Perlawanan Cassandra

Pras merasakan tangan lembut Cassandra yang melingkar di pinggangnya perlahan mengencang.

Ah! Astaga! Seharusnya ia tak berdebar. Tapi kenapa ia berdebar?

Hanya sentuhan Mayasa yang sebelumnya membuatnya salah tingkah, tapi kenapa sekarang sentuhan tangan Cassandra di pinggangnya membuatnya panas dingin?

Dengan sekali lirikan lewat kaca spion vespanya, Pras bisa melihat papa Cassandra melongo sambil berdiri menyaksikkan vespanya melaju pergi duluan.

Setelah melewati gerbang rumah sakit, Cassandra otomatis melepaskan pengangan tangannya pada pinggang Pras.

Tak cukup itu saja, Cassandra juga memundurkan posisi duduknya di jok sempit vespa itu hingga posisinya dengan Pras tidak serapat tadi.

Pras berdehem sengau, mencoba untuk menutupi rasa salah tingkahnya.

Cassandra kelihatannya cuek saja. Wajahnya lempeng-lempeng saja ketika Pras meliriknya dari kaca spion lagi.

Sebagai gantinya, Cassandra memegang pundak Pras seperti ketika ia naik ojek. Pras benar-benar pasrah hingga akhirnya mereka sampai di resto yang Papa Cassandra maksud.

Cassandra turun dari vespa dan kini melepas helm-nya dengan lancar. Ia pun menyerahkan helm itu pada Pras lalu melenggang masuk duluan.

Pras yang sudah mengambil ancang-ancang untuk mengomeli Cassandra yang sudah memfitnahnya lagi-lagi dibuat melongo.

"Ya ampun gadis itu lebih parah daripada yang kupikir! Aku harus agak galak! Kalau tidak dia makin memfitnah aku macam-macam di depan Om Pram.

Aku dikira mes*um dan memanfaatkan kepolosan Cassandra. Anak itu tahu betul cara membuatku kesal!" Pras mengacak-acak rambutnya sendiri karena stress.

Ia pun segera menyusul Cassandra yang rupanya sudah dapat meja di dalam. Ia duduk dengan tenang dan memilih menu.

Pras duduk di depannya dan memasang wajah kesal. Ia berharap Cassandra tahu kalau ia kesal karena difitnah dan minta maaf. Tapi apa hasilnya? Cassandra tetap cuek bahkan asyik mengobrol sendiri dengan pelayan yang mencatat pesanannya.

Mau tak mau Pras ikut memesan. Hingga ketika akhirnya pelayan itu menyingkir dari meja mereka, Pras yang merasa punya kesempatan bicara dengan Cassandra itu membuka mulutnya.

"Cassandra, kamu bisa berhenti nggak mengerjai saya di depan papa kamu. Papa kamu ngira saya..."

"Papa!" Cassandra bahkan pura-pura tak mendengar Pras dan berdiri menyambut papanya yang baru saja datang.

Pras menuduk lemas dan makin merasa tak punya kesempatan bicara lagi. Awas saja kamu Cassandra!

"Duduk, Pa! Aku udah pesenin menu yang biasa Papa pesen. Pak Budi mau dipesenin sekalian nggak?" Cassandra bertanya pada Pak Budi si sopir yang tadi mengantar papanya masuk.

Pak Budi menggeleng lalu pamit undur diri menunggu di luar. Ya, Cassandra memang dibiasakan papanya untuk tidak menganggap rendah pegawai yang bekerja untuk mereka. Di rumah pun mereka makan makanan yang sama seperti yang ia makan.

Saking baiknya Prambodo, mereka kadang sungkan sendiri seperti Pak Budi ini. Padahal kalau mau kadang mereka diajak makan semeja juga.

"Oh, oke. Papa nggak ada pantangan makan yang lain, kan? Aku pastikan aman semua sih tadi." Cassandra yang semenjak tahu papanya sakit jadi begitu perhatian.

"Nggak kok, San. Aman semua." Prambodo mencoba duduk dengan nyaman di samping Pras yang tampak sungkan padanya.

Karena agak canggung setelah pandangannya berubah soal calon menantunya itu, Prambodo jadi agak sensitif membahas soal hubungan mereka.

Maka sambil menunggu menu utama mereka datang, Prambodo mulai membicarakan basa-basi soal bagaimana ke depannya mereka harus bersikap di sekolah.

"Pura-puralah dengan rapi agar yang lain nggak tahu kalian ada hubungan. Bisa gawat kalau pihak sekolah tahu. Ya walau kepala yayasan sudah tahu sih soal ini. Tapi itu kan hal yang berbeda.

Papa ingin Pras jagain Cassandra tapi dengan cara yang tidak mencolok. Satu tahun saja kalian akan jadi guru dan murid. Pokoknya Pras harus mengawal Cassandra sampai lulus. Andai kamu tahu Pras berapa kali saya dipanggil ke sekolah karena Cassandra berusaha membuat banyak kesalahan agar di-DO.

Intinya saya cuma pengin Cassandra selesai sekolah. Lulus dengan benar. Masalah Cassandra yang mau belajar musik, sekarang boleh, lah. Asal sama Pras."

Prambodo dengan badan letih karena habis check up itu mencoba tampak baik-baik saja. Padahal sekarang untuk bicara panjang lebar saja ia kadang merasa energinya terkuras habis. 

Cassandra hanya mengangguk-angguk sok penurut. Tak tahu saja papanya kalau dalam hati ia punya banyak rencana jahil untuk membuat Pras kerepotan nanti. Kalau bisa biar Pras menyerah dan hengkang dari sekolahnya.

Cassandra pikir dengan membuat Pras jengkel dan kesal padanya, maka perjodohan akan batal. Padahal ya tidak. Perjodohan ini sudah disepakati bulat-bulat oleh Arik Gudono dan Prambodo dengan mempertaruhkan hubungan persahabatan beserta perusahaan mereka dan seisinya.

"Besok di acara makan malam perushaan, pertunangan kalian akan diumumkan. Memang tidak ada pertunangan resmi. Kami berusaha untuk tidak membuat ini mencolok.

Hanya simbolis saja. Sekaligus Pras mungkin ingin melakukan perpisahan kecil-kecilan sama tim di kantor karena setahun ke depan akan jarang aktif di kantor. Pras akan fokus jadi guru di sekolah dan jagain Cassandra." Prambodo menyambung kalimatnya lagi.

Pras manggut-manggut saja. Ia sok baik-baik saja seolah menerima semua keputusan ini. Padahal membayangkan Masaya akan ada di acara kantor dan melihatnya bersanding dengan Cassandra saja sudah membuat perutnya melilit. Membayangkan adegan itu membuat hatinya tercabik-cabik.

Pras tidak tahu saja hati Masaya sudah tercabik-cabik sejak tadi melihat Pras berdekatan dengan Cassandra di parkiran rumah sakit.

Hidangan pun datang dan mereka makan dengan tenang. Hingga akhirnya semua selesai dan Prambodo dengan tegas meminta Cassandra pulang bersamanya naik mobil.

Apakah Cassandra setuju? Tentu tidak. Awalnya gadis itu masih merengek bilang ingin naik motor Pras tapi akhirnya ia mengalah juga karena papanya mulai melotot kesal.

"Bye, San. Sampai jumpa besok malam. Aku jemput ya." Pras berusaha sopan dan bersikap manis.

Prambodo tampak menatap Pras dengan tatapan bangga juga walaupun sekarang ada kecemasan mencintai akibat fitnah Cassandra.

Baru pertama kali bertemu, Pras sudah bisa membuat Cassandra bilang "iya" untuk datang ke acara makan malam perusahaan yang Cassandra selalu benci dan ia tolak mentah-mentah untuk datang setiap tahunnya.

Cassandra mengangguk mengiyakan ajakan Pras sambil tersenyum tak kalah manis. Tapi ketika papanya melihat ke arah lain senyumnya pada Pras berubah menjadi senyum meledek, bahkan ia menjulurkan lidah seperti anak kecil.

Pras merasa gemas ingin menjitak tapi ia menahan diri. Memang Cassandra lama-lama makin menjadi-jadi juga kelakuannya.

"Jemput naik mobil ya, Pras. Ingat! Ke depannya Om akan marah kalau kamu berani-beraninya lagi ajak Cassandra naik motor!" Prambodo menatap Pras dengan serius.

"I--iya, Om," jawab Pras yang tidak bisa mendebat calon mertuanya itu.

Cassandra yang berdiri di belakang papanya tampak tertawa meledek tanpa suara. Gadis itu rupanya sungguhan menikmati momen membuat Pras kesal.

Pras ingin makin marah tapi tentu tak bisa. Dasar bocah! Pras hanya bisa mengomel dalam hati.

Cassandra pikir dengan begini maka hubungan mereka akan makin buruk. Padahal lewat interaksi semacam ini hati Pras pada akhirnya nanti akan menemukan getaran itu. Getaran perasaan yang orang-orang sebut sebagai 'cinta.'

BERSAMBUNG ...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!