Bab 3

Dua bocah itu langsung berlari memeluk Kinara.

"Mama, Mama akhirnya datang." Taki dan Maki tampak begitu senang melihat keberadaan Kinara di sana.

"Ouh, si Mbak mamanya ya? Kok anaknya dibiarin sendiri tadi? Kasihan kan tuh bocah sampai dibully anak-anak jalanan." Seorang pedagang yang kebetulan lewat ikut berkomentar.

"Heh, Pak. Harusnya ngelihat ada anak yang sedang dibully, Bapak sebagai orang dewasa lerai dong! Jangan cuma dilihatin saja!" Kinara kesal dengan sikap pedagang tersebut yang terkesan membiarkan pembullyan itu terjadi.

"Maaf, Mbak. Tapi, berjualan dengan aman jauh lebih penting daripada saya harus ikut campur urusan orang," jawab pedagang itu. "Permisi, saya harus berjualan." Pedagang itu pun pergi meninggalkan Kinara.

"Apa rasa kepedulian orang-orang sudah mulai pudar ya?" Kinara bergumam. Dia menggeleng, Kinara masih tidak percaya kalau ada orang dewasa yang seolah membiarkan ketika melihat ada anak kecil sedang dibully.

"Kalian berdua tidak apa-apa kan? Tidak ada yang terluka kan?" tanya Kinara kepada dua anak kecil yang ditemuinya.

Kedua bocah yang memiliki paras identik itu menjawab dengan menganggukan kepala.

"Mama, kami rindu sama Mama. Kenapa Mama baru pulang?" Lagi. Bocah kembar itu memeluk Kinara.

Kinara melepaskan pelukan dua anak itu terhadapnya.

"E... lain kali kalau ada anak-anak nakal yang merundung kalian seperti tadi, kalian berdua harus berteriak minta tolong. Jangan diam saja! Mengerti!" Kinara memberikan sedikit nasehat kepada kepada dua bocah itu.

"Iya, kami mengerti, Mama," jawab keduanya.

"Sebelumnya, maaf. Tapi, kenapa kalian terus memanggilku Mama? Kalian tahu, orang-orang akan salah paham karena itu," protes Kinara. Bagaimana pun Kinara adalah seorang gadis lajang yang berharap bisa dipertemukan dengan pangeran berkuda putih yang akan membawanya terbebas dari jurang kemiskinan. Jika ada anak yang memanggilnya dengan sebutan Mama pasti orang lain akan mengira jika ia memang mama mereka.

Kedua bocah itu saling melempar pandangan. "Kamu seperti mama kami," jawab keduanya.

"Benarkah?"

Dua anak itu mengangguk. Keduanya sama-sama mengeluarkan foto dari tas ransel mereka dan menunjukkannya pada Kinara.

Kinara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dipandang dari sudut manapun, wajahnya dan wajah wanita yang ada di foto tersebut jauh berbeda. Hanya rambut mereka saja yang sama yakni sama-sama panjang.

"Ohya, sekarang dimana mama kalian? Kenapa kalian bisa terpisah dari mama kalian? Aku yakin mama kalian saat ini sedang cemas mencari kalian berdua."

Mendengar perkataan Kinara, wajah dua bocah kembar itu berubah murung.

"Kenapa? Kalian sedang dihukum oleh mama kalian? Hm?" tanya Kinara sambil menatap dua bocah itu bergantian.

"Kata Papa, Mama kami sudah ada surga. Dia selalu mengawasi kami dari atas," jawab salah satu dari dua anak kembar itu.

"Maaf, aku tidak tahu," ucap Kinara. Dia sedikit menyesal karena sudah bertanya soal ibu mereka.

"Tidak, apa-apa," jawab anak yang satunya lagi.

"Ohya, kenalkan namaku Kinara biasa dipanggil Nara. Kalau Tante boleh tahu siapa nama kalian?" tanya Kinara seraya memperkenalkan diri.

"Aku Taki, dia adikku Maki," jawab anak yang mengaku bernama Taki.

"Umur kita sama, bagaimana kamu bilang aku ini adikmu?" protes anak yang diketahui bernama Maki.

"Hei, papa bilang aku lahir 3 menit lebih dulu dibandingkan kamu. Jadi, aku ini adalah abang dan kamu adalah adikku." Taki memberikan penjelasan kepada Maki.

Anak yang bernama Maki terlihat cemberut.

"Sudah, kalian jangan berantem lagi ya. Kalian belum menjawab pertanyaan Tante tadi. Sekarang jawab Tante, kalian kenapa bisa ada di sini? Kalian tidak mungkin ke tempat ini sendirian kan?" tanya Kinara lagi.

"Sebenarnya kami ada janji makan siang dengan papa kami di restoran itu." Maki menunjuk restoran yang berada tidak jauh dari mereka.

"Kebetulan. Tante juga ada urusan di restoran itu. Kalau begitu, ayo kita ke restoran bersama!" ajak Kinara. Dia kemudian menggandeng tangan kedua anak itu.

Seorang wanita lari terburu-buru menghampiri Kinara saat melihat kedatangan mereka.

"Ya ampun, Aden. Mbak kan sudah bilang, tunggu di sana dan jangan pergi kemana-mana. Tapi, kenapa Aden berdua masih bandel sih?!" Wanita itu memarahi Taki dan Maki. Dia bahkan menarik tangan Taki dan Maki dari genggaman tangan Kinara dengan kasar.

"Maaf, tapi bukan seperti itu cara berbicara dengan anak kecil." Kinara menginterupsi. Dia paling tidak suka ada orang dewasa yang berlaku semena-mena terhadap anak kecil.

"Hei, kamu tahu apa? Aku ini sudah mengenal mereka cukup lama dan aku tahu watak mereka. Mereka akan mengulangi kesalahan mereka kalau mereka tidak ditegur." Wanita itu tampak sangat kesal mendengar ucapan Kinara.

"Kenalkan aku Mirna, aku yang selama ini merawat mereka." Wanita bernama Mirna itu memperkenalkan diri. Dia masih tampak pongah karena merasa lebih mengenal Taki dan Maki.

"Aku Kinara," Kimara ikut memperkenalkan diri.

"Ohya Mbak Mirna, aku memang tidak mengenal mereka sebelumnya. Tapi, aku tahu bagaimana caranya memperlakukan anak kecil," lanjut Kinara.

Perkataan Kinara barusan tentu saja membuat Mirna kesal. Wanita yang bekerja sebagai pengasuh Taki dan Maki itu tampak mengepalkan tangan.

"Den Taki, Den Maki. Harusnya kalau Mbak bilang jangan kemana-mana, ya kalian jangan kemana-kemana! Bagaimana kalau terjadi sesuatu sama kalian tadi? Pasti Papa kalian akan menganggap aku tidak becus menjaga kalian!" Lagi. Wanita itu memarahi Taki dan Maki.

"Maafkan kami, Mbak. Kami janji tidak akan mengulanginya," ucap Taki dan Maki bersamaan.

"Ya sudah, Mbak maafin. Tapi, awas ya kalau lain kali kalian mengulanginya lagi!"

"Iya, Mbak," jawab Maki. "Bagaimana? Mbak sudah berhasil menghubungi nomor Papa?" tanyanya.

"Belum. Sepertinya Papa kalian masih sibuk makanya nomor telepon papa kalian belum bisa dihubungi," jawab wanita itu.

"Ohya, kenapa kamu masih ada disini?" Mirna menatap sinis Kinara.

"Kebetulan saya juga ada urusan di sini, makanya saya ke sini," jawab Kinara.

"Taki, Maki, Tante pergi ya. Lain kali dengarkan perkataan dia, jangan pergi ke tempat sembarangan. Bahaya," pamita Kinara.

"Baik. Kami pasti akan mendengarkan perkataan Mama, iyakan Taki?" jawab Maki.

"Iya, Ma," sahut Taki.

Taki dan Maki melihat Kinara sambil tersenyum.

Mendengar dua anak kembar itu memanggil Kinara dengan sebutan Mama, tentu saja membuat Mirna makin kesal. Bagaimana tidak? Selama ini diam-diam Mirna menaruh hati kepada Tama dan berharap suatu hari nanti dia bisa menikahi duda dengan dua anak kembar itu.

"Mbak Mirna sudah mencoba menghubungi nomor sekretaris papa?" tanya Taki.

Mirna masih diam. Dia masih kepikiran soal Taki dan Maki yang memanggil Kinara dengan sebutan mama. Dia tidak rela jika kedua bocah itu memanggil wanita yang baru ditemuinya dengan sebutan tersebut.

"Mbak," panggil Taki.

"Eh, iya. Den Taki. Nanti Mbak Mirna coba ya," jawab Mirna. Dia pun segera mengehubungi nomor sekretaris pribadi Tama.

"Halo saya Mir.... "

Mirna tidak melanjutkan perkataannya ketika tahu bahwa sekretaris pribadi Tama itu adalah Kinara.

"Tidak mungkin," gumam Mirna.

Terpopuler

Comments

Romi Yati

Romi Yati

noohh...akhurnya

2024-01-29

1

Yuli maelany

Yuli maelany

mampus kamu sekarang kamu mau apa ....

2023-06-05

1

ApriliaKarlaTangon❤️

ApriliaKarlaTangon❤️

pengasuh Mirna mak lampir betul ya...
singkirkan saja si mirna itu thor

lanjuttt thorr tetap semangat

2023-06-04

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!