Bab 18

Akhirnya hari pernikahan pun tiba. Semua keluarga, ketabat, teman dekat, dan tamu undangan sudah tiba di tempat yang akan dijadikan tempat acara. Om dan tante Kinara datang paling terakhir. Dan paling menyebalkanya dua orang tidak tahu malu itu datang dengan membawa rombongan tetangga dekat kontrakan untuk memamerkan bahwa keponakanya sekarang sudah menjadi istri seorang bos.

"Kalian percayakan kalau keponakanku menikah dengan pengusaha kaya dari Keluarga Wijaya?" ujar Reni dengan pongahnya.

"Tadinya sih nggak percaya, tapi sekarang kami percaya. Iya kan, Jeng Siska?" jawab Bu Lusi orang yang tinggal di depan rumah kontrakan.

"Iya. Apalagi keponakanmu kan nggak pernah bawa lelaki untuk dikenalkan. Ditambah kamu dan suamimu yang tukang halu, makin nggak percayalah kita. Tapi, sekarang kita percaya," jawab Siska. Siska adalah tetangga yang tinggal dua rumah di samping kanan kontrakan Reni.

"Maaf, tunjukan undangan kalian!" Dua orang security yang berjaga di depan pintu masuk menghadang Reni dan para tetangganya.

"Saya ini tante dan omnya Kinara, masa masuk saja harus pakai undangan?" protes Reni.

"Maaf, Bu. Biarpun kalian adalah keluarga tanpa undagan kalian dilarang masuk," jawab salah satu dari dua security tadi.

"Mas, kamu bawa undangan yang dikasih Nara waktu itu nggak?" tanya Reni sedikit berbisik.

"Aku kira undangan itu kayak undangan nikahan tetangga kita yang nggak berarti apa-apa, jadi sudah aku buang," jawab Susanto juga dengan berbisik.

"Aduh, gimana ini, Mas. Coba kamu telepon Nara suruh jemput kita di sini!" seru Reni.

"Kamu saja, Ren. Aku takut kalau yang jawab itu si Tama, bisa-bisa aku dimakanya," tolak Susanto mengingat betapa garangnya calon suami dari keponakanya tersebut.

"Apalagi aku, Mas."

"Jeng Reni, Pak Santo, gimana? Apa kita sudah boleh masuk?" tanya Milah, tetangga yang tinggal di belakang kontrakan.

"E... sebentar, Jeng Milah. Saya harus tanya keponakan saya dulu. Soalnya kami juga lupa membawa undangan," terang Reni.

"Kamu juga sih Ren, ngapain ngajakin mereka semua datang ke sini?" bisik Susanto.

"Mas, aku itu mau buktikan ke mereka walau kita bangkrut dan rumah besar itu disita rentenir, tapi keponakan kita bisa dapat orang kaya. Ya... siapa tahu kalau kita mau pinjem uang jadi langsung dikasih." Sambil berbisik Reni mengungkapkan alasanya.

"Memangnya uang yang kemarin udah habis?"

"Belum sih. Tapi, uang itu akan cepat habis kalau kamu nggak segera muterin," balas Reni.

"Gimana, Pak, Bu, apa kalian bisa menunjukan undangan kalian?" tanya security lagi.

"Pak Security, beneran deh kami ini keluarganya Nara. Jadi, izinkan kami masuk ya Pak? Atau gini saja, Bapak bilang ke Nara kalau om dan tantenya ada di depan pintu," jawab Reni lagi.

Dua security itu saling tatap. "Bagaimana ya acara ijab qabulnya sudah mau dimulai?" cicit salah satu dari dua security tadi.

"Ada apa ini?" tanya Keenan yang kebetulan baru datang.

Dua orang security tadi menunduk hormat. "Ini Tuan Kee, mereka nggak bawa undanganya. Jadi, sesuai interuksi kami melarang mereka buat masuk," jelas salah satu dari security tadi.

"Tapi, mereka bilang mereka adalah om dan tante dari Nyonya Nara," tambah security yang satunya.

Keenan menatap orang-orang yang berdiri dihadapanya.

"Biar aku yang telepon Kak Tama untuk menanyakan hal ini, kalian lanjutkan tugas kalian. Kasihan tamu yang lain tidak bisa masuk!" Keenan memberikan perintah.

"Iya, Tuan Keenan," jawab keduanya.

"Kalian ikut saya!" Keenan membawa rombongan itu melipir dari pintu masuk karena itu mengganggu tamu yang lain.

Keenan segera menghubungi nomor kakak sulungnya tersebut, tidak lama setelah itu dia kembali menghampiri rombongan yang katanya om dan tante Kinara.

"Siapa diantara kalian yang bernama Reni dan Susanto?" tanya Keenan kepada mereka.

"Saya dan ini suami saya, Susanto." Reni mengangkat tangan.

"Kalian berdua silakan masuk. Untuk yang lainya maaf, tanpa undangan kalian tetap tidak bisa masuk," ujar Keenan.

"E... begini, apa beneran mereka nggak bisa masuk?" tanya Reni lagi.

"Iya, benar. Tadi, Kak Tama bilang hanya om dan tante Kak Nara yang diberi izin masuk tanpa undangan. Yang lainya kalau tidak ada undangan tetap tidak diizinkan. Maaf," jawab Keenan.

"Hei, Jeng Reni! Gimana sih, katanya kita bebas masuk ke dalam gedung kok sekarang gini sih?" protes Siska.

"Maaf ya, kami nggak tahu kalau seribet ini," jawab Reni. Padahal niat dia membawa rombongan untuk pamer, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Dia yang malu karena tidak bisa membawa mereka masuk ke dalam gedung.

"Jeng Siska, Jeng Milah, dan yang lainya maaf ya. Saya nggak bisa ngajak kalian masuk." Terpaksa Reni meminta maaf kepada rombongan yang dibawanya.

"Huh! Dasar! Tahu gini aku nggak akan ikut."

"Iya, aku juga."

Siska, Milah, dan para tetangga Reni yang lain pun meninggalkan tempat itu dengan kesal.

"Mari!" Keenan mempersilakan Reni dan Susanto untuk mengikutinya.

"Tama benar-benar keterlaluan ya, Mas. Masa kita nggak boleh bawa rombongan," desis Reni dengan berbisik

"Benar sih. Kita harus bikin perhitungan sama dia karena sudah buat kita malu didepan tetangga," balas Susanto.

Dengan wajah cemberut, Reni dan Susanto mengikuti langkah adik dari Tama itu masuk ke dalam gedung acara.

Terpopuler

Comments

sherly

sherly

situ aja yg kurang tau diri

2024-07-21

0

Enung Samsiah

Enung Samsiah

dasar om dan tante sinting

2023-07-07

4

srimusvita

srimusvita

dasar manusia serakah deh om dan tantenya si Nara

2023-06-15

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!