"Baiklah, aku setuju," jawab Susanto. Pria itu akhirnya menyetujui persyaratan dari Tama. Ia tahu pasti akan sulit mengalahkan pria yang memiliki banyak uang tersebut. Apalagi Susanto belum memiliki senjata untuk bisa mengancam balik duda arogan tersebut.
"Kalau begitu segera tandatangani surat kesepakatan tersebut. Aku tidak memiliki banyak waktu luang seperti kalian," sindir Tama.
Susanto mengepalkan tangan. Dia kesal karena tidak bisa membalas sedukitpun perkataan dari putra pertama dari Rangga Wijaya tersebut.
Hendra mempersilakan om dan tante dari Kinara itu membaca kembali detail dari poin-poin surat kesepakatan tersebut.
"Apa masih ada yang kalian tidak paham?" tanya Hendra.
"Tidak, ada," jawab Susanto ketus.
Berbeda dengan Susanto, Reni mengangkat satu tanganya untuk menanyakan sesuatu.
"Apa ada dari poin-poin yang tertera yang tidak Anda mengerti, Nyonya Reni?" tanya Hendrawan.
"Saya mengerti semua, tapi.... "
Reni melirik ke arah Tama, dia takut untuk mengatakan sesuatu.
"Katakan saja!" seru Tama tanpa menatap Reni.
"Apa setelah kalian menikah kami benar-benar tidak boleh menemui Nara sama sekali? Maksud saya... walau bagaimanapun Nara itu keponakan saya. Saya hanya ingin tahu apa dia benar-benar hidup dengan bahagia setelah menikah," jawab Reni dengan hati-hati.
"Sepertinya Anda sangat menyayangi, Nara ya?" sarkas Tama.
"Tentu saja saya menyayangi dia. Biar bagaimana pun dia itu keponakan kandung saya, anak dari kakak perempuan saya."
"Wah, aku tersentuh mendengarnya. Sayangnya perbuatanmu justru menunjukan sebaliknya." Lagi-lagi Tama membalas perkataan Reni dengan sarkasme.
"Kalian berdua segera tandatangani surat itu! Dan soal menemui Kinara, itu tergantung keinginan dia nanti. Jika dia ingin bertemu kalian, maka aku pasti akan memberinya izin. Tapi, jangan memaksa apalagi mengancamnya." Tama kembali menunjukan mata elangnya kepada pasangan suami istri yang tidak tahu diri tersebut.
Reni dan Susanto akhirnya menandatangani surat perjanjian tersebut.
"Terima kasih atas kerjasamanya," ucap Tama. "Ohya, jangan pernah membuat masalah saat kalian datang ke pernikahan kami! Ingat itu!"
"I... iya, Pak. Kami janji tidak akan membuat masalah," jawab Reni ketakutan.
Tama dan pengacaranya pun segera pergi meninggalkan rumah tersebut.
"Huh... laga rasanya dia sudah pergi," ujar Reni. "Tadi, kakiku sampai gemetaran lihat sorot matanya." Reni memijit kakinya sendiri dengan menggunakan tangan.
"Mas, kok diam?" tanya Reni ketika sang suami tidak merespon perkataanya.
"Ren, apa sebelumnya Nara pernah bercerita kalau dia pacaran dengan duda arrogant itu?" Bukanya menjawab pertanyaan Reni, Susantu justru malah mengajukan pertanyaan.
"Tidak pernah sih, Mas," jawab Reni.
"Aneh kan? Dia baru bekerja di sana beberapa hari dan tiba-tiba mereka akan langsung menikah. Bukankah itu tidak wajar?" tanya Susanto.
Reni diam sambil memikirkan perkataan suaminya barusan.
"Memang aneh sih. Tapi, mungkin saja sebelum Nara bekerja disana mereka sudah menjalin hubungan secara diam-diam. Kita kan juga nggak tahu itu," jawab Reni. "Apalagi kita sering malakin duitnya si Nara. Mungkin Nara takut kita malakin pacarnya makanya ngerahasiain hubunganya dengan putra dari Rangga Wijaya itu," tambah Reni.
"Tapi, tetap saja menurutku ada yang aneh dengan pernikahan mereka."
Reni menepuk pundak suaminya. "Sudahlah, Mas. Jangan terlalu dipikirkan lagi. Apa pun itu yang jelas Nara akan segara menikah dengan orang nomor satu di perusahaan Wiajaya. Mulai sekarang sebaiknya kita pikirin bagaimana muterin duit ini agar tidak cepat habis. Apalagi setelah Nara menikah, kita nggak bisa minta uang lagi sama dia."
Reni mengambil amplop coklat yang diberikan oleh Tama tadi.
"Iya, sih. Tapi, mau diputerin dengan cara apa? Dengan ikut investasi? Kita pernah ketipu. Beli saham? Kita nggak pinter main saham, atau berjualan? Atau berjualan? Tapi, mau jualan apa? Selama ini yang kita tahu cuma minta duit sama Nara. Kita nggak tahu bagaimana caranya nyari duit," jawab Susanto.
"Makanya, Mas. Belajar kerja, gih! Biar tahu gimana carnya dapet duit. Kamu ini kepala keluarga, tapi nggak bisa apa-apa," cibir Reni.
"Memangnya kamu tahu? Kamu aja nggak tahu," balas Susanto.
"Hei, nyari nafkah itu kewajiban suami. Jadi, istri nggak perlu tahu gimana dapetin duit. Harusnya tuh otak kamu noh, gunain buat mikir. Jangan bisanya cuma malakin keponakanku."
"Bukanya nyuruh minta duit sama Nara itu kamu? Kenapa sekarang jadi nyalahin aku sih?"
"Bukanya nyalahin, aku cuma mau mulai sekarang kamu mikir, Mas!"
"Kamu, harusnya juga bisa mikir dong!"
Sepasang suami istri itu malah bertengkar tidak jelas.
*
Beberapa hari kemudian....
Kabar tentang Kinara yang akan menikah dengan Tama mulai tersebar di perusahaan. Beberapa karyawan ikut bahagia mendengar kabar tersebut. Namun, beberapa karyawan lain merasa iri dan menganggap Kinara memanfaatkan posisinya untuk merayu Tama.
"Pasti si Nara gunain tubuhnya buat merayu Pak Tama. Tahu sendirikan Pak Tama itu duda yang pasti haus belaian wanita. Dan si Nara memanfaatkan itu."
"Iya, benar. Apalagi, mereka sering lembur hingga tengah malam. Aku yakin mereka pasti mampir dulu ke hotel buat ehem-ehem."
"Ih, tapi bukanya Pak Tama itu imanya kuat? Aku dengar si Dona aja gak diliriknya."
"Itu karena Dona bukan perawan ting ting."
"Ih, masa sih Dona bukan perawan?"
"Lha, kalian nggak tahu dia itu janda. Meski Pak Tama seorang duda, pasti dia ogahlah dapet sisaan."
Perbincangan para karyawan di pentri, tanpa sengaja didengar oleh Kinara yang kebetulan ingin membuatkan kopi buat Tama.
Kinara hanya menghela napas panjang. Dia tidak peduli dengan hal negatif yang dipikirkan orang terhadapnya. Apalagi ia tidak merasa melakukan hal-hal yang mereka semua tuduhkan.
Semua karyawan yang sedang bergunjing tersebut langsung diam ketika melihat keberadaan Nara di pentri.
"Eh, Mbak Nara. Lagi buat kopi ya?" sapa salah satu dari mereka basa-basi.
Kinara hanya menjawab dengan senyuman.
"Mbak, itu kopinya dikasih jampi-jampi apa ya sampai-sampai Bos kita yang dingin itu tiba-tiba mau nikahin, Mbak?" sahut yang lainnya lagi.
"Jangan-jangan dikasih ajian jaran goyang ya? Kalau boleh tahu, Mbak Nara pakai dukun mana sih ampuh banget?"
"Bagi-bagi tipsnya dong Mbak Nara. Siapa tahu kita-kita ini bisa dapetin cowok kaya kayak Mbak Nara."
"Iya, Mbak. Jangan pelit! Bagi tipsnya dong, tenang saja kita nggak akan ngerayu Pak Tama kok," ujar salah satu dari mereka sambil mengerlingkan sebelah mata.
"Apa, Mbak Nara ngerayu Pak Tama dengan tubuh Mbak Nara ya? Gimana goyangan Pak Tama? Hot?"
"Kalian mau tahu gimana caraku merayu Pak Tama?" Bukanya marah, Kinara justru melemparkan pertanyaan kepada mereka.
"Mau, mau," jawab mereka terlihat antusias.
"Sini, aku bisikin!" Nara meminta mereka untuk mendekat ke arahnya.
Para biang gosip itu pun menurut. Mereka memdekatkan diri mereka ke arah Nara. Dan tiba-tiba...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
sherly
jd selama ini kalian hidupin Nara dr mana dr harta Mak bpknya juga? itu mah bukan kalian berjasa tp kalian numpang hidup
2024-07-21
0
Rafi'ah Sujie
itu udah ada duit tinggal buat usaha aj susah, lagian ga cape apa makan tidur terus ga ada kegiatan apa2
2024-01-26
1
Hafifah Hafifah
aduh bikin penasaran nih di apain ya mereka ama kinara
2023-06-12
2