Janji Jemput

Dadah Cassandra rasanya berdegup lebih cepat dari biasa.

Baginya Hugo bukan hanya sekedar idola. Hugo dan musiknya, lagunya, adalah teman Cassandra saat ia sedang sedih dan kesepian.

Peristiwa kecelakaan yang menewaskan mamanya dan membuat kakinya cedera oalah bertepatan dengan rilisnya album BigHigh yang tentu saja 80% lagunya adalah garapan Hugo.

Album bertajuk 'Detak Demi Detik' atau yang kerap disebut 3D Cassandra hafal di luar kepala seluruh track-nya dan cerita di balik lagunya yang tentu saja Cassandra tahu dari kutipan wawancara Hugo.

Hugo dan lagunya menyempatkan hidupnya. Begitulah Cassandra begitu memuja pria playboy yang sebenarnya usianya sepantaran dengan Pras itu.

"Pras, my bro!"

Suara Hugo terdengar lagi. Jantung Cassandra mau copot rasanya. Matanya menatap ke arah layar handphone Pras dengan tatapan antusias.

Pras tampak berkata santai seolah menikmati momen star struck Cassandra ini. Kemudian setelah basa-basi Pras mulai menyebut-nyebut soal Cassandra. Cassandra makin dibuat duduk diam tak berkutik di kursinya. Tangannya mengepal karena gugup.

Bayangkan saja gadis galak itu berubah jinak mendadak hanya karena mendengar suara seorang Hugo.

Arghhh, ternyata benar! Pras yang ia benci itu benar-benar akrab dengan Hugo-idolanya.

"Halo Cassandra!"

Pras tiba-tiba mengarahkan layar handphone-nya ke arah Cassandra.

Cassandra yang terkejut tentu hanya bisa melongo saat melihat secara langsung Hugo dari layar handphone Pras.

Dengan spontan Cassandra memegang poninya, seolah memastikan semua sempurna di mata Hugo. Padahal aslinya rambutnya agak berantakan.

Coba saja ia tahu akan punya kesempatan disapa Hugo begini. Pasti sejak pagi ia akan mengerahkan semua kemampuan make up-nya.

"Oh, wow! Cassandra! Kamu cantik banget! Wah! Pintar banget Pras cari calon istri," komentar Hugo yang nampaknya sedang sambil tiduran saat melakukan panggilan video call ini.

Wow! Seperti di-video call pacar!

Cassandra ingin melompat kegirangan tapi jelas ia tahan karena rasa gengsinya di depan Pras.

Cassandra mendadak salah tingkah dan kehilangan suara nyaringnya yang beberapa menit yang lalu masih lancar mendebat Pras.

"Eh, oh. I--iya makasih," sahut Cassandra pelan.

"Arghhh! Senang sih seneng bisa mengobrol dengan Hugo secara langsung begini. Tapi Pras sialan itu memperkenalkan aku sebagai calon istrinya! Bisa-bisanya. Dasar cowok tua!" Cassandra mengumpat dalam hati walau wajahnya tersenyum ke arah Hugo.

"Oke salam kenal ya Cassandra. Pras udah cerita semua ke aku. Next time kalau kamu masih ingin ikut fan project, aku hubungi lewat Pras, ya. Masih beberapa bulan lagi sih sampai persiapan album dan segala macamnya selesai.

Kamu kalau berubah pikiran nggak jadi nikah sama Pras sama aku aja deh. Haha. Bye, Cassandra. Have a nice day."

Lalu panggilan itu berakhir dan Cassandra masih mematung di tempat.

Hah! Hugo bilang apa barusan?

'Sama aku aja?'

Muka Cassandra memerah tersipu.

Pras mengumpat sedikit lalu tertawa. Ia tahu Hugo hanya bercanda.

"Dasar playboy tengik!" Pras pura-pura kesal lalu menyimpan kembali handphone-nya sambil mengamati Cassandra yang duduk di depannya dengan senyum penuh kemenangan.

Cassandra yang tahu kalau sedang dipandangi Pras langsung sok jaga muka. Senyumnya ia tarik dan ia ubah menjadi wajah ketus lagi. Cassandra adalah gadis dengan level gengsi seribu persen.

"So...?" Pras yang sudah merasa di atas angin bisa menaklukkan Cassandra melepas kacamatanya dan menunggu respon gadis itu.

Cassandra menarik nafas panjang. Ia mencoba terus menyembunyikan wajah bahagianya habis bertatapan dengan Hugo walau lewat layar handphone saja.

"Yaudah karena semua ini rencana Papaku, termasuk keberadaan kamu jadi guru konyol di sini, jadi aku bisa apa? Aku akan tetap gabung eskul karena Hugo, ya. Dan karena... mungkin kamu bisa ngajarin aku main musik." Cassandra lagi-lagi menyembunyikan gengsi.

Pras mengangkat bahu sambil menahan senyum.

Oke. Step pertama ternyata lancar walau ia sempat pesimis waktu ketahuan tadi. Untung ada Hugo yang membuat Cassandra luluh lagi.

"Sekarang kamu maunya apa?" Cassandra lalu balik bertanya lagi.

"Makan malam perusahaan." Pras menjawab cepat.

"Hah?" Cassandra merespon dengan bingung.

"Iya. Papa kamu sama papaku mau kamu datang mendampingi aku malam itu sekaligus mengumumkan pertunangan kita. Acaranya privat. Besok malam jam 8." Pras tidak basa-basi lagi walau mulutnya setengah mati mengatakan ini.

Pras jelas tahu acara makan malam perusahaan memang biasanya juga diadakan di pertengahan tahun begini. Tapi mengajak Cassandra dan mengumumkan pertunangan lewat acara internal berarti membiarkan Masaya tahu kalau Pras selamanya tidak akan bisa ia gapai lagi.

Pras akan menikah dengan Cassandra.

Masaya hanya akan menjadi salah satu tamu yang hadir.

Sanggupkah Masaya dan Pras yang masih sama-sama menyembunyikan perasaannya itu menghadapi acara penting itu.

Entahlah. Tapi yang jelas Cassandra sanggup-sanggup saja. Buktinya kini ia mengangguk tanpa ragu.

"Oke. Deal!" Cassandra mengangkat bahu.

"Aku jemput di rumah. Acaranya di hotel perusahaan di jalan Merati." Pras menyahut walau hatinya tak karuan membayangkan Masaya akan melihatnya menggandeng gadis lain.

"Aku bisa berangkat sama Papa." Cassandra tampak menolak.

"Papa kamu yang nyuruh aku jemput. Kita harus membiasakan diri dekat dan apa-apa berdua." Pras tampak tak bisa dibantah.

Cassandra mulai perlahan kembali ke sikap aslinya. Ia mengerutkan alisnya lalu mulai tampak kesal.

"Iya iya. Oke!" Cassandra akhirnya mengalah karena malas berdebat dan tahu ujung-ujungnya Pras akan menang lagi.

Pras tertawa seneng.

Ya! Sebenarnya ia tak senang-senang amat, sih. Malah ada sisi sedihnya. Mungkin ia merasa senang karena herhasil membuktikan ke papanya kalau ia bisa mendekati Cassandra dan meluluhkan hati batunya. Tapi ia punya sisi kesedihan juga...

Pras tahu sejak mendengar soal perjodohan ini, harapan masa depan hubungannya dengan Masaya benar-benar tidak ada lagi.

Dulu setelah ketahuan dan dipaksa putus oleh papanya, Pras kan sempat berpikir mungkin papanya akan luluh suatu hari nanti. Ya walau sulit, tapi harapan itu masih ada.

Bahkan ketika sedang menangisi hubungan itu bersama-sama, Pras sempat bilang ia tak akan menikahi siapapun sampai tua hingga akhirnya papanya lelah dan mengizinkannya menikah dengan Masaya.

Tapi kini apa ...

Mana janjinya ...

Pras justru sedang merayu untuk menikahi gadis SMA yang bahkan juga membencinya.

"Aku mau pulang. Toh ini cuma jebakan. Sesi pertemuan eskul bukan hari ini, kan? Sampai ketemu besok malam." Cassandra berkata malas lalu berdiri dari kursinya dan pergi.

Pras ingin menahan tapi ia tahu di luar sedang ramai para murid. Baiknya mereka menjaga jarak, kan?

Ketika sibuk lagi membereskan kursi, tiba-tiba terdengar lagi suara pintu dibuka.

Pras menoleh dan menemukan Cassandra kembali berdiri di depan pintu lagi dengan wajah kesal. Tampak tangan kanannya menggenggam handphone-nya yang layarnya masih menyala.

"Sopir Papa cuti. Sopir aku antar Papa ke rumah sakit. Terus barusan Papa nelpon. Aku disuruh nyusul ke rumah sakit bareng kamu. Kamu bawa mobil, kan?" Suara Cassandra terdengar kesal namun ditahan.

Kalau bukan karena perintah papanya, mana mau ia balik lagi ke sini, bahkan minta diantar Pras ke rumah sakit.

"Oke aku antar. Biar murid-murid yang lain nggak curiga, kamu jalan duluan ke depan gerbang. Di seberang agak ke kanan ada halte, kan? Kamu tunggu di sana. Nggak mungkin kan kamu naik dari tempat parkir. Bakal kelihatan dari area lapangan basket soalnya. Oke?" Pras menyahut.

Cassandra menarik nafas panjang lalu mengangguk.

Oh, ini baru awal saja kan harus sembunyi-sembunyi begini. Bahkan nanti Cassandra harus benar-benar memanggil Pras dengan sebutan Pak Tyo saat di kelas.

***

Pras berjalan melenggang dengan santai menuju tempat parkir. Ia tahu banyak pasang mata mengawasinya diam-diam dari area lapangan.

Ya iyalah kan Pras guru baru. Mukanya belum familiar. Ditambah lagi sebenarnya dia cukup ganteng untuk ukuran guru muda. Jelas saja team cheerleader yang sedang latihan serempak menoleh padanya saat dia lewat.

"Pak Tyo! Mau pulang?" Suara Ditto yang cukup keras memanggilnya membuat Pras menoleh.

Pras pun mengangguk dan memberi kode dengan jempol untuk menguatkan jawaban 'iya'. Ia malas balik berteriak ke Ditto yang sedang latihan basket di tengah lapangan.

Ditto memberikan jempolnya juga untuk balasan jawaban Pras.

Pras tertawa pelan. Ah, haruskan ia akrab begini dengan Ditto yang jelas-jelas naksir Cassandra?

Di sela-sela tawanya tiba-tiba Pras menghentikan langkahnya begitu menyadari sesuatu.

Dilihatnya motor vespa matic limited edition warna cokelat tua miliknya itu di tempat parkir.

"Ya ampun! Aku lupa bilang sama Cassandra kalau aku nggak bawa mobil. Tapi bawa motor!" Pras menepuk jidatnya sendiri.

BERSAMBUNG..

_____

Jangan lupa LIKE dan Komentarnya ya. Terima kasih. 🥰

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!