Kinara baru tiba di rumahnya pukul sepuluh malam. Sepanjang perjalanan pulang, wanita berparas cantik itu terus memikirkan kedua putra bosnya.
"Kasihan, anak sekecil itu sudah kehilangan seorang ibu. Pantas saja mereka terus memanggilku mama, pasti mereka rindu mama mereka," batin Kinara.
Iya, Kinara bisa merasakan apa yang kedua bocah kembar itu rasakan karena ia juga sudah tidak memiliki kedua orang tua. Kedua orang tua Kinara meninggal saat usianya 10 tahun dalam sebuah kecelakaan pesawat. Dan kejadian itu masih meninggalkan trauma berat baginya. Hingga detik ini jangankan untuk naik pesawat, melintasi bandara, atau bahkan mendengar suara pesawat yang melintasi atap rumah masih membuatnya ketakutan.
"Sudah sampai, Mbak." Sang driver memberi tahu.
Kinara melongok ke luar kaca mobil dan ternyata benar, mereka sudah tiba di depan tempat tinggalnya.
"Terima kasih ya, Pak," ucap Kinara. "Ongkosnya sudah saya transfer lewat ewallet."
Driver taksi online itupun melihat benda pipih yang ia taruh di depan kemudi. "Terima kasih ya Mbak buat tip nya," ucap sang driver ketika melihat kalau ternyata memberikan uang lebih dari nominal yang tertera.
"Sama-sama, Pak." Kinara segera turun dari kendaraan roda empat tersebut.
Setelah mobil yang membawanya pergi, Kinara pun segera berjalan masuk ke dalam rumah. Namun, baru saja ia sampai di halaman rumahnya, Kinara dikejutkan dengan keberadaan paman dan tantenya yang berdiri di depan pintu.
"Lho, Om, Tante, kenapa di luar? Terus kenapa barang-barang kita juga berada di luar?" tanya Kinara karena ternyata semua barang-barangnya juga ada di depan pintu.
Sepasang suami istri yang dipanggil om dan tante tersebut menunduk.
"Om, Tante, sebenarnya ada apa?" tanya Kinara lagi.
"Nara, tolong maafin om dan tante ya." Bukannya menjawab, wanita yang dipanggil tante itu justru meminta maaf.
"Maaf? Maaf untuk apa Tante?" tanya Kinara bingung. Pasalnya ia tidak merasa kalau om dan tantenya memiliki salah.
Wanita yang dipanggil tante itu melempar pandangan ke arah laki-laki yang berdiri di sebelahnya. Keduanya saling tatap kemudian kembali menunduk.
"Om, Tante, katakan saja! Sebenarnya ada apa ini? Kenapa barang-barang kita berada di luar?" desak Kinara.
"Begini Nara, rumah ini sudah disita," jawab sang tante dengan hati-hati.
"Apa?!" pekik Kinara. "Kenapa bisa disita? Memangnya apa yang sudah kalian lakukan?"
"Sebenarnya tanpa sepenetahuanmu kami menggadaikan rumah ini ke rentenir. Niatnya kami ingin membantumu dengan ikut berinvestasi, tapi... tapi kami malah ketipu," terang si Tante.
"Ketipu? Maksudnya?"
"Uang hasil gadia rumah ini kami investasikan semua, tapi ternyata itu hanya investasi bodong." Tante Kinara kembali menunduk.
"Astaghfirullah hal adzim, Tante. Kok bisa sih kalian ketipu?" Kinara mengusap wajahnya dengan kasar.
"Mana kami tahu kalau kami bakal ketipu. Tadinya kami mengirakan kalau kami akan dapat keuntungan dari investasi itu dan bisa membantu meringankanmu. Tapi ternyata itu semua hanya investasi bodong. Mana Tante menggadaikan rumah ini dengan jumlah yang lumayan besar. Karena sudah tiga bulan tante tidak bisa mencicil, makanya rumah ini disita."
"Berapa Om dan Tante gadein rumah ini?" tanya Kinara lagi.
"500 juta," jawab sang tante dengan hati-hati.
"500 juta?!" Mata Kinara membulat mendengar nominal yang disebutkan oleh tantenya.
"Tante dan Om pernah mikir nggak sih gimana kita akan mencicil pinjaman sebanyak itu?!" sentak Kinara.
"Tadinya kan kita mengira kita bakalan dapat keuntungan dari ikut investasi, mana kita tahu kalau akhirnya akan begini," jelas si tante.
Kinara mengesah kesal.
"Nara, kamu bilang kan kalau kamu sudah mendapatkan pekerjaan di perusahaan besar sebagai seorang sekretaris? Kenapa kamu tidak pinjam uang ke perusahaanmu saja untuk menebus rumah ini." Si tante memberikan masukan gilanya.
"Tante! Aku memang sudah diterima bekerja di perusahaan besar. Tapi, mana ada perusahaan yang akan meminjamkan uangnya pada karyawan baru? Apalagi, aku baru sehari kerja. Tante pernah mikir gitu nggak sih?!" Rasanya kesabaran Kinara sudah diambang batas. Sebelum ia bekerja di perusahaan Wijaya, Kinara pernah bekerja paruh waktu di restoran cepat saji dan setiap kali gajian uangnya selalu diminta oleh om dan tantenya dengan alasan untuk biaya makan sehari-hari. Tapi, kini? Satu-satunya harta peninggalan almarhum orang tuanya juga disita karena sikap ceroboh om dan tantenya.
Selama ini Kinara selalu diam meski om dan tantenya memperlakukan dirinya seperti sapi perah karena ia merasa berhutang budi kepada keduanya. Sejak ditinggal oleh kedua orang tuanya, Kinara di asuh dan dirawat oleh adik kandung dari ibunya itu. Bahkan mereka juga yang membiayai sekolah Kinara hingga lulus kuliah. Reni dan Susanto adalah nama dari tante dan om yang mengasuh Kinara selama ini.
"Hiks... hiks... hiks, maafin Tante Nara. Maafin Tante karena sudah bersikap ceroboh. Tolong maafin, Tante!" Reni menangis tersedu-sedu.
"Om, juga minta maaf Nara. Kalau saja Om kerja, Om pasti bisa mencicil utang itu. Tapi sekarang.... "
Om Susanto ikutan menangis.
"Soal rumah yang disita, aku akan pikirkan cara untuk menebusnya. Sekarang, Om dan tante silakan cari tempat tinggal sendiri untuk sementara. Aku juga akan mencari tempat tinggal sendiri," ujar Kinara. Dia sudah lelah dengan kelakuan om dan tantenya.
"Tapi, kamu mau kemana Nara?" tanya Reni.
"Aku juga belum tahu. Aku ingin menenangkan diri," jawab Kinara. Dia mengambil dompet dari dalam tasnya dan memberikan beberapa lembar uang kertas kepada om dan tentenya itu.
"Itu adalah uang terakhir yang aku punya. Kalian pakai saja untuk menyewa rumah kecil atau apa pun itu."
"Lalu kamu bagaimana?" tanya Reni cemas.
"Untuk sementara waktu aku akan menginap di rumah teman sambil mencari kos-kosan yang murah," cicit Kinara.
Kinara menarik koper miliknya dan pergi dari sana. Untuk sementara waktu, dia ingin hidup jauh dari om dan tentenya sambil mengumpulkan uang untuk menebus kembali rumah peninggalan kedua orang tuanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
Wiek Soen
kayaknya alasan Tante dan om laknut itu untuk menguasai harta Kinara
2023-12-04
2
Yuli maelany
bisa aja kan itu mah alasan doang supaya bisa ngusir Kinara pelan Pelan dari rumah itu ....
2023-06-05
1
Acep Herdiansyah
om sama tante kamu bener2 gila itu mh modus udah tau ga kerja pake gadein rumah segala🤦🤦
2023-06-05
0