"Aku tahu apa yang telah kalian lakukan selama ini kepadanya. Dengan dalih telah membesarkan dia dan membiayai kuliahnya kalian jadikan dia sapi perah bahkan sejak Kinara belum lulus sekolah. Kalian bahkan menggadaikan rumah milik orang tuanya untuk kesengangan kalian, dan sekarang, kalian bahkan menyuruhnya membayar hutang kalian sebesar 100 juta kepada rentenir bernama Danu." Tama mengutarakan dengan gamblang hal-hal buruk yang sudah sepasang suami istri itu lakukan kepada calon ibu sambung anaknya.
Tama sudah menyuruh orang untuk menyelidiki latar belakang Kinara, sejak kedua putranya menginginkan wanita itu menjadi ibu sambung mereka.
"Me-memangnya kenapa? Dia saja tidak keberatan," jawab Susanto.
"Dia mungkin tidak keberatan, tapi aku yang keberatan. Aku tidak ingin kalian mengusik hidup Kinara lagi setelah kami menikah atau.... " Tama menjeda kalimatnya.
"Atau apa?" tantang Susanto.
"Atau aku akan menjebloskan kalian ke penjara dengan pasal pemerasan dan penipuan," ancam Tama dengan tatapan nyalangnya.
"Pemerasan? Penipuan? Kami tidak pernah tuh memeras atau menipu Kinara. Dia sendiri yang dengan sukarela mau melunasi hutang-hutang kami." Susanto masih kukuh bahwa apa yang dia lakukan tidaklah salah.
"Ohya? Bagaimana kalian memberikan penjelasan kepada pihak kepolisian soal tandatangan palsu Kinara yang kalian jadikan jaminan agar bisa menggadaikan rumahnya? Karena jelas tanpa tandatangan dari Kinara kalian tidak akan bisa menggadaikan itu." Seperti biasa, Tama tetap terlihat tenang. Meski sebenarnya dia sudah siap menerkam mangsanya.
"Bagaimana Pak Pengacara, mereka bisa diseret dengan kasus itu kan?" Tama bertanya kepada pengacaranya.
"Tentu saja Pak Tama. Kita bahkan bisa meminta ganti rugi atas semua harta Kinara yang sudah mereka gadaikan," jawab pengacara yang ikut mendampingi Tama, Hendrawan.
"Ohya, Pak Pengacara. Aku bisa menyertakan kasus eksploitasi anak dibawah umur yang mereka lakukan juga kan?" Tama kembali bertanya kepada pengacaranya.
"Eksploitasi apa?" Susantu dan Reni mulai panik.
"Kalian tidak lupa kan kalau kalian menyuruh Kinara bekerja bahkan ketika dia masih berusia dibawah 17 tahun dan kalian selalu meminta semua gajinya tanpa menyisakan sedikitpun untuk Kinara." Lagi. Tatapan nyalang Tama membuat om dan tante Kinara itu terintimidasi.
"Tentu saja bisa, Pak. Kita bisa bekerjasama dengan komnas perlindungan anak soal eksploitasi ini," jawab Handrawan.
"Apa yang harus kami lakukan agar Anda tidak melaporkan kami ke polisi?" Reni yang ketakutan memilih untuk tidak lagi melawan.
"Ternyata Anda jauh lebih pintar dibanding suami Anda," sarkas Taman.
"Ren, jangan takut. Dia hanya menggertak kita," bisik Susanto. Pria berumur 53 tahun itu masih belum mau menyerah.
"Tapi, Mas. Aku takut kalau kita beneran harus di penjara," cicit Reni.
"Ren, dia tidak punya bukti. Jadi, mana bisa dia melaporkan kita," sanggah Susanto.
"Oh... Anda meragukan kemampuanku untuk mendapatkan bukti ya?" sahut Tama. "Anda lupa? Dengan uang yang aku punya, aku bisa membeli mulut orang-orang yang pernah mempekerjakan Kinara. Aku juga bisa meminta mereka untuk bersaksi melawanmu!" Tama kembali menatap tajam Reni dan Susanto.
"Mas, sudahlah. Kita jangan melawan dia. Percuma, ujung-ujungnya kita pasti yang akan kalah," bujuk Reni.
"Baiklah, sepertinya kita memang tidak bisa melawan orang kaya itu," jawab Susanto. "Sekarang apa yang harus kami lakukan untukmu agar kamu tidak melaporkan kami ke pihak yang berwajib?"
"Pak Hendra, suruh mereka membaca surat kesepakatan yang aku minta kemarin dan suruh mereka menandatangani itu!" Tama memberikan perintahnya.
Hendrawan mengambil surat yang diminta oleh Tama dari dalam tas kerjanya dan memberikan surat itu kepada Reni dan Susanto untuk dibaca.
Dalam surat itu dijelaskan bahwa mereka (Reni dan Susanto) tidak boleh meminta apapun lagi kepada Kinara, baik itu berupa barang apalagi uang. Dan jika mereka tetap bersikeras melakukan hal tersebut, maka keduanya akan mendekam di penjara.
"Jadi... setelah kami menandatangani surat ini, kami tidak boleh meminta apa pun dari keponakan kami?" tanya Reni.
"Keponakan?" Tama mencebik. "Sejak kapan kalian menganggap Kinara sebagai keponakan? Bukankah selama ini kalian hanya menganggap dia sebagai mesin uang kalian?!"
Reni dan Susanto menunduk, keduanya tidak bisa menyangkal hal tersebut.
"Tapi, kalian tenang saja. Aku masih punya sedikit belas kasih. Jadi, kalian bisa ambil uang yang ada didalam amplop tersebut dan sisanya akan aku berikan setelah aku dan Kinara menikah."
"Hanya segini? Kamu mau menikahi Kinara dengan memberikan uang sekecil ini kepada kami? Tidak! Kami tidak akan setuju kalian menikah!" Susanto kembali menolak.
Tama menggeleng. Dia tidak menyangka, jika om dan tante Kinara lebih tamak dari yang ia bayangkan.
"Tidak masalah kalau kalian menolak. Tapi, jangan salahkan aku jika kalian malah tidak akan mendapat uang sepeserpun begitu aku melimpahkan semuanya ke polisi." Tak mau kalah, Tama kembali memberikan ancamanya.
"Mas, sudah. Terima saja. Daripada kita tidak dapat apa-apa." Reni berbisik. "Lagian uang dalam amplop itu sepertinya banyak. Dia juga sudah berjanjikan akan memberikan uang lagi setelah dia menikah dengan Nara."
"Tetap saja, Ren. Itu terlalu kecil buat orang kaya seperti dia. Harusnya dia memberikan uang kepada kita 1 milyar atau bahkan 10 milyar," jawab Susanto dengan berbisik pula.
"Tapi, kalau kita bersikeras menolak. Dia akan melaporkan kita pada polisi dan kita nggak akan dapat apa pun, Mas." Reni sudah ketakutan.
"Bagaimana? Apa kalian mau menerima atau menolak kesepakatan ini?" tanya Tama lagi.
Reni menarik-narik lengan baju suaminya agar menerima kesepakatan tersebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
sherly
Sumanto nih emang serakah... padahal Kinara tu ponakan istrimu kamu pula yg sibuk minta duit lebih... kerja Sumanto kerja... makan aja mau enak pakai rendang, sate kambing Lo
2024-07-21
0
Idahas
lagian mau juga tantenya nikah sama pengangguran
2024-01-26
1
Rafi'ah Sujie
dasar ya si Susanto itu benar2 laknut
2024-01-26
0