Handphone itu masih menempel di telinga Pras. Suara tawa sengak Hugo masih terdengar begitu jelas dan menyebalkan.
"D--darimana kamu tahu soal Mayasa?" Pras mencoba untuk tidak terkejut tapi nada suaranya terbata. Kentara sekali kalau ia syok juga dengan pengakuan Hugo.
Hugo terdengar tertawa lagi.
Entah kenapa hanya mendengar suaranya saja lewat telepon, wajah menyebalkan Hugo bisa terbayang di kepala Pras.
"Aku tahu karena kita nggak sengaja ketemu lagi di resto hotel beberapa minggu lalu. Aku ingat mukanya. Waktu itu aku lagi meeting sama klien aku untuk project sebuah brand. Kebetulan klien-ku itu temannya mendiang suami Mayasa.
Lalu dia cerita banyak karena aku nanya-nanya. Katanya suami Mayasa sudah meninggal dan sekarang sementara Mayasa kerja, anak-anaknya diurus mertuanya. Ibu mertuanya cuma punya anak satu itu, kan? Makannya Mayasa minta dia tinggal sama dia walau suaminya sudah meninggal.
Kasihan dia. Ditinggal meninggal dengan 3 anak dan harus berjuang menafkahi sendiri. Untung mertuanya bantuin dia urus anaknya sementara dia kerja."
Pras benar-benar diam di tempat. Mulutnya terkunci.
Hugo tahu sebanyak itu soal Mayasa? Bahkan sampai fakta pribadi yang mendalam. Sungguh suatu kebetulan yang Pras benci. Kenapa Hugo harus tahu, sih?
"Nggak nyangka loh Pras pas aku pas tahu itu. Pras, Pras. Aku tahu sih Mayasa itu cantik dan awet muda. Tapi dia kan janda anak 3, Pras. Kayak nggak ada cewek lain aja yang bisa kamu pacarin.
Aku juga cukup tahu papa kamu kayak apa. Om Arik begitu membanggakan kamu karena kamu anak satu-satunya. Mana mungkin dia izinin kamu punya hubungan sama wanita itu.
Ceritamu soal Cassandra kemarin sepotong-sepotong tapi bisa kusambung sendiri. Papamu pasti nyuruh kamu putus sama Mayasa dan kamu dijodohin sama Cassandra. Aku nggak tahu sih dia anak siapa. Tapi pasti bukan anak orang sembarangan.
Pras, aku sempat numpang tinggal di rumah kamu berbulan-bulan, loh. Aku kenal dan paham gimana Om Arik. Jadi, benar kan semua omonganku?" Hugo mengakhiri kata-katanya yang panjang dengan tawa sedikit di akhir kalimat.
Pras menahan diri. Ia jelas kesal setengah mati.
Sial! Jalan yang ia tempuh salah. Ia tak berpikir kalau idenya menghubungi Hugo untuk membantunya mendapatkan perhatian Cassandra malah berujung begini. Ditambah lagi Hugo ternyata tahu banyak soal Mayasa.
Pras benci fakta ini.
"Hugo, Mayasa teman kantorku. Waktu nggak sengaja ketemu di Bali kemarin, itu kita berdua ada urusan bisnis. Jangan mengarang cerita, lah.
Soal masalah pribadi Mayasa, statusnya, itu nggak ada urusannya sama aku. Jangan bawa-bawa dia.
Soal Cassandra, kamu nggak tahu apa-apa. Kami dikenalkan, lalu jatuh cinta, dan memutuskan menikah sebentar lagi. Mungkin setelah dia lulus SMA." Pras mulai mengarang cerita.
Oh, indah sekali kisah ini andai betulan seperti yang Pras sebut. Dikenakan, jatuh cinta, lalu menikah.
Andai kisah asmara mereka semudah itu. Nyatanya rumit.
Hugo terdengar tertawa lagi.
"Pras, aku nggak bodoh ya! Dia bukan cuma sekedar teman sekantor kamu seperti yang kamu bilang, Pras. Aku tahu kalian ada hubungan lebih. Kalau teman sekantor, ngapain kalian gandengan tangan? Haha!" Hugo seolah sedang menangkap basah Pras dan ia merasa puas karena Pras terpojok.
Pras diam saja.
Entah apa tujuan Hugo si superstar yang super sibuk itu mengulik kehidupan pribadinya sampai sebegininya.
Apa karena Hugo tertarik pada Cassandra?
Ya, jelas. Itu jawabannya.
"Hallo, Pras. Jadi mau alasan apa lagi. Ayolah, jujur saja. Kamu masih suka kan sama Mayasa. Tapi kamu nggak bisa perjuangkan dia karena Om Arik pasti menentang kamu habis-habisan.
Kejar, Pras. Be gentlemen. Kalau cinta, apapun yang menghalangi ya terabas saja. Papa kamu nantinya juga bakal luluh, kok. Malah enak tahu-tahu punya 3 cucu langsung. Haha.
Cassandra buat aku aja. Cantik dia. Agak tomboy juga. Kelihatannya agak nyentrik juga. Kalian nggak cocok. Cassandra itu tipeku banget. Aku tahu walau baru ngobrol sama dia beberapa menit. Cassandra benar-benar tipe idamanku banget. Ayolah Pras. Kasih kontaknya biar ak..."
"Hugo! Stop! Kamu terlalu sok tahu dan mengarang cerita. Terserah sekarang! Aku nggak akan hubungi kamu lagi buat minta tolong ya. Kalau Cassandra nanyain kamu maka tinggal aku bilang kalau kamu ganti nomor dan sekarang sombong karena makin terkenal. Beres!
Sekali lagi, Hugo! Jangan usik Cassandra!"
Tut!
Pras mengakhiri panggilan lalu masuk kembali ke dalam kamar. Ia lempar handphone-nya ke kasur lalu ia ikut menyusul melemparkan dirinya di atas bidang empuk itu.
Bugh!
"Astaga! Perusuh! Banyak perempuan cantik, Hugo! Jangan usik Cassandra-ku!" Pras menggerutu kesal.
Tunggu!
Tunggu!
Apa? Apa tadi?
Cassandra-ku?
Pras lalu menggeram sambil memejamkan mata. Kok bisa-bisanya gadis berandalan yang kemarin memfitnahnya itu ia sebut namanya dengan manis. Cassandra-ku...
***
Sementara Pras sibuk dengan pikirannya sendiri dan kekesalannya terhadap Hugo, Mayasa si wanita karir beranak tiga itu sedang berlari-lari keluar dari mobilnya.
Pak Prambodo alias papa Cassandra sudah sampai di kantor. Mereka sudah membuat janji temu kemarin kan untuk menandatangani berkas dan mendiskusikan beberapa urusan kantor.
Tapi sekarang Mayasa terlambat karena habis mengantar anaknya ke dokter.
"May, nggak usah buru-buru. Saya bisa nunggu, kok. Kan saya udah bilang tadi. Kalau sekiranya anak kamu belum bisa ditinggal, kamu kirim aja berkasnya lewat kurir." Prambodo menatap Mayasa yang ngos-ngosan sambil menyerahkan berkas di atas mejanya.
Masaya menggeleng pelan lalu duduk.
"Nggak papa kok, Pak. Lagian kan kemarin saya udah janji bisa datang jam segini. Malah harusnya saya samperin Bapak ke rumah sakit." Mayasa mencoba terlihat baik-baik saja walau sebenarnya ia lelah juga.
Menjadi ibu sekaligus ayah untuk tiga anak bukan hal mudah. Ditambah kesibukan sebagai wanita karir menguras otak, waktu, dan tenaganya juga.
"Udah oke kok, May. Emang saya selalu yakin project apapun di bawah pimpinan kamu itu pasti oke. Tinggal esekusinya aja. Makasih ya sudah selalu bekerja keras untuk perusahaan.
Semoga walau suatu saat saya sudah nggak ada di sini, kamu tetap bertahan May. Jangan sungkan untuk masuk dan pulang kantor sefleksibel mungkin agar peran kamu sebagai ibu tidak berkurang." Prambodo menatap Mayasa dengan bangga.
Ya, Mayasa adalah salah satu orang kepercayaan Prambodo. Kinerjanya dan loyalitasnya pada perusahaan jangan ditanya lagi.
Maka inilah salah satu alasan Arik Gudono tidak berani mengusik posisi Mayasa di perusahaan walaupun ia sangat ingin menyingkirkan wanita yang sangat dicintai Pras ini.
Mayasa hanya menunduk saat dipuji. Ia tahu Prambodo serius mengatakan ini. Atasannya ini memang begitu baik dan mengerti kondisinya. Maka dari itu walau cemburu dan patah hati pada Cassandra karena gadis itu akan dinikahi Pras, tapi Mayasa tak bisa benci.
Bagaimana bisa ia membenci putri kesayangan dari atasan yang begitu berjasa untuk karirnya.
"Mendiang Rendi pasti bangga sama kamu, May. Nggak gampang loh jadi kamu, May. Pokoknya kamu pulang aja hari ini. Kerja santai aja dari rumah. Biar bisa pantau anak kamu juga yang lagi sakit.
Udah, pulang aja ya. Siapa tahu anak kamu cepat sehat. Biar nanti malam kamu bisa datang di acara makan malam perusahaan. Saya pengin kamu lihat anak saya, May.
Kamu ingat Cassandra, kan? Sudah besar dia sekarang. Nantinya akan saya umumkan pertunangan dia dan Pras."
Deg!
BERSAMBUNG ...
_____
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments