Tidak seperti pasangan yang baru menikah pada umumnya yang akan mengambil waktu libur panjang untuk berbulan madu, Tama dan Kinara justru memutuskan untuk langsung bekerja. Pagi ini keduanya sudah siap dengan pakaian kantor mereka.
"Mama, Papa kalian kenapa langsung bekerja? Grandma dan Grandpa bilang katanya kalian berdua akan cuti beberapa hari?" tanya Taki dengan wajah cemberut.
Kinara menatap Tama sebentar kemudian mendekati bocah lima tahu tersebut.
"Sayang, Papa banyak pekerjaan di kantor dan mama harus bantuin kerjaan papa. Makanya papa dan mama harus berangkat bekerja sekarang," jawab Kinara dia berusaha membujuk anak tirinya itu dengan lembut.
"Tapi... orang tuanya temen kami, pas nikah kemarin mereka gak langsung kerja. Katanya bos orang tua mereka ngasih mereka cuti lama. Masa papa yang punya perusahaan sendiri nggak bisa cuti lama sih," protes Taki.
"Iya, Pa. Pas orang tua mereka liburan, temen kami juga diajak berlibur bareng mereka." Maki menambahi.
"Justru karena itu Papa dan Mama harus langsung bekerja. Soalnya banyak karyawan papa kalian yang nikah dan mereka minta cuti. Jadi, terpaksa kan papa yang harus menyelesaikan pekerjaan mereka," tutur Kinara, ia berharap dua bocah kembar itu mau mengerti dan mengizinkan mereka berangkat belerja.
"Tidak mau, pokoknya hari ini kami mau main dengan papa dan mama," kekeh Taki.
Sebenarnya Tama bisa saja menuruti kemauan kedua anaknya. Namun, itu artinya dia harus membatalkan janji dengan Leonardo. Padahal pengusaha dari negeri Spanyol itu sengaja datang untuk membahas kerja sama yang pernah ditawarkan oleh Tama setahun yang lalu, itu pun setelah ada revisi dari proposal sebelumnya beberapa hari yang lalu.
"Sayang, kali aja dengerin papa ya. Kalian boleh beli apa pun yang kalian mau asal kalian ngizinin papa dan mama berangkat kerja. Gimana?" Tama ikut membujuk kedua anaknya.
"E... gimana kalau mama saja yang nemenin kalian main di rumah dan kaliam izinin papa kerja?" Kinara memberikan usulan.
"Nggak," tolak Taki dan Maki.
"Pokoknya kami mau main sama papa dan mama."
"Iya, pokoknya harus papa dan mama. Nggak boleh salah satu," sahut Maki.
Tama kembali melihat jam tanganya, jika kedua bocah ini masih menahan mereka dengan rengekan nggak jelas bisa-bisa ia terlambat bertemu dengan Leonardo.
"Taki, Maki, dengerin papa! Papa dan mama harus berangkat kerja sekarang. Kalian sama Mbak Mirna dulu. Jangan merengek!" Tama sedikit meninggikan suara. Sontak saja hal itu membuat Taki dan Maki terdiam seketika. Kedua bocah itu menunduk sedih.
"Ayo Nara kita berangkat sekarang! Jangan biarkan Tuan Leonardo menunggu kita!" seru Tama.
"Maaf, Pak. Aku tidak bisa," tolak Kinara. Dia tidak tega harus meninggalkan Taki dan Maki dalam keadaan sedih seperti itu.
"Nara, kamu harus ingat! Selain ibu mereka, kamu juga sekrerarisku. Proposal perbaikan itu kamu yang membuatnya, jadi hanya kamu yang bisa mempresentasikanya di depan Tuan Leonardo!" sentak Tama.
"Pak.... "
"Jangan ikutan merengek seperti mereka! Ayo cepat betangkat!" potong Tama. Dia tetap menyuruh Kinara untuk segera meninggalkan kedua putra mereka.
"Berangkat sekarang atau aku akan memecatmu!" ancam Tama. "Aku tunggu di mobil!"
"Mirna," panggil Tama.
"Iya, Pak," jawab Mirna.
"Bawa anak-anak ke kamar! Temani mereka main dan belikan apa pun yang mereka minta!" seru Tama.
"Baik, Pak," jawab Mirna. Wanita itu juga takut melihat wajah Tama yang sedang marah.
Tama menatap Kinara dan kedua anaknya, setelah itu ia berjalan keluar dari dalam rumah.
Kinara menghampiri kedua putra sambungnya yang sedang menunduk sedih.
"Taki, Maki, jangan sedih karena ucapan papa ya. Papa begitu karena papa buru-buru, kalian bisa ngertiin papa kan?" Kinara tidak mau kedua anak kembar itu membenci sikap papa mereka barusan.
"Papa jahat! Papa lebih mencintai pekerjaanya ketimbang kami," cicit Taki.
"Tidak, Sayang. Papa kalian sangat menyayangi kalian kok."
"Tidak, Mama bohong! Buktinya papa lebih ingin menemui rekan kerjanya ketimbang menemani kami main." Kini giliran Maki berbicara.
"Taki, Maki.... " Belum sempat Kinara mengucapkan sesuatu kepada mereka, handphon-nya berdering dan itu dari Tama.
"Berangkat sekarang! Cepat!" seru Tama.
Kinara menghela napas berat. "Sayang, maafin mama ya. Mama juga harus berangkat kerja sekarang," ucap Kinara. Meski tidak tega, dia tidak berani melawan perintah suami sekaligus atasanya.
"Mbak Mirna, jaga anak-anak ya. Hibur mereka agar mereka tidak sedih!" pinta Kinara kepada sang pengasuh.
"Iya," jawab Mirna ketus. Dia tidak suka melihat Kinara yang dianggapnya sok bersikap menjadi nyonya rumah.
"Taki, Maki, mama berangkat ya," sekali lagi Kinara berpamitan. Sebelum pergi Kinara mengusap pipi kedua anak sambungnya. Rasanya benar-benar berat melihat wajah sedih keduanya.
Tidak ada jawaban dari kedua anak kembar tersebut. Keduanya masih menunduk sambil sesegukan.
"Sudahlah, Den. Nggak usah lebay. Biasanya juga kalian oke-oke aja ditinggal Tuan kerja. Sekarang hanya gara-gara kalian punya mama baru kalian jadi bersikap manja," ujar Mirna. Bukanya membujuk pengasuh tersebut malah ikut menceramahi.
"Ayo, makan! Jangan rewel!" suruh Mirna.
Taki dan Maki tidak menggubris perintah Mirna, kedua bocah itu berlari masuk ke kamar mereka.
"E... disuruh makan, malah ke kamar. Sudahlah terserah kalian! Daripada aku ngurusin kalian yang ngambek, mending aku makan aja. Sudah waktunya sarapan." Mirna pun tak mau ambil pusing. Dia memilih pergi ke dapur untuk sarapan sendiri.
***
"Papa jahat!"
"Papa udah nggak sayang sama kita."
Taki dan Maki terus berbicara sendiri sambil sesegukan. Keduanya kemudian naik ke atas tempat tidur. Dalam posisi tengkurap dan memeluk bantal guling keduanya melanjutkan tangis mereka.
Ceklek.
Seseorang membuka pintu kamar keduanya. Helaan napas panjang keluar dari mulut orang tersebut. Dia kemudian duduk di tepi ranjang.
"Kalau Mbak Mirna datang cuma mau bujuk kami buat makan, bilang sana sama papa kalau kami nggak mau makan!" seru Taki masih dalam posisi yang sama.
"Sudah sana, Mbak Mirna keluar!" Maki ikut berseru.
Merasa ucapan mereka tidak direapon, Taki dan Maki beranjak dari posisinya.
"Mbak Mirna kenapa masih.... "
Taki dan Maki tidak melanjutkan perkataanya. Keduanya terkejut ketika melihat wajah orang yang duduk di tepi ranjang mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
Hafifah Hafifah
siapa tuh yg dateng apa nara balik lagi ya.
2023-06-17
3
Yuli maelany
Nara mungkin,ata malah bintang nenek mereka....
2023-06-17
0
Acep Herdiansyah
nara atau tama ya 🤔🤔
2023-06-17
0