Om Pras Kesayangan

Hati Mayasa seperti dihantam batu. Oh pertunangan...

Mendengar gosip perjodohan Pras dengan Cassandra lewat anak-anak kantor saja sudah cukup membuat hati Mayasa tercabik-cabik, eh sekarang ia mendengar langsung dari Prambodo yang jelas-jelas adalah pelaku perjodohan itu. Bisa terbayang kan betapa hancur hatinya.

Mayasa berusaha tersenyum di depan Prambodo untuk menutupi perasaannya yang sebenarnya lebih ingin menangisi keadaan ini.

"Pras akan meneruskan memimpin perusahaan setelah saya sama Arik pensiun. Kami tahu dia pantas dan kompeten. Tapi Arik minta dia menyingkir dari kantor dulu sementara ini agar fokus pada Cassandra. Saya nurut saja apa keputusan dia.

Saya tahu perjodohan ini begitu kuno. Tapi saya yakin mereka akan jatuh cinta sungguhan kalau kita memberi mereka kesempatan untuk dekat dan saling mengenal dengan intens. Firasat saya kuat. Mereka akan berjodoh.

Menurut kamu gimana, May? Pras cukup dewasa dan matang kan untuk menghadapi Cassandra yang mungkin agak ceroboh anaknya dan kurang dewasa? Pras pria penyabar, kan?" Prambodo bicara dengan santainya karena sungguh ia tak tahu kalau wanita di depannya ini begitu mencintai Pras.

Mayasa mengangguk sambil berusaha mempertahankan senyumnya.

"Ya, Pras sangat dewasa, tulus, penyabar, dan penyayang. Cassandra pasti akan menyukainya," jawab Mayasa dengan optimis.

Prambodo tersenyum puas. Ia merasa didukung dan diakui kalau ide perjodohan ini adalah keputusan terbaik yang bisa ia ambil sebelum saat-saat terakhirnya.

"Beneran datang ya May nanti malam." Prambodo kembali mengingatkan setelah menandatangani berkas terakhir.

Haruskah ia datang ke pesta makan malam? Atau ia gunakan saja alasan kesehatan anaknya untuk tidak hadir? Mayasa bimbang sejenak.

Namun akhirnya jawaban Mayasa hanyalah anggukan kepala. Ia tak ingin mengecewakan hati boss besarnya itu.

"Iya, Pak. Saya usahakan datang. Luna cuma kambuh alerginya, Pak. Nggak parah, kok." Mayasa bisa-bisanya mengatakan itu sambil tersenyum padahal hatinya menangis.

Prambodo mengangguk-angguk senang. Oh, andaikan ia tahu hubungan asmara rumit antara karyawan kesayangannya, putrinya, dan calon menantunya itu.

***

Beberapa jam setelah tercabik-cabiknya hati Mayasa yang mendengar langsung soal pertunangan Pras dan Cassandra, wanita itu sudah kembali duduk di sofa rumahnya. Ia benar-benar pulang seperti perintah Prambodo.

"Ma? Mama beneran kan nggak balik ke kantor lagi? Mama bisa temenin Luna main puzzle nggak?" Putri bungsu Mayasa dan mendiang suaminya itu tampak merengek.

Mayasa yang tadinya asyik melamun jadi menoleh dengan sigap. Tak lupa ia memasang senyum lebar ala ibu yang selalu ingin terlihat baik-baik saja di depan anaknya.

"Nggak, Sayang. Tapi nanti malem Mama boleh pergi, kan? Ada acara kantor. Makan malam perusahaan gitu, Sayang. Nanti kalau alergi Luna kan udah sembuh boleh, ya?" Mayasa mengelus rambut putrinya dan meraba bentol-bentol alergi di lengan putrinya.

Luna mengangguk. Semua anak-anak Mayasa memang sangat pengertian karena sejak kecil tahu mamanya berjuang sendirian menghidupi mereka.

"Mama perginya sama Om Pras, kan?" Luna bertanya-tanya dengan polosnya.

Mayasa Arin hanya bisa tersenyum kecut sambil menggeleng.

"Nggak, Sayang. Om Pras kan udah nggak sekantor lagi sama Mama. Dia sibuk. Udah jangan sebut-sebut dia lagi. Oke?" Mayasa berusaha memberi pengertian pada putri kecilnya yang polos itu.

Luna kecil terlihat kecewa. Ia memang paling dekat dengan Pras.

"Yah... Kenapa sih. Kenapa Om Pras nggak ke sini lagi jemput Mama dan ajak aku main. Emang kalau nggak sekantor nggak boleh temenan lagi, ya? Padahal Om Pras udah janji beliin puzzle kayak gini lagi tapi gambarnya Puteri Salju." Bibir Luna menguncup dengan lucu saat mengungkapkan kekecewaannya.

Mayasa tersenyum sedih tapi ia tutup-tutupi dengan wajah berusaha ceria.

"Nggak cuma kamu, Luna. Mama juga kangen sama Om Pras," batinnya dengan sedih.

Mayasa menarik nafas panjang lalu memeluk Luna yang sedih.

"Luna, Om Pras sebentar lagi mau menikah, loh. Dia nggak bisa main ke sini lagi. Dia sibuk. Udah ya jangan sebut-sebut Om Pras lagi. Dia udah pindah jauh dari sini," ucap Mayasa.

Luna terlihat makin kecewa.

"Kenapa menikahnya nggak sama Mama aja? Luna mau kok punya papa Om Pras. Kalau Kak Leo nggak mau, biar Luna yang bujuk." Lagi-lagi anak sekecil itu belum paham rumitnya asmara orang dewasa.

Mayasa tertawa padahal hatinya menangis.

"Nggak bisa, Sayang. Mama nggak mau menikah lagi, lah. Mama sibuk urus kalian. Lagian Mama sama Om Pras cuma temenan. Aduh, Luna punya ide dari mana sih nyuruh Mama nikah. Udah yuk main puzzle.

Nanti kalau Luna nggak ngambeg disuruh minum obat dan alerginya sudah sembuh, Mama beliin puzzle lagi yang banyak. Oke?" Mayasa berusaha merayu.

Luna mengangguk. Sambil main, sesekali anak kecil itu masih menyebut-nyebut nama Pras beberapa kali dalam ceritanya.

Rini-mertua Mayasa menguping dari pintu kamarnya yang tak tertutup rapat. Walau putranya sudah meninggal, ia tetap menyayangi Mayasa seperti anaknya sendiri. Bahkan ia tak menganggap wanita tangguh itu sebagai menantunya.

Sebenarnya walau tak pernah membicarakan ini, tapi wanita tua itu tahu setiap Pras datang dan menyapanya dengan ramah. Ia tahu mereka saling mencintai dengan segala perbedaan status dan usia.

Rini mendukung diam-diam. Ia melihat Mayasa yang berjuang keras dengan karirnya dan kesibukannya mengurus anak terlihat lebih ceria semenjak mengenal Pras.

Pras juga kelihatannya begitu dewasa dan menerima Mayasa apa adanya dengan segala keadaan ini.

"Oh, jadi Pras mau menikah dengan wanita lain? Pantas dia sudah tak terlihat ke sini lagi dan Mayasa sering terlihat murung dan sedih waktu sendirian.

Ya ampun, May. Menjadi wanita single parent memang nggak mudah. Kasihan kamu. Ibu hanya bisa membantu kamu mengurus anak-anak ketika kamu bekerja. Selebihnya, mengenai rasa lelah dan sedih kamu di luar hal itu, Ibu nggak bisa bantu.

Rendi juga pasti sedih lihat kamu berjuang sendiri. Maafin anak Ibu ya yang tidak berumur panjang. Sungguh Ibu rela jika posisinya ditukar. Biar Rendi juga bisa lihat anak-anak tumbuh besar. Tapi apa mau dikata, May. Namanya juga takdir..."

Wanita tua berhati lembut itu meratap dalam hati sembari mengintip menantunya yang tampak melamun sambil menemani Luna bermain.

***

Mayasa berjalan masuk menuju kamarnya begitu memastikan Luna sudah minum obat alerginya dan tidur siang dengan lelap di kamarnya sendiri.

Sejujurnya Mayasa juga lelah. Tapi bukannya istirahat atau merebahkan dirinya di kasur, ia justru sibuk membuka lemari pakaiannya.

"Oke. Aku harus datang nanti malam. Masalahnya, aku pakai baju apa. Aku ingin membuat Pras menoleh padaku beberapa detik saja malam ini...

Aku harus lebih cantik dari Cassandra ..."

BERSAMBUNG ...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!