mengangguk. Dia bangkit dari duduknya dan tangannya bergerak menyongsong tubuh Rico untuk dipindahkan ke atas ranjang. Meski Rico merasa tidak enak hati, tapi pemuda itu tidak punya pilihan lain lagi selain meminta bantuan dari wanita itu.
Begitu Rico terbaring diatas ranjang, pemuda itu langsung memerintahkan si wanita mulai menghirup semua bau asam yang keluar dari tubuhnya. Bukan hanya menghirup, tentunya wanita itu juga menempelkan bibirnya pada seluruh bagian tubuh hingga gejolk keduanya langsung berkobar.
Hingga beberapa menit waktu berlalu, Rico yang awalnya tidak yakin dapat menjebol mahkota milik si wanita, akhirnya dia berhasil melaksanakan tugasnya dengan sangat baik. Meskipun caranya agak sedikit sulit, tapi beruntung bagian kaki sebelah atas dan juga pinggang masih bisa diajak kerja sama. Kurang lebih tiga puluh menit, permainan Rico dan wanita itu selesai.
"Ternyata benar juga ya? Dijebol segelnya oleh anak presiden, sangat mengesankan," ungkap si wanita begitu permainan mereka selesai. Wanta itu masih setia menghirup sisa sisa bau asam yang keluar dari tubuh Rico.
"Mengesankannya bagaimana?" tanya Rico sambil membiarkan wanita itu mengendus semua bau badannya.
"Ya, aku merasa seperti menjadi wanita yang sangat istimewa gitu," ucap wanita dengan senyum yang cukup merekah. "Kamu berapa lama berada di kampung ini?"
Rico menggeleng sejenak. "Tidak tahu. Oh iya, apa kamu bisa membuatkan aku akun Bank?"
"Akun Bank? Buat apa?" kening wanita itu sampai berkerut menderngar pertanyaan Rico. "Bukankah kamu sudah punya memiliki akun bank sendiri?"
Rico menghembuskan nafasnya secara pelan. "Apa kepala kampung tidak cerita kalau aku hilang ingatan?"
"Oh iya," wanita itu sampai menepuk keningnya sendiri lalu dia cengengesan. "Aku lupa.Tapi kalau kamu bikin akun Bank, memang kamu ada uang?"
"Ya belum ada uang sih," jawab Rico.
Wanita itu lantas tersenyum dan dia melewati tubuh Rico untuk menghirup aroma asam pada bulu di sebelah kanan Rico. "Biar lebih mudah, kamu mending minta bantuan kepala kampung aja deh, Ric. Biasanya kepala kampung itu sangat dipermudah untuk urusan perbankan dan akan dibekali dana oleh pemerintah sebanyak sepuluh juta di dalam tabungannya."
"Oh yah?" Rico terlihat begitu takjub. "Banyak juga ya, sepuluh juta? Uang apa itu?"
"Sepuluh juta banyak?" Si wanita malah terkejut dengan ucapan pemuda yang bersamanya.
"Loh, ya memang banyak kan?" sekarang malah Rico yang tertegun mendengar ucapan si wanita.
"Hahaha ... itu termasuk sedikit," wanita itu malah tertawa. "Itu hanya uang terima kasih saja dari pemerintah karena mau menjadi bagian kecil dari pemerintahan itu sendiri. Setiap pejabat di negara ini memang seperti itu."
"Wahh! Kok enak banget ya?" Rico tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya.
"Hahaha ... mentang mentang lupa ingatan, gitu aja kamu sampai takjub, Ric," Rico hanya menanggapi ucapan wanita itu dengan cengengesan. Namun sejak saat itu, tidak ada lagi pembahasan diantara mereka berdua.
Rico cukup khawatir karena sejak permaianan usai, jam yang melingkar di tangannya belum menunjukan tanda akan munculnya sistem. Sampai beberapa puluh menit waktu berlalu, dua anak muda itu akhirnya tergoda untuk melanjutkan ronde ke dua.
"Terima kasih ya, kamu sudah mau menghabiskan malam bersamaku," ucap Rico satu jam setelah ronde kedua selesai. "Kenapa kamu nggak nginep di sini aja?"
Wanita yang sedang mengenakan pakaiannya itu lantas tersenyum. "Nggak lah. Aku harus bangun pagi untuk kuliah," tolak wanita itu dengan lembut. Rico pun tidak memaksa. Setelah wanita itu terlihat rapi, baru dia pamit untuk pulang.
Begitu si wanita menghilang dari pandangan, sistem yang Rico tunggu pun muncul dari dalam jam tangan. "Apakah hadiah misterius yang akan aku dapatkan kali ini?"
...@@@@@...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments
Nino Ndut
mc nya lebih pinter dikit napa..masa dikit2 nanya n kaget mulu..coba lebih natutal atau lebih "licik"..hadehh
2023-07-11
3