"Begini, pertemuan Anda dengan pimpinan perusahaan Perkasa Abadi kan jam sembilan. Jika semuanya berjalan lancar, saya yakin pertemuan itu akan selesai sebelum jam makan siang. Jadi, Bapak bisa membawa anak-anak Bapak ke restoran yang paling dekat dengan pertemuan selanjutnya dengan Pak Yama Moto," jelas Nara.
Tama memikirkan masukan yang diberikan oleh Nara barusan. Dan sepertinya masukan itu cukup baik.
"Kamu urus semuanya, pastikan segala hal yang berkaitan dengan pertemuan bersama pimpinan Perkasa Abadi disiapkan seperfect mungkin agar pertemuan itu dapat berlangsung singkat dan efisien!" suruh Tama.
"Baik, Pak. Saya pasti akan menyiapkan semuanya dengan sempurna agar Bapak bisa menghabiskan waktu makan siang bersama dengan anak-anak Bapak," jawab Nara. Dia ikut senang karena berhasil memberikan solusi terbaik bagi atasannya tersebut.
"Ohya, nanti suruh sopir untuk menjemput anak-anakku."
"Baik, Pak."
"Sekarang kembali ke mejamu! Kerjakan semua yang kuperintahkan dengan baik! Ingat! Aku tidak meneruma kesalahan apa pun!" titah Tama.
"Baik, Pak. Saya pasti akan mengerjakan pekerjaan saya dengan baik, permisi." Nara kemudian pergi dari ruang kerja bosnya. Dia kembali ke mejanya sendiri untuk mengerjakan semua tugas dari Tama dengan baik.
***
Di tempat lain....
Taki dan Maki sedang bermain bersama dengan baby sitternya di arena bermain yang ada di sekolah. Dua anak kembar yang memiliki kepribadian yang sedikit bertolak belakang tersebut sedang asik bermain perosotan.
Berbeda dengan Maki yang sering banyak tersenyum, Taki justru terlihat jutek. Namun, ada satu hal yang sama dari kedua bocah kembar tersebut yaitu kerinduannya akan sosok ibu.
"Den, barusan Bapak nelpon. Nanti siang Den Taki dan Den Maki akan diajak makan siang bareng sama Bapak. Soalnya Bapak nanti malam nggak bisa pulang cepet karena ada pekerjaan. Aden mau kan?" tanya Mirna.
Mirna adalah keponakan dari Mbok Jum. Asisten rumah tangga yang sudah lama bekerja di rumah neneknya, Mia. Tetapi karena usia Mbok Jum yang sudah lumayan sepuh dia sudah tidak lagi bekerja di sana. Dan sebelum berhenti bekerja, Mbok Jum meminta Mia untuk mencarikan pekerjaan untuk keponakannya yang baru menjadi janda. Mirna sudah bekerja menjadi babby sitter kedua bocah itu sejak keduanya berumur 2 tahun. Sebelumnya, mereka diasuh oleh Dewi, ibunya Kiara.
Akan tetepi kondisi Dewi yang mulai sakit-sakitan membuat Tama harus mencari pengasuh yang bisa mengasuh anak kembarnya selama 24 jam.
"Iya, Mbak," jawab Taki dan Maki singkat. Kedua anak tersebut lebih menantikan kumpul bersama papanya pada malam hari ketimbang harus makan bersama di luar.
*
Sudah dua jam lebih Tama meeting dengan pimpinan perusahaan Perkasa Abadi. Ternyata meski bahan meeting sudah dipersiapkan sedetail mungkin tetap saja tidak cukup 2 jam untuk menyelesaikan meeting itu. Pimpinan perusahaan Perkasa Abadi lebih rewal dari yang Tama bayangkan.
Dengan menggunakan isyarat tangan Tama menyuruh Nara untuk lebih mendekat ke arahnya.
"Ada apa, Pak?" tanya Nara dengan berbisik.
"Apa anak-anakku sudah tiba di restoran?" tanya Tama. Dia terus memperhatikan jam yang melingkar di pergelangan tangan kananya karena takut membuat kedua putra kembarnya kecewa.
"Saya belum tahu, Pak. Karena pengasuh anak-anak Bapak belum memberi kabar kepada saya," jawab Kinara.
"Kamu pergi ke restoran itu sekarang, lihat, apa mereka sudah tiba di sana!" suruh Tama.
"Tapi.... "
"Meeting ini bisa aku handle sendiri," sela Tama. "Kamu cepat ke restoran sekarang!" suruhnya.
"Pak Tama, apa ada sesuatu yang sedang kalian diskusikan?" tanya pimpinan perusahaan Perkasa Abadi, Pak Miko.
"Tidak, Pak. Kita lanjutkan saja meeting kita," jawab Tama. Dia kembali memberikan isyarat kepada Kinara untuk segera pergi ke restoran.
Kinara mengangguk. Wanita itu segera melakukan perintah bosnya untuk pergi ke restoran.
"Bagaimana caraku mengenali anak-anak Pak Tama ya? Aku kan belum pernah melihat mereka?" Kinara menghela napas.
"Harusnya tadi aku lihat foto mereka dulu ruang kerja Pak Tama. Mana pengasuh Pak Tama belum menghubungiku lagi," gumam Kinara.
"Apa aku cari foto mereka di sosmed Pak Tama ya? Tapi, nama akun ig Pak Tama apa ya?"
Kinara membuaka aplikasi yang dimaksud dan mencari nama Tama. Dan ternayata banyak sekali akun yang menggunakan nama itu.
"Kalau aku harus mengecek satu per satu akun-akun ini, malah akan menyita banyak waktu. Sudahlah, lebih baik aku langsung ke restoran. Mudah-mudahan saja aku bisa langsung mengenali mereka."
Kinara akhirnya memilih untuk langsung pergi ke restoran tempat ia membuat reservasy untuk atasannya.
*
"Kalian duduk di sana dulu ya, saya akan menelpon papa kalian dan memberitahu bahwa kita sudah tiba di restoran," seru Mirna. Dia menyuruh kedua anak Tama itu untuk duduk.
"Mbak, kenapa nggak telepon ke nomor sekretaris papa aja. Biasanya kalau papa lagi meeting, papa akan menonaktifkan ponselnya atau menitipkan ponsel itu ke sekretaris!" Taki memberikan pendapat.
Mirna sebenarnya sudah tahu akan hal itu. Namun, dia butuh alasan untuk bisa terus berbicara dengan Tama.
"Tidak apa-apa, siapa tahu meetingnya sudah selesai kan?" jawab Mirna. Wanita itu tetap mencoba menghubungi nomor atasannya.
"Kalian diam di sini ya, jangan pergi kemana! Disini sinyalnya agak jelek, Mbak mau keluar sebentar!" Mirna pun berjalan keluar dari restoran.
"Taki, apa kita mau diam di sini saja nungguin Mbak Mirna telepon papa?" tanya Maki. Maki memang tidak bisa diam terlalu lama seperti kembarannya, Taki.
"Memangnya kamu mau kemana?" Taki hapal betul dengan perangai kembarannya. Jika dia menanyakan sesuatu artinya dia mengingkan sebaliknya.
"Kita nunggu papa di sana saja yuk! Lihat di depan sana ada badut," jawab Maki.
"Kamu ingin melihat badut?" Maki mengangguk.
"Ya sudahlah. Ayo! Tapi, jangan terlalu jauh, nanti Mbak Mirna nyariin kita." Taki mengingatkan.
"Kamu tenang saja," jawab Maki.
Kedua anak itu pun pergi meninggalkan restoran untuk melihat badut.
*
Kinara akhirnya tiba di restoran yang dimaksud. Dia mencoba untuk menghubungi nomor pengasuh dari putra atasannya. Sayangnya, nomor itu selalu sibuk.
"Apa mereka belum sampai ya?" batin Kinara. Kembali dia berusaha menghubungi nomor sang pengasuh, namun hasilnya tetap sama nomor itu masih berada dipanggilan lain atau sibuk.
Saat sedang melihat kesekeliling restoran, tanpa sengaja mata Kinara menangkap dua bocah cilik yang sedang dirundung oleh anak-anak jalanan. "Apa-apaan sih mereka beraninya sama anak kecil," gerutu Kinara. Wanita itu bergegas keluar restoran untuk menyelamatkan kedua bocah itu dari para anak jalanan.
"Hei apa yang sedang kalian lakukan terhadap anak itu? Mau aku laporkan polisi? Hah!" Kinara berteriak kelada bocah-bocah itu. Para anak jalanan itu pun membubarkan diri mendengar ancaman dari Kinara.
"Mama."
Mata Kinara mendelik mendengar dua bocah itu memanggilnya mama.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
sherly
ternyata si Mirna ada modus..
2024-07-21
1
Romi Yati
lngsung manggil mama ae ni bocil
2024-01-29
1
Rafi'ah Sujie
masih menyimak
2024-01-25
0