"Kenapa, sih? Ini kan cantik! Bagus kan gaunnya di badanku?" Cassandra makin berputar-putar menggoda setengah memancing emosi Pras.
Pras kini setengah bungkuk memegangi lututnya karena terlalu frustasi melihat kelakuan calon istrinya itu.
"Cassandra! Please! Ganti baju kamu mumpung waktu kita masih agak panjang sebelum acara! Cepetan!" Pras berkata dengan tegas tanpa menatap Cassandra yang kelakuannya makin menjadi-jadi.
Cassandra jelas menolak. Ia bersikeras tidak mau mengganti pakaiannya.
"Pras, kamu sendiri loh yang milih bajunya. Kan tadi siang udah aku suruh milih waktu aku di butik. Katanya kan ini," ucap Cassandra santai.
Sekarang Pras berdiri tegak lagi sambil berkacak pinggang. Ia baru sadar kenapa sikap Cassandra ramah padanya sejak tadi pagi. Oh, ternyata ini. Ia dijebak dan dikerjai habis-habisan.
"Kan aku pikir cuma kamu suruh pilih warnanya. Lagian kamu lipat bajunya. Mana aku tau kalau sependek dan seterbuka ini. Udah sana ganti baju kamu, Cassandra!" Pras tampak menatap Cassandra dengan tatapan putus asa.
Oh, tanpa sadar kini Pras sudah menyebut aku-kamu saat bicara dengan Cassandra. Biasanya kan ia begitu kaku jika belum terlalu akrab dengan orang dan selalu menggunakan kata ganti aku-kamu.
Cassandra menggeleng sambil ikutan berkacak pinggang, seolah ingin menunjukkan kalau ia juga punya posisi yang sama di sini. Ia ingin menunjukkan kalau Pras tidak bisa seenaknya menyuruh-nyuruhnya ini itu begini.
"Aku nggak punya baju lain. Pilihannya cuma satu. Kita berangkat dan aku pakai baju ini atau nggak usah berangkat sekalian." Cassandra memberi pilihan.
Pras menggeram ingin marah tapi tak bisa.
Cassandra tersenyum makin lebar.
Sungguh ia berharap Pras kesal dan pulang atau meninggalkannya pergi agar pengumuman pertunangan itu gagal diumumkan malam ini.
Memang ini tujuannya, kan? Yaitu untuk menggagalkan kehadirannya di acara itu tanpa bisa disalah-salahkan keesokan harinya.
Kalau acaranya kacau karena mereka tidak datang kan Cassandra bisa langsung angkat tangan. "Ya karena Pras tiba-tiba pergi dan nggak mau datang. Aku sih sudah siap berangkat. Udah dandan cantik pula."
Begitulah pikiran picik Cassandra untuk mengakali Pras.
Cassandra tersenyum makin lebar. Ia tahu Pras tidak akan membawanya ke acara dengan gaun seperti ini. Gaun ini lebih cocok dipakai ke pesta anak muda. Kalau dipakai di acara formal, namanya salah kostum.
Pras berpikir sejenak. Ia tahu ia harus mencari cara untuk membuat keadaan menjadi terbalik. Dari kemarin ia selalu saja kena fitnah dan jadi korban keusilan kelakuan Cassandra.
Maka kini sambil menatap Cassandra dari ujung kepala hingga ujung kaki, Pras akhirnya mengangguk sambil tersenyum.
"Oke kalau itu mau kamu. Sebagai calon suami yang punya pemikiran terbuka, aku jelas nggak mau dong ngelarang-larang calon istriku mau berpakaian seperti apa.
Kalau kamu suka gaun itu, ya oke. Ayo kita berangkat, Sayang. Kita pamerkan tubuh cantik kamu itu di hadapan jajaran perusahaan yang 70% di antaranya Om-Om semua alias seumuran papa kita.
Sisanya ya mereka bawa pasangan mereka. Yang pasti usianya juga seusia nyonya-nyonya yang berpemikiran kolot. Mereka akan menganggap kamu tidak sopan dan tidak tahu aturan.
Ayo, masuk ke mobil. Aku akan dengan bangga menggandengmu masuk. Ayo, Sayangku, calon istriku." Pras tersenyum lebar sambil membukakan pintu mobil. Ia sengaja menyebut-nyebut kata 'sayang' dengan nada meledek agar Cassandra makin kesal.
Cassandra melongo.
Hah! Apa-apaan ini!
Kenapa Pras tidak mempan dengan gertakannya?
"Cassandra. Ayo kita berangkat. Ayo masuk." Pras memegangi pintu mobilnya sementara menunggu Cassandra yang bengong macam orang ling-lung.
Cassandra pun masuk karena tidak ada pilihan. Ia pikir gaun ini cukup ia pakai sampai sini saja lalu ia naik lagi ke kamar karena Pras akan kesal dan meninggalkannya pergi. Nyatanya tidak...
Aduh! Bagaimana ini?
"Kalau Papa lihat aku pakai baju ini, bisa jantungan betulan dia. Masalahnya Pras malah mengikuti permainan ini terlalu jauh." Cassandra membatin sambil menunggu Pras menyusul masuk ke mobilnya.
"Pakai sabuk pengamannya, Cassandra. Papa kamu bisa laporin aku ke polisi kalau tahu kamu nggak pakai sabuk pengaman waktu naik mobilku. Kamu melamun?" Pras yang tahu-tahu sudah duduk di balik kursi kemudinya menegur Cassandra yang habis kena skakmatt dadakan.
Cassandra menggeleng lalu mencoba memasang sabuk pengaman kursinya namun entah mengapa ia kesulitan.
Pras mencoba membantunya tapi posisinya yang mendekat membuatnya memalingkan wajah dengan cepat.
Bagaimana tidak! Tangannya hanya berjarak bebarapa milimeter dari gaun bagian depan Cassandra yang berpotongan rendah hingga ketika posisi duduk begini maka kelihatan begitu vul*gar.
"Cassandra, please. Kamu yakin mau pakai baju itu? Untuk yang terakhir kali ya mumpung masih ada waktu. Kamu naik ke kamar kamu, ganti baju, aku tunggu di sini. Kalau agak telat aku bisa bilang Papa kamu kalau di jalan lagi macet atau apa." Pras benar-benar bingung mengikuti alur permainan ini.
Mau membiarkan Cassandra pakai baju begini, rasanya ia tak rela.
Cassandra yang cantik tidak perlu menunjukkan lekuk tubuhnya sebegitu banyak untuk terlihat menarik. Ia sempurna dengan pakaian apapun. Tapi ini...
Rasanya ini sudah terlalu berlebihan. Walau jujur saja sebagai lelaki biasa, desiran aneh di tubuhnya jelas merespon keindahan itu. Pras tidak memungkiri.
Ia tatap sekali lagi Cassandra yang menatap lurus ke depan dengan wajah dinginnya.
"Nggak! Aku tetap pakai baju ini. Kalau Papa marah atau Om Arik malu karena calon menantunya pakai pakaian begini, aku tinggal bilang aja kalau kamu yang nyuruh. Ada tuh bukti chat-nya." Cassandra menjawab santai.
Oh, akhirnya ia punya kartu AS balasan.
Pras langsung memukul setir mobilnya dengan gemas.
Arghhh! Cassandra memang berotak licik. Rasanya apapun akan ia lakukan untuk menjatuhkan Pras.
Pras merasa inti dari semua permainan Cassandra ini adalah siapa yang paling kuat. Maka ia pun mengangguk nekat.
"Oke. Oke Ayo berangkat dan bilang pada semua orang kalau kamu pakai baju itu karena aku yang nyuruh.
Cassandra, mungkin kamu lupa ini acara internal perusahaan. Tamunya ya orang-orang yang aku kenal. Mereka kenal aku dan jelas nggak mungkin percaya kalau aku punya pemikiran segila itu.
Kamu tahu kan aku orang yang santun, rapi, dan tahu menempatkan diri. Nggak mungkin mereka percaya kalau aku yang nyuruh kamu pakai baju ini. Jadi ayo. Ayo kita berangkat!" Pras menyunggingkan senyum kemenangan balik sambil menyalakan mesin mobilnya.
Cassandra yang menyadari trik-nya gagal jadi panik. Sial!
Dengan cepat Cassandra berusaha membuka pintu mobil Pras tapi Pras menguncinya dari tombol kendalinya. Cassandra menggeram kesal.
Mobil melaju pergi membawa kekalahan Cassandra.
Lagi-lagi, ini semua soal siapa yang kuat bertahan.
Pras membuktikan kalau ia dengan segala keniatannya mewujudkan baktinya pada papanya lewat menyetujui perjodohan ini menang untuk sementara waktu.
1-0 untuk Cassandra.
Cassandra panik!
"Pras turunin aku di sini! Aku pulang naik taksi aja. Kalau Papa ngomel, biar aku yang bilang kalau aku menolak berangkat. Berhentiin mobilnya, Pras!" Cassandra berkata panik begitu mobil sudah melaju ke jalanan pusat kota.
"NGGAK!" Pras berkata tegas.
BERSAMBUNG ...
_____
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments