Fitnah Paling Lucu

Pras menatap Cassandra dengan panik.

Cassandra yang ditatap tampak cuek dan nyengir seolah tidak terjadi apa-apa.

Kini Pras menatap Papa Cassandra dengan takut-takut. Prambodo jelas memelototinya.

"Jangan teriak-teriak, Pa. Nanti dipanggilin satpam, loh. Emang kenapa sih kalau naik motor? Salah sendiri Pras nggak bawa mobil dan Papa pakai acara nyuruh dia antar aku ke sini," ucap Cassandra dengan tampang tak berdosanya.

Prambodo langsung menoleh ke sekitar dan sadar tempat. Ia segera menggiring Cassandra dan Pras keluar dari area itu.

Hingga akhirnya di tempat parkir itulah Prambodo menghentikan langkahnya. Pak Budi si sopir yang tadi mengantar tergopoh-gopoh datang karena bingung.

Perasaan tadi Pak Prambodo bilang pulangnya masih satu jam lagi. Begitu pikirnya.

"Pak Budi tunggu saja di mobil. Saya mau bicara sama anak-anak ini dulu!" Prambodo langsung menujuk ke arah kursi panjang di pinggir taman dekat tempat parkir.

Cassandra dan Pras mengikutinya di belakang. Sambil berjalan, Pras menyikut-nyikut pinggang Dea dan memberinya kode dengan wajah memelasnya.

Kok bisa-bisanya Cassandra yang sudah janji nggak akan bilang soal naik motor malah mengadu dengan wajah tanpa merasa bersalah.

Cassandra memasang wajah cuek melihat Pras yang berusaha komat-kamit memberi kode padanya agar dibela di depan papanya. Bukannya mengangguk atau menenangkan, Cassandra justru menjulurkan lidahnya seperti meledek. Pras makin frustasi saja rasanya.

"Duduk!" Prambodo yang sudah lebih dulu duduk itu memegangi lututnya dengan wajah kesal. Ia menunjuk ke arah sebuah bangku panjang lain tepat di depannya.

Dengan begini poisis mereka nanti akan saling berhadapan.

Cassandra duduk dengan santai. Bahkan sempat-sempatnya ia menyilangkan kaki dengan sok anggun. Ia sengaja melakukannya agar Pras yang sedang menatapnya makin kesal.

Pras yang duduk di samping Cassandra duduk dengan tenang seolah hendak diomeli Kepala Sekolah.

"Pras! Ingat nggak sih malam itu kita bicara empat mata di pinggir kolam renang rumah kamu. Saya cerita soal kecelakaan Cassandra, trauma saya, keposesifan saya jagain dia.

Kamu tahu betul saya nggak akan tenang ngapa-ngapain kalau tahu Cassandra masih di jalan dan belum sampai tujuan. Pikiran saya udah kemana-mana, tuh. Takut dia kecelakaan, lah. Takut mobilnya ditabrak orang, lah. Takut sopir baru saya nyulik dia.

Terus sekarang kok bisa-bisanya kamu bawa dia kebut-kebutan naik motor? Hah! Kamu mau bikin saya yang sudah sakit kanker begini jadi jantungan? Ya ampun!" Prambodo menumpahkan kekesalannya pada calon menantunya itu.

Cassandra hanya bisa menahan tawa. Ia merasa puas.

"Sukurin kamu, Pras! Dan buat Papa, ayolah, Pa. Mana calon menantu idaman, sopan, membanggakan yang kemarin Papa puji-puji itu?" Cassandra membatin dalam hati dengan girang.

Pras sungguh mati kutu. Menelan ludah pun sulit. Ia difitnah oleh gadis 19 tahun yang harus ia nikahi ini. Oh! Betapa menyebalkan!

Prambodo yang ia panggil 'Om Pram' sejak kecil itu mendadak galak padanya. Pras paham dan tidak tersinggung sama sekali. Ia tahu kenapa Om Pram marah. Jelas ia mencemaskan putrinya.

Pras tahu kalau ia menikahi Cassandra, maka ia akan mendapatkan ayah mertua yang terbaik yang bisa ia dapatkan. Ia tahu betul sahabat sekaligus partner bisnis papanya itu seperti apa. Aslinya baik. Gara-gara Cassandra saja dia jadi galak padanya.

Memang niat sekali Cassandra mengerjainya.

"Om, maaf banget. Tapi saya nggak kebut-kebutan. Sumpah demi apapun. Saya juga nyuruh Cassandra naik tak..."

"Nggak kok, Pa. Pras bawa motornya aman, kok. Sandra ngerasa ngebut karena emang nggak pernah naik motor aja. Sandra seneng, kok. Udah pokoknya Papa nggak usah khawatirin Sandra," ucap Sandra memotong.

Prambodo menarik nafas panjang. Ia masih menatap Pras dengan sebal. Pras hanya nyengir.

Pras awalnya senang karena akhirnya Cassandra membelanya. Padahal ia belum tahu saja. Cassandra masih ingin mengerjainya. Tunggu saja nanti. Ia tahu kapan timing yang tepat.

"Tetap aja, San. Mau hati-hati atau pelan pun Papa tetap cemas. Kamu kan tahu Papa nggak pernah ngizinin kamu naik motor karena bahaya dan tingkah resiko kecelakaannya lebih besar. Kamu juga, Pras. Kok bisa-bisanya kamu bawa Cassandra naik motor, sih!" Prambodo terlihat gemas campur kesal.

Mulut Pras sudah terbuka, siap untuk mengemukakan alasannya. Ia tadi kan sudah sempat menyuruh Cassandra naik taksi saja. Eh, Cassandra malah memaksa naik vespa.

Tapi rupanya mulut Pras terbungkam lagi karena mulut manis Cassandra sudah mendahului menyambar.

"Pa, Pras bilang aku harus melawan rasa trauma. Aku nggak papa, kok. Benaran udah nggak papa mau naik motor, mobil, kereta, atau apapun itu. Kecelakaan itu udah berapa tahun yang lalu sih, Pa. Cassandra merasa normal lagi kok kayak dulu.

Iya kan, Pras? Omongan Pras benar, Pa. Cassandra harus sering-sering naik motor. Iya, kan? Lagian Papa kan pengen kita dekat dan cepat akrab. Ya naik motor solusinya. Kalau naik mobil kan duduknya agak jauhan." Cassandra benar-benar mengucapkan kalimat yang setiap kata-katanya tak terduga.

Baik Pras maupun Prambodo sama-sama dibuat melongo.

Pras melongo karena difitnah makin jauh. Apa-apaan ini? Kapan dia bilang kalau Cassandra harus naik motor untuk menyembuhkan trauma kecelakaannya?

Kapan? Apa sudah gila ia menyebut kalimat macam itu? Mana ada metode menyembuhkan trauma dengan makin menantang bahaya!

Sedangkan Prambodo dibuat melongo karena putrinya yang berumur 19 tahun itu menyebut secara tidak langsung soal kontak fisik.

Ia tahu hal ini akan terjadi. Putrinya akan tumbuh dewasa. Tapi tetap saja ketika Cassandra menyebutkan soal hal semacam itu membuatnya syok juga.

Astaga! Sepertinya daripada makin jauh dan membuatnya cemas, pernikahan mereka harusnya dipercepat saja. Begitulah pemikiran yang muncul di kepala Prambodo dari celetukan mengejutkan Cassandra barusan.

Apalagi Prambodo rupanya lupa memperhitungkan hal ini. Pras kan umurnya 27. Ia lelaki dewasa yang cukup matang. Sebagai seorang ayah yang menjaga putrinya sepenuh hati, Prambodo sangsi juga. Padahal ia amat tahu Pras lelaki yang santun.

Tapi tetap saja, kan. Prambodo juga lelaki dan ia pernah muda. Ia tahu betul hasrat terlarang itu bisa muncul kapanpun kalau ada kesempatan.

Prambodo rasanya tak rela. Seharusnya mereka menikah dulu...

"Om, dengerin saya, Om. Nggak gitu. Saya nggak pernah ngomong kalau..."

"Apa sih, Pras. Orang tadi kamu ngomong begitu, kok. Kita bisa lebih cepat dekat kalau sering berdekatan, kan? Udahlah. Papa juga ngerti, kok.

Yaudah, Pa. Aku naik motor sama Pras aja ya ke resto. Nanti kita ketemu di sana. Bye, Pa. Ayo, Pras!" Cassandra berkata dengan santai lalu asal gandeng saja dan setengah menarik tangan Pras menuju ke arah tempat parkir motor.

Prambodo berdiri dari duduknya dan ingin mencegah, tapi ujung-ujungnya ia kehilangan kata-kata.

"Astaga! Apa Pras salah paham sama kata-kataku kemarin? Aku ingin dia dekat dengan Cassandra lewat hati, bukan fisik..."

Cassandra tidak tahu kalau niatnya mengerjai Pras justru berujung membuat cemas papanya. Ia salah trik. Kalau begini jadinya kan ia malah kepikiran untuk mempercepat pernikahan.

"Dah, Papa! Kita duluan, ya!" Cassandra berseru dari atas motor yang melaju.

Prambodo dibuat makin melongo dan syok saat melihat putrinya membonceng vespa sambil melingkarkan tanganya di pinggang Pras.

Pras hanya bisa tersenyum dengan wajah pasrah.

Keterlaluan banget Cassandra membuat nama baiknya jatuh di depan papanya.

Cassandra tertawa senang. Pras terlihat stress mendadak.

Oh! Gadis macam ini yang harus ia nikahi? Hidupnya pasti penuh warna dan ia akan jadi sering sakit kepala.

BERSAMBUNG ...

_____

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!