Gaun Kejutan Untuk Pras

Mayasa menyapu deretan gaun cantik yang jarang ia pakai itu dengan tangan lembutnya.

Oh, setiap baju rasanya punya kenangan tersendiri. Baju ini pernah ia pakai saat makan malam anniversary pernikahan dengan Rendi, gaun ini ia pakai waktu mereka pertama kali berkencan...

Seolah semua benda mati itu mengingatkannya pada mendiang mantan suaminya.

"Mas Rendi, kamu bilang kalau suatu saat nanti aku bertemu dengan lelaki yang sayang padaku dan anak-anak, juga menerima keadaan kami apa adanya, Mas izinin aku menikah lagi.

Aku ketemu orangnya, Mas. Usianya 10 tahun lebih muda dariku tapi sikapnya sangat matang dan dewasa. Anak-anak suka dan nyaman sama dia. Mungkin cuma Leo yang agak menjaga jarak karena dia merasa posisi kamu tidak bisa tergantikan selamanya.

Tapi sayang laki-laki itu harus ninggalin aku, Mas. Dia mungkin menerima statusku dan keadaanku, tapi ayahnya tidak. Dia lebih memilih menjadi anak yang berbakti. Aku bisa apa.

Dan sekarang laki-laki itu dijodohkan dengan gadis cantik yang usianya 7 tahun lebih muda. Namanya Cassandra. Aku tidak kenal dia tapi tahu karena ayahnya sering bercerita tentang dia dengan sangat bangganya. Kuakui gadis itu kelewat cantik dan menarik. Tapi aku tahu dia bukan tipe Pras.

Anak itu mungkin tidak akan cocok dengan Pras-ku karena sikap mereka 180 derajat berbeda jauh, dari segi apapun. Kurasa dia juga berusaha untuk menolak perjodohan ini. Tapi entah kenapa firasatku berkata sebaliknya.

Aku takut mereka jatuh cinta sungguhan. Salahkah aku, Mas? Aku cuma belum bisa terima..."

Mayasa meraba gaun warna biru tua itu dan mengambilnya dari gantungan baju. Matanya berkaca-kaca.

"Ini baju hadiah terakhir dari kamu Mas sebelum kamu meninggal. Baju ini yang kupakai waktu Pras pertama kali mengajakku makan malam romantis waktu perjalanan dinas ke Bali.

Waktu itu Pras bilang aku cantik dan anggun memakai gaun ini. Haruskah aku pakai ini? Entah kenapa aku ingin Pras menatapku seperti dulu.

Aku melihat mereka kemarin di tempat parkir rumah sakit dan kulihat Pras menatap gadis itu sambil melepaskan helm yang biasa kupakai. Entah kenapa hatiku rasanya sakit sekali.

Sakit sekali seperti waktu dulu aku lihat kamu nolongin mantan kamu waktu di kampus. Rasa sesak dan sedihnya sama. Itukah yang dinamakan cemburu? Salahkah aku...?"

Dan Mayasa akhirnya mendekap gaun itu sambil menangis di atas kasurnya yang menjadi dingin dan sepi setelah suaminya meninggal.

Gaun satin warna biru tua itu kini basah oleh air mata.

Gaun favorit Pras ...

***

Sementara itu gaun warna cokelat yang manis sekaligus memberikan kesan seksi dipakai oleh Cassandra dengan senyum terkembang.

Pinggangnya yang ramping, kulit putih mulusnya, setiap lekuk tubuhnya yang sempurna tampak menonjol. Cassandra tahu papanya akan mengomelinya nanti begitu melihatnya berpakaian seperti ini tapi ia tak peduli.

Targetnya kan Pras. Tujuan utamanya untuk menggertak Pras.

Cassandra sebenarnya kurang nyaman memakai gaun ini. Ia kan lebih suka berpenampilan agak maskulin karena jiwa tomboy-nya memang ada dalam dirinya sejak ia kecil. Tapi ia relakan malam ini khusus untuk Pras.

"Pras, kamu kan tadi yang bilang di chat kalau kamu pilih gaun ini? Nah, ini dia. Lihat apa kamu masih tetap bisa berakting sok manis di depan orang-orang begitu melihat penampilan kerenku ini?"

Tok tok tok...!

Terdengar suara pintu kamarnya diketuk. Cassandra berjalan hendak membukakan pintu tapi suara papanya mendahului gerakan tangannya.

"San, ada teman lama Papa mau datang ke acara. Orangnya kebetulan nginep di hotel kita. Papa berangkat duluan ya sama Pak Budi. Nanti jangan lupa waktu dijemput Pras, bilangin nyetirnya hati-hati."

Cassandra mengiyakan tanpa membuka pintu. Lalu ia dengar suara langkah kaki papanya menuruni tangga.

"Baguslah Papa nggak mesti lihat aku pakai baju kejutan ini." Cassandra membatin senang lalu kembali ke depan meja rias.

Ia menggunakan make up layaknya profesional. Cassandra memang sempat iseng belajar make up dari internet saat masa-masa pemulihan kakinya. Maklum kegiatannya terbatas dulu. Setelah bosan belajar melukis di kanvas, ia tertarik belajar melukis di wajahnya agar menjadi lebih cantik dengan make up. Dan beginilah hasilnya sekarang. Sempurna.

Cassandra sedang menutup kotak make up-nya ketika handphone-nya berbunyi.  Sebuah notifikasi pesan masuk membuatnya melirik antusias.

Ah, dari Pras.

[[  "Cassandra, Papa kamu barusan ketemu saya di bawah. Diceramahi saya selama 20 menit soal menyetir. Kayaknya saya bakal dipenjarain kalau sampai kamu lecet sedikit saja.

Ayo turun. Kita berangkat lebih awal karena kita harus mengobrol agar kelihatan kompak. Kamu tahu kan harus apa di depan para tamu nanti?"  ]]

Dan Cassandra hanya membalas pesan yang ditulis Pras panjang lebar itu dengan singkat : [[ Oke." ]]

"Dasar cowok kaku. Masih juga pakai saya-saya kalau ngomong sama aku. Artinya dia memang masih memberi jarak di antara kita. Ayolah, Pras. Aku tahu kamu juga nggak menginginkan perjodohan ini.

Kamu bertindak sejauh ini karena ingin berbakti sama Papa kamu aja, kan? Sama aku juga. Tapi kalau kita berdua pro saling menolak, maka akan lebih mudah, kan? Sayangnya kamu bersikap seolah kamu setuju dengan perjodohan konyol ini!"

Cassandra menggumam sambil menyisir rambutnya yang indah dan berkilau sehat itu.

***

Pras memakai setelan tuxedo warna cokelat senada dengan gaun Cassandra.

Karena tadi siang melihat gaun yang dikirimkan Cassandra lewat chat padanya itu berwarna cokelat, maka Pras pikir bagusnya ia mengenakan warna yang senada.

Pras sedang bersandar di mobilnya yang terparkir di halaman luas rumah megah Cassandra. Tangannya sibuk dengan handphone-nya.

Hugo rupanya belum puas mencecarnya soal Cassandra tadi siang. Malam ini ia mengganggu lagi, padahal beberapa jam lagi dia harus naik panggung dengan band-nya.

[[  "Ini kan akun Cassandra? Benar tidak? Ternyata dia sebegitu sukanya sama aku. Pras, ayolah. Kita teman, kan? Jujur aja kamu nggak suka beneran sama dia. Lepaskan aja dia. Dia lebih cocok sama cowok kayak aku."  ]]

Ya ampun! Benar lagi! Bisa-bisanya Hugo menemukan akun sosial media Cassandra yang isinya memang mirip akun fanpage Hugo and BigHigh Band.

Makin besar kepala anak itu begitu tahu Cassandra tidak hanya sekedar nge-fans, tapi dia benar-benar tergila-gila dengan Hugo.

Pras benar-benar dibuat sakit kepala sekarang. Ia tahu kadang Hugo suka bercanda begini soal rebutan pacar. Tapi itu kan dulu sewaktu mereka masih SMA.

Tapi entah kenapa kali ini Pras merasa Hugo seperti sungguhan mengincar Cassandra.

Dengan cepat tangan Pras bergerak membalas pesan sahabat lamanya itu.

[[  "Go, kublokir ya nomor kamu. Kalau kamu masih anggap aku teman, bisa nggak kamu berhenti untuk lancang. Jangan berani-beraninya hubungi Cassandra! Dia cuma nge-fans sama kamu karena belum tahu semua kelakuan busuk kamu. Ayolah, sebagai teman kita saling menghargai urusan masing-masing! AKU SERIUS!"  ]]

Sebuah tanda seru dan satu kalimat peringatan dengan huruf kapital Pras rasa seharusnya cukup bisa membuat Hugo tahu diri. Tapi entahlah. Anak itu agak lain dari orang normal jalan pikirannya.

"Pras!" Suara Cassandra memanggil.

Pras terlalu emosi menghadapi kelakuan Hugo dan terornya lewat pesan hingga ketika suara Cassandra terdengar memanggil di belakangnya, matanya masih fokus pada layar handphone-nya.

"Pras, aku udah siap. Ayo berangkat."

"Iya. Ay..."

Dan Pras langsung menghentikan kata-katanya begitu menoleh dan melihat Cassandra mengenakan gaun berpotongan minim.

"CASSANDRA KAMU GILA YA PAKAI BAJU ITU!"

Dan Cassandra tampak tertawa senang. Ia justru berputar-putar menunjukkan betapa cantiknya ia memakai gaun cokelat selutut itu.

Lutut Prastyo Hakka Gudono mendadak lemas seolah tanpa tulang.

BERSAMBUNG ...

_____

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!