"Bukan kok, Mom. Mommy tenang saja, aku nggak akan ngulang kisah cinta Mommy dan Daddy. Nggak seru!" jawab Tama asal.
"Haish. Dasar bocah," desis Bintang.
"Hei, siapa bilang nggak seru? Kisah cinta kami disukai jutaan orang. Lagian kalau nggak ada kisah cinta mommy dan daddymu ini, mana ada kisah cinta kalian bertiga." Rangga yang sejak tadi diam ikut menyahut.
Tama tak lagi membalas dan hanya mencebik. Dia tahu jika semua hal yang dikatakan oleh daddynya adalah benar.
"Ngomong-ngomong, Mikha dan Kee kok belum datang katanya malam ini mereka mau berkunjung ke mari?" ujar Tama. Dia dan dua saudaranya memang sudah janjian untuk bertemu di rumah daddy dan mommy mereka.
"Mungkin sebentar lagi," jawab Bintang.
Wanita yang usianya lebih dari setengah abad itu menghela napasnya.
"Kenapa, Mom?" tanya Tama.
"Mommy merasa waktu berlalu dengan begitu cepat. Rasanya seperti baru kemarin mommy melihat kamu dan Mikha sering bertengkar dan sekarang... kalian semua sudah memiliki kehidupan masing-masing bersama keluarga kecil kalian."
Tama duduk lebih dekat dengan mommynya, dia kemudian merangkul wanita yang sudah melahirkan dan membesarkanya itu. "Mom, meskipun aku, Mikha, dan Kee sudah memiliki keluarga kami sendiri, tapi Mommy dan Daddy tetap masuk dalam prioritas kami."
"Iya, Mom. Tama benar. Mommy dan Daddy tetap menjadi prioritas kami," sahut Mikha yang baru saja datang bersama Dion dan kedua anaknya, Qilla dan Marvel.
Tidak lama berselang Keenan juga datang bersama Dira dan dua anak kembar mereka, Aby dan Dita.
"Assalammualaikum," Keenan dan Dira memberikan salam.
"Waalaikumsalam," jawab Bintang dan yang lainya.
"Grandma, Grandpa, kami kangen sama kalian." Keempat cucu Rangga dan Bintang berhamburan memeluk mereka.
"Kalian silakan ngobrol! Mommy sama Daddy mau main sama cucu-cucu kesayangan kami dulu di atas," ujar Bintang.
"Iya, Mom. Qilla jaga adik-adikmu dengan baik. Kamu yang paling besar di sini." Mikha memperingatkan putri sulungnya.
"Iya, Mommy. Qilla akan jaga mereka dengan baik," jawab Aqilla. Gadis berumur 12 tahun tersebut.
"Aby, Dita, kalian juga baik-baik ya main sama opa dan omanya." Giliran Dira yang berbicara kepada dua anak kembarnya.
"Siap, Ma," jawab Abyasa dan Anindhita bersamaan.
Bintang dan Rangga kemudian membawa keempat cucu mereka ke lantai atas dimana terdapat play ground. Play ground tersebut sengaja dibangun untuk tempat bermain kala semua cucu mereka datang berkunjung.
"Kak Tama, Kak Mikha, apa kabar?"
"Baik," jawab Tama dan Mikha bersamaan.
"Aku dengar dari Mommy dan Daddy, Kak Tama mau nikah ya? Apa itu benar?" tanya Keenan.
"Iya, aku juga mau tanya hal yang sama," Mikha ikut menimpali.
"Hm," jawab Tama.
"Hm?" Keenan dan Mikha mengulang jawaban kakak mereka.
"Kenapa?" Tama justru balik mempertanyakan.
"Ish. Sudahlah. Gak jadi, tapi apa pun itu kami senang karena akhirnya Kakak memutuskan untuk menikah lagi," ujar Keenan. "By the way kenapa Kakak nggak bawa calon kakak ipar ke sini? Kami kan juga mau mengenalnya?"
"Nggak, perlu. Lagian kalian juga bakal kenal dia pas hari H," jawab Tama.
"Memang rencananya kapan?" kini giliran Mikha yang bertanya.
"Minggu depan."
"Hah! Minggu depan?! Serius?!" pekik Mikha dan Keenan bersamaan.
"Hm, makanya aku nggak perlu ngenalin dia sekarang karena sebentar lagi kalian juga akan ketemu dia," sahut Tama.
"Terus Taki dan Maki?" tanya Mikha. Dia penasaran dengan tanggapan kedua bocah itu.
"Justru ini keinginan mereka," jawab Tama.
"Jadi, maksud Kakak... Kakak menikahi dia karena Taki dan Maki? Bukan karena Kakak mencintai wanita itu?" tanya Keenan guna memperjelas jawaban yang diberikan oleh kakak laki-lakinya tersebut.
"Apa masalahnya? Dulu Daddy dan Mommy juga menikah tanpa cinta, Mikha dan Dion juga begitu. Bahkan kau dan Dira juga meinikah tanpa cinta kan? Lihat! Kalian semua berakhir bahagia," jawab Tama dengan enteng.
"Itu beda, Kak. Kak menikah karena waktu itu hanya itu jalan satu-satunya untuk menjaga nama baik keluarga. Ya... Meski akhirnya kita beneran jatuh cinta sih," ujar Keenan lagi.
"Nah, kan? Jadi, apa bedanya? Kita semua mengawali pernikahan dengan keterpaksaan," balas Tama.
"Tentu saja beda. Kami tidak pernah berusaha menutup hati kami untuk pasangan kami. Tapi, kamu.... " Mikha menjeda perkataanya. "Kamu menutup hatimu untuk wanita mana pun karena kamu tidak mau mengganti posisi mendiang Kiara dengan wanita lain. Jadi, hentikan semua ini sebelum kamu menyakiti wanita itu," tegas Mikha. Dia tidak mau saudara kembarnya menyakiti hati seseorang yang tidak bersalah.
"Aku kesini bukan untuk meminta pendapat kalian. Aku hanya ingin memberitahu kalian bahwa minggu depan aku akan menikah." Tama bangun dari tempat duduknya.
"Kak Tama.... "
"Tam.... "
"Aku pergi sekarang! Sampaikan sama mommy dan daddy aku pulang duluan." Tama beranjak dari sana.
"Teruslah rantai hatimu dengan menyalahkan diri sendiri! Kalau Kiara melihatmu begini, dia pasti tidak akan suka!" teriak Mikha.
Tama berhenti sejenak dan terdiam. Namun, beberapa detik kemudian ia kembali melanjutkan langkahnya dan keluar.
"Kak... apa menurut Kakak, Kak Tama akan bahagia dengan keputusanya ini?" Keenan bertanya kepada kakak perempuanya.
Mikha menghela napas berat. "Entahlah. Tapi, bukan itu yang aku khawatirkan. Aku kasihan kepada wanita yang akan Tama nikahi," jawab Mikha.
"Sayang, jangan memikirkan hal yang belum tentu terjadi. Bukankah kita tahu bahwa jodoh kita sudah tertulis di yaumul mahfudz? Jadi, jika mereka akhirnya menikah. Percayalah, Dia pasti akan menumbuhkan rasa cinta di hati mereka." Dion ikut berbicara untuk menenangkan istri dan adik iparnya.
Mikha memicing menatap suaminya. "Tumben bicaramu kayak ustadz?"
Dion menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Aku mendengar ceramah seorang ustadz di youtube," jawab Dion sambil menunjukan canal youtube ustadz yang dimaksud.
"Haish, dasar!" Dion hanya menunjukan cengiran kuda.
Keenan menggeleng. Dia juga ikut menghela napas berat saat memikirkan nasib wanita yang akan dinikahi oleh kakak laki-lakinya tersebut.
***
Taki dan Maki sudah tidur saat Tama datang menjemput mereka di rumah Dewi.
"Apa Taki dan Maki nakal, Ma?" tanya Tama kepada wanita yang melahirkan almarhumah istrinya.
"Tidak. Mereka cukup penurut," jawab Dewi.
"Sebelum kamu bawa mereka pulang, mama mau bicara sama kamu. Ayo ikut mama!" ajak Dewi.
"Mirna, kamu kemasi barang-barang Taki dan Maki tadi. Baru bangunkan mereka untuk pulang!" titah Tama kepada pengasuh kedua anak kembarnya.
"Baik, Tuan," jawab Mirna.
Tama mengikuti langkah Dewi ke ruang perpustakaan di lantai atas rumahnya.
"Padahal aku penasaran, apa yang mau dibicarakan Nyonya yang cerewet itu kepada Tuan Tama," gumam Mirna. "Apa aku menguping saja ya."
Mirna menghentika kegitanya memberekan barang bawaan si kembar. Dia ikut naik ke lantai atas untuk menguping pembicaraan Tama dengan Dewi.
*
"Aku dengar kamu akan menikah, apa itu benar?" tanya Dewi tanpa basa-basi.
"Iya, Ma. Ini keinginan Taki dan Maki," jawab Tama.
"Baiklah, aku tidak akan menghalangi pernikahan kalian itu. Tapi... ingat janjimu, kamu tidak akan membuka hatimu untuk wanita manapun. Jangan cintai dia sebelum aku memberimu izin!" Dewi memberikan peringatan. "Kamu harus ingat! Kiara meninggal demi memberimu anak. Andai dia mau melakukan aborsi dan menjalani kemo, aku yakin Kiara masih akan hidup sampai sekarang."
Iya, Tama tidak pernah lupa akan hal itu. Kiara sengaja menyembunyikan penyakitnya saat tahu dirinya hamil. Dia bahkan menolak anjuran dokter untuk melakukan aborsi dan menjalani kemo atas penyakit kanker yang dideritanya. Hal itulah yang membuat Tama merasa bersalah sampai sekarang. Dia menghukum dirinya sendiri dengan menutup hati untuk wanita mana pun.
"Aku mengerti," jawab Tama.
"Kamu boleh pergi sekarang! Sampaikan permintaan maafku pada Bintang dan Rangga karena kami tidak akan datang di pernikahanmu."
"Iya, Ma." Tama menunduk hormat. Setelah itu ia keluar dari ruangan tersebut.
Dibalik tembok, Mirna membekap mulutnya sendiri. Dia akhirnya tahu alasan kenapa majikanya tersebut selalu bersikap ketus dan terkesan menjaga jarak kepada lawan jenis.
"Ini termasuk kabar baik atau kabar buruk untukku ya?" batin Mirna. Satu sisi Mirna senang karena itu berarti, meski Tama menikah dengan Kinara laki-laki itu tidak akan pernah mencintainya. Tapi, di sisi yang lain itu berarti dia juga tidak memiliki kesempatan untuk bisa merayu majikanya tersebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
sherly
dih Bu Dewi ini penjaga hati sok banget si Tama hrs minta ijin dulu kalo mau buka hati, ampun deh dah nenek2 msh aja egois
2024-07-21
0
Tuty Tuty
aaahh nanti juga bucin kamu tama 😁😁😁😁😁
2024-03-10
0
Rafi'ah Sujie
lah..apa2an itu
persamaan ga bisa di halangin buk.
lagian udah 5 thn jg
masa menantunya di kekang gitu
2024-01-26
1