Ditto dengan mata tajam dan wajah lumayan ganteng itu menatap Pras dengan tatapan agak berani.
Mungkin karena ia menilai Ditto menilai Pras adalah guru yang cukup muda, maka ia bisa bersikap agak santai.
Di luar hal itu pun Ditto ini memang agak berandal di sekolah. Maklum kapten tim basket.
"Mmm, ya saya Tyo. Guru eskul musik. Saya lupa masukin nomor Cassandra di grup anak-anak. Jadi dia nggak tahu kalau sesi pertama pertemuan diundur. Dia udah terlanjur di sini dan bantuin saya beres-beres. Iya kan Cassandra?" ucap Pras dengan tatapan memohon.
Cassandra mengangguk lemah. Mau tak mau ia mengiyakan. Ia tak mau membuat Ditto curiga.
"Pak, saya masih bisa ikut daftar nggak sih?" Ditto langsung antusias dan menatap ke arah Cassandra penuh arti.
Rupanya kecurigaan Ditto melihat Pras memegang tangan Cassandra saat terjatuh ke lantai tadi langsung hilang. Ditto justru tertarik pada hal lain yaitu gabung di eskul ini.
Tujuan Ditto jelas : biar bisa sering-sering ketemu Cassandra yang sudah berkali-kali menolak cintanya.
Cassandra langsung menggeleng cepat.
"Udah tutup pendaftarannya. Udah full. Iya kan, Pak? Lagian ngapain sih kamu To masuk eskul sini. Mana bisa kaku nyanyi, main musik. Ngomong aja fals," balas Cassandra dengan ketus.
Pras hanya nyengir. Ia makin yakin lagi cinta Ditto pada Cassandra bertepuk sebelah tangan. Terlihat jelas betapa Cassandra kesal pada cowok ini.
"Masih bisa sih. Kamu lihat di mading aja, ya. Baru saya tempel tadi pagi pengumumannya. Ada nomor saya di situ. Nanti kamu chat aja dan saya kasih formulir untuk diisi." Pras jelas tak bisa berbohong. Posisinya guru di sini. Masak ia bilang pendaftaran tutup hanya gara-gara menuruti kode dari Cassandra.
Cassandra melirik ke arah Pras dengan tatapan yang makin sulit menyembunyikan kebenciannya. Ia merasa Pras sengaja mengerjainya.
"Nah. Oke nanti saya isi formulirnya deh, Pak. Cassandra, kita bakalan sering-sering ketemu deh tanpa kamu bisa menghindar lagi. Kamu juga jangan blokir nomorku lagi, lah. Kita nanti satu grup chat loh di eskul musik. Iya kan, Pak Tyo?
Okelah saya mau balik lagi latihan. Nanti dicariin coach lagi. Dahh Cassandra. Permisi, Pak." Ditto tertawa senang lalu berlalu pergi.
Pras menahan tawa ketika melihat wajah Cassandra merah padam.
Tinggalah hanya Cassandra dan Pras saja di ruangan kedap suara ini.
Pras tampak nyengir begitu melihat respon Cassandra makin kesal padanya. Cassandra menatap dengan tatapan menghujam dan makin sinis.
"Dia naksir kamu ya? Ganteng sih. Tapi kan umurnya paling berapa. Lebih muda dari kamu pasti. Kamu 20 tahun kan tahun ini?" Pras makin berani berbicara dengan santai pada Cassandra .
Cassandra mendengus kesal.
"Oh jadi kamu udah nyari tahu info soal saya. Sampai tahu umur saya berapa..."
"Kamu juga cari tahu soal saya. Tadi tuh yang kamu kasih lihat di internet."
Keduanya bertatapan dengan mata menyala. Debat pertama di pertemuan pertama yang sama-sama panas.
Masih dengan posisi berdiri, Cassandra melipat tangannya ke dada dan membuang muka.
Pras merasa menang. Ya atau setidaknya satu sama.
"Kamu jangan bilang saya freak karena saya nyamar jadi guru di sekolah kamu ya. Ini ide bertiga. Aku, papaku, sama papa kamu. Ini karena kamu nolak ketemu aku.
Dengar ya, Cassandra. Aku tahu kamu nggak mau sama rencana perjodohan ini. Saya juga. Tapi kita sama-sama tahu kan kalau kita nggak bisa nolak.
Jadi kamu nikmatin aja. Setahun terakhir ini saya akan pantau kamu di sekolah sekalian jagain kamu dari cowok-cowok macam Ditto. So, kalau kamu bongkar identitas saya, otomatis hubungan kita akan tersebar.
Kamu mau memangnya? Nggak, kan? Jadi, mohon kerja samanya aja. Kamu dapat untung karena saya jagain dan bisa belajar musik. Saya bisa mengemban tugas papa saya sama papa kamu buat jaga kamu sampai lulus. Saya denger cerita tuh dari kelas satu kamu selalu cari cara biar di-DO."
Pras bicara panjang lebar tanpa Cassandra bisa mengelak. Sumpah! Wajah Cassandra merah menahan marah.
"Kamu bahkan lulusan sekolah bisnis. Mana kamu ngerti soal musik! Toh lama-lama akan ketahuan juga." Cassandra mencibir sambil masih melipat tangan ke dada. Ia merasa baru saja membuat Pras mati kutu.
Ternyata Pras bereaksi sebaliknya. Ia tertawa pelan sambil membuka handphone-nya. Ia menunjukkan sesuatu pada Cassandra yang membuat gadis itu menutup mulutnya dengan tangan.
Pras tersenyum makin lebar.
Mata Cassandra melotot makin lebar.
Apa yang Cassandra lihat di handphone Pras?
***
Kembali di momen beberapa pekan lalu saat Pras menghubungi Hugo-vokalis BigHigh Band yang merupakan teman kuliahnya dulu di Singapura dulu. Mereka bahkan tinggal bersama karena menyewa apartemen.
Maklum saja mereka begitu akrab karena berteman sejak SMP.
Hugo baru terkenal beberapa tahun terakhir ini saja di sepanjang kiprahnya menjadi musisi.
Mencoba mengadu nasib di kompetisi pencarian bakat, ia tertendang keluar di babak 10 besar. Solo karir tidak seberapa sukses, hingga akhirnya lewat kiprahnya menjadi vokalis BighHigh lah ia terkenal.
Pras tahu Cassandra begitu menyukai BigHigh terutama Hugo dari postingan akun media sosialnya. Makannya ia menelpon Hugo hari itu dan membuat janji temu.
"Ini nih foto-foto kita waktu nge-band dulu. Emang buat apaan sih? Pak CEO mau bikin biografi masa muda nih." Hugo tertawa lalu mematikan rokoknya begitu melihat tanda dilarang merokok di dinding cafe bertema outdoor itu.
Nama besar dan popularitas jelas menuntut Hugo untuk berhati-hati bertingkah di tempat umum macam ini. Mukanya bisa dikenali dan jika dipotret diam-diam sedang berbuat yang tidak-tidak, habis lah ia menjadi santapan penggosip.
Pras mengambil sebuah album foto lama yang barusan dilempar Hugo ke meja.
"Ada lah pokoknya. Mau tau aja." Pras memeriksa isinya dan tersenyum senang ketika melihat wajahnya ada di foto itu. Di dekat Hugo dan kawan-kawan.
Hugo meneliti wajah sahabat lamanya itu dengan alis mengernyit. Yang dilihat tak sadar dan hanya tersenyum-senyum sendiri saja memandangi foto.
"Aku mungkin bukan lulusan sekolah musik. Tapi aku autodidak. Nih lihat. Kamu tahu Hugo, kan? Dia teman band aku waktu SMA dan kuliah. Aku cuma kuliah bisnis karena tuntutan orang tua aja."
Itulah rencana kalimat yang akan ia katakan pada Cassandra kalau ketahuan nanti.
Dan benar, di hari pertama ia menjalankan misi, ia langsung ketahuan.
***
"Ini Hugo?" Mata Cassandra membulat terkejut.
Ya! Hugo adalah idolanya.
Selain karena bakat, suaranya yang khas alias unik, Cassandra jelas menyukai Hugo karena wajahnya.
Manly, rebel, bad boy, dan keren.
Singkatnya, Hugo adalah tipenya!
"Ya, ini Hugo. Dan ini aku. Lihat yang pakai kacamata!" Pras terdengar bangga sambil menunjukkan foto di handphone-nya yang ia tunjukkan pada Cassandra.
Cassandra tak peduli pada foto Pras. Ia menatap foto Hugo yang memang ganteng dadi SMA.
"Cassandra?" Pras menahan senyum saat gadis yang beberapa menit lalu menatap galak padanya itu berubah menjadi manis seperti kucing.
"Cassandra..."
Pras memanggil lagi tapi Cassandra tidak merespon.
Pesona Hugo dalam foto membuatnya bisu dan tuli mendadak.
Ah, jangan-jangan keputusannya salah memakai trik sebagai 'teman Hugo' untuk mendekati Cassandra.
Tapi kalau bukan dengan cara itu, mau pakai cara apa lagi. Pras mendadak gamang dengan keputusannya ini.
Cassandra jelas menganggap Hugo sebagai idolanya. Hugo paling menganggap Cassandra sebagai fans kalau dikenalkan nanti.
Tapi kan Cassandra cantik...
Hugo itu play boy tengik...
Dengan spontan Pras menarik handphone-nya dari pandangan kata Cassandra dan membuat gadis itu menatap kecewa padanya.
BERSAMBUNG ...
_____
Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komentar ya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
Hesty Mamiena Hg
Aaa ternyata Hugo yg membuat Sandra terpesona 😌
2023-08-16
0
Hesty Mamiena Hg
Pras jago musik?
2023-08-16
0