Pengusiran Halus

Minuman yang tersembur itu membuat kemeja rapi Pras sedikit basah. Pria itu mengibas-ibaskan kerah bajunya dengan jari-jemari tangannya yang panjang dan berotot itu.

Maklum saja, pria itu gemar berolahraga. Gaya hidupnya juga sehat dan terjadwal. Pras memang sosok perfeksionis. Kerapian dan gaya hidupnya cukup terlalu sempurna untuk ukuran pria. Tapi itulah dia.

Ya mungkin bisa dibilang Prastyo Hakka Gudono adalah sosok sempurna untuk dijadikan calon suami bagi wanita matang siap menikah di luar sana.

Arik Gudono tertawa-tawa melihat tingkah putranya itu. Ya, gaya hidup dan penampilan ayah dan anak itu bertolak belakang bagai langit dan bumi.

Kalau tak kenal maka orang-orang tak akan tahu mereka ayah dan anak kandung. Arik si nyentrik, suka memakai kacamata hitam bahkan di dalam ruangan. Ia hobby memakai celana jeans dan jaket kulit untuk bekerja.

Maklum, setengah gedung perusahaan ini miliknya. Suka-suka dia mau pakai apa berangkat ke kantor.

Sedangkan Prastyo Hakka Gudono adalah gambaran pria metropolitan berkarir sukses. Kemeja rapi, dasi, wangi, rambut kelimis dengan pomade mengkilat, sepatu hitam, kacamata baca bertengger di wajahnya.

Betapa kontras penampilan keduanya.

Pras kini menatap tak suka pada kemeja setengah basahnya. Tatapannya makin kesal saat melihat papanya hanya duduk sambil tertawa-tawa.

"Pa, aku mau jadi guru apa? Aku kan kuliah manajemen bisnis, bukan kuliah pendidikan guru. Cassandra juga pasti menolak perjodohan ini, kan? Bukannya dia malah makin kesal kalau tahu aku sampai jadi guru sekolahnya buat pendekatan? Gila apa!"

Pras yang sebenarnya sosok yang jarang bicara itu jadi mendadak cerewet.

Arik Gudono lagi-lagi hanya mengangkat bahu.

"Justru itu tantangannya. Sekalian kamu jagain dia. Setahun doang, Pras. Abis libur sekolah ini kan dia naik kelas 12. Tahun terakhir.

Cassandra itu kan cantik. Cantik banget. Halah kamu kan udah sering lihat dia kalau ada acara kantor dan Om Prambodo ngajak dia. Cantik kan anaknya? Pasti banyak yang naksir.

Nah, makannya kamu sekalian jagain. Jangan sampai lah istri kamu ditikung teman sekolahnya. Ya walau umur anak-anak cowok itu lebih muda dari Cassandra, tapi ya namanya juga cowok.

Ayolah. Cassandra juga pasti ngerti, kok. Biar kamu istirahat juga dari ngantor. Kamu udah terlalu kerja keras bertahun-tahun. Anggap aja cuti. Papa kan mau pensiun. Nanti balik ngantor kamu gantiin Papa. Ya?"

Dan Pras pun belum menyahut.

Pras tahu papanya punya ide ini sekalian mengusirnya secara halus dari kantor. Pras tahu betul. Dan ia paham mengapa papanya begitu.

Mungkin papanya pikir dengan menendangnya dari kantor dan mengirimnya jadi guru sekolah Cassandra akan membuat perasaannya berubah untuk Mayasa. Padahal tidak. Sampai detik ini Pras masih mencintai wanita itu.

Pras tahu betul perjodohan ini tidak akan berhasil. Akan sia-sia saja. Tapi ia tahu ia tak boleh mengecewakan sang ayah. Ia sudah berjanji akan mengakhiri hubungan dengan Mayasa. Tapi janji kan di mulut, sedangkan hati tidak semudah itu berubah haluan.

"Papa mau ngusir aku dari kantor biar nggak ketemu Mayasa?" Pras bukannya menjawab iya atau tidak, tapi ia malah menanyakan pertanyaan itu dengan lirih.

Arik tak tertawa lagi. Ia hanya tersenyum tipis menanggapi pertanyaan itu. Kisah percintaan Mayasa dan Pras adalah topik yang berusaha mereka hindari untuk dibahas. Tapi Pras justru memulainya, bahkan menyebut namanya dengan jelas.

"Kamu mau Papa jujur? Iya. Setahun aja, Pras. Nanti kamu bakalan bisa cepat lupain perempuan itu. Syukur-syukur kamu bisa cinta betulan sama Cassandra.

Papa nggak bisa asal aja mutasi dia ke cabang lain. Dia sudah bekerja keras untuk perusahaan ini dan berjasa besar. Papa bukan pemimpin yang arogan. Apalagi Om Prambodo mengandalkan Mayasa dan mempercayainya.

Papa nggak akan kasih tahu Om Prambodo soal kamu sama Mayasa. Kalian sudah janji juga akan mengakhiri hubungan kalian. Kamu tahu kan mama kamu juga nggak setuju kamu sama Mayasa?"

Arik Gudono membuang muka menatap jendela.

Pembicaraan antara ayah dan anak laki-laki kadang bisa secanggung ini.

Pras terdiam.

Ya, Arik Gudono sempat cemas dengan kehidupan percintaan putranya dengan perempuan bernama Mayasa itu. Terlebih ketika ia sadar mereka sudah terlalu jauh.

Ketika memulai karir di kantor ini dan Pras menginginkan merintis dari bawah, Arik cukup bangga karena putranya tidak memanfaatkan jabatannya untuk mendapatkan posisi atas. Tapi siapa sangka petualangan Pras memulai karir di perusahaan papanya sendiri itu justru membuatnya terperangkap cinta atasannya sendiri alias Mayasa.

Ya, Mayasa kepala salah satu departemen penting di kantor. Perempuan itu menjadi mentor Pras sehingga mereka dekat.

Jatuh cinta memang bukan sebuah dosa atau kesalahan. Tapi Mayasa berumur 37. Ia janda beranak 3 yang ditinggal mati suaminya.

Dan salahnya Pras jatuh cinta. Jatuh cinta dengan mendalam pada perempuan berusia sepuluh tahun di atasnya itu.

Pras menutup wajahnya dengan tangan.

"Aku udah nggak ada hubungan apa-apa lagi dengan Mayasa, Pa. Tapi jodohin aku sama anak 20 tahun yang masih SMA itu terasa konyol." Pras menyahut lirih.

"Memang kenapa kalau dia baru 20 tahun. Cuma selisih 7 tahun sama kamu. Kamu sama May..."

"Stop, Pa. Udah. Jangan sebut dia lagi. Oke tapi kenapa? Apa nggak bisa bikin surat perjanjian lain atau apalah untuk ke depannya biar perusahaan ini tetap begini aja.

Masak Om Prambodo nggak percaya sama kita. Masak aku harus nikahin anaknya buat menjamin perusahaan akan tetap jadi milik berdua. Kayak kita mau ada niat jahat aja. Seharusnya Papa tersinggung..."

"Pras. Kamu nggak ngerti. Papa sama Om Prambodo sahabatnya sejak kuliah. Susah senang kita merintis bareng. Bahkan bisa dibilang Papa hutang budi sama keluarganya. Kamu nggak ngerti rasanya jadi seorang bapak kayak Papa sama Om Prambodo.

Om Pramodo cuma cemas soal Cassandra. Apalagi anak itu susah diatur. Papa nggak tersinggung dengan permintaanya. Papa tahu dia bilang begitu karena dia cemas. Kamu tahu kan dia sakit keras." Nada Arik Gudono mendadak sedih di akhir kalimatnya begitu menyinggung soal kesakitan sahabatnya.

"Lah itu Papa tahu anaknya susah diatur. Aduh nggak akan berhasil deh perjodohan ini!" Pras terdengar makin frustasi.

"Akan dipaksa berhasil, Pras. Maaf. Tapi kita cuma ngasih waktu pendekatan. Bukan berarti ada kesempatan untuk menolak. Pada akhirnya kalian harus tetap menikah. Apapun yang terjadi." Suara tegas Arik Gudono membuat Pras tersentak.

Apa?

Garis takdir macam apa ini?

Di zaman semodern ini, kenapa masih ada perjodohan konyol hanya karena harta?

Pras meletakkan kepalanya di meja. Tangannya terkepal. Ia pusing. Benar-benar pusing.

"Maaf Pras. Kalau kamu mah menolak Papa nggak papa, kok. Tapi Papa tahu kamu anak Papa satu-satunya yang berbakti. Nggak mungkin kamu bikin Papa kecewa."

Arik Gudono lalu pergi setelah mengucapkan kalimat itu.

Pras mengangkat wajahnya setelah mendengar pintu ruangannya ditutup.

Oke. Guru SMA. Guru apa?

Ah, sial!

Bersambung ...

...

Jangan lupa tinggalkan jejak dan komentar, ya. Terima kasih pembaca.🥰

Terpopuler

Comments

Hesty Mamiena Hg

Hesty Mamiena Hg

Kenapa gk ada koment?

2023-08-15

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!