[[ "Jangan lupa, jam 7 saya jemput. Kamu tahu kan ini siapa? Ya, calon suami kamu. Please kita sudahi permusuhan ini dan jangan fitnah saya yang nggak-nggak lagi. Besok di acara itu bukan cuma ada papaku dan papamu, tapi seluruh jajaran orang penting di perusahaan. Setidaknya jangan buat orang tua kita malu. Simpan tingkah aneh-anehmu itu sementara waktu." ]]
Cassandra yang baru selesai berenang membaca pesan itu di handphone-nya lalu tertawa.
Tanpa menyebutkan nama pun Cassandra tahu kalau yang mengirim pesan ini adalah Pras. Siapa lagi orangnya yang sekaku itu menyebut kata ganti dirinya sendiri dengan sebutan 'saya.'
Rupanya Pras punya dua nomor. Nomor yang mengaku sebagai Pak Tyo sang guru eskul musik kemarin beda lagi soalnya. Cassandra belum menyimpan kontak nomor yang ini.
"Dia tahu aku musuhin dia! Haha! Tunggu aja! Kalau penolakanku nggak cukup bikin Papa berubah pikiran soal perjodohan ini, maka mari kita buat Pras yang nyerah dan memohon-mohon nggak ingin nikahin aku."
Cassandra lalu tertawa membayangkan betapa tertekannya Pras menghadapi kelakuannya kemarin.
Ah, ke depannya Cassandra tahu ia harus makin bertingkah lagi. Biar ia bisa melihat seberapa sabar dan dewasa sih calon menantu yang dibangga-banggakan papanya itu.
"Mbak, saya mau orange juice, ya," pinta Cassandra pada pelayan rumahnya.
Wanita setengah baya berseragam putih itu mengangguk lalu pergi. Cassandra duduk di kursi santai kolam renangnya. Tangannya sibuk memainkan handphone-nya.
Apalagi yang ia lakukan selain membuka akun sosial media dan mencari tahu kabar Hugo lewat postingan-postingannya.
"Ah! Dia lagi persiapan sound check buat manggung di Bali! Ah, Hugo! Ganteng banget, sih! Bisa-bisanya orang sekeren kamu temenan sama Pras. Kalian kayak langit dan bumi. Hugo keren, Pras norak!
Hufttt! Kenapa sih aku harus nikah sama cowok kayak dia. Kaku, terlalu rapi, formal banget gayanya. Nggak seru. Cuma karena bisa lain musik dan temenan sama Hugo aja aku masih mau agak baik-baikin kamu, Pras!"
Lagi-lagi lamunan dan isi kepala Cassandra isinya hanya Hugo, Hugo, dan Hugo saja. Ia tak sadar kalau Pras sudah mulai masuk ke isi pikirannya diam-diam.
Cassandra tersenyum-senyum sendiri hingga tak sadar kalau yang datang ke arahnya bukan cuma pelayannya yang membawakan orange juice, tapi ada papanya juga.
"San, ngapain senyum-senyum sendiri. Lagi balas-balasan chat sama Pras ya?" Prambodo mendekati putrinya.
Cassandra yang senang papanya datang langsung mengubah ekspresi wajahanya seketika saat papanya menyebut-nyebut nama Pras.
"Ih! Apa-apaan sih, Pa. Papa nggak ngantor? Tumben. Bagus, deh. Papa istirahat aja di rumah. Cassandra tadi yang bantu nyiapin obat sama sarapan Papa loh waktu Papa mandi. Udah diminum, kan?" Cassandra jelas-jelas tidak bisa memasang wajah ketus terlalu lama di depan papanya.
Cassandra teramat mencintai pria yang mengaku sedang sekarat itu. Ia tak mau kehilangan kesempatan kedua kali untuk menyayangi orang yang ia cintai tanpa gengsi.
Dulu ia sempat banyak bertengkar dengan mendiang mamanya karena masa pra remaja membuatnya jadi sedikit pembangkang. Dan Cassandra menyesali itu. Ia tak mau mengulang kesalahan dengan papanya.
"Udah diminum kok, San. Makasih ya. Tapi hari ini Papa ngantor, kok. Ada hal penting yang harus ditandatangani. Sekalian make sure persiapan makan malam perusahaan nanti. Acaranya spesial karena sekalian pengumuman pertunangan kamu sama Pras. Harus perfect!
Oh, ya. Kamu diantar Pak Budi ya jam 10 nanti ke butiknya Tante Kamila. Kamu tomboy begini, jelas perlu diurus untuk nanti malam. Papa udah bikin janji sama dia. Kamu pilih gaun yang cantik. Nanti malam acara spesial, loh. Oke?" Prambodo lalu mengelus kepala Cassandra yang masih basah habis berenang dan berlalu pergi.
Cassandra memandang lemas lalu meminum orange juice yang ia minta.
"Ah, Papa. Males banget tampil feminim. Apalagi datangnya sama Pras! Kalau Hugo yang ajak aku pergi, udah rela aku dari pagi ke salon. Males banget!" Cassandra menggerutu kesal sambil mengaduk-aduk orange juice-nya.
Dilihatnya air kolam renang yang berkilat-kilat. Haruskah ia berenang lagi? Tapi ia sudah malas. Apalagi sekarang sudah setengah 9. Lebih baik ia siap-siap ke butik.
Cassandra berdiri dan memungut handuknya. Sambil berjalan menuju kamarnya, tiba-tiba sebuah ide melintas di kepalanya.
"Ah! Mari kita buat Pras kesal malam ini!" Cassandra lalu tertawa puas. Baru ide saja yang muncul di kepalanya, tapi ia sudah merasa bisa membayangkan wajah panik Pras!
***
Cassandra sedang duduk di depan wanita yang dulu sangat akrab dengan mendiang mamanya itu.
Wanita itu begitu anggun walau usianya sudah berumur. Ia cukup terkenal di kalangan kelas atas. Pakaian rancangannya termasuk eksklusif dan mahal.
"San, Tante ditelpon papa kamu dan kaget. Anak teman Tante yang dulu masih kecil dan imut-imut sudah sedewasa ini dan punya tunangan. Aduh, nggak nyangka Tante.
Kenapa waktu berjalan begitu cepat, ya. Perasaan kemarin kamu masih ke sini digandeng mama kamu dan diomeli karena naik-naik meja kerja Tante." Perempuan berambut sebahu yang rambutnya separuhnya sudah memutih itu menatap Cassandra dengan tatapan haru.
Cassandra hanya tersenyum dan mengangguk saja. Ia tahu Tante Kamila sangat dekat dengan mananya sejak dulu. Tapi ketika membicarakan kenangan masa lalu begini ia merasa kurang nyaman.
Walau sudah bertahun-tahun berlalu semenjak kecelakaan itu, tetap saja ada rasa sedih yang menggumpal di dada dan membuat sesak hatinya. Kenangan semanis apapun akan membuatnya sedih kalau itu soal mamanya.
"San, Tante pengin nemenin kamu milih gaun tapi Tante ada janji mendadak sama Bu Walikota. Tante harus datang ke rumah dinas buat ukur bajunya. Nggak papa ya kalau kamu sama Mbak Dini di sini.
Dia yang akan nemenin kamu milih-milih sampai kamu dapat gaun yang kamu mau. Kalau ada yang mau diubah ukuran atau detailnya jangan sungkan ya. Tinggal bilang Mbak Dini aja. Nah, itu dia orangnya."
Cassandra langsung menoleh ke arah wanita muda berambut pirang dan bergaya nyentrik itu.
Wanita yang dipanggil Mbak Dini itu menyapanya dengan ramah. Ia bahkan langsung cipika-cipiki pada Cassandra seolah mereka kenal akrab. Padahal bertemu saja baru sekarang.
"Nah, okelah. Tante tinggal ya, San." Tante Kamila lalu berdiri dari kursinya dan mengusap-usah kepala Cassandra sebelum pergi.
Cassandra mencoba tersenyum manis. Sudah lama tidak ada yang mengelus kepalanya dengan gerakan keibuan begini. Ah, jadi ingat mamanya ia.
"Cassandra, ya. Langsung aja, yuk. Kamu mau cari yang model apa? Warna apa? Ukuran kamu apa?" Dini langsung cerewet dan membuat Cassandra bingung mau memulai dari mana.
Cassandra tidak langsung menjawab. Ia memejamkan mata beberapa detik kemudian menarik nafas panjang.
Oke, seharusnya ini lebih mudah. Ini kan cuma asistennya Tante Kamila. Ia tidak harus bicara pada Tante Kamila yang mungkin akan mengadukannya pada papanya.
Cassandra mengangguk yakin. Keputusannya sudah bulat. Bisa dibilang ini nekat. Tapi ia benar-benar tak tahu lagi cara untuk membuat Pras kesal nanti malam.
"Mbak Dini! Aku mau gaun yang nuansanya agak seksi. Potongannya rendah selutut. Aku juga mau yang tanpa lengan." Cassandra berkata dengan yakin.
Dini melongo.
"Hah? K--kamu yakin? Untuk acara makan malam formal, kan? Bukannya nggak terlalu terbuka ya?" Dini tampak kurang yakin.
Cassandra menggeleng.
"Nggak, kok! Pacar saya suka yang model begitu!" Cassandra lalu tersenyum.
Hah! Lihat nanti malam bagaiamna reaksi Pras!
BERSAMBUNG ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments