Tertangkap Basah

Ketika Cassandra memasuki ruang musik, Pras masih berdiri di depan pintu dengan canggung.

Haruskah ia menutup pintu? Atau membiarkannya terbuka begini saja.

Takutnya kalau pintunya tidak ditutup, lalu akhirnya Cassandra menyadari kalau ia adalah Pras, gadis muda itu akan meledak marah dan suaranya terdengar dari luar.

Kalau pintu ruangan musik ditutup kan jadi kedap suara. Mau ada yang berteriak sekalipun tidak akan kedengaran dari luar.

"Wah! Dari luar kelihatan sempit sih ruangannya. Tapi ternyata luas. Semua lengkap lagi di sini. Kok saya bisa nggak tahu ya Pak kalau sekolah adain eskul baru." Cassandra tampak terkagum melihat sekeliling.

Pras bisa merasakan mata gadis itu berbinar senang. Tak salah memang cerita papanya. Gadis ini begitu menyukai musik tapi papanya menentang.

Terlihat juga dari semua postingan sosial medianya betapa gadis ini memang passion hidupnya di bidang musik.

Pras merasa tidak salah pilih trik. Oke, menyamar menjadi guru musik adalah cara terbaik untuk mendekati Cassandra.

"Mmm, udah lama sih saya dihubungi pihak sekolah. Saya nggak ngajar jadi guru resmi juga Cassandra. Guru seni budaya kan ada sendiri. Saya cuma megang eskul doang." Pras menggaruk-garuk kepalanya untuk menahan gugup.

Cassandra menoleh ke arah pria yang ia panggil Pak Tyo itu lalu manggut-manggut.

"Bapak lulusan sekolah musik?" Cassandra bertanya dengan mata berbinar. Mungkin ia berharap bisa bertanya-tanya soal sekolah musik yang ia impian para Pras.

Prastyo mengangguk kaku.

Sial! Ia berbohong!

Ia kan sekolah bisnis. Mana tahu ia soal sekolah musik.

"Universitas mana, Pak? Luar negeri? Dalam negeri?" Cassandra dengan suara merdunya berjalan mendekat ke arah Pras yang berdiri kaku.

Pras mulai mengepalkan tangan dengan gugup.

Aduh kalau dijawab dalam negeri ia mau menyebut kampus mana. Kalau dicek dan ketahuan berbohong sejak awal kan sia-sia saja semua ini.

Ah! Jawab saja kampus luar. Begitu pikir Pras.

"Eh, ada lah kampus musik di Swiss," jawab Pras dengan asal.

Mata Cassandra membulat tak percaya. Ia menatap Pras dengan penuh kekaguman. Betapa keren punya guru eskul lulusan luar negeri.

"Serius, Pak? Kampus mana? Kebetulan banget saya punya impian kuliah musik di luar negeri. Saya cari semua informasi. Jadi saya tahu semua kampus musik di Swiss." Cassandra makin antusias.

Prastyo makin pucat pasi.

Astaga! Ini ibarat main catur tapi baru 5 langkah saja sudah skamatt!

"Mmm, ada lah pokoknya." Sungguh jawaban gugup yang mulai membuat Cassandra curiga.

Cassandra menaik-turunkan alisnya lalu menatap agak tajam pada Pras. Lalu setelah satu menit sama-sama diam seperti patung, akhirnya Cassandra mundur.

Cassandra menatap Pras makin tajam. Pras panik.

"Tunggu! Anda Pak Tyo? Nama lengkapnya siapa? Jangan bilang Prastyo!" Cassandra mulai merasakan nafasnya naik turun tak karuan.

Aneka kejanggalan mulai terasa seperti titik-titik dari benang merah yang tersambung di otaknya. Kejanggalan papanya yang tiba-tiba mendukungnya masuk eskul musik, wali kelasnya yang tiba-tiba memberinya informasi eskul ini saat libur sekolah, tiga hari terakhir papanya tiba-tiba juga berhenti membujuknya bertemu dengan Pras.

Oh ternyata ini...

Cassandra mulai tampak kesal setelah mengingat wajah Pras yang ia lihat lewat foto sekilas di internet.

Mirip!

Setelan rapi, kacamata tebal, rambut klimis.

Dengan gusar karena Pras tidak bisa menjawab apa-apa atau meluruskan semua kebingungan ini, Cassandra mengeluarkan handphone dari tasnya.

Jelas ia menelusuri dengan cepat riwayat pencariannya di mesin pencari internet beberapa hari yang lalu.

Ini dia!

Prastyo Hakka Gudono.

Cassandra makin berang saat menyadari foto yang ia lihat sama persis dengan pria yang mengaku sebagai guru musik di depannya.

"Ini kamu kan, Pras! Anaknya Om Arik, kan? Gila ya! Ngapain kamu di sini! Ngaku-ngaku jadi guru musik lagi!" Cassandra merasakan nafasnya dan suaranya saling berlomba karena menahan marah. Tangannya gemetar menunjukkan layar handphone-nya pada Pras.

"A--aku bisa jelasin, Cassandra..." Pras tampak panik dan berjalan mendekat. Cassandra jelas makin mundur.

"Nggak perlu jelasin apa-apa. Dengar ya! Aku nggak mau dijodohkan. Apalagi sama kamu! Cowok freak! Aku nolak buat ketemu sama kamu karena aku lagi ngulur waktu buat mikir gimana nolak ini tanpa bikin Papa kecewa.

Kamu tahu kan papaku sakit keras? Aku lagi pusing dan ketakutan masalah itu tapi kamu bisa-bisanya nyamar begini sampai sekolah aku! Dasar freak!"

Cassandra tak sadar nada suaranya meninggi.

Pras dengan panik menoleh ke arah pintu, takut ada yang mendengar teriakan marah Cassandra.

"Aku bisa jelasin..."

Tapi Cassandra jelas langsung muak. Ia tak mau mendengar apapun lalu berusaha pergi.

Pras jelas mencoba menahan tangannya hingga membuat Cassandra jatuh. Pras ikut menunduk hendak menolong saat tangan mereka masih saling berpegangan. Lebih tepatnya Pras yang memegangi tangan Cassandra.

"Minggir sana!" Cassandra mencoba mendorong Pras dan melepaskan tangannya.

Pras berusaha menahan karena bingung hendak berbuat apa.

Pras pikir permainannya rapi. Ternyata baru beberapa menit saja Cassandra sudah menangkap basah dirinya.

"Sandra? Kamu kenapa?" Tiba-tiba sesosok lelaki jangkung berpakaian seragam basket muncul di depan pintu. Di dada sebelah kiri tertulis nama 'Ditto.'

Semua menoleh. Pras makin panik. Seketika ia lepaskan pegangan tangannya pada lengan Cassandra.

"Oh, tadi Cassandra jatuh kesandung... itu kabel!" Pras langsung menunjuk pada kabel yang memang melintang di atas karpet ruangan. Kabel itu terhubung pada sebuah gitar listrik yang tersandar di atas kursi.

Dengan gerakan cepat dan takut, Pras berdiri lebih dulu lalu mengulurkan tangannya ke arah Cassandra untuk membantunya berdiri.

Ajaibnya Cassandra tidak menolak. Ia menerima uluran bantuan itu dan berdiri. Ia pun tak mengucap sepatah katapun karena mungkin ia juga merasa harus menjaga semua obrolan rahasia perjodohan ini di depan Ditto.

Ditto pun melepas sepatu basketnya lalu langsung masuk saja.

"Bapak guru eskul musik?" Ditto yang ternyata tingginya lebih dari Pras itu menyeka keringat di dahinya dengan lengan tangannya yang kekar.

Sebagai sesama lelaki cukup minder juga Pras dengan pesona Ditto yang lebih muda darinya itu. Apalagi ia sangat peka dan bisa menyimpulkan dengan cepat kalau Ditto naksir Cassandra. Terlihat jelas dari tatapan matanya yang berbeda.

Pras pernah remaja. Walau usianya 27 sekarang, tapi ia tahu betul gerak-gerik cowok yang sedang naksir berat dengan cewek.

'Apa Ditto nggak tahu kalau Cassandra lebih tua darinya? Cassandra 19. Tahun ini 20. Tapi Cassandra masih bisa dibilang kelihatan kayak umur 15 sih dengan wajahanya yang imut itu. Paling Ditto ini umur berapa, sih? 17 paling. Aman lah. Cassandra nggak mungkin suka sama cowok di bawahnya.' Pras membatin.

Cassandra melirik Pras dengan tatapan benci yang ia tahan.

Ditto menatap Pras dengan penuh penasaran bercampur curiga. Pras berusaha tetap tenang walau hatinya bergemuruh.

Ah, sial!

Dia calon CEO pengganti di perusahaan tapi malah terjebak di sini menjadi guru SMA.

"Y--ya. Saya guru di sini..."

BERSAMBUNG ...

_____

Jangan lupa jejak like dan komentarnya ya.💕

Terpopuler

Comments

Hesty Mamiena Hg

Hesty Mamiena Hg

Kenapa Ditto mengenal Sandra ya Thor? Bukannya Sandra "baru masuk" skolh lagi, setelah vakum 2 thn? Harusnya, yg mengenal Sandra, udah pd tamat semua 🤔

2023-08-16

0

Hesty Mamiena Hg

Hesty Mamiena Hg

skak mat! 😂😂

2023-08-16

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!