Dini hanya bisa membulatkan matanya dengan opsi gaun yang telah dipilih Cassandra.
Sebagai pegawai butik, ia tak punya kuasa apa-apa. Pembeli adalah raja bukan?
Cassandra memicingkan mata. Ia kelihatan begitu antusias. Ia nampak berpikir kira-kira warna apa ya yang disukai Pras?
"Ah, ya! Motor vespa Pras kan warna cokelat tua. Mungkin dia suka warna itu. Berarti..."
Cassandra terus membatin sambil jari lentiknya menyusuri gaun-gaun pilihan yang Dini susun di meja.
"Oke. Yang ini Mbak Dini. Aku suka yang ini. Boleh aku foto nggak?" Cassandra menatap Dini dengan pancaran mata cerianya.
Dini hanya bisa mengangguk dengan pasrah. Ia menelan ludahnya sambil nyengir. "Oh astaga! Gadis muda ini mau memakai gaun seterbuka ini ke acara yang dibuat papanya? Nanti kalau Bu Kamila kena semprot, aku pasti ikut kena juga. Ah sudahlah! Bodo amat!"
Cassandra lalu sibuk melipat gaun cokelat pilihannya itu agar tidak terlalu terlihat potongan pendeknya ketika ia foto nanti.
Gaunnya memang cantik dan jelas akan terlihat keren di tubuh ramping Cassandra. Apalagi kulit putihnya, wajah mulusnya dan rambut panjangnya yang indah akan mendukung gaun ini sempurna di tubuhnya.
Hanya saja potongannya terlalu pendek di atas lutut sedikit. Gaun ini juga berpotongan rendah di bagian dada. Seutas tali cantik terlihat menghiasi bagian pundak.
Cassandra tahu papanya pasti akan marah melihatnya berpakaian seperti ini. Tapi tujuannya kan bukan itu. Ia akan mengkambinghitamkan Pras untuk gaun ini.
Ia akan membuat Pras memilihkan gaun ini untuknya. Jadi nanti ketika ia memakainya ke pesta, Pras tidak bisa beralasan lagi. Tinggal bilang saja, "Kan kamu yang pilihin."
Membayangkan adegan ini saja sudah membuat Cassandra merasa menang.
"Boleh pinjam yang merah nggak?" Cassandra lalu menunjuk ke arah gaun merah cerah yang warnanya sangat mencolok itu.
Dini lagi-lagi hanya bisa mengangguk dan mengambilkan. Oke, kembali ke aturan awal : pembeli adalah raja!
Cekrek! Cekrek!
Cassandra memotret dua gaun itu secara terpisah. Gaun cokelat dan gaun merah. Lalu setelahnya ia menelpon nomor Pras.
"Hallo?" Suara Pras terdengar terkejut. Cassandra yang membenci dan memusuhinya tiba-tiba menelpon. Ada apa gerangan?
"Pras, kamu cek chat ya cepetan. Aku barusan ngirim dua opsi gaun buat aku pakai nanti malam. Kamu yang pilihin."
Tut!
Cassandra tidak menunggu Pras menjawab. Ia menutup panggilan itu secara sepihak. Tujuannya jelas. Ia ingin Pras memilih gaun warna cokelat untuknya.
***
Pras yang baru selesai mandi karena habis berolahraga itu termenung menatap layar ponselnya.
"Cokelat atau merah? Merah terlalu terang. Cokelat... mmm, ini kan warna favorit Mayasa." Pras bergumam lirih.
Tanpa sadar bibir Pras tersenyum. Ia jadi ingat waktu pulang dari perjalanan bisnis ke Dubai, Pras membelikan mantel warna cokelat untuk Masaya dan wanita pujaannya itu begitu menyukainya.
[[ "Oke. Yang cokelat." ]]
Pras membalas pesan Cassandra lalu menaruh handphone-nya lagi ke meja.
Sambil menggosok-gosok rambutnya yang basah dengan handuk, Pras kembali berpikir. Kenapa tiba-tiba Cassandra bersikap ramah padanya? Ah, entahlah.
Pras tak mau banyak pikiran. Ia tak tahu Cassandra belum cukup puas mengerjainya kemarin. Ia ingin membuat Pras makin kesal padanya. Tujuannya jelas : biar Pras tak tahan dan memohon dengan sendirinya untuk membatalkan perjodohan ini.
Pras menaruh handuk basahnya di tempatnya. Ia si pria rapi.
Rasanya agak aneh karena mulai sekarang papanya benar-benar melarangnya ke kantor dan ikut campur urusan perusahaan. Biasanya kam segini ia sudah sibuk. Sekarang ia merasa seperti pengangguran.
Ya, Arik Gudono memang seniat itu untuk membantu putranya menjauh dari Masaya.
"Setahun ini, Pras. Cuma setahun. Fokuskan diri kamu buat Cassandra."
Itulah yang Arik Gudono bilang. Dan Pras tak kuasa melawan.
Ketika Pras hendak membuka laptopnya, handphone-nya yang tadi ia geletakkan di meja itu berdering lagi. Ia pikir Cassandra lagi, tapi ternyata bukan.
"Hugo? Ngapain dia?" Pras membatin.
Diangkatnya panggilan itu sambil membuka pintu ke arah balkonnya untuk mencari udara segar. Laptop yang setengah terbuka ia biarkan saja.
"Ya Hugo?"
"Pras! Pacarmu yang kemarin itu serius mau ikut project? Cantik juga dia. Kok bisa mau ya sama kamu. Hahaha. Aku boleh minta kontak dia langsung nggak?" Hugo langsung saja tanpa tedeng aling-aling menunjukkan rasa ketertarikannya pada Cassandra.
Siapa juga yang kuasa menolak pesona kecantikan Cassandra. Hugo yang biasa bertemu banyak wanita cantik pun mengakui, Cassandra punya pesona tersendiri.
"Hugo, please. Serius dia bukan cuma pacarku. Kami akan menikah. Soal project, nanti lah tahan dulu. Kemarin aku cuma iseng aja ngenalin kalian karena Cassandra nggak percaya dulu kita pernah satu band bareng waktu SMA.
Udahlah, jangan coba godain dia, ya. Dia punyaku!" Dari nada suaranya, Pras tampak seperti memasang tembok tinggi-tinggi untuk Hugo. Ya, Hugo memang perlu ditegaskan mengenai batas semacam ini karena ia terkenal suka 'melanggar batas.'
Entah kenapa walau belum menaruh perasaan khusus pada gadis itu, tapi naluri Pras untuk menjauhkannya dari Hugo begitu kuat.
Hugo playboy. Dia pemain. Sialnya Hugo tahu Cassandra begitu mengidolakan dia. Cassandra adalah mangsa empuk.
Dan Hugo ini tipe orang yang seenaknya sendiri. Ia tak peduli itu pacar temannya, sepupunya, bahkan kakaknya. Kalau ia suka, akan ia rebut. Terlebih sekarang posisinya dengan semua kepopuleran ini membuatnya makin besar kepala.
"Pras, jujur deh. Kalian dijodohin, kan? Kemarin ceritanya kurang lengkap. Kamu juga menghindar terus waktu kutanya kenapa putus dari cewek yang kamu kenalin waktu kita nggak sengaja ketemu di Bali.
Perasaan belum lama aku ketemu sama cewek itu. Aduh aku lupa lagi siapa namanya. Sekarang kok sama Cassandra. Kamu bilang kalian mau nikah lagi. Masih SMA loh dia, Pras." Hugo entah mengapa tiba-tiba tertarik pada kehidupan pribadi sahabat lamanya.
Pras memejamkan mata dan menghirup angin segar dari balkon kamarnya yang kebetulan bawahnya adalah taman samping rumahnya.
Kepalanya mendadak berdenyut-denyut. Ia tahu Hugo akan selalu tertarik pada gadis cantik. Umpannya untuk memancing Cassandra ia rasa salah. Tapi kalau bukan karena Hugo, Cassandra pasti sudah melemparnya dengan gitar kemarin sewaktu mereka berdebat di ruang eskul musik.
"Hugo, nggak perlu sedetail itu kamu tahu. Yang jelas jangan usia Cassandra karena dia calon istriku. Walau masih SMA, tapi sebentar lagi dia 20 tahun. Soal Masaya, ya kita sudah putus. Udahlah jangan bahas dia.
Aku kemarin hubungin kamu karena butuh sedikit bantuan itu. Sekarang udah cukup. Kamu nggak perlu lah minta kontak Cassandra. Oke? Kututup telponnya!" Pras rupanya tak mau banyak cakap.
Meladeni Hugo yang tabiatnya kadang di luar nalar memang melelahkan. Sebagai yang sudah kenal dengan Hugo selama belasan tahun, Pras sudah kenyang menelan semua kelakuan ajaibnya yang kadang memang membuatnya ingin memutus hubungan pertemanan.
Namun entahlah. Hugo ini seperti punya pesona tersendiri untuk membuat teman-temannya kembali lagi. Ia gampang membuat kesalahan tapi gampang juga minta maaf seolah tidak terjadi apa-apa.
"Pras, tunggu! Aku tahu siapa Mayasa-Mayasa itu!" Suara Hugo terdengar lain sekarang. Bahkan ia tertawa di akhir kalimatnya.
Pras yang hendak menutup panggilan telepon langsung mengerutkan dahinya.
"Maksudnya? Mayasa?" tanya Pras dengan jantung berdebar.
Hugo tertawa lagi. Pras makin geram. Apa-apaan ini? Perasaan dulu cuma dikenalkan sepintas saja karena tak sengaja ketemu di Bali. Kok Hugo seolah tahu sesuatu soal Mayasa.
"Iya. Aku baru ingat namanya Mayasa setelah kamu sebut tadi. Mayasa itu janda, kan? Anaknya 3..."
Pras seperti tersambar petir.
Darimana Hugo tahu?
BERSAMBUNG ...
_____
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments