Patah dan Amarah

Tempat parkir mobil dan motor di rumah sakit ini memang posisinya berhadap-hadapan.

Entah kebetulan atau memang garis takdir yang membuka jalannya sendiri, mobil Mayasa terparkir tepat di depan pemandangan menyakitkan ini.

Mayasa masih mengusap air matanya dengan sok tegar melihat Pras yang bahkan membantu merapikan rambut Cassandra yang sedikit berantakan karena habis memakai helm.

"Aduh romantisnya. Seharusnya itu aku," batin Mayasa yang patah hati.

Padahal adegan sebenarnya adalah Cassandra kesal karena Pras menyentuh rambutnya.

"Ngapain sih sok perhatian. Udah ayo masuk!" Cassandra menampik tangan Pras si pria rapi yang gatal tangannya melihat rambut berantakan Cassandra.

"Bukannya gitu. Tapi nanti  papa kamu curiga kenapa rambut kamu acak-acakan begitu. Dia kan ngiranya kamu naik mobil sama aku. Dikiranya aku ngapain kamu gitu di mobil," sahut Pras sambil nyengir.

Cassandra yang sedang berusaha menyisir rambutnya sendiri dengan tangan lalu memelototi Pras dengan mata tajamnya yang cantik.

"Emang ngapain di mobil sampai rambut aku berantakan! Dasar otak cab**l! Aku ngerti ya kamu lebih tua 7 tahun lebih dari aku. Tapi aku nggak sepolos itu!

Dengar ya! Walau kita akhirnya nikah nanti, jangan harap kamu bisa nyentuh aku! Camkan itu! Aku cuma mau nikah sama kamu buat nyenengin Papa!" Cassandra berkata kesal lalu di akhir kalimatnya ia meninju lengan Pras.

"Aw!" Dengan refleks Pras menjerit.

Cassandra hanya menatap sinis lalu mengikat rambutnya dengan asal setelah kepikiran mungkin Pras benar juga. Lebih baik agar tak terlihat berantakan, diikat saja.

"Sakit. Saya cuma, mmm... . Saya kan cuma bercanda. Jangan langsung ngecap saya cab**l begitu dong. Saya itu cowok yang sangat menghargai perempuan, loh. Saya itu..."

"Halah udah! Banyak omong banget! Ayo masuk! Papa udah nunggu!" Cassandra yang sudah selesai mengikat rambutnya langsung menarik tangan Pras karena malas berdebat di tempat parkir.

Pras tampak lucu ditarik-tarik Cassandra yang tomboy.

Adegan permusuhan dan perdebatan sepanjang waktu di antara mereka tanpa sadar justru membuat mereka saling dekat.

Adegan itu memang kelihatannya lucu dan romantis dari balik kaca mobil Mayasa. Ia cemburu diam-diam tapi tak bisa apa-apa.

"Cantik memang. Anak boss lagi. Masih muda juga. Nggak heran kalau Pras suka beneran sama anak itu. Ah, Masaya. Sadar diri kamu itu siapa. Pras bukan milik kamu lagi. Dan selamanya dia tidak akan pernah menjadi milik kamu.

Lepaskan. Pras berhak mendapatkan wanita yang lebih baik. Kamu hanya sampah. Janda anak 3, 37 tahun. Bagai langit dan bumi jika dibandingkan anak Pak Prambodo yang cantik itu." Mayasa menggumam sendiri sambil mengusap air matanya.

Soal perjodohan ini, Mayasa sudah mencium desas-desusnya dari para karyawan kantor. Tapi ternyata saat tahu secara langsung di depan mata begini rasanya 100x lebih sakit.

Oh, putus baik-baik karena sama-sama paham hubungannya tidak punya masa depan ternyata lebih sakit rasanya dibandingkan putus karena diselingkuhi.

Rasanya bahkan mirip seperti ketika Mayasa kehilangan suaminya.

Ya, rasa patah hatinya mirip seperti ini. Hampa, rindu, tapi tak bisa apa-apa selain hanya mengenang kenangan manis saja.

Drttt! Drttt!

Mayasa yang sebenarnya hendak turun dari mobil sejak tadi ternyata masih terjebak di sini karena insiden menyakitkan barusan.

Ia mengeluarkan handphone yang sedang bergetar itu di tasnya yang ia letakkan di jok penumpang kosong sampingnya.

"Aduh! Pak Prambodo lagi." Mayasa tampak panik.

Ya, tujuannya ke sini kan atas ide sendiri. Ia punya dokumen untuk ditandatangani Prambodo yang ketika dihubungi katanya ia tak masuk kantor hari ini karena sedang di rumah sakit.

Mayasa yang habis meeting dengan klien di resto seberang rumah sakit jelas dengan senang hati bilang ingin menyambangi pria itu saja ke sini.

"Halo Pak Prambodo?" Mayasa yang habis menangis berusaha menormalkan suara seraknya dengan beberapa kali berdehem.

"Masaya, kamu jadi nyamperin saya? Meeting-nya udah selesai?" Suara Prambodo membuat panik Mayasa.

Aduh! Kalau ia mendatangi atasannya itu, maka jelas ia akan ketemu Pras dan Cassandra juga di sana. Ngapain lagi mereka ke sini kalau bukan untuk pria itu.

Mayasa menarik nafas panjang dan berusaha mencari alasan yang membuat kepalanya mendadak pusing.

"Mmm, aduh gimana ya. Maaf ya, Pak. Saya buru-buru pulang tadi karena pengasuh anak saya nelpon. Saya akan balik ke kantor, sih. Tapi Bapak ngantor kan besok? Besok aja tanda tangannya, Pak. Maaf ya sekali lagi." Mayasa berbohong demi menjaga hatinya sendiri.

"Oh, nggak papa. Anak kamu gimana? Sakit atau apa? Cepat sembuh ya. Santai aja. Nggak balik ke kantor juga nggak papa. Yang penting kerjaan ke-handle semua."

Panggilan pun diakhiri. Mayasa menepuk dahinya sendiri dengan menyesal. Ia lalu menungkupkan kepalanya di atas setir mobilnya.

"Ya ampun! Seharusnya aku nggak bohong soal anak. Dikira anak aku sakit lagi. Mana Pak Prambodo memang pengertian banget kayak biasanya. Arghhh!" Masaya mengeluh karena merasa harinya mendadak kacau.

Ia ingin benci pada Pras tapi tidak bisa. Ia justru benci pada Cassandra dan ia merasa bersalah karena itu. Cassandra kan anak Pak Prambodo, pria yang banyak berjasa di dalam karirnya.

Bertahannya ia di kantor kan karena pengaruh Pak Prambodo juga yang mempertahankannya walaupun kondisinya tidak ideal menduduki posisi penting karena ia seorang janda dan ibu.

Bukannya membeda-bedakan hak antara karyawan laki-laki dan perempuan, tapi kondisi Masaya itu memang tak bisa dipungkiri membuatnya banyak absen karena anaknya sering sakit dan ia tak punya suami untuk bergantian mengurus.

Di saat Arik Gudono yang merupakan orang penting juga ingin mengganti posisinya, Prambodo dengan kukuh mempertahankan Mayasa.

Lalu Mayasa membenci anak pria yang telah berjasa untuknya? Oh, namanya tak tahu terima kasih. Tapi Mayasa tetap saja kesal pada gadis yang merebut Pras-nya itu.

Arghhh! Rasa ini cukup rumit juga.

***

Sementara di ruang tunggu khusus pasien dan pendamping.

"Dokternya mendadak operasi tadi. Ya Papa tadinya cuma pengin dokter yang bicara langsung ke kamu soal penyakit Papa.

Papa membaik, kok. Bahkan obatnya berkurang satu sekarang. Tenang, San." Prambodo berbohong. Padahal barusan dokter menaikkan dosis obatnya dan menambah satu.

Cassandra menatap papanya dengan sedih.

Semenjak Cassandra tahu soal penyakitnya  papanya biasanya selalu menghindar dan mencari-cari alasan ketika Cassandra bersikeras ingin menemaninya ke rumah sakit.

Prambodo sungguh tidak ingin putrinya melihatnya menderita karena efek pengobatan itu. Padahal Cassandra sangat ingin bicara dengan dokter. Makannya walau syaratnya harus diantar Pras, Cassandra mau-mau saja ke sini.

Sedangkan bagi Prambodo, misinya menyuruh Cassandra ke sini adalah agar Pras dan Cassandra dekat.

"Operasinya lama ya, Pa?" Cassandra bertanya dengan lesu.

Prambodo mengangguk. Padahal dokternya tidak kemana-mana.

"Udah pulang aja, yuk. Atau makan siang dulu gimana? Ada resto favorit Papa dan favorit papanya Pras di dekat rumah sakit. Pras mau, kan?" Prambodo mulai lagi melancarkan aksinya. Pokoknya yang penting Pras dan Cassandra punya banyak momen berdua.

Pras jelas mengangguk. "Iya, Om."

Prambodo menatap puas sambil menepuk pundak calon menantunya itu. Ia bahkan tak peduli Cassandra setuju atau tidak untuk acara makan sian bersama dadakan ini.

"Oke. Karena tadi Cassandra bareng semobil sama Pras, sekarang lebih baik gitu aja. Papa sama sopir Papa, Sandra sama Pras. Oke?" Prambodo yang tak tahu menahu kalau Pras naik motor berkata dengan santai.

Pras mendadak tegang. Duduknya jadi tegak.

Sementara Cassandra bereaksi sebaliknya. Ia tersenyum usil. Inikah waktunya mengerjai Pras?

"Oke, Pa. Aku sama Pras. Kita tadi naik motor ke sini. Pras bonceng aku. Seru, loh. Kita kebut-kebutan di jalan. Kita..."

"A--APA?" Prambodo terlihat syok.

Sementara itu Pras jelas menunduk pucat.

Astaga Cassandra pasti sengaja mengerjainya. Padahal mereka sudah sepakat tadi kalau Cassandra tidak akan memberitahukan pada papanya soal ini.

"PRAS! KAMU GILA YA! KAMU TAHU KAN CASSANDRA NGGAK BOLEH NAIK MOTOR! DIA PERNAH KECELAKAAN PARAH!" Prambodo tak sadar meneriaki Pras yang menunduk pasrah.

Para pasien, pendamping pasien, dan para perawat yang mondar-mandir itu sampai melongo karena terkejut dengan teriakan marah Prambodo.

Bersambung ...

_____

Tinggalkan jejak ya. Terima kasih sudah mampir membaca.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!