Mayasa tanpa sadar menghentikan langkahnya. Matanya menatap nanar.
Gaun cantik biru tuanya tampak pas dan cantik di badan Mayasa. Pembawaannya juga sungguh dewasa dan anggun. Semua pas.
Ya, semuanya terasa pas. Kecuali kehadiran 3 sosok di depannya itu.
Tiga sosok itu ia pandangi punggungnya dari kejauhan.
Punggung tua agak bungkuk itu milik Prambodo, atasan yang membantu karirnya, yang ada di saat-saat susahnya lewat uang bantuan dan koneksi ketika suaminya sakit hingga meninggal.
Punggung bungkuk yang ia tangisi waktu pria itu bilang ia sakit parah dan mungkin tidak akan bisa hidup lama lagi di dunia ini.
"Cassandra memang dingin. Tapi tolong ya May, kamu dekati dia kalau saya nggak ada. Dia butuh sosok ibu. Kamu kan keibuan. Saya takut anak itu kehilangan arah. Dia nggak punya siapa-siapa selain saya dan ibunya.
Kamu kan selalu bilang kalau berhutang budi pada saya. Anggap saja kamu lagi balas budi. Setidaknya coba dekati dia tuntun kalau dia salah arah. Kamu pasti paham maksud saya, kan?"
Lalu kata-kata yang ingin ia lupakan itu muncul lagi di ingatan Mayasa.
"Ah, kenapa waktu itu aku mengangguk, sih? Kenapa waktu itu aku menyanggupi?" Mayasa merasa dadanya sesak.
"Bu May, ayo masuk. Kok bengong di sini." Erin-juniornya di kantor tampak mengejutkannya dari belakang.
Mayasa langsung salah tingkah.
"Eh, oh. Ng--nggak, kok. Tadi lagi benerin sepatu. Kayaknya saya mau ke toilet dulu sekalian. Duluan aja, Er." Masaya mencoba mengalihkan perhatian.
Junior cantik bernama Erin itu lalu mengangguk dan pergi, bersamaan dengan lift yang ditumpangi Pras, Cassandra dan papanya tertutup.
Punggung-punggung yang Mayasa pandangi itu menghilang, berganti dengan sekelebat bayangan tampak muka sebelum lift tertutup rapat.
Lewat beberapa detik itu Mayasa bisa melihat Pras tampak tersenyum sambil menatap Cassandra yang wajahanya kelihatan ketus.
"Oh, lebih cantik dari dugaanku. Tinggi, ramping, putih, dan yang jelas muda." Mayasa membatin dengan lirih.
Mayasa menatap sepatu hak tingginya, tas tangannya, dan gaun biru tuanya. Sungguh ia kurang percaya diri.
Padahal Mayasa berdandan lebih dari satu jam untuk malam ini. Tadinya sudah terbayang Pras akan meliriknya dengan tampilan anggunnya. Tapi melihat Cassandra barusan membuatnya mendadak minder...
Apalah ia dibandingkan Cassandra. Lihat kerutan di sudut matanya, di dahinya, rambutnya yang satu per satu mulai ditumbuhi uban. Salon kecantikan dan aneka treatment mungkin bisa mengatasi sementara, tapi tidak bisa menutupi fakta yang ada : ia menua.
***
Lalu Pras yang tampaknya belum tahu kalau ternyata Mayasa datang juga di acara malam itu terlihat tenang mengikuti alur sandiwara ini.
Ya, Cassandra tampaknya sudah 'jinak.' Mungkin ia juga diam saja tak berulah karena situasi ini membuatnya tidak nyaman. Bagaimana mau nyaman, semua orang di ruangan menatap ke arahnya begitu ia datang.
Cassandra merasa seperti menjadi tontonan. Ia lebih banyak menunduk. Pras tahu perasaan Cassandra dan berusaha membuatnya nyaman.
"Tolong ya, Pras. Kamu tahu kan harus apa? Saya ke sana dulu." Prambodo melirik Pras, memberi kode agar mengurus Cassandra alias memastikan anak itu tak berulah.
"Iya, Om. Pasti. Cassandra harus kenal sama orang-orang." Pras menjawab santai.
Prambodo menepuk pundaknya lalu pergi menjauh menyapa para tamu undangannya yang lain.
Tinggallah Pras berdua saja dengan Cassandra. Cassandra tampak menggeleng saat Pras mencoba mengajaknya menyapa beberapa orang.
"Cassandra, bagaimanapun juga walau kamu nggak mau ngurus bisnis, setidaknya kamu kenal siapa saja orang-orang penting yang besar perannya di perusahaan." Pras berusaha menyakinkan.
Cassandra tetap menggeleng. Pras lalu mengangkat bahunya dengan pasrah. Ya, ia tak mau memaksa.
Cassandra mencoba untuk menganggap semua orang di sini tidak ada. Ia hanya menatap Pras. Pras memperlakukannya dengan sangat baik. Ia mengambilkan minum, mengajak bicara, mengajak ke sudut yang sepi agar tak terlalu dilihat orang. Pras tahu apa yang Cassandra resahkan di keramaian ini.
Pras memang gentle. Ia sungguhan memperhatikannya. Ia sungguhan merangkul pundaknya dan memastikan Cassandra sejajar dengan langkahnya. Tindakan itu mungkin sepele. Tapi bagi Cassandra, rasanya entah kenapa nyaman.
Terlebih atasan tuxedo Pras di pundaknya membuatnya merasa hangat. Merasa terlindungi.
"Cassandra, aku ke toilet sebentar, ya." Pras menatap Cassandra.
Cassandra lalu menatap sekeliling dengan panik. Papanya tampak sibuk mengobrol dengan papanya Pras. Kalau ia ditinggalkan sendirian di sini, mau jadi apa dia? Jadi patung.
Cassandra menggeleng lalu cepat menyahut, "Aku ikut!"
Pras tampak bingung. Ia tahu sih Cassandra mungkin akan kebingungan ditinggalkan sendirian. Tapi masak ke toilet saja ia mau ikut?
"Cassandra, toilet laki-laki dan perempuan kan beda." Pras menggaruk-garuk kepalanya.
"Y--ya emang beda. Aku ke toilet perempuan. Abis kamu selesai kamu telpon aku, nanti aku keluar dan kita ke sini barengan lagi." Cassandra bersikeras.
Pras tak bisa apa-apa selain setuju.
Ugh! Untung ia baik. Coba ia membalas kelakuan Cassandra kemarin dengan hal setimpal. Bisa kapok Cassandra datang ke acara macam ini.
Pras menggandeng Cassandra ke arah toilet. Mayasa mengikuti mereka diam-diam.
***
Cassandra menatap pantulan bayangannya sendiri di kaca. Riasannya masih tampak sempurna.
Dirabanya atasan tuxedo Pras yang menghangatkan pundaknya.
Ah, penyelamat gaun gilanya. Cassandra melihat toilet ini sepi lalu ia melepas tuxedo milik Pras. Kulit pundaknya yang mulus jadi terpapar. Di saat yang sama Mayasa masuk ke dalam toilet dan mata mereka langsung bertemu dari pantulan bayangan cermin.
"Hai!" Mayasa entah kenapa menyapa Cassandra.
Cassandra yang merasa tidak mengenal Mayasa tampak menatap datar ke arah cermin. Bayangan wajah ramah Mayasa makin cerah menjelma menjadi senyum.
"Anaknya Pak Prambodo, kan?" Mayasa tahu-tahu berjalan mendekat hingga ia berdiri sejajar di depan cermin yang sama.
Cassandra yang tadinya hanya menatap Mayasa dari cermin itu kini menoleh untuk menatapnya secara langsung.
Tatapan mata Mayasa terlihat ramah. Cassandra yang biasanya cuek dan dingin terhadap orang baru agak luluh juga. Ia mengangguk.
"Saya Mayasa. Mayasa Arin. Pak Prambodo sering cerita soal kamu. Ternyata kamu lebih cantik dari yang saya bayangkan." Mayasa memuji dengan nada yang kelihatan tulus. Tapi dalam hatinya siapa yang tahu?
Cassandra hanya tersenyum menanggapi pujian itu. Ia tak suka dipuji berlebihan, terlebih oleh orang asing yang baru dikenal.
Cassandra menatap Mayasa dengan tatapan bingung. Mayasa menatapnya dengan tatapan seolah memindai Cassandra dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Cassandra makin merasa tak nyaman. Ia lalu memakai atasan tuxedo Pras lagi. Entah kenapa Cassandra merasa Mayasa adalah wanita aneh. Bagaimana tidak. Tiba-tiba ia muncul, tiba-tiba ia memperkenalkan diri, dan bisa-bisanya menatapnya seperti menilai sesuatu begini.
Untung saja tepat ketika Mayasa hendak membuka mulut lagi, Cassandra langsung melihat notifikasi pesan dari Pras.
[[ "Aku sudah selesai dan menunggumu di depan pintu toilet wanita." ]]
Cassandra pun langsung menyimpan handphone-nya dan bersiap keluar.
"Permisi." Cassandra menyingkir melewati Mayasa dan membuka pintu.
Mayasa merasa agak tidak terima sikap ramah tamahnya disambut dengan dingin. Ia pun mengikuti Cassandra keluar.
"Cassandra, tunggu!" Mayasa memanggil.
Cassandra menoleh tepat saat Pras menunggunya di luar.
Untuk pertama kalinya Pras, Cassandra, Mayasa bertemu.
Mayasa merasa seperti sedang tertangkap basah.
Pras merasa canggung tiba-tiba.
Hanya Cassandra yang menatap mereka dengan polos. Ia tak tahu apa-apa. Ia tak tahu kalau Pras dan Mayasa sempat punya kedalaman perasaan yang begitu mendalam.
BERSAMBUNG ...
_____
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments