Satu minggu kemudian, Pras sedang mematut dirinya di depan cermin toilet sekolah. Ini hari pertamanya menjadi guru musik.
Sekolah memang masih satu minggu lagi libur sebelum mulai tahun ajaran baru. Tapi Pras masuk untuk kegiatan eskul musik.
Jangan ditanya bagaimana ia bisa masuk ke sekolah ini dan diterima menjadi guru. Ia jelas dengan mudah mendapatkan posisi karena kepala yayasan sekolah adalah teman kuliah papanya dan papa Cassandra.
Sejujurnya agak sedikit tegang juga Pras dengan hal baru ini. Apalagi ia sebenernya terpaksa melakukan ini semua. Tapi ini semua demi misi penting. Mau tak mau ia harus siap.
Ya, misinya akan ia kerjakan hari ini. Misi penting. Misi nekat.
Misi mendekati Cassandra.
"Oke. Rapi. Perfect!"
Pras menggumam pelan setelah memastikan kemejanya rapi. Ia tak tahu saja Cassandra justru tidak suka tipe cowok terlalu rapi dan necis begini.
***
Sementara di depan gerbang sekolah, Cassandra tampak ragu setelah menutup pintu mobil.
Dilihatnya ke belakang lagi, tampak papanya membuka kaca jendela dan tersenyum padanya.
Cassandra berbalik badan lalu berjalan mendekat lagi.
"Papa yakin? Bukannya biasanya Papa nggak suka aku belajar musik, nyanyi, segala macam. Aku heran kenapa tiba-tiba Papa kasih izin aku buat daftar eskul." Cassandra agak menunduk untuk menyamakan posisinya dengan papanya yang masih berada di dalam mobil.
Prambodo tertawa pelan. Ia berusaha untuk setenang mungkin agar Cassandra tidak curiga kalau ini semua adalah jebakan.
Prambodo menyerah juga membujuk Cassandra yang terus mengulur waktu ketika akan dipertemukan secara langsung dengan Pras.
Bilangnya sih setuju dengan perjodohan ini. Tapi ketika dibujuk selalu beralasan.
"San, Papa cuma pengin kamu senang aja, kok. Sekarang boleh. Kamu mau belajar apapun boleh. Yang penting sekolah tetap nomor satu. Kamu harus lulus. Oke?" Prambodo meyakinkan.
Cassandra lalu berdiri tegak lagi. Rambutnya yang ia kuncir asal-asalan tampak mencuat dan anak rambutnya terbang menutupi pipi. Wajahnya tampak ragu.
Heran saja ia kenapa papanya tiba-tiba berubah pikiran sedemikian cepat. Padahal sewaktu pertama kali tahu penyakit kritis papanya, Cassandra sudah membuang jauh-jauh mimpinya itu.
Sekarang keadaannya justru berbalik dengan janggal.
"Papa yakin? Sepi, Pa. Sebelumnya nggak ada eskul itu kan di sekolah. Siapa tahu nggak ada yang datang selain aku. Sandra antar Papa check up ke rumah sakit aja deh." Sandra tiba-tiba sudah memegang handle pintu, bersiap hendak masuk mobil lagi.
Prambodo panik. Ia menggeleng dengan cepat.
"San, Papa serius. Papa selama ini terlalu keras sama kamu. Sekarang Papa dukung. Nanti Papa belikan gitar yang kamu mau. Gimana? Teman Papa lagi ada di LA. Papa bisa nitip dia gitar yang waktu liburan kemarin pengin kamu beli. Oke?"
Jurus jitu terlontar.
Cassandra jelas meleleh. Dengan cepat ia menutup pintu mobil lagi lalu mengangguk.
"Serius, Pa?" Mata gadis cantik itu berbinar senang.
Prambodo mengangguk.
"Temannya Om Arik, sih. Pokoknya minggu depan barangnya ada di rumah. Udah sana masuk. Nggak enak Papa parkir di sini. Udah jalan aja Pak Budi. Dah Cassandra. Nanti Papa jemput ya habis dari rumah sakit."
Lalu mobil itu pun melaju pergi, meninggalkan Cassandra sendirian mematung di depan gerbang sekolah.
Dengan senyum terkembang, mata berbinar, dan langkah ceria, ia masuk dan menyapa satpam sekolah.
Cassandra melihat sekitar dan menemukan sekelompok anak cheerleader sedang latihan.
Di sisi lapangan yang lain anak basket juga tampak sedang istirahat latihan.
Memang setiap libur sekolah, tempat ini tak pernah sepi. Anak-anak yang punya club, eskul, maupun yang tidak berkepentingan pun boleh masuk ke area sekolah dan menggunakan fasilitasnya.
Cassandra tahu kemana ia harus menuju. Ia sudah menghubungi guru musik yang sebelumnya diarahkan oleh wali kelasnya.
Ya, wali kelasnya bilang Cassandra bisa bergabung di eskul musik yang baru dibentuk kalau mau. Kebetulan beliau tahu Cassandra punya bakat dan minat di bidang itu.
Cassandra tentu senang. Apalagi ketika ia menceritakan hal itu pada papanya, beliau bilang boleh padahal ia belum minta izin.
Guru musik yang tak lain adalah Pras itu meminta Cassandra dan anak-anak lain yang ingin bergabung berkumpul hari ini di ruangan baru di sudut sekolah.
Cassandra tahu awalnya ruangan itu adalah gudang tambahan. Entah apa yang dilakukan pihak sekolah pada ruangan itu. Ia tak tahu. Yang jelas katanya sudah diubah menjadi ruang khusus eskul musik.
Cassandra berdiri di depan ruangan itu. Ia baca plakat di atas pintu.
"Eskul Musik."
Ia tertegun. Bahkan sudah ada plakat ruangan khusus. Cat luarnya juga terlihat baru.
Cassandra tersenyum. Entah kenapa ia merasa senang. Setelah memohon pada papanya agar dimasukkan ke sekolah yang ada eskul musiknya selalu ditolak, kini sekolah ini punya eskul musik juga. Sayangnya baru ada di tahun terakhir ia SMA.
Cassandra tidak jadi mengetuk pintu saat dilihatnya pintu itu tidak benar-benar tertutup rapat.
Ia iseng mengintip dan melihat punggung dari pria berpotongan rambut cepak sedang berdiri membelakanginya. Pria itu sedang merapikan meja-meja.
"Tidak ada orang." Cassandra membatin lalu melirik ke arah jam tangan yang ia pakai.
Benar jam 10 pagi. Bukannya katanya jam kumpulnya jam segini. Kenapa nggak ada orang? Cassandra jelas bingung. Guru musik itu bilang sudah ada sekitar 15 anak yang mendaftar dan mengkonfirmasi akan hadir di pertemuan pertama besok.
Tapi akhirnya karena penasaran, Cassandra mengetuk pintu juga.
"Selamat pagi Pak Tyo?" Cassandra memanggil.
Ya, Pras memperkenalkan dirinya sebagai Pak Tyo ketika chat dengan Cassandra. Tidak salah juga kan. Nama lengkapnya kan Prastyo.
Pras menoleh dan tersenyum.
"Ya? Kamu..."
Dengan berakting sok bingung, Pras berjalan mendekat dan membuka pintu lebar-lebar agar bisa melihat Cassandra di balik pintu dengan leluasa.
"Pak, saya Cassandra yang kemarin chat soal eskul. Katanya ada 15 anak yang mau hadir. Kok sepi? Padahal udah jam 10. Saya telat ya, Pak?" Cassandra yang memakai celana jeans dan kaos putih polos tampak berdiri di depan pintu dengan bingung.
Pras tersenyum sok polos, pura-pura sedikit kaget.
"Oh, Cassandra. Maaf, kayaknya saya kelewat masukin nama kamu di grup chat eskul. Saya semalam baru buat pengumuman kalau pertemuannya diundur. Soalnya ya kamu bisa lihat sendiri, ruangannya belum rapi," ucap Pras sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Cassandra tampak kecewa. Tapi rupanya ia belum curiga kalau sosok lelaki di depannya adalah Pras-pria yang sebentar lagi mau tak mau harus ia nikahi.
"Oh, gitu ya, Pak." Cassandra rupanya bingung juga hendak merespon apa.
"Duh, sorry ya Cassandra. Mana kamu udah sampai sini lagi." Pras makin menjadi-jadi aktingnya.
Cassandra berusaha tersenyum menahan kecewa.
Oh, senyumnya manis!
Dalam hati Pras membatin. Memang ia beberapa kali sempat berpapasan dengan Cassandra di acara kantor ketika ia diajak paksa papanya. Tapi kan hanya sekilas.
Sekarang dengan jarak sedekat ini, rasanya kecantikan Cassandra menampar-nampar hati Pras yang tanpa disadari dag-dig-dug juga.
Cassandra memang cantik alami, tanpa make up sekalipun. Alis tebal, lesung pipi, hidung mancung. Pokoknya semua struktur wajahnya seolah terletak pada tempatnya dengan sempurna.
"Mmm, kamu mau masuk? Bisa bantu saya dan mengobrol mungkin kalau mau. Kamu jadi murid pertama yang masuk ruangan ini." Pras tertawa ramah.
Cassandra menatap dengan ragu. Mata mereka bertemu. Agak gugup juga Pras bertemu mata dengan Cassandra yang harus ia akui : memang cantik.
"Boleh." Tanpa diduga Cassandra menjawab santai lalu langsung masuk ke dalam ruangan.
Jantung Pras mau copot rasanya.
BERSAMBUNG ...
_____
Jangan lupa tinggalkan jejak, like, komentar ya. 💕
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments